The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 40. Pembicaraan pria dewasa



...🌹🌹🌹...


Felisha


Ia kesal sebab suaminya tak pulang sejak semalam. Lebih parah lagi, saat ia membutuhkannya Andra, pria itu mengatakan jika dirinya tengah sibuk menangani pasien kanker.


" Sory Fel, aku sibuk banget. Next time aja!"


Membuatnya benar-benar meradang.


" Kemana sebenarnya Jonathan pergi? Apa dia menemui wanita itu lagi?" Dengan wajah resah ia bahkan sakit hati manakala menerka-nerka sendiri.


Dilihatnya ponsel miliknya yang benar-benar sunyi. Ia juga berkali-kali menghubungi Jonathan namun yang di dengar hanyalah pesan dari Veronika.


The number that you calling is busy, please try again later.


" CK brengsek!"


Membuatnya seketika memilih untuk pergi di jam sepagi untuk untuk membunuh kesumpekan.


Sementara itu, sosok yang sulit di hubungi itu nampak telah berada di sebuah tempat makan bersama Kelvin.


" Oh common man! Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku soal kemarin!" Tukas Kelvin yang masih penasaran ada urusan apa Denok bersamanya tempo hari.


" Jadi kau juga mengenal Novi? Maksudku Deni. CK, astaga kenapa juga dia dinamai nama laki-laki seperti itu?" Menggerutu sendiri demi lidah yang kaku manakala menyebutkan nama awal Denok.


Jonathan yang diajak bicara hanya diam sembari sibuk menyendokkan sup asparagus ke mulutnya. Terasa kurang enak di lidah sebab pikirannya tengah bergelut dengan problematika yang cukup pelik.


" Kau tahu, aku bahkan telah mencarinya kemana-mana tapi aku belum juga menemukan. Sekarang aku menyesal kenapa aku tidak membaca nama di seragamnya kemarin!" Cetus Kelvin mendominasi pembicaraan dengan wajah muram.


" Kenapa harus wanita itu?" Jonathan yang telah selesai dengan makannya kini menatap Kelvin. Tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya.


Kini, Kelvin meletakkan sendok dan garpu nya lalu bertopang dagu seraya membayangkan wajah Denok pada saat pertama kali mereka bertemu sebelum menjawab Jonathan.


" Dia unik!"


" Strong!"


" Heroik!"


"Apa adanya!"


" Dan yang paling penting, dia juga sangat cantik!" Puji Kelvin dengan tatapan menerawang dan wajah yang senyam-senyum sendiri demi teringat akan kebaikan Denok yang telah dilakukan kepada nyonya Belinda.


Terlihat bodoh manakala berimajinasi.


Jonathan mendadak kesal manakala bibir sahabatnya itu menyebut kata cantik untuk wanita yang ia puja dalam keterasingan.


" Ngomong-ngomong, kau sekarang kenapa sih? Kenapa wajahmu masam sekali?" Kelvin yang telah tersadar dari imajinasinya, menangkap seraut gundah yang di tunjukkan oleh Jonathan.


Sepertinya, mereka memasuki waktu Indonesia serius.


Jonathan tampak menghela napas panjang. " Aku hanya merasa...Mama..."


" Kenapa memangnya dengan Tante Weni?" Kelvin kembali meraih sendoknya lalu meneruskan sarapannya yang sempat terjeda. Menatap Jonathan yang tampak resah.


" Aku tahu ...selama ini jika bukan karena beliau, mungkin aku tidak akan pernah bisa mengenalmu!" Ucap Kelvin tersenyum kecut demi menyadari jika ia merupakan anak angkat.


Kelvin yang sibuk mengunyah nampak memperhatikan wajah Jonathan lekat-lekat. Sepertinya sahabatnya itu tengah tidak baik-baik saja.


" Tapi.." Jonathan tersenyum ironi. " Kau tahu kan jika pernikahan ku dengan Feli..."


" Demi rasa tak enak hati dan dalih balas budi?" Sahut Kelvin sesaat sebelum meneguk minumannya. Ia kini telah tahu alasan Jonathan menikahi wanita hedon itu.


Tapi kenapa itu sangat sulit ia lakukan?


Karena jujur saja, melihat Denok menderita seperti itu sangat membuatnya tidak tenang. Apalagi, malam panas yang telah mereka lalui bersama itu, menjadi titik ketidakrelaannya untuk membiarkan tubuh indah itu dinikmati pria lain. No Way!


Kini, Kelvin yang telah selesai dengan sarapannya, nampak menatap sahabatnya itu lekat-lekat.


" Orang bijak pernah berkata, dengarkan suara bening dalam hatimu. Maka disitulah letak kebenaran sejati!"


" Singkat kata, mengikuti kata hati itu biasanya bisa menyelamatkan kita dari malapetaka Jo. Karena di sanalah, Tuhan membimbing kita secara langsung!"


Jonathan masih menatap hamparan cakrawala manakala Kelvin mulai berbicara dengan nada serius. Entah mengapa, perkataan Kelvin baru saja membuat satu keyakinan yang ia bangun, menjadi semakin kokoh.


" Jangan kau jadikan kebaikan orangtuamu sebagi beban apalagi halangan untuk hidup bahagia!"


Kelvin nampak menatap lekat sahabatnya penuh dukungan. Walau ia sendiri tidak tahu, jika kenyataan yang akan ia dengar nanti, bisa saja mematahkan hatinya sewaktu-waktu.


" Aku berbicara seperti ini bukan berarti aku mengajarimu untuk durhaka Jo, tidak!" Kelvin melipat kedua tangannya ke atas meja. " Tapi lihatlah dirimu Jo, kau tidak pernah berubah. Kau selalu memikirkan kebahagiaan orang lain, dan mengesampingkan kebahagiaanmu sendiri!"


" Padahal, bahagia itu tidak lain diri kita sendiri yang menciptakan!"


Keheningan mendadak menyeruak. Apa benar yang dikatakan oleh Kelvin baru saja? Jika serius begini, Kelvin benar-benar bijak juga. Membuat Jonathan ingin berterus-terang saja soal Denok kepada Kelvin.


" Menurutmu, mana yang lebih baik. Melakukan sebuah kejujuran tanpa kebahagiaan, atau kebohongan namun disertai kebahagiaan?" Jonathan melempar pertanyaan seraya menatap serius Kelvin.


" Tunggu dulu. Konteksnya apa dulu ini. Sebab, dua hal ini merupakan hal yang cukup krusial bagi beberapa kasus!" Timpal Kelvin menatap ragu. " Maksudku, di beberapa kejadian, kadang kita perlu bohong. Ya...demi kebaikan. Tapi percayalah, kebohongan itu hanyalah ketenangan sesaat, dan apabila tidak segera kita selesaikan, lu bakal gelisah seumur hidup!"


Membuat Jonathan menghela napas panjang lalu tertegun.


" Ada hal penting yang ingin aku katakan kepadamu!" Ia menghela napas meyakinkan diri. " Kuharap ini tidak akan menjadi persoalan antara kita!"


" Apa yang kau bicarakan. Katakan saja! Jangan membuatku merasa merinding!" Jawab Kelvin santai seraya meriah secangkir kopi di depannya.


" Kau ingat wanita yang sempat aku ceritakan kepadamu saat aku masih menjadi sekretaris tuan Jodhistira?"


Kelvin mengangguk tanpa menjawab sebab ia tengah sibuk menyeruput kopi panas itu.


" Wanita yang pernah hilang, wanita yang pernah aku ceritakan kepadamu saat kau masih di luar negeri dulu... adalah Novi!"


" Novi yang telah menyelamatkan nenekmu!"


" BBRRRTTT!"


Kelvin seketika menyemburkan kopi itu ke arah Jonathan demi rasa kaget yang luar biasa. Membuat Jonathan turut terkejut.


" Apa?"


" What the...?" Kelvin bahkan tak bisa meneruskan ucapannya sebab ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan ia dengar.


Oh Gosh, are you kidding me?


" Kau ini benar-benar pria brengsek, aku akan ada pertemuan penting dan kau malah menyemburkan kopi sialan ini ke bajuku!"


Jonathan mendengus seraya menggerutu kesal demi melihat dirinya yang begitu berantakan. Terlihat lebih mencemaskan keadaannya yang awut-awutan akibat semburan kopi jahanam itu, ketimbang Kelvin yang benar-benar terkejut bukan main.


" Ja- jadi...kau dan Novi...?" Kelvin yang masih tak percaya akan apa yang ia dengar itu, seketika menjadi gagap.


.


.