The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 55. Misi penyelamatan part 3



...🌹🌹🌹...


Jodhistira


Demi rasa hutang budi yang mendarah daging, ia yang saat ini melihat Denok berteriak kala ia tengah berada di lantai atas, meminta Kelvin yang baru saja datang dengan segala keterkejutannya untuk melawan para anak buah Jac yang tak terhitung jumlahnya itu.


Dari kesempatan yang sangat terbatas, ia melihat jika Jonathan juga masih sangat kesulitan dalam melumpuhkan musuh yang jumlahnya tak sebanding dengan dirinya.


Di sisi barat, para anak buahnya yang lain juga terlihat saling serang dengan kobaran jiwa kstaria yang tak surut.


Ia menuruni anak tangga dengan cepat, meninggalkan Raka tanpa berucap walau sepupunya itu pasti tahu, jika ia hendak melakukan bagiannya.


Ia melihat sebuah motor trail yang di duga merupakan inventaris kelompok jahanam itu. Tanpa menunda lagi, dengan kerennya ia menunggangi motor itu menuju ke tempat Denok.


Semakin cepat ia melajukan motonya, dan berharap ia tak akan terlambat.


Bagaimanapun juga, jika bukan karena kebaikan Denok beberapa tahun yang lalu, mungkin saat kni ia tak akan bisa bersama dengan Lintang dan Danuja.


Walau, jauh dalam relung hatinya kini tersimpan rasa ingin tahu, kenapa Denok ada di kota yang sama dengan dirinya, namun ia bahkan istrinya tak pernah tahu.


Berjanji dalam hati untuk menginterogasi Jonathan jika semua ini akan berakhir nanti.


" Apa aku terlambat?"


Ia sengaja mengatakan kalimat itu dengan keras agar Jac terkejut. Dan benar saja, sepasang biji mata yang melotot itu menandakan jika sang empunya memang terkejut.


" Aku tidak memiliki urusan denganmu. Jadi sebaiknya...kau jangan ikut campur!" Seru Jac seraya memutar tubuhnya menuju ke arah depan. Tampak menyongsong Jodhi yang kini turun dari motornya.


" Siapa bilang kau tidak punya urusan denganku!" Ketus Jodhi seraya berkacak pinggang tepat di hadapan Jac.


" Memiliki urusan dengan Jonathan, sama saja memiliki urusan denganku. Apalagi, kau saat ini sedang menyakiti orang penting dalam hidup istriku. Itu berarti..." Ucap Jodhi dengan tatapan tajam seraya mencondongkan tubuhnya kepada Jac. " Kau juga membuat urusan denganku!"


" Bajingan!" Jac yang emosinya terpancing seketika melayangkan pukulan ke wajah tampan Jodhi.


Membuat Denok seketika khawatir manakala melihat Jodhi dan Jac terlibat aksi saling serang. Di sisi lain, ia yang melihat adanya kesempatan, kini mencoba melepaskan diri dengan berusaha membuka pintu mobil itu sebisanya.


BUG!


Ia menjadi tegang manakala melihat Jodhi terjerembap ke tanah, sesaat setelah wajahnya di pukul oleh Jac.


Sungguh perkelahian yang benar-benar sengit itu membuat Denok semakin ciut nyali.


Ia yang kini telah berada di luar, mencoba kabur namun Jac yang mengetahuinya menembakkan peluru ke tanah kosong sampingnya dan sukses membuat Denok berhenti.


DOR!


Membuat Jodhi naik pitam.


Tanpa di duga, Denok yang hendak kabur tertangkap oleh anak buah Jac yang mulai berdatangan dari arah luar. Membuat Jodhi membulatkan mata.


What the hell?


Kini, bersamaan dengan Raka, juga Kelvin yang tiba di luar, Jonathan yang wajahnya babak belur dengan goresan luka yang terbuka di lengannya tampak menatap tajam ke arah Jac yang merasa menang sebab meskipun para pria jantan itu telah berhasil melumpuhkan anak buahnya di dalam, namun bala bantuannya yang lain telah datang.


" Jo!" Gumam Kelvin resah yang melihat Jonathan terluka parah akibat perkelahian itu.


" Tahan!" Seru Raka yang menghadang langkah Kelvin yang tampak marah demi melihat kondisi sahabatnya yang seperti itu.


" Sudah aku aku katakan. Jangan pernah ikut campur urusanku!" Ucap Jac dengan tawa yang membuat para pria jantan itu menahan geram.


Para bala Jonathan kini tampak berdiri dengan posisi siaga, sebab anak buah Jac menodong mereka dengan senjata dan jumlah yang terbilang banyak.


Praktis, mereka yang kalah jumlah kini terpaksa diam sembari membaca pergerakan.


" Aku hanya butuh akses dan sepertinya kalian ini orang-orang yang lebih suka dengan kerumitan!" Ucap Jac seraya berjalan sombong diantara para pria yang kini diam membeku.


Jonathan yang melihat pria itu terlalu banyak bicara kini tampak membaca situasi dengan saksama. Sudah semakin kehilangan rasa sabarnya.


Denok yang berdiri tegang di bawah ancaman todongan senjata pria botak, saling menatap dengan Jonathan dan menyiratkan makna mendalam.


" Aku benar-benar ingin membunuhnya saat ini!" Geram Kelvin di sebelah Raka yang masih sama tegangnya menunggu kesempatan.


" Jangan gegabah. Pria itu bisa saja membunuh Jonathan jika kita ceroboh!" Bisik Raka membalas Kelvin yang tampak tak sabar. Terlihat sedikit kuwalahan sebab Jac rupanya pria yang sulit di kalahkan.


" Bawa wanita itu!"


" Kubilang berhenti!" Seru Jonathan dengan kemarahan yang berkobar. Membuat Jac berbalik dan langsung tertawa karena sepertinya Jonathan telah masuk kedalam perangkapnya.


" Lepaskan mereka dan bawa aku. Akan ku berikan akses itu kepadamu!" Ucap Jonathan yang sepertinya tak memiliki pilihan lagi


Membuat Kelvin, Raka dan Jodhi menatap tak percaya.


" Jo?" Denok menggelengkan kepalanya dengan maksud agar Jonathan tak perlu melakukan hal itu hanya untuk menyelamatkan dirinya.


" Aku benar-benar sudah tidak tahan, kau urus yang sebelah sana, kau di sebelah situ dan aku akan menghadapi sisanya!"


" Lebih baik gagal atau tidak sama sekali!"


Raka dan Kelvin tampak mengangguk dengan ucapan Jodhi yang geram akan Jac yang banyak bicara dengan cara licik.


Namun tanpa mereka duga.


WRUM WRUM!


DOR DOR DOR!


" Minggir!"


Saat mereka hendak melancarkan mitigasi darurat, Delon tiba-tiba muncul bersama Karin yang terlihat mengemudi sebuah truk besar, dan membuat pasukan Jac kocar-kacir sebab Delon yang kini berada di atas, tampak memberondong mereka semua menggunakan senjata milik Jac dengan ngawur.


Membuat Kelvin mendecak kesal karena Delon lagi-lagi membaut ulah, " Astaga, anak itu pasti tidak tau cara menggunakannya!"


" Cepat menyingkir!" Bisik Jodhi seraya menarik tangan Kelvin sebab Karin juga tak kalah ngawurnya dalam mengemudikan truk itu.


Membuat keadaan seketika kacau balau.


Melihat adanya kesempatan untuk melawan, kini Jonathan tampak berlari dan berusaha menyelamatkan Denok.


" Shiit!" Jac yang melihat hal menyebalkan itu seketika mengumpat, karena semua ini diluar kendalinya.


Sial!


Dalam keadaan yang tak terduga itu pula, Raka yang melihat Hexa membawa pasukan tambahan tampak tersenyum sebab karena perbuatan Hexa itu, posisi mereka saat ini terlihat imbang.


Ya, kini ia harus bisa melakukan tugasnya dengan mengedepankan keselamatan tiap individunya.


" Ingat, jangan sampai ada yang terbunuh. Kau masih ingat kebiasaan ku kan?" Teriak Raka yang kini on fire.


" Berurusan dengan polisi jauh lebih rumit ketimbang dengan perempuan!"


Mereka semua tergelak sebelum memulai aksi hajar mengajar. Raka, Jodhi, Kelvin seraya Hexa tampak sibuk. Pun dengan para anak buah mereka yang tampak tak main-main untuk memungkasi kedurjanaan ini.


Kini, Delon yang berada di atas mobil masih membidik sasaran dengan wajah tegang. Terlihat sebisa mungkin membuat musuh lumpuh.


" Jo!" Denok yang akhirnya bisa memeluk Jonathan tampak menangis haru. Merasa tak percaya jika mereka akhirnya selamat.


" Sepertinya kita berhutang nyawa kepada Karin juga Delon!" Seru Denok kala di dekap erat oleh Jonathan


" Kita berhutang nyawa kepada mereka semua. Sekarang ayo kita pergi!"


Melihat Jonathan tampak akan kabur bersama Denok, Jac yang melihat hal itu tentu tak akan membiarkan semuanya terjadi


Kini, pria itu tampak tak mau membuang waktu dan langsung melesatkan tembakan peringatan dan membuat Jonathan bersama Denok menghentikan langkahnya.


DOR! DOR! DOR!


" Berhenti brengsek! Kau harus membukakan akses untukku. Kemari kau!" Jac maju dengan dada yang begitu berang. Terlihat maju untuk menghampiri Jonathan yang kini tak bersenjata.


Jonathan tampak melawan Jac demi melindungi Denok. Terlihat berkelahi dengan sengit dan tak main-main. Mereka saling memukul, menendang juga melayangkan serangan mematikan.


Jonathan yang merasa jika senjata yang masih di pegang oleh Jac itu berpotensi melukai Denok, terlihat kembali menyerang, lalu menendang senjata itu dan membuat benda berat itu kini jatuh ke tanah.


Sekarang, baik Jac maupun Jonathan tampak saling berkelahi dengan tangan kosong.


Kedua tenaga pria itu sama-sama kuat, Jac yang beberapa kali harus terjengkang kala di tendang oleh Jonathan yang benar-benar marah tampak bangkit untuk membalas.


BUG


Dan sejurus kemudian


DUG!


Cruaat!


Darah segar seketika muncrat dari hidung Jac kala pukulan tangan kekar itu menghujam dengan kerasnya. Kemarahan yang begitu luar biasa, menjadi sebaik-baiknya suplay energi bagi jiwa Jonathan yang lekas melemah.


Membuat Denok seketika mendelik ngeri karena dalam kondisi yang seperti itu, mahluk bernama laki-laki bernama Jonathan itu terlihat sangat badas.


" Uhuk!Uhuk!" Jac yang telah tergelatak diatas tanah tampak memejamkan matanya barang sejenak demi rasa tubuh yang remuk redam. Ia sempat melihat banyak anggotanya yang lari tunggang langgang bahkan ada yang terluka di medan pertempuran itu.


Jonathan yang merasa bila Jac telah kalah kini menemui berjalan lemah guna menemui Denok dan hendak memeluknya.


Namun, saat Denok baru akan menyambut Jonathan, kedua matanya tak sengaja melihat Jac yang sekarat tampak meraih senjata dan mengarahkan benda jtuy ke arah Jonathan.


" Jo awas!"


DOR!


DOR!


Kini, dunia yang berjalan itu serasa berhenti berputar selama sepersekian detik manakala Jonathan menatap Denok yang mendadak pucat, dengan perutnya yang mengeluarkan darah.


" Jonathan!!" Teriak Denok menyongsong tubuh Jonathan yang kini limbung.


Membuat kesemua yang ada di sana seketika mendelik.


" Aku mencintaimu Nov...sangat mencintaimu!" Lirih Jonathan dengan bibir bergetar sebab menahan sakit akibat timah panas yang kini bersarang di perutnya.


" Jonathan!" Teriak Kelvin dari jarak beberapa meter saat ia bersama yang lain, telah berhasil menaklukkan anak buah Jac.


Pria itu tampak langsung berlari dengan air mata yang tak bisa ia hentikan, guna melihat Jonathan.


" Jo, bertahanlah!" Ucap Kelvin panik seraya mengusap pipi pria yang mulai tak kuat membuka mata itu.


" Bangsat!" Geram Kelvin dengan rahang bergetar, dan langsung berlari menuju ke arah Jac yang tak berdaya.


" Jika dia tak berguna untukku, lebih baik dia mati!" Ucap Jac lirih dengan tawa yang masih bisa tersungging di keadaan yang sudah mengenaskan itu


Membuat Kelvin naik pitam.


" Anjing!"


BUG!


Kini, Kelvin yang begitu marah nampak menghajar Jac dengan murka. Membuat Raka turut menyusul ke arah pria itu sebab takut jika Kelvin akan membunuhnya.


" Hentikan!" Ucap Raka berusaha menghentikan Kelvin yang kalap.


" Tidak, dia harus mari. Bajingan!"


Karin yang melihat Kelvin semarah itu seketika menutup mulutnya dan langsung menangis. Keadaan seketika berubah menjadi kacau dan tegang secara bersamaan.


Kini, Jodhi yang terlihat tak percaya jika Jonathan tertembak tampak berjalan panik di samping Denok yang menangis.


" Cepat bawa dia ke mobil, Delon!" Seru Denok berteriak dan membuat Delon seketika berlari.


" Biar aku bantu, De bawa mobilmu kemari!" Titah Jodhi yang meminta Delon untuk membawa Jonathan menuju rumah sakit terdekat.


Kini, dalam kekalutan yang mencekam, Denok yang masih menangis turut serta dalam mobil yang membawa Jonathan menuju kerumah sakit.


" Brengsek!" Kelvin menangis sejadi-jadinya usia melampiaskan kemarahannya dan berhasil membuat wajah Jac hancur.


Raka akhirnya meminta Hexa untuk menghubungi polisi sebab selain anggota Jac, anggota mereka juga banyak yang terluka.


Kini, dalam keheningan dan sisa kekacauan yang ada, Karin tampak lemas dengan tubuh yang tegang dan tak terkontrol. Seumur hidupnya, ia tak membayangkan jika akan berada dalam situasi seperti ini.


Ia bisa melihat Kelvin yang masih berusaha di tenangkan oleh Raka, sementara dari tempatnya bersimpuh ia juga melihat mobil Delon yang membawa Jodhi, Denok serta Jonathan perlahan menjauh dari pandangannya.


"Semua sudah berakhir!"


Seru Karin dalam hati sesaat sebelum ia tak sadarkan diri, yang membuat Kelvin seketika panik.


.


.


Dirumah sakit kota


Kepanikan begitu terasa saat Delon membentak para petugas yang dinilai lamban.


Selain karena sudah terpicu rumah sakit yang sebelumnya menolak mereka karena tak memiliki peralatan dan dokter jaga 24 jam, Delon juga sangat marah karena takut, panik serta khawatir jika nyawa Jonathan tak tertolong.


Kini, dokter Andra yang merupakan spesialis bedah tampak terkejut dengan kedatangan para manusia yang berpenampilan berantakan, dengan noda darah di sana-sini.


" Ada apa ini?" Tanya dokter Andra manakala menyambut segerombolan manusia panik itu.


" Tolong selamatkan Pak Jonathan. Ada dua peluru yang bersarang di perutnya!" Seru Delon yang agak tenang manakala melihat dokter berkompeten itu.


Membuat dokter Andra seketika tegang.


" Sus, persiapkan peralatan, kita lakukan operasi sekarang!"


Jodhi yang melihat Denok menangis tampak mengusap punggung wanita itu dan memberikan pelukan kecil guna meringankan kesedihan.


" Semua ini gara-gara aku Jo!" Ucap Denok seraya menangis menyesali semua yang telah terjadi.


" Sttt, semua akan baik-baik saja. Kita tunggu!" Ucap Jodhi berusaha menenangkan walau sebenarnya hatinya juga sangat resah.


Mereka menunggu dokter Andra bersama team dalam menjalankan tugasnya. Denok bahkan sejenak melupakan Yusuf, sebab ia benar-benar panik dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap Jonathan.


Dan beberapa saat kemudian, saat Jodhi, Delon dan Denok sedang menunggu dengan tatapan nanar, Nyonya Weni dan Tuan Iqbal tampak datang bersama dan membuat atensi mereka teralihkan.


" Bagaimana keadaan anakku?" Tanya Nyonya Weni yang terlihat cemas.


" Tenang Bu, Pak Jonathan sedang di operasi!" Sahut Delon yang merasa bertanggung jawab untuk menjawab.


" Bagaimana ini bisa terjadi. Apa yang kau kerjakan sehingga dia bisa terluka seperti ini!" Ketus Nyonya Weni menyalahkan Delon.


Padahal, wanita itu tidak tahu jika mereka bahkan belum beristirahat dalam misi penyelamatan barusaja.


Delon tertunduk layu sebab telah lelah, bahkan enggan untuk sekedar berdebat. Pun dengan Denok yang tiba-tiba merasa canggung kala berhadapan dengan orang tua Jonathan yang saat ini berada di sana.


Dan tiba-tiba.


" De, bagaimana keadaan suamiku?"


DEG


Feli yang tiba-tiba datang dengan kepanikan yang kentara, membuat Denok menoleh murung. Dalam beberapa saat, kedua mata mereka saling bertemu.


Menyiratkan permusuhan.


Kini, baik Jodhi maupun Delon hanya bisa terdiam. Bagiamanapun juga, walau mereka tahu jika Jonathan mencintai Denok, namun wanita di depan mereka itu merupakan istri sah Jonathan.


" Untuk apa kau disini? Tunggu dulu, apa suamiku terluka karena menolongmu, hah?" Tuding Feli menunjuk wajah Denok.


Membuat Jodhi mendecak kesal.


" Cukup. Ini rumah sakit dan Jonathan masih di rawat, tolong jaga sikapmu!" Tegur Jodhi yang merasa lelah dengan sikap orang-orang terdekat Jonathan yang tak mau untuk bersikap sopan.


Membuat Denok seketika pergi dengan rasa yang begitu sakit.


.


.


.


.


.