The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 20. Rencana Jonathan



...🌹🌹🌹...


Denok


Ia seketika merasa terkena hipotermia. Padahal, ia saat ini tak berada di kutub Utara. Merasa sekeliling ruangan menjadi dingin dan beku demi apa yang terjadi saat ini.


Otaknya juga tak bisa memetakan keadaan yang mendadak terjadi. Tentang bagaimana bisa pria itu menemukan dirinya di kamar yang bahkan tak mungkin ada yang mengira jika ia ada di sana.


Tiada percaya jika doa Karin beberapa waktu lalu akan terkabul. Membuatnya mendecak tak menduga bila ia bersua kembali, bahkan setelah bertahun-tahun tanpa komunikasi.


Bukankah yang datang seharusnya Yusuf dan laki-laki sialan itu? Lantas kenapa yang hadir saat ini justru laki-laki yang paling ingin dia lupakan?


Jangan-jangan..


" Untuk apa kau kemari? Dan bagaimana bisa kau..." Ketus Denok nampak kesal dan tak suka.


Jelas ia berhak marah. Apa yang terjadi beberapa tahun lalu benar-benar tak mudah untuknya. Jonathan tahu itu.


Dan sorot mata penuh kekecewaan itu, bagai anak panah yang melesat dan kini membuat dada Jonathan nyeri. Menghujam relung hati terdalamnya.


"Aku sangat merindukanmu Nov!"


Denok hanya bisa mematung manakala Jonathan yang dengan gerakan tak terbaca, tiba-tiba menarik tubuhnya kedalaman dekapannya yang begitu erat.


Aroma khas itu, kini degan bebasnya menjajah rongga hidung Denok. Dan sialnya, membuat sekujur tubuhnya merinding.


Untuk sejenak, ia bahkan tak bisa melawan. Ada apa ini? Kenapa ia tak bisa marah kepada laki-laki itu?


" Maafkan aku Nov. Maafkan aku. Kita harus bicara setelah ini!"


Ia bahkan terdiam manakala suara Jonathan kini menjadi bergetar karena ia yakin, jika pria itu pasti sedang menitikkan air matanya.


" Lepasin Jojon sialan! Enak aja main peluk - peluk! Jangan sampai aku dikira pelakor sama istri orang!" Jawab Denok seraya menyindir dan berusaha menghalau rasa seraya mendorong tubuh berat di depannya itu.


Membuat Jonathan tersenyum karena bibir Denok bahkan sudah mau menyebut namanya.


Namun, senyuman itu mendadak memudar manakala Denok tiba-tiba beranjak ke arah pintu, lalu membuka pintunya.


" Keluar!" Tukas Denok kecewa dengan wajah yang tak berani menatap Jonathan.


DEG


Jonathan mendadak tertegun saat melihat Denok yang kini malah memintanya pergi.


Wanita itu masih sama rupanya. Sangat sulit untuk di selami. Itu yang Jonathan suka dari Denok, selalu memiliki prinsip.


" Nov, tidakkah kau rindu kepa..."


" Rindu?" Sela Denok seketika menatap tajam ke arah Jonathan dengan sorot penuh kekecewaan.


" Maaf!" Lirih Jonathan yang tahu bila wanita itu sepurane masih menyimpan kemarahan kepadanya. Damned! That's my bad!


Ya, itu jelas salahnya.


" Aku tidak tahu bagaimana bisa kau mengetahui keberadaanku, tapi sebaiknya kamu pergi!" Ketus Denok dengan wajah yang sudah sangat tidak ramah.


Ya, dia berhak untuk kecewa.


" Nov aku ingin bica..."


" Pergi atau akau laporkan ke keamanan?" Hardik Denok makin tak sabar.


Membuat Jonathan seketika menjadi muram dengan suasana yang mendadak canggung.


" Apa kau tuli? Kubilang kelu..."


" Aku kemari karena mengantar Yusuf untuk menemuimu!"


.


.


Kini, Denok benar-benar menangis kala sosok yang ia cari telah ia temukan dan bisa ia peluk dengan rasa syukur. Menumpahkan segala rasa khawatir, cemas juga kekesalan kepada buah sepuluh tahun itu.


" Bagiamana bisa kamu punya pemikiran seperti ini Cup? Apa dengan uang sejuta dua juga bisa bikin kita hidup lebih baik?" Denok nampak mengusap lembut pipi kurus Yusuf.


Jonathan yang ada di kamar itu nampak memperihatinkan interaksi mengharukan yang tengah terjadi.


" Ucup cuma gak pingin Mamak kerja lagi Mak!" Jawab Yusuf yang masih sesenggukan.


" Udah berapa kali Mamak bilang, kamu gak usah mikirin urusan perut Cup, itu sudah jadi tugas Mamak. Kalau kamu emang kasihan sama Mamak, sekolah yang bener biar jadi orang. Cuma kamu yang Mamak punya Cup, apa sekarang kamu juga mau pergi dari hidup Mamak?"


Bagai tersindir dan tertampar oleh pernyataan Denok, Jonathan merasa hatinya begitu nyeri manakala mendengar kalimat menyedihkan dari bibir Denok.


" Ucup cuma gak ingin Mamak bekerja begitu lagi. Ucup gak mau Mamak di hina Mak!" Tutur Yusuf dengan tangis yang kembali pecah. Membuat Denok menggigit bibir bawahnya karena menahan sesak di dada.


" Asal kamu tahu Cup, nyari kerja itu gak semudah seperti kamu kabur atau kamu pergi dari orang lain!"


DEG


Membuat Jonathan lagi-lagi tersindir.


" Mamak gak minta jadi orang kaya kok Cup, Mamak cuma pingin kamu sekolah yang bener dan gak usah dengerin omongan orang Cup! Biar apa, biar kamu bisa Mamak harapkan di hari tua Mamak!" Seru Denok meluapkan isi hatinya dan tak menghiraukan Jonathan yang lekat memperhatikan mereka berdua.


Hening.


Hanya terdengar isak tangis Yusuf juga napas Denok yang nampak menggebu-gebu sesaat setelah menumpahkan kesesakan yang membuncah.


" Ucup tetap mau kerja sama Paman Jo. Paman, bisakah Paman memberikan pekerjaan kepada Mamak?"


Dan, ucapan Yusuf baru saja sukses membuat Denok membulatkan matanya. What?


" Ngomongin apa kamu Cup?" Sahut Denok dengan raut yang berubah tak suka.


" Rumah Paman Jo besar Mak. Paman pasti bisa membayar Mamak, iya kan Paman?" Tanya Yusuf dengan polosnya.


Jonathan nampak menyeringai saat Yusuf mengatakan hal itu. Membuat Denok menatapnya dengan tatapan kesal.


" Apa kau sudah mencuci otak anakku?" Tuding Denok dengan wajah tak suka.


" Untuk apa aku melakukannya. Bukankah anak-anak selalu jujur?" Jawab Jonathan enteng dengan wajah cool.


Kini, Jonathan tersenyum licik ke arah Denok yang tampak geram karena kalah.


" Kita pulang!" Denok menarik lengan Yusuf karena malas berdebat dengan pria yang masih belum bisa ia maafkan itu.


" Ucup gak mau pulang. Ucup mau sama Paman!" Yusuf memberontak dan malah berlari bersembunyi di belakang Jonathan.


" Cup?" Denok menatap tak percaya ke arah Yusuf yang kini berdiri di belakang tubuh Jonathan.


" Bagus Cup, mari kita sama-sama buat Mamak pelan-pelan keluar dari tempat itu!"


" Restoran Delon sedang membutuhkan karyawan. Jika kau mau, aku bisa menjadi orang dalam untuk membantumu bekerja di sana!" Terang Jonathan dengan seringai licik.


Membuat Denok seketika menatap Jonathan yang nampak jumawa, dengan tatapan kesal.


" Bagiamana bisa orang ini dalam waktu singkat mencuci otak anakku!"


.


.


.