The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 44. Pertanyaan menohok



...🌹🌹🌹...


Delon


Ia memindai ke sekeliling tempat dimana mobil Jonathan kini teronggok lantaran menabrak sebuah pohon, seraya sibuk mencari sosok yang tak berada di sana.


Dari analisanya, Delon memperkirakan jika kemungkinan besar bosnya itu menghindari laju kendaraan lain dari arah berlawanan.


Tapi masalahnya, dimana bosnya saat ini?


Pikiran yang di tuntut cepat membuat pria muda itu memutuskan untuk menelpon Kelvin. Satu-satunya pria yang beberapa waktu ini sering bersama Jonathan.


Namun, lagi-lagi ia harus kembali merasa bingung sebab Kelvin tampaknya tak bersama bosnya.


" Setelah dari rumah sakit aku akan menemuimu. Aku sekarang bersama Mamaknya Yusuf. Anak itu memerlukan transfusi darah dan aku harus segera kesana!"


Kini, ia bahkan bingung harus menghubungi siapa lagi sebab nomor Feli tak bisa ia hubungi.


Seusai Delon menghubungi pria itu, datanglah polisi yang lengkap dengan segala atribut serta beberapa orang yang akan berkaitan langsung dengan kejadian laka ini.


" Selamat siang Pak..."


Delon yang di datangi komandan kepolisian tampak menyongsong dengan wajah serius.


.


.


Sementara itu, dengan pikiran yang melayang entah kemana, Denok saat ini benar-benar tak bisa menipu diri jika ia juga khawatir akan kondisi Jonathan yang dikabarkan tak berada di lokasi kegelapan.


Kelvin juga telah berkata dengan buru-buru, jika ia akan pergi usai keluar dari ruangan donor. Membuat Denok menaikkan penilaiannya terhadap Kelvin yang sepertinya merupakan pria baik dan tulus.


Kini, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Anaknya juga sedang bertarung dengan maut diruang operasi, sementara Jonathan belum di ketahui kabarnya.


" Mbak Deni kenapa sih? Tenang aja Yusuf pasti baik-baik aja mbak!" Seru Windi yang melihat seraut cemas dari wajah Denok.


Denok mengangguk saat Windi berusaha menghiburnya. Wanita yang lebih muda darinya itu tidak tahu, jika pikirannya saat ini terbagi menjadi dua.


Namun, bukannya menjawab pertanyaan Windi, wanita itu justru lebih tertarik kepada hal lain untuk di tanyakan kepada Windi.


" Win, aku...boleh tanya nggak?" Tutur Denok ragu.


Membuat Windi menatap serius. " Tanya apa mbak?"


Denok yang terlihat ragu, kini menghela napas. " Sebenarnya restoran itu milik Jonathan...maksud aku Pak Jonathan, atau.. Pak Delon?"


Membuat Windi lagi-lagi menatap Denok heran. Mengapa juga Denok bertanya hal ini. Bukannya dia sudah tahu? Begitu pikir Windi.


" Kenapa mbak Deni nanyain hal itu. Ya jelas milik Pak Jonathan lah. Masa sih mbak Deni enggak tahu?"


Denok menggeleng sambil menatap lekat Windi. Membuat wanita itu terkejut.


" Tapi selama ini memang Pak Delon yang sering wara-wiri ke resto. Memangnya kenapa tanya begituan sih mbak? Rasa-rasanya kok aneh banget kalau mbak Deni enggak tahu!"


Denok seketika meremas ujung bajunya. Benar yang dikatakan oleh Kelvin, ia memang tak bisa menyelami sikap Kelvin dari awal sampai akhir. Sejenak ia juga teringat akan semua sikap Jonathan yang penuh kejutan.


" Lah, kenapa tiba-tiba nangis mbak?" Tanya Windi muram kala melihat Denok menyusut sudut matanya.


" Siapa yang nangis sih? Nih mataku kemasukan semut bencong!"


Bohong Denok seraya mengumpat dalam hati sebab nyatanya ia masih memiliki perasaan terhadap pria itu. Perasaan khawatir dan selalu dibuat tak mengerti dengan keputusan-keputusan yang di ambil oleh Jonathan.


Windi yang mendengar Denok menyahut seketika tertawa. Wanita itu tidak tahu jika Denok tak akan mungkin menunjukkan kesedihannya di depan umum. Lagipula, sepertinya Windi tidak tahu soal dirinya juga Jonathan yang pernah memiliki hubungan.


.


.


Beberapa jam kemudian.


Ya, wanita itu sepertinya akan mengawali berangkat dari rumah sakit.


Denok menatap seraut pucat yang entah mengapa begitu membuatnya iba. Bocah yang tak memiliki hubungan darah namun memiliki ikatan batin yang cukup kuat.


Ia mungkin tidak lagi pernah memikirkan hal lain selain bekerja mengumpulkan uang meski dengan jalan yang terbilang tak baik.


Tapi dari hal tak baik itu, jutaan kebaikan telah Denok torehkan. Meski tak jarang, setiap mata hanya memandang sisi kelamnya saja, tanpa mau mempertimbangkan hal baik, yang telah Denok lakukan pada sesama.


Hingga, mengapa seorang pria irit bicara itu, mampu meruntuhkan dinding hatinya yang tiada lagi percaya akan arti sebuah cinta. Membuatnya merasa, bahwa melakukan hal dewasa itu bukan hanya sekedar datang lalu bercumbu.


Ia bahkan masih ingat betul bagiamana Jonathan yang memperlakukannya lembut saat mereka berdua bercinta. Rasa yang tak pernah ia menikmati, kala melayani pria-pria lain demi kelangsungan hidupnya.


Ada banyak hal yang masih belum bisa ia selami, tentang Jonathan yang rupanya begitu banyak memiliki rahasia. Tentang siapa pria itu sebenarnya.


" Percayalah. Kau tidak akan pernah bisa menyelami apa yang Jonathan lakukan. Bahkan dari hal yang paling menyebalkan sekalipun. Anak itu penuh perhitungan yang cermat. Setiap hal yang dia lakukan, pasti sudah ia pikirkan matang-matang. Termasuk meninggalkan mu waktu itu!"


" Dengar! Aku memang tidak tahu apa yang kalian alami dulu. Tapi percayalah, dia masih mencintai mu hingga detik ini!"


Dengan menutup matanya, Denok menumpahkan segala rasa di hatinya yang begitu sesak. Ia bingung, cemas juga khawatir akan kabar soal Jonathan yang kini entah dimana.


Tapi, sebagai orang yang tak memiliki status apapun dengan laki- laki itu, ia bisa apa?


Mengapa keadaannya semakin runyam begini?


Dan mengapa rasa ini semakin tak mau pergi begitu mengetahui jika alasan Jonathan meninggalkan dirinya adalah demi keselamatannya.


CEKLEK!


Ia yang menyadari jika ada orang yang akan masuk ke ruangan Yusuf, seketika buru-buru menghapus air matanya. Tak mau sampai dilihat oleh orang lain.


Dari tempatnya berdiri, terlihat seseorang yang agaknya terkejut dengan keberadaan Denok.


" Dimana wanita cerewet itu? Mmmm maksudku wanita yang tadi..."


Membuat Denok seketika memicingkan matanya kala dokter Andra sibuk celingak-celinguk mencari sesuatu.


" Anda kesini mau nyari seseorang, atau mau memeriksa anak saya?" Ketus Denok yang ogah basa-basi.


Membuat domter Andra meringis kikuk. Damned!


" Dia anak yang kuat!" Ucap dokter Andra.


" Aku tahu itu!" Potong Denok cepat. Ia tak suka dengan dokter Andra demi teringat perkataan Jonathan yang mengatakan jika isterinya terkasih berselingkuh.


Dokter Andra mengangguk. Menatap wajah ketus di depannya. " Dia harus menjalani beberapa perawatan guna memastikan kondisinya telah membaik. Tapi...tunggu dulu, apa kita dulu pernah bertemu?"


Denok yang teringat jika istri Jonathan pernah tertawa riang bersama dokter Andra seketika menyuguhkan raut tak ramah.


" Rumah sakit Umum kota S!" Ketus Denok yang memang sedari awal ingat akan wajah tampan di depannya itu.


Kini, Dokter Andra tampak mengangguk puas. Benar kan dugaannya?


" Jadi benar kalian ini orang yang aku tangani beberapa tahun yang lalu?" Tanya dokter Andra dengan wajah berbinar.


Namun, alih-alih menyuguhkan raut wajah yang sama, Denok tampak menatap tajam dokter Andra dengan wajah tak senang.


" Ada hubungan apa sebenarnya antara anda dengan istri Tuan Jonathan?" Tanya Denok yang malah menanyakan apa yang ada dalam isi kepalanya.


DEG


Membuat dokter Andra seketika mendelik.


.


.


.