
...🌹🌹🌹...
Jonathan
Matanya jauh memandang hamparan perkotaan yang nampak tiada berhenti menggeliat. Ingatannya kembali kepada Denok yang ia cium secara paksa saat ulang tahun Nyonya Belinda tempo hari.
" *Di*a pasti semakin membenciku. Hah!"
Membatin dengan perasaan gundah, resah dan tak tentu arah. Lagi-lagi, ia semakin merasa dirinya berada di sebuah persimpangan kebimbangan.
TOK TOK TOK!
Ketukan membuat lamunannya seketika buyar.
" Masuk!"
Sahutnya sembari berjalan menuju singgasananya. Berusaha menormalkan kembali raut wajah yang semula kusut.
CEKLEK!
Biji kepala milik Delon membuat Jonathan bernapas lega. Ia pikir itu tamu penting.
" Pak, Pak Kelvin datang dan..."
" Hay!"
Ucapan Delon langsung terjeda manakala suara Kelvin terdengar lebih keras ketimbang laki-laki yang hobi fitness itu.
Oh man, apa pria itu selalu gemar main serobot?
" Kejutan!" Seru Kelvin dengan wajah yang cerah bagai sinar mentari pagi.
Namun, sepertinya biasa, ia dengan wajah datarnya nampak menyongsong kedatangan sahabatnya itu meski sebenarnya hati Jonathan senang dengan kedatangan Kelvin.
" Kenapa wajahmu muram sekali? Apa kau gagal melewatkan malam yang menggairahkan bersama Feli?"
Goda Kelvin dengan alis naik turun sesaat sebelum saling ber high five dengan mister cuek. Jonathan.
" Kau sendirian?" Tanya Jonathan sesaat setelah mereka saling mengadu bahu.
" Tentu tidak. Aku sedang bersama orang yang aku ceritakan lewat telepon semalam!"
Orang semalam ? Siapa?
Membuat Jonathan langsung menatap Kelvin yang auranya begitu berbinar.
" Sepertinya aku menyukai seseorang. Dia sangat berbeda!"
Jonathan mendadak teringat dengan perkataan Kelvin semalam.
Dan saat, mereka masih sibuk mengobrol, seseorang masuk sebab melihat pintu yang terbuka.
DEG
Jonathan sebenarnya tahu jika Denok akan datang untuk mengembalikan uang pusing itu. Tapi yang membuatnya terkejut adalah, ucapan Kelvin barusaja.
Damned, jadi dia adalah...?
" What do you think? hm?" Bisik Kelvin tersenyum penuh kebanggaan kepada sahabatnya.
Alih-alih memberikan jawaban, Jonathan justru menatap Denok yang kini masuk dengan wajah B aja, secara terpekur.
Entah mengapa hatinya terasa teriris demi mengetahui jika Kelvin datang ke perusahaannya bersama Denok.
What the...?
"Maaf Pak Kelvin, saya... sebenarnya ada perlu dengan Pak Jonathan. Kalau anda masih lama, saya ingin berbicara sebentar dengan beliau!"
Ucap Denok tegas sebab ia tak mau membuang waktu lagi. Persetan dengan Kelvin.
Meski sempat mengerutkan kening, namun Kelvin agaknya tak keberatan. Pria itu benar-benar memiliki pembawa yang supel dan flexibel.
" It's ok!"
.
.
Kini, Denok duduk tepat di depan meja Jonathan dibawah gempuran tatapan tajam laki-laki tampan itu. Tatapan yang sama saat mereka pertama kali bertemu.
Menusuk dan penuh misteri.
" Ini uangnya. Jam berapa kau mengantar Yusuf?" Ucap Denok ketus. Merasa tak mau lagi basa-basi.
Sejak tragedi Jonathan yang mencium Denok seenaknya itu, kini wanita itu merasa perlu membatasi diri.
Bagiamanapun juga, Jonathan adalah suami orang. Apalagi, ia selama ini menjaga betul clientnya. Sebisa mungkin tak menerima orderan kalangan suami biadab yang gemar jajan diluar.
" Sepertinya kau sengaja membuatku kesal!" Seru Jonathan menatap lekat Denok.
" Apa maksudmu?"
" Kau mendekati Kelvin agar bisa membalasku?"
Denok semakin tak mengerti dengan ucapan laki-laki di depannya itu. Semakin kesini kenapa pria itu semakin aneh saja.
" Aku tidak ada waktu untuk membicarakan hal yang kurang penting. Sekarang, ambil uangnya dan bawa Yusuf. Kau bahkan lebih perhitungan dari penculik anak-anak skala besar!"
Denok melempar tatapan tajam ke arah Jonathan yang bersedekap manakala ia mengatakan hal tersebut.
Tapi tunggu dulu, kenapa Jonathan bersikap seperti itu? Apa laki-laki itu yang cemburu?
" Setidaknya Kelvin pria yang ramah, hangat, juga bisa di percaya. Jika wanita sepertiku bisa mendapatkan pria semacam Kelvin, aku pasti tidak akan susah-susah menjual diri lagi. Dan yang paling penting, sepertinya Kelvin tidak akan lari dari janjinya!" Seru Denok seraya menatap Jonathan tajam.
Membuat Jonathan gusar dan tersindir. Yes, that's my bad!
Jonathan yang merasa tersindir seketika mengeraskan rahangnya. Bukan marah karena Denok, melainkan rasa tak kuasa atas diri yang belum bisa melawan posisi pelik seperti saat ini.
Ucap Denok penuh penekanan saat pria yang selalu datar itu sama sekali tak membuka mulutnya.
Jonathan menatap Denok yang kini telah di telan oleh pintu itu dengan perasaan campur aduk. Apakah yang diucapkan Denok tadi adalah keseriusan?
Sial! Mendengar hal itu saja sudah membuatnya begitu terbakar. Kenapa yang ia dengar tadi membuatnya tak terima?
Sementara itu, diluar ruangan.
" De, memangnya urusannya apa Novi dengan si Jo?" Tanya Kelvin yang kini berada di pantry untuk menyeduh kopi sendiri.
Benar-benar calon bos yang merakyat.
" Anaknya dia kerja sama Pak Jo!"
" What, anak?"
" Anak angkat!"
Delon akhirnya menceritakan secara masuk akal, sebab-musabab Denok bisa mengenal Jonathan secara sepengatahuannya.
Meski, Delon sama sekali tak tahu tentang hubungan yang pernah terjadi antara Denok dan bosnya itu.
Kelvin yang mendengar hal itu sempat kaget. Tak mengira jika kisah seperti itu, ada di dunia nyata. Anak kabur dan di kejar hingga ke sarang semut sekalipun.
" Tega banget tapi Si Jonathan minta uang tebusan!" Kelvin sangat kesal manakala mendengar cerita itu.
" Bukan tebusan Pak, itu uang ganti rugi buat Vas nya Bu Feli. Tahu sendiri kan Bu Feli itu perfeksionis!"
" Jadi singkat kata, itu bukan Pak Jo. Tapi Bu Feli!"
Membuat Kelvin seketika terdiam dan nampak berpikir.
" Aku heran, kenapa Jonathan akhirnya mau menikah sama Feli, padahal dulu mereka kan..."
" Nyonya Weni pasti punya target sendiri lah Pak. Mereka orang-orang terhormat. Ya kali punya mantu orang B aja. Apa kata dunia?"
Delon yang berucap seraya memperagakan gerakan yang konyol. Membuat Kelvin tergelak.
Ya, Nyonya Weni memang gila hormat.
" Iya sih benar juga. Secara, mereka dari dulu emang begitu. Hah, untung Oma sama Opa ku nggak begitu De. Amanlah!"
" Tapi yang aku lihat, Pak Jo memang nggak bahagia sama pernikahannya. Buktinya, sampai sekarang belum punya anak!"
Tanpa mereka sadari, Denok sedari tadi berdiri di samping pintu dan mendengar semua pergunjingan mereka soal pria tampan yang hemat bicara itu.
Dan entah mengapa, hatinya nyeri demi mendengar kalimat Delon yang mengatakan, "Nyonya Weni pasti punya target sendiri lah Pak. Mereka orang-orang terhormat. Ya kali punya mantu orang B aja. Apa kata dunia?"
Membuatnya seketika ingat akan wajah sinis yang pernah memberondongnya dengan pertanyaan menyakitkan.
" Ya kalian benar. Aku hanyalah orang yang tidak akan pernah bisa selevel dengan Jonathan!" Batin Denok tersenyum getir.
.
.
Felisha
" Mau kemana kau?"
Ia yang malam itu sibuk membaca tabloid fashion seketika berdiri demi melihat Jonathan yang menggandeng tangan Yusuf.
" Aku akan mengantarkannya pulang ke tempat yang seharusnya!" Sahut Jonathan tanpa menatap Feli. Pria itu sibuk menggulung kemejanya hingga sebatas siku.
" Baguslah. Akhirnya kau mengerti!" Tukas Feli menatap tak suka Yusuf yang kini murung. Mengira jika Jonathan telah sadar.
Jonathan mengangguk, " Aku pergi dulu!"
Yusuf hanya melirik Feli yang menatapnya tak suka. Ia heran, kenapa bibi cantik itu tak seramah Mamaknya.
Di dalam mobil, Yusuf menatap kosong ke arah luar jendela. Pikirannya berkelana bersama gerak semu yang tercipta, akibat laju sedang kendaraan kinclong itu.
" Apa kau senang akan kembali ke Mamakmu?" Tanya Jonathan seraya melirik Yusuf dari pantulan rear vision mirrors di depannya.
Yusuf terlihat membetulkan posisi duduknya, dan kini menatap Jonathan yang sibuk mengemudikan mobilnya. " Ya Paman. Apa Paman sedih aku tinggalkan?"
Jonathan tersenyum. Apa berpisah dengan anak seperti ini rasa? Walau hanya beberapa hari, namun selama ini ia sering berkomunikasi dengan baik bersama Yusuf kala dirumah.
"Paman akan lebih sedih kalau kamu membuat Mamak kamu sedih lagi!"
Membuat Yusuf tertegun.
" Dengar Cup. Sesuai misi awal, rencana kita berhasil. Mamakmu sudah bekerja disini. Sekarang, kau tahu apa yang harus kamu lakukan kan?"
Yusuf mengangguk. Ia percaya jika paman tampan itu teman Mamak yang baik.
" Bagus!"
" Jaga dirimu Cup!"
Jonathan sengaja mengantarkan Yusuf sebab ia takut jika Feli akan menyakiti anak itu seperti kapan hari. Terlebih, Feli telah mengatakan kepada Mama Weni soal anak itu .
Lagipula, ia dan Yusuf sudah kong kalikong untuk sepakat membuat Denok meninggalkan pekerjaannya. Dan dalam hal ini, setidaknya ia bisa menolong kehidupan mereka lewat restoran yang ia miliki.
Bagi Jonathan, hanya inilah yang bisa ia lakukan saat tak mungkin bagi dirinya untuk mendekat. Tidak untuk saat ini, entah esok hari ataupun lusa nanti.
Namun yang jelas, secuil rasa itu masih ada. Mengendap serta mendarah daging dalam sanubari terdalam Jonathan.
.
.
.