
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia tengah berada di restoran untuk bekerja pagi ini, sebab Tika tak memberikan izin untuk libur atau tukar sift dengan dalih Denok merupakan karyawan baru. Benar-benar tak memiliki perasaan.
" Habis ini tolong elu bersihin meja yang di sana, nyonya mau datang kesini!" Seru sang supervisi seraya bersedekap bengis.
Denok yang masih asik meremas spons kaya akan busa diatas piring putih itu, hanya diam tanpa menoleh. Merasa tak berminat untuk meladeni kesinisan supervisi bermake-up tebal itu
" Heh, apa kau tidak punya telinga. Beraninya kau mengabaikan ku?" Cetus Tika dengan suara geram sebab Denok tampak tak menggubris dirinya.
Membuat Mamak angkat Yusuf itu seketika memejamkan matanya sebab hatinya benar-benar merasa geram. Sabar!
Jika saja wanita itu memiliki empati sedikit saja, seharusnya pagi ini ia bisa menunggui anaknya di rumah sakit. Tetapi sepertinya, wanita itu tak memiliki hati nurani sama sekali.
Beruntung, Windi masih memiliki perasaan sehingga mau menunggui Yusuf. Apa mau dikata, ia juga harus cukup tahu diri jika dia masih memiliki hutang di restoran itu. Membuatnya tak ingin alpa demi kelangsungan hidupnya.
" Jangan kira kau bekerja disini karena rekomendasi Pak Del..."
" Delon menggajiku untuk mencuci piring, bukan untuk melakukan hal lainnya. Tugas pokok dan fungsi tiap-tiap karyawan sudah jelas dan tertulis. Lagipula untuk apa aku membersihkan tempat itu, bukankah sudah ada staf lain yang melakukan?" Jawab Denok dengan wajah muak. Ia bukanlah jenis manusia yang bisa berbasa-basi.
Tika langsung geram manakala mendengar jawaban yang menurutnya sangat kurang ajar itu.
" Apa kau bilang? Apa kau sudah bosan bekerja, hah?" Hardik Tika mengancam. Terlihat tak menyukai karyawan baru di depannya itu.
" Jika aku bosan, aku pasti tidak akan masuk saat anakku sekarang di operasi seperti saat ini!"
" Dan satu lagi, jangan mentang-mentang kau disini sebagai supervisi, aku takut kepadamu!" Jawab Denok dengan tatapan permusuhan. " Aku menjelaskan apa yang mungkin telah kau lupakan. Nyonya supervisor!"
Tika yang syok manakala mendengar jawaban Denok yang diluar dugaannya seketika speechless. Membuat beberapa karyawan yang mendengar perdebatan kecil itu saling berbisik merasai kejadian menghebohkan itu.
.
.
" Enak aja mau menindas aku. Sama-sama makan nasi untuk apa aku takut!"
Denok yang saat ini sedang berada di toilet tampak menggerutu serta meluapkan kekesalannya.
Ya, dia kesal karena Tika sepertinya memang sangat menyebalkan. Wanita itu benar-benar gila hormat.
" Widihhh mbak Deni. Tadi itu keren banget lho mbak. Belum pernah ada yang berani melawan mbak Tika!"
" Aku aja sampai gemes tadi lihatnya!"
Denok yang sibuk membasuh busa di tangannya, kini menatap penuh keheranan ke arah wanita yang juga sedang mencuci wajahnya di toilet khusus karyawan.
Memujinya dengan wajar berbinar.
" Keren aja nggak cukup buat nyumpal itu mulut orang sombong!" Sahut Denok asal. " Musti berani. Enggak usah takut, selama kita benar!"
Wanita itu mengangguk penuh rasa takjub usai Denok mengutarakan isi hatinya.
" Tapi sebenarnya meja itu memang mau di pakai buat Nyonya..."
" Aku nggak tahu dan gak mau tahu. Aku kerja buat cari uang. Bukan buat cari muka. Ya udah aku pergi dulu!"
Ucapan wanita itu menguap sebab Denok tampak terburu-buru. Kini, agaknya wanita itu memiliki sosok idaman baru yang bisa dijadikan sebagai pelindung dari kekejaman Tika yang kerap semena-mena.
.
.
Jonathan
Ia sedang tergelak manakala mendengar laporan Delon soal managernya yang tak bisa berkutik di depan mulut pedas Denok beberapa menit yang lalu.
Membuat Delon geleng-geleng kepala manakala melihat Jonathan yang tampak tertawa tanpa beban.
" Jadi wanita itu tak mengijinkan Novi libur?" Ulang Jonathan dengan sisa tawa.
Delon mengangguk.
" Tika memang seperti itu. Selalu profesional!" Imbuh Delon dengan wajah serius.
Jonathan mengangguk paham." Jam berapa operasinya?"
" Siang nanti Pak!"
Jonathan tampak terdiam sejenak dan tampak berpikir. Lalu sejurus kemudian, sebuah panggilan membuyarkan keseriusannya.
Mama Calling...📞
" Halo Ma?"
" Kamu dimana Jo? Kenapa Feli menangis, apa sesuatu telah terjadi?"
Membuat Jonathan seketika memejamkan matanya. " Apa dia mengadu?"
" Cepat pulang dan selesaikan masalah kalian!"
Kini, Jonathan tampak menunjukkan wajah berang. Kenapa selalu saja seperti ini. Mau sampai kapan Feli akan bertingkah seperti itu?
" Jam berapa lagi kita akan ada pertemuan?" Tanya Jonathan dengan senyum yang telah memudar.
" Jam satu nanti Pak!"
" Awasi terus Yusuf dan laporkan semua kepadaku. Aku mau menemui Mama dulu!"
Delon mengangguk menyetujui. Sedikit merasa kasihan sebab pria yang sangat cerdas itu, tampak menyuguhkan raut gundah dan gelisah.
.
.
PLAK!
Feli seketika terkejut manakala suaminya di tampar oleh Ibu mertuanya. Membuat tubuh Feli gemetaran.
Rasa pedih dan panas seketika menjalar di rahang kokoh Jonathan. Mata Mama Weni tampak memerah sebab ia begitu kesal dengan Jonathan. Sementara Tuan Iqbal diam dengan wajah tak terbaca.
" Mama sangat kecewa sama kamu Jo. Apa ini bala..."
" Balasan Jonathan yang sejatinya hanya anak pungut, iya?" Jonathan yang tampak lelah dengan semua tuntutan serta kediktatoran Mama Weni kini berani unjuk suara.
Membuat Feli yang duduk di belakang mertuanya tampak gugup untuk kesekian kalinya.
" Selama ini Jo selalu melakukan apa yang Mama minta. Tanpa terkecuali Ma!" Seru Jonathan menjelaskan dengan wajah muram. " Bahkan sampai Jo mengabdi kepada keluarga Aryasatya demi mengikuti semua kemauan Mama!" Imbuh Jonathan dengan napas memburu dan emosi yang meluap.
" Tapi apa Mama pernah memikirkan gimana perasaan Jonathan? Pernah memikirkan apa yang Jo rasa?"
Mama Weni tampak geram dengan Jonathan yang kini melawan.
" Apa kau pikir Mama tidak tahu jika wanita sundal itu ada di kota ini. Bahkan kau telah menemui wanita itu dan meninggalkan Feli. Dan tidak memberikan kewajiban kepada istri merupakan dosa besar Jo!"
" Dosa besar?" Jonathan menyahuti dengan cepat.
Sejurus kemudian Jonathan tertawa dengan wajah kecewa. " Mama tanya sama menantu Mama itu, apa arti dari dosa. Tanya sama dia, siapa laki-laki yang belakangan ini sering menemui dia!"
DEG
Membuat Feli seketika menegang sementara Mama Weni hanya melirik sekilas.
" Feli wanita berkelas dan terhormat. Pekerjaannya menuntut untuk membangun hubungan sosial yang baik kepada semua pemangku kepentingan terkait. Aku percaya menantuku. Jadi kamu jangan jadikan semua itu alasan agar kamu bisa dekat kembali dengan pelacur itu!"
" Jangan sebut Novi dengan kata pelacur!" Teriak Jonathan dengan suara yang menggema di seluruh ruangan itu. Membuat Tuan Iqbal seketika bangkit.
" Jaga suara kamu Jo. Ingat, kamu bisa seperti ini karena..."
" Fine!" Sahut Jonathan yang tampak muak dengan semua yang ia terima selama ini.
"Kalau karena ini aku harus menggadaikan kebebasanku, aku akan keluar dari rumah ini!" Jonathan mengatakan hal itu dengan mata yang berkaca-kaca dan emosi yang begitu kentara.
" Mungkin memang tidak seharusnya aku berada di keluarga ini!" Putus Jonathan dengan suara lirih dan wajah kecewa.
" Jonathan!" Panggil Feli yang tampak resah.
" Jonathan!"
" Jo!"
" CK, Ma..!" Protes Feli kecewa sebab Jonathan kini telah pergi dengan kemarahan yang berkobar. Nampak menatap Mama Weni yang kini mengeraskan rahangnya.
" Lakukan rencana kita. Anak itu tidak boleh pergi sebelum menandatangani semua surat kepemilikan!" Tukas Mama Weni dengan mata memerah.
" Apa?" Feli yang masih ada di sana seketika terkejut demi mendengar hal itu. Apa yang mereka bicarakan?
Membuat Nyonya Weni dan Tuan Iqbal seketika saling melirik sebab mereka sepertinya telah keceplosan.
.
.
.