
...🌹🌹🌹...
Denok
Pagi itu ia memutuskan untuk tidur setelah Karin pamit undur diri. Kepalanya serasa mau pecah saja jika digunakan untuk berpikir. Padahal, sudah habis berbatang- batang rokok dengan sensasi mentol yang telah ia hisap.
Ia nampak menarik laci dan mengambil sebuah benda yang hampir tiga tahun tak lagi ia gunakan.
Gelang yang semula bermakna, kini menjadi garam dalam luka yang mengaga. Perih tiap mengingat.
...Flashback...
Tiga tahun yang lalu
Denok
Seminggu pasca pernikahan Jodhi dan Lintang, ia masih sering berkabar dengan Yanti. Ia kerap diminta Rania untuk datang ke kota. Bahkan, Lintang menawarinya untuk turut tinggal disana.
Namun, ia yang sadar diri akan posisinya yang hanya orang lain, tentu saja masih tau batasan. Ia tidak mau, persahabatan, juga kekeluargaan yang telah terjalin karib, rusak karena gesekan ekonomi.
Ia paham akan hal itu. Akan jauh lebih baik bila dirinya menjadi diri sendiri saat ini
Hingga, suatu malam, ia sama sekali tak menduga jika pria bernama Jonathan itu datang ke kota S dengan kamuflase yang unik.
" Di Hotel Aliya, kamar VIP!"
Begitu pesan salah satu rekannya yang menginformasikan client penting dari luar kota yang akan menggunakan jasanya.
Apa mau dikata, selain masih belum menemukan pekerjaan yang cocok dengan kapabilitasnya, merubah diri itu rupanya tak semudah menelan ludah sendiri.
CEKLEK!
DEG
Matanya membulat kala melihat Jonathan yang hanya menggunakan handuk putih sebatas pinggang, terlihat menyembul dari balik pintu kamar hotel 212.
" Aku kira isinya Wiro Sableng. Kok ternyata..." Denok membatin tak percaya.
" Beginikah caramu melayani tamu yang sudah memesan mu mahal-mahal, hm?" Ucap Jonathan yang membuat Denok ingin mencekiknya.
" Aku salah kam..."
" Masuk!"
Jonathan dengan gerakan cepat menarik lengan putih Denok, dan membuat wanita itu tersedot masuk kedalam kamar hotel yang begitu besar itu dengan rasa tak percaya.
" CK!" Mendecak secara nyata sebab ia sebenarnya masih sangat kesal dengan pria di depannya itu.
Tubuh Jonathan yang ternyata begitu WOW itu, membuat Denok mendelik seraya meneguk ludah.
" Mau apa kau?" Ketus Denok yang mendadak pucat kala di tatap datar oleh Jonathan. Entah mengapa, ia juga bingung dengan dirinya. Kenapa dia harus segrogi ini?
" Mau kopi?" Tawar Jonathan yang terlihat sibuk namun santai kala mengaduk kopi di depan tempat tidur dengan sprei putih itu.
Bukannya menjawab, Denok malah memalingkan muka ke arah hamparan perkotaan yang tampak kelap-kelip di malam itu.
Definisi dari masih Jeleous.
Membuat Jonathan menarik seulas senyum, manakala ia melihat Denok yang masih pias juga nampak kesal.
" Wanita dimana-mana sama!"
" Soal Feli..."
" Aku tidak pernah membicarakan urusan pribadi dengan pelanggan ku!" Sergah Denok cepat. Apalagi, ia tahu siapa Feli.
Membuat Jonathan menarik seulas senyuman. Yes, you still Jeleous!
" Aku pasti menjadi client terjauh dan tertampan yang pernah kamu layani!"
Denok menoleh manakala Jonathan nampak menyeruput kopi buatnya sendiri di malam itu sembari berkata jumawa.
Bagiamana bisa laki-laki itu terlihat begitu santai?
" Percaya diri sekali?"
Denok masih bersikukuh berdiri seraya menatap hamparan perkotaan dari dinding kaca lebar yang gordennya terbuka.
Hingga, ia tak menyadari bila Jonathan telah berdiri di belakangnya dengan senyuman lucu.
" Fuh!"
" Fuh!"
Jonathan menuip- niup telinga Denok seraya terkekeh. Membuat wanita itu benar-benar ingin menjotos wajah Jonathan.
Damned!
" Kau ini mau apa sebenarnya Jon? Kalau niat mau begitu, buruan, waktuku keburu habis!" Omel Denok yang merasa Jonathan kurang sat set.
" Apa?"
" Bisa mati kering aku, mana itunya kayak jantung pisang lagi gedenya!" Batin Denok yang malah justru fokus ke arah lain.
Membuat Jonathan ingin terkikik.
" Kalau berdua begini, ilang dia ceplas-ceplosnya. Artinya, dia masih bisa dirubah!" Jonathan bermonolog dalam hati sembari memindai tampilan Denok yang terlalu cantik jika digunakan untuk mela*curkan diri.
" Soal Felisha, aku tidak menyukai wanita itu. Dia hanya anak rekan papa, aku..."
Jonathan sengaja ingin menjeda kalimatnya dan ingin melihat reaksi Denok terlebih dahulu sebelum meneruskan ucapannya.
" Novi!"
Denok yang di panggil bukan sebutannya seketika mendongak.
" Nova Novi Nova Novi!" Dengusnya makin kesal. Membuat Jonathan kini tertawa lebar.
Dan, tawa Jonathan yang nyaris tak pernah terlihat itu, berhasil membuat Denok turut tertawa meski agak malu-malu.
" Mulai sekarang aku akan memanggilmu Novi. Namamu, Deni Novita kan?"
Membuat Denok mendecak tak percaya.
" Bisakah kita mengenal lebih dekat? Aku ingin, kau hanya bekerja dan melayaniku!"
DEG
Hembusan nafas hangat serta harum milik Jonathan membuat otak Denok traveling. Apalagi, dada bidang yang bersih membuat wanita itu salah fokus, makin mengundang gelenyar aneh hadir.
Namun, hari-hari yang terlalui dengan baik itu, harus berubah menjadi sebuah rasa sakit kala ia yang diajak Jonathan ke kediamannya suatu hari, mendapat omongan sinis dari Bu Weni, yang merupakan Mama dari Jonathan.
" Pekerjaan kamu apa? Lulusan universitas mana? Karena, maaf ya...sejak dulu, Om sama Tante harus tahu dulu background keluarga calon menantu Tante. Ya...supaya sama- enak. Bukan begitu Jo?"
" Saya hanya lulusan..."
" Waduh, sayang sekali ya. Gimana nanti anak-anak kalau orang tuanya gak punya bekal pendidikan yang cukup. Jonathan itu calon direktur. Jangan sampai yang mendampinginya nanti, orang sembarangan!"
Detik itu juga, selain penolakan yang nyata, ia juga merasa bagai di permalukan dan di telanjangi secara mentah-mentah. Apalagi, dua orang tua Jonathan nampak tidak terlalu menggubris kehadiran di kota itu.
" Aku akan cari cara untuk meyakinkan mereka!"
" Kita masih ada waktu untuk berjuang!"
" Kamu jangan marah ya!"
" Aku akan bicara pelan-pelan nanti ke Mama!"
Namun, Jonathan yang semula berhasil meyakinkan dirinya, kini bagai hilang di telan bumi. Tak meninggalkan bekas apalagi jejak.
Hingga, suatu malam setelah sebulan kemudian, ia yang hendak mengistirahatkan tubuhnya, terkejut manakala membaca pesan dari Lintang yang berisikan sebuah undangan pernikahan.
" Mbak, Jonathan mau nikah, apa mbak Denok sudah tahu?"
DEG
" Menikah?"
Ia yang malam itu menatap nanar undangan virtual dalam ponselnya, seketika gemetar. Apa mksud
Apa semua laki-laki di dunia sama? Mengobral janji namun tak ada yang mampu menepati?
Ini salahnya.
Sudah bagus tak melibatkan hati kepada kaum pria, ia yang mengira Jonathan pria yang berbeda kini harus menelan pil pahit kekecewaan.
Bahkan, nomor Jonathan tak lagi bisa ia hubungi. Media sosial milik laki-laki itupun telah terhapuskan. Membuatnya meyakini bila Jonathan memang hanya mempermainkannya saja.
" Aku benar-benar membencimu, Jo!"
...Flashback end...
Waktu sekarang
" Benci sama orangnya tapi barangnya masih berguna juga. CK, yang bener aja!" Gumam Denok menggantung gelang yang harganya bisa digunakan untuk membeli sebuah motor N-Max baru.
Berniat menggadaikan benda itu untuk ia gunakan sebagai uang saku mencari Yusuf.
" Kemana sebenarnya kamu Cup?"
.
.
.
.