
...🌹🌹🌹...
Denok
Lintang dan Jodhi pamit undur diri pada jam jelang pukul lima dini hari. Mereka pamit karena ingin membiarkan Denok berisitirahat dan berjanji akan kembali bersama keluarganya.
Sementara dirinya, meski tubuhnya sangat lelah dan matanya juga sangat mengantuk, tapi pikirannya malah mengajaknya untuk melek lebih lama.
Membuat wanita itu memilih untuk pergi ke smoking area karena jujur, ia yang gusar sangat tak bisa menahan diri untuk tidak merokok.
My bad!
Ia menghisap rokok itu dalam-dalam dengan pikiran yang tak tentu arah. Mencoba menetralisir rasa gelisah dengan bakaran tembakau yang bercampur dengan mint yang terasa dingin di tenggorokan.
" Jika mbak Denok mengizinkan, sebaiknya kita bawa Yusuf berobat keluar negeri!"
" Benar. Bu Yanti pasti akan sangat setuju!"
Sembari mengangkat kedua kakinya keatas lalu memeluknya dengan sebelah lengan, ia semakin dalam saat menghisap sigaret rasa menthol nya, seraya kembali meresapi perkataan Lintang dan Jodhi beberapa waktu lalu.
Merasa heran kenapa ada manusia sebaik mereka, yang masih sudi menerima wanita brengsek dan lacur seperti dirinya.
Dari tempatnya merokok, ia melihat petugas rumah sakit yang sibuk mengambil disposal sampah dari pintu ke pintu itu. Tertegun untuk beberapa saat demi melihat jika dibawahnya, masih banyak orang yang lebih susah.
" Beraninya kau duduk santai dengan merokok saat anakku habis kau buat celaka!"
Apa?
Ia yang masih asik menghisap rokoknya sedikit kaget dengan kemunculan Nyonya Weni secara tiba-tiba.
" Jonathan sebenarnya hanya anak angkat!"
" Nyonya Weni dan tuan Iqbal mengadopsinya!"
Ingatannya juga langsung kembali pada saat Kelvin mengatakan kejujuran kepadanya beberapa waktu yang lalu. Membuat Denok yang sudah jengah, kini berani speak up.
Usai menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum dibuang olehnya, Denok tampak menarik napas dalam-dalam.
" Anak?"
Nyonya Weni yang seolah di tantang oleh Denok seketika geram kala melihat wanita itu bersedekap ke arahnya.
" Apa kau pikir aku akan membiarkan wanita rendahan sepertimu mengganggu rumah tangga anakku?" Seru Nyonya Weni dengan mata yang hendak keluar dari kelopaknya.
" Sebelum anda repot-repot melakukan hal itu, lebih baik anda mencari tahu soal menantu anda!"
What? Menantu?
" Karena sepertinya, wanita terhormat seperti anda tampaknya masih sangat mudah untuk di bodohi!"
" Apa kau bilang?" Timpal Nyonya Weni seketika marah manakala di katakan bodoh.
Membuat Denok tersenyum sinis kala melihat Nyonya Weni tampak naik pitam.
" Nyonya...tahu kah anda, aku bahkan sudah empat kali melihat menantumu berjalan bersama dokter yang mengoperasi Jonathan. Dan jika dugaanku tidak salah, pasti sesuatu telah terjadi antara mereka!"
Membuat Nyonya Weni tampak syok.
"Jadi .. seharusnya kau juga tahu, kalau baik aku dan menantumu itu sama-sama rendah!" Jawab Denok dengan tawa mengecil. " Bahkan sepertinya lebih mahal aku. Menantumu itu pasti melakukannya dengan cuma-cuma kan? Dan anda tahu itu artinya apa?...menantu anda tak memiliki harga diri!"
" Cukup, apa yang kau katakan?"
Feli yang hendak mencari Nyonya Weni sebab Jonathan telah sadar, kini tampak terkejut karena ucapan Denok benar-benar membuatnya ketakutan.
" Nah itu dia orangnya. Anda bisa tanya sendiri. Bye...!" Denok menyeringai saat meninggalkan dua manusia jahat itu. Merasa puas karena berhasil membuat Nyonya Weni seketika pucat.
Membuat Feli seketika gugup, sebab Nyonya Weni tampak menatapnya penuh selidik.
.
.
Di dalam ruangan, Jonathan yang tampak lemah terlihat berbaring sebab luka pasca operasi itu masihlah basah. Ia yang melihat tuan Iqbal di dalam ruangan hanya diam dengan perasaan yang masih saja kecewa akibat pertengkaran beberapa waktu lalu.
" Jo!"
" Akhirnya kau sadar juga!"
Mendengar suara Mamanya dari bibir pintu, ia tampak melirik sekilas lalu memejamkan matanya kembali, manakala melihat Feli yang juga berada di sana.
" Aku sangat mencemaskan mu Jo. Bagaimana kondisimu saat ini?" Tanya Feli dengan wajah yang nampak begitu khawatir. Mengabaikan Nyonya Weni yang kini terlihat tak seramah biasanya.
" Dimana Delon?" Tanya Jonathan lemah.
" Jo, lukamu masih bel..."
" Dimana Delon!" Ucap Jonathan kembali kali ini lebih keras.
Membuat Feli yang merasa di abaikan oleh Jonathan tampak mendecak kesal.
" Dia sedang memenuhi panggilan polisi untuk memberikan keterangan. Nak, bagaimana bisa kau terlibat kasus dengan Jac?" Tanya Nyonya Weni tampak ketar-ketir.
" Tidak usah di bahas. Sudah berlalu!" Ketus Jonathan yang terlihat masih marah kepada kedua orangtuanya.
Tuan Iqbal dan nyonya Weni saling menatap dengan perasaan resah. Bagaimana ini, mengapa onathan semakin sulit mereka kendalikan?
.
.
Delon
Usai memenuhi panggilan polisidengan rasa tubuh yang teramat lelah, ia yang berniat untuk pulang ke rumahnya dibuat kesal karena ponselnya malah berbunyi.
" Ya siapa ini?" Jawab Delon yang malas kepada nomor baru itu.
" Pak, yang anda minta kemarin sudah ada!"
Demi apapun yang ada di jagat raya ini, Delon seketika memutar balik mobilnya dengan perasaan tak sabar, sebab apa yang ia tunggu akhirnya datang juga.
Beberapa saat kemudian.
Di sebuah tempat yang terlihat bersih dan nyaman, Delon yang kini sudah bersama seseorang yang telah ia gunakan jasanya untuk menyelidiki masa lalu Jonathan, tampak tercenung menekuni sebuah dokumen.
" Panti asuhan yang anda sebutkan tidak memiliki catatan apapun terkait Pak Jonathan. Jadi 99 persen, Pak Jonathan memang tidak pernah tinggal di panti asuhan.
Membuat Delon semakin tertegun.
" Surat rumah sakit ini menunjukkan di tanggal itu ada kelahiran dua bayi yang sama. Namun yang satu orang meninggal!"
Delon tampak membaca hal itu secara saksama.
" Maksudmu..."
Sepeninggal orang suruhannya itu, Delon yang masih belum puas tampak memijat keningnya sebab ia meyakini jika kedua orang tua Jonathan tampak menyembunyikan sesuatu.
Terlebih, mata-mata nya beberapa waktu lalu juga melihat Nyonya Weni keluar masuk ke tempat notaris terkenal.
Rasa ingin melindungi muncul manakala ia merasa Jonathan selama ini sungguh baik kepadanya.
Ya...walau pria itu mulutnya memang seperti itu. Terkadang pedas juga membagongkan sekali tiap memberikan perintah.
Namun, ia juga menyadari bila tak ada orang sempurna di dunia ini bukan?
Sejurus kemudian, ia yang melintasi kawasan Restoran Jonathan memilih untuk menepikan mobilnya ke sana dan memilih untuk istirahat sebentar dari pada menunggu lama untuk kembali kerumah.
Hah astaga, dia benar-benar ingin tidur untuk waktu yang lama sebab tubuhnya terasa remuk redam.
Namun, saat Delon hendak masuk ke ruang kerjanya, ia tak mengira jika Tika sudah datang.
" Pak!" Sapa Tika yang selalu berlebihan.
Ia mengangguk kala di sapa oleh anak buahnya yang sudah menor di jam sepagi itu. " Kau sudah datang?"
Tika ganti mengangguk, wanita itu berharap akan mendapatkan pujian karena selalu datang before schedule.
" Anak baru bersama Windi tidak terlihat sejak kemarin Pak. Jika bapak berkenan, saya ingin bapak meng- approve planning saya untuk memberikan SP kepada mereka berdua karena seenaknya saja tidak masuk kerja!"
" Kalau kamu berani SP mereka, kamu yang bakalan di SP sama Pak Jonathan Tik!"
" Ah biarkan saja. Mungkin anak baru itu belum terbiasa. Ya sudah kamu jangan ganggu saya dulu. saya mau tidur, jangan lupa laporan akhir tahun kirim ke email saya ya Tik!"
Tika melolong heran dengan wajah tak percaya, demi mendengar ucapan Delon yang santai itu. Membuat rasa bencinya kepada Denok semakin bertambah.
.
.
Karin
Ia kini terlihat mematung dengan mata nanar menatap gerak semu jalanan saat Kelvin terlihat fokus mengemudi.
Ya, sesuai anjuran dokter beberapa waktu yang lalu, ia boleh diperbolehkan pulang jika infusnya telah habis.
" Kita langsung kerumah sakit?" Tanya Kelvin yang membuat lamunan Karin seketika buyar.
Karin mengangguk dengan wajah layu " Aku ingin segera bertemu dengan Denok!"
Kelvin yang melihat kesedihan di wajah Karin langsung terdiam.
Namun, pikirannya mendadak mengembara saat dua manik matanya tak sengaja menatap bibir tipis, yang sempat melakukan pendaratan darurat ke bibirnya beberapa jam yang lalu. Sialan!
" Kamu gak ganti baju dulu?" Tanya Kelvin mencari topik pembicaraan lain, lantaran dirinya yang mendadak merasa berdesir tanpa sebab.
Jelas menandakan jika ada yang tidak beres.
" Aku gak punya baju. Semua barang-barangku di bawa oleh Jac, dan aku tidak tahu sekarang ada dimana!"
Membuat Kelvin menatap lekat wanita itu. Baiklah, berbuat baik itu tidak ada salahnya kan. Begitu isi hati Kelvin saat lampu pijar Thomas Alva Edison, mendadak muncul di depan jidatnya.
Beberapa waktu kemudian, Karin terkejut saat melihat Kelvin yang malah membelokan mobilnya ke sebuah rumah besar.
" Katamu kita kerumah sakit" Tanya Karin dengan wajah bingung.
" Sebaiknya kamu mandi dulu. Ini rumahku, ada Oma ku di dalam. Lagipula, tidak estetik sekali kita kesana dengan penampilan seperti ini!"
" Apa kau bilang? Estetik? Kita kan memang baru saja mengalami hal mendebarkan, wajar jika kita.."
" Cepat turun, semakin kau mengelak, semakin lama kita disini nanti!"
Membuat Karin seketika mendecak.
Kini, Karin tampak mengekor di belakang pria jangkung itu. Matanya kelayapan demi melihat rumah yang interiornya mirip seperti hotel yang perna ia gunakan bersama Leon beberapa waktu lalu.
Merasa sedikit ciut nyali demi teringat jika dia hanyalah seorang...
" Astaga, Kelvin apa yang terjadi denganmu?"
Teriakan Nyonya Belinda yang terkejut saat melihat cucunya begitu berantakan, membuat mata jelalatan Karin seketika fokus.
" Oma!"
Kelvin memeluk wanita berambut putih itu dan membuat Karin menunduk canggung.
" Apa Oma susah menonton berita Jacob tertangkap?" Tanya Kelvin sesaat setelah pelukan mereka terlepas.
" Apa maksudmu?" Tanyanya Nyonya Belinda tak mengerti. Apa cucunya terlibat kejahatan itu?
" Jangan bilang kalau kau..."
" Astaga Oma. Pasti Oma mikir yang tidak-tidak. Aku justru ada di sana karena semalaman aku menghajar orang-orang brengsek itu. Dan Oma tahu...."
Kelvin dengan antusias menceritakan soal dirinya bersama beberapa kawan-kawannya yang terlibat aksi menegangkan bersama Jonathan.
Membuat Karin seketika menggaruk kepala seraya menahan tawa karena menurutnya, Kelvin sangat lebay dalam menceritakan kejadian itu, dan membuat Nyonya Belinda beberapa kali menutup mulutnya dengan mata melebar.
Astaga pria itu benar-benar!
" Jadi maksudmu Jonathan di culik oleh pria itu? Oh ya ampun, bukankah pria itu adalah pengusaha sukses?" Tanya Nyonya Belinda lagi dengan wajah semakin penasaran.
Karin yang melihat interaksi lucu di depannya itu seketika menarik senyuman. Sungguh, Kelvin Benar-benar pribadi yang kondisional.
Karin bahkan masih ingat semarah apa Kelvin semalam kala melihat Jonathan tertembak. Ia juga masih ingat sekesal apa Kelvin kepada dirinya manakala ia memukul Kelvin karena salah sangka.
Lalu, ia juga masih ingat sepanik apa Kelvin manakala ia baru sadar. Dan kini, ia melihat seorang pria lucu yang berhasil mengelabuhi seorang wanita tua, agar terlihat keren dan hebat.
" Lho, ini siapa Vin? Astaga, maafkan Oma ya anak manis. Gara-gara cucuku yang cerewet ini, aku sampai tidak menyapamu. Tunggu dulu, apa kau juga ikut..."
Nyonya Belinda yang syok demi melihat Karin yang juga tak kalah berantakan, kini memindai beberapa luka yang tercetak di kening Karin.
Membuat Karin mengangguk ragu.
" Astaga...!" Jawab Nyonya Belinda menatap muram Karin.
Kini, Kelvin akhirnya menceritakan secara gamblang, peristiwa yang menyebabkan kenapa ia bisa bersama Karin. Tentang Karin dan Denok yang juga menjadi korban penculikan, serta kasus yang setelah ini bakal membuat mereka riwa-riwi ke kantor polisi.
Meski,sepanjang menceritakan, Kelvin belum berani menyebutkan identitas sebenarnya Karin dan Denok kepada Omanya.
" Jadi kamu ini temannya Novi?" Tanya Nyonya Belinda muram sesaat setelah mendengar cerita dari Kelvin.
Karin mengangguk dengan senyuman yang terukir tulus. Membuat Nyonya Belinda merasa iba.
" Ya sudah, kamu bersihkan diri dulu. Ada baju perempuan banyak milik mamanya Kelvin dulu. Pasti muat di tubuh kamu!"
Karin yang selama ini tak pernah merasakan kehangatan keluarga, kini merasa begitu senang demi melihat Kelvin dan wanita tua itu yang nampak baik kepadanya.
.
.
Yusuf
Belakangan ini, ia merasa sering mengantuk. Tapi bukan berarti ia tak bisa mendengar apa yang di obrolkan oleh orang-orang dewasa itu.
Kepalanya sekarang juga botak pasca di cukur, sebelum menjalani operasi beberapa waktu yang lalu.
Kini, dalam keheningan yang menyeruak, ia meraba wajah Mamak yang terlihat tertidur membungkuk ke kasurnya dengan mulut setengah terbuka.
Membuat Mamaknya seketika terbangun.
" Cup, kau haus?"
Ia tersenyum saat melihat Mamak yang langsung bangun karena sentuhannya. Terlihat begitu panik saat melihatnya Yusuf yang mungkin memerlukan sesuatu..
"Mamak benar-benar sayang kepadaku !"
Yusuf menggeleng tak membenarkan tebakan Denok. Bocah itu sengaja membangunkan Denok agar mamaknya pindah ke tempat yang lebih nyaman.
" Mamak jangan tidur di sini, nanti lehernya sakit. Mamak kelihatan ngantuk banget!" Tukasnya yang memang memperhatikan Denok.
Denok mengangguk menyetujui, " Mamak emang ngantuk banget cup tapi enggak bisa tidur!" Ucapnya seraya menguap, dengan gerakan memindahkan diri ke sofa yang ada di samping ranjang anak angkat nya itu.
Yusuf tersenyum dengan wajahnya yang masih pucat.
" Permisi!"
"Den... Denok!"
Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya di atas sofa, suara riuh dari luar membuat niatnya urung.
" Denok!"
Matanya langsung mendelik demi melihat Tante Rania yang rempong, Danuja yang giginya ompong, serta Yanti yang kini tampak bengong kala melihatnya melolong.
Membuatnya membeku untuk beberapa saat.
" Oh tidak, setalah ini aku pasti akan di sidang oleh mereka!"
.
.
.