The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 54. Misi penyelamatan part 2



...🌹🌹🌹...


Kelvin


Usai memastikan jika pria yang nyaris saja akan membunuh Hexa itu mendapatkan bagiannya, ia bergegas naik untuk mencari Delon.


Ia sangat merasa asing dengan tempat itu, tempat mengerikan yang berada di kawasan sepi. Siapa menyangka bila ada kehidupan disana. Tapi pengalamannya sewaktu di luar negeri, tentu sangat bisa menjadi bekal yang baik untuk aksinya kali ini.


BRUAK!


Ia mendelik demi melihat Raka yang berhasil menendang tubuh seorang pria menggunakan kakinya, yang terbungkus sepatu bertapak tebal serta berjalinan tali yang rumit.


Nyaris menabraknya jika maju satu langkah saja.


Membuat Kelvin salah fokus ke sepatu keren yang menjadi favorit Raka. " Sepertinya aku sangat cocok dengan selera sepatumu!"


Raka yang melihat ada bala bantuan datang, kini tampak mengatur napas usai melumpuhkan rivalnya. Walau sedikit kaget, tapi ayah dari Citra itu bisa mengenali siapa pria ganteng yang ada di sampingnya itu.


" Mau mencoba? Ada banyak di ujung!" Cetus Raka tampak keren dengan keringat yang membanjiri keningnya.


Kelvin mengangguk dengan tatapan penuh arti, mengerti maksud ucapan pria yang sering ia lihat di berbagai kesempatan itu.


Kini, dengan langkah pasti ia meninggalkan Raka yang masih berjibaku meladeni serangan anak buah Jac. Di dekat sebuah pintu, ia yang lagi-lagi terkejut mendadak menghindar demi melihat Jodhistira yang melayangkan tendangan ke wajah anak buah Jac, hingga membuat darah segar muncrat melalui bibir pria itu.


Daebak!


" Wah bro, kau sangat sesuai dengan apa yang selama ini dikabarkan!" Tutur Kelvin dengan mata berbinar, demi melihat Jodhi yang sangat badas kala melumpuhkan lawannya.


Jodhi yang semula kaget karena melihat Kelvin yang tiba-tiba muncul saat ia sedang menghajar musuhnya, kini tampak melemparkan senyum.


" Apa kau membawa pesanan Delon?"


Kelvin bersedekap seraya menjawab pasti. " Tentu saja, ada di mobil!"


" Good, karena sepertinya... sekarang aku juga mulai lapar!"


Merkea berdua terkekeh sebelum akhirnya berpencar sebab rupanya anak buah Jac sangatlah banyak.


Kelvin terus berlari dan membiarkan orang orang tak berguna itu di hajar oleh Raka dan Jodhi. Tak jarang, ia yang masih dalam perjalanan ke atas guna mencari Jonathan sesekali melayangkan tinju, kepada pria yang menghalangi langkahnya.


BUG!


BUG!


" Lumayan, rasanya aku sangat bersemangat sekali!" Gumamnya usai membuat para bangsat itu tumbang.


Hingga, ia yang melihat seorang pria mencurigakan mengendap-endap, tampak bersiap menarik senjata di balik punggung nya, dan sejurus kemudian.


KLAK KLEK!


" Aaaa!"


" Delon?"


Kini, baik Kelvin maupun Delon tampak saling membulatkan mata karena tiada menyangka bila akhirnya mereka bertemu juga disana.


" Apa kau tidak waras? Kau bahkan mau menembakku!" Delon mendengus dengan wajah kesal karena terkaget manakala Kelvin menodongkan senjata tepat ke wajahnya.


" Ya sory, lagian kenapa sih lu mundar- mundur begini? Aku kira lu anak buahnya...."


" Aku lagi bingung, di sebelah sana ada wanita yang di sekap, sementara disini aku nemuin mayat. Kalau polisi datang, bisa brabe nanti!"


Kelvin yang tak mengerti hanya bisa turut melongok ke dalam tempat dimana seorang mayat pria tergeletak.


" Sebaiknya kau maju ke depan dan bawa wanita itu pergi, astaga aku bahkan sangat kurang ajar karena tidak memanggilmu 'Pak'!"


Alih-alih marah, Kelvin justru terkekeh-kekeh saat mendengar Delon yang masih saja prosedural di situasi urgent macam sekarang.


Benar-benar sekretaris jempolan masa kini.


" Baiklah, kalau begitu aku akan mengurus yang ini. Dan kau..."


Kelvin mengangguk menyetujui pembagian tugas yang di ucapkan oleh Delon. Pria itu sejurus kemudian memasukkan kembali senjata itu ke balik punggungnya, lalu dengan hati-hati tampak berjalan beberapa meter dari tempat Delon berada.


Pria itu nampak waspada kala membuka pintu yang di sinyalir masih menampung satu wanita. Harus berhati-hati sebab bisa saja ada anak buah Jac di dalam sana.


Namun sejurus kemudian.


BUG!


What?


BUG!


" Hey! Hey!" Ucapnya impulsif sembari mejadikan tangannya untuk melindungi serangan yang sepertinya di layangkan oleh orang yang amatir.


" Penjahat brengsek! Mati kau!"


See, dugaannya benar. Wanita itu sepertinya mengira dia adalah penjahat.


Kelvin yang kini di pukul balok oleh Karin dengan membabi buta, seketika mendelik tak percaya sebab sepertinya wanita itu telah salah sangka.


" Hentikan!"


BUG!


Alih-alih takut dengan hardikan Kelvin, wanita itu malah semakin gencar memukul bahkan beralih ke bagian kaki Kelvin.


Damned!


" Apa kau pikir aku akan diam sekarang hah?"


" Rasakan ini!"


Karin yang mengira bila Kelvin adalah anak buah Jac, terus saja memukul dengan tabah gemetar sebab sebenarnya ia begitu ketakutan.


" Hey henti..."


"Aaaa!"


Kelvin yang berusaha menghalau tangan wanita itu, tak sengaja menginjak sebuah balok lain dan membuat keduanya jatuh secara bersamaan.


BRUK!


Oh man!


Kini, Karin yang turut ambruk bahkan malah berada diatas tubuh Kelvin, seketika mendelik karena tanpa sengaja bibir mereka malah saling tertempel.


Membuat keduanya menjerit.


Tidak!!!!!!


.


.


Jonathan


Ia terus mengejar Jac yang kini menyeret Denok menuju jalan raya. Pria itu sepertinya berniat kabur dan membawa Denok turut serta.


Jelas tak bisa dibiarkan.


Meski pandangannya mulai kabur karena rasa lelah, namun Jonathan tak henti berlari bagai anak kijang yang lincah.


Saat melintasi sebuah tempat yang mirip dapur, ia yang melihat sebotol air menyempatkan diri untuk menyambar benda itu lalu meminumnya dengan terburu-buru.


Sangat manusiawi bila ia merasa haus sebab sedari kemarin, pria itu benar-benar di siksa.


" Ah!" Ucapnya lega sesaat setelah menghabiskan sebotol minuman itu dalam sekali tegukan.


" Dehidrasi itu benar-benar tidak enak sama sekali ternyata!" Gumamnya seraya melempar botol kosong itu ke sembarang arah.


Sejurus kemudian, pria yang masih saja terlihat tampan meski wajahnya tampak terluka di sana sini itu, nampak memicingkan matanya guna mencari kemana Denok di bawa.


Naas, Jonathan yang tak mengetahui bila anak buah Jac telah menunggunya, kini jatuh akibat pukulan yang keras.


BUG


BUG


Bibir yang barusaja terpuaskan oleh sebotol air mineral itu, kini terasa berkedut dan pedih di waktu yang.


" Aku sudah muak dengan kalian!" Geram Jonathan dan langsung mengarahkan pukulan kepada orang-orang itu. Tak berhenti disana, Jonathan tampak menghajar orang-orang itu tanpa belas kasihan.


" Jo, tolong!"


Teriakan Denok masih terdengar jelas di telinganya, tapi para keparat di depannya itu benar-benar membuat Jonathan kehilangan kesabaran.


BUG!


Seorang pria berbaju biru tampak maju lalu menyerang Jonathan. Pria dengan wajah datar itu tampak tangkas dan beberapa kali mematahkan tulang musuhnya tanpa rasa ampun.


Tak jarang, tubuh- tubuh tak berguna itu harus berakhir dengan cara menyedihkan. Sebab tumpukan benda lampau itu, menyambut mereka dengan suara gaduh.


BRAK!


Dari dalam sana, telinga Jonathan masih bisa mendengar jika aksi saling serang masih terjadi. Ia mengharap jika Raka, Jodhi, Hexa, Delon akan selamat. Sebab anak buah Jac terbilang sangat banyak.


BUG!


Jonathan yang mendadak mendapat tendangan dari belakang, tampak terhuyung-huyung sebab tak siap. Ia memetakan keadaan dimana mereka kini hendak mengeroyoknya.


" Jangan harap kau bisa lolos!"


" Banyak bacot!"


BUG!


Lagi dan lagi, pria yang terlihat semakin jangan manakala menyerang itu semakin beringas saja.


Dalam waktu yang terbatas, ia juga menyempatkan diri untuk melihat Denok yang masih berteriak-teriak sebab di seret paksa oleh Jac. Membuat Jonathan langsung menghajar manusia biadab yang kini hendak menangkapnya.


BUG


Grobyak!


" Argghh!"


Kini, para manusia kurang ajar itu tahu seberapa besar kekuatan seorang Jonathan Alexander. Pria itu memukul, menendang, memiting, bahkan tak segan mengangkat tubuh musuhnya lalu membantingnya ke tanah dengan begitu keras.


Terlihat kobaran kemarahan yang bercampur kebrutalan.


" Masuk!"


" Lepas!"


" Masuk atau aku akan menembakmu saat ini juga!"


Jonathan yang kini fokusnya teralihkan manakala mendengar hardikan seorang Jacob kepada Denok, mendadak di serang oleh pria yang baru aja ia lumpuhkan sebab kehilangan konsentrasinya.


SRING


" Argh!" Ringis Jonathan manakala sebilah pisau, berhasil menembus dagingnya. Membuat Jonathan kini benar-benar berada di puncak kemarahannya.


.


.


Delon


Usai memindahkan mayat Leon dan meminta anak buahnya untuk mengamankan lokasi, ia yang mendengar jeritan dua manusia berbeda jenis itu seketika berlari karena takut terjadi sesuatu di ruangan sebelahnya.


Alih-alih mendapatkan kelegaan, ia justru dibuat mendelik manakala melihat Kelvin yang di tumpuki oleh seorang wanita dengan keadaan yang tak pernah ia duga.


" Pria brengsek, beraninya kau!"


PLAK!


Delon semakin terkejut dengan mata yang hendak keluar dari tempatnya, manakala melihat Kelvin di tampar oleh wanita itu.


" Hey aku akan menyelamatkan mu tapi ini balasanmu?" Ucap Kelvin dengan wajah kesal dan kini mulai bangkit.


Membuat Delon menahan tawa. Jadi pria itu dikira penjahat?


" Ada apa ini?" Tanya Delon mencoba menjadi penengah.


" Pria ini sangat kurang ajar, dia..."


" Kau urus dia. Jika tau begini lebih baik aku mengurus mayat!" Seru Kelvin seraya beranjak dengan wajah kesal. Membuat Delon semakin tergelak.


Sepeninggal Kelvin yang menyuguhkan wajah keruh, ia mendekat ke arah Karin yang mengusap lengannya yang tampak lebam di sana-sini.


" Aku Delon, dia tadi rekanku! Jangan takut!"


" Jadi kau yang bernama Delon?" Tanya Karin dengan wajah senang. Menandakan jika ia akan selamat.


" Apa Denok juga sudah kalian selamatkan?" Tanyanya kembali dengan wajah penuh harap.


Membuat Delon menundukkan kepalanya. " Pak Jonathan sedang mengejarnya, pria itu membawa teman mu pergi!"


"Apa?"


Karin yang kini terduduk lemas, benar-benar merasa tak tenang akan nasib Denok. Sejenak ia merasa lelah dengan semua ini.


" Sebaiknya kita keluar!"


Karin mengangguk dengan wajah muram. Meski ia kini lega karena selamat, tapi hatinya belum tenang sebelum bertemu dengan Denok.


.


.


Denok


Ia benar-benar kehilangan harap saat melihat Jonathan di keroyok dari radius sepuluh meter. Segala upaya telah ia lakukan, mulai dari memberontak, menggigit lengan pria itu, bahkan berulang kali mendapat tamparan sebab ia membuat kesabaran Jac terkikis.


Ia yang kini menahan sakit di area wajahnya masih menatap Jonathan yang berjuang melawan para pria kurang ajar itu.


" Pria itu telah membuat banyak sekali kekacauan. Lihat, bahkan tempatku sekarang hancur karena dia. Jangan salahkan aku jika aku akan membalasnya, hahahahaha!"


Denok bahkan sama sekali tak bergeming kala pria itu berucap, karena sudah sangat lelah. Ia kini memejamkan matanya sejenak saat Jac tampak memasukkan barang-barang berharga kedalam bagasi sebelum akan bertolak pergi.


Ia menghela napas panjang lalu sejurus kemudian menatap bintang di angkasa gelap. Menikmati sejenak keindahan kegelapan, yang bisa menyajikan hal indah.


Persis seperti dirinya.


Diri yang hidup dalam kegelapan, namun bisa mengahdirkan keindahan bagi yang membutuhkan.


Kini, usai puas melihat kerlip bintang yang bersinar indah itu, Denok menutup matanya.


" Aku berserah. Aku percaya, kau maha pemaaf. Pengasih...Penyayang. Jika setelah ini Kau memberikan aku kesempatan untuk hidup...aku akan meninggalkan kegelapan itu untuk selamanya!"


Air mata Denok jatuh manakala ia berdoa dalam hati. Meminta yang terbaik di tengah kesulitan yang menderanya saat ini.


Ia memejamkan matanya sembari meresapi suara-suara gaduh, letusan tembakan, juga jeritan pria yang saling baku hantam dalam kejadian kali ini.


Hanya ada dua kemungkinan dirinya setelah ini. Tak akan melihat lagi semua manusia di dalam itu, atau semua yang terjadi akan menjadi memori yang tak akan terlupakan.


Walau selama hidupnya, ia tak pernah membayangkan akan terseret dalam kejadian menegangkan seperti malam ini, tapi biarlah ia sejenak meresapi kehidupan yang selalu saja membuatnya tak mengerti akan arti dirinya.


Kenapa ia harus ada, dan kenapa ia selalu berada dalam situasi sulit.


BRUAK!


Ia yang masih mengheningkan diri, seketika tersentak kala mobil itu mendadak di tubruk oleh sesuatu yang tampak besar.


Membuat Jac tampak mendelik dengan kemunculan seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan.


Denok langsung membulatkan matanya kala melihat Jodhi yang duduk diatas motor, dan tampak tersenyum kepadanya.


" Apa aku terlambat?"


Kini, dalam perasaan yang campur aduk, Denok menangis saat melihat pria yang sudah lama tak ia lihat itu. Pria baik yang sepertinya datang sebagai bala bantuan untuk dia juga Jonathan.


.


.


.