
...🌹🌹🌹...
Jonathan
Dengan diri yang tak bisa berbuat apa-apa, ia malah dibuat terkejut demi melihat seorang Jacob Oetama, yang tengah berdiri menatapnya dengan wajah penuh kemenangan.
Jacob merupakan saingan beratnya selama ini. Pria yang secara diam-diam mengamati pergerakan seorang Jonathan, tampak tak bisa menunda lagi melancarkan serangannya, usai harga dirinya merasa tersentil dan keselamatannya menjadi terancam.
Saat orang lain hanya tahu bila Jonathan itu merupakan pria kaku, datar, serta irit bicara yang memiliki karir sukses, namun dibalik itu semua, rupanya ada pertaruhan kredibilitas, penguatan segala lini, serta perjuangan kekuasaan yang tak main-main.
Bahkan tak jarang, kasus gesekan nyata yang seperti saat ini harus ia hadapi.
Jika sudah begini, apakah Nyonya Weni tahu? Bahwa seluk beluk memiliki perusahaan yang besar, juga berbanding lurus dengan potensi kejahatan serta ancaman bahaya yang akan dihadapi sewaktu-waktu.
" Apa kau senang berjumpa denganku?" Ucap Jac dengan senyum yang begitu licik. Menyeringai tajam ke arah Jonathan yang masih bermimik datar dengan luka yang menonjol.
" Tadinya aku berpikir, dalam forum beberapa waktu lalu kau hanya memberikan salam kenal kepadaku!" Jac mendekatkan wajahnya ke wajah Jonathan yang kini tampak tenang.
" Tapi sepertinya, kau memang ingin bersaing denganku secara nyata!" Pekiknya mencengkeram rahang Jonathan dengan suara geram.
" Kau bahkan dengan beraninya membuat aku dilayani oleh wanita lain, saat seharusnya aku di layani oleh wanita itu!"
DEG
Membuat Jonathan seketika tegang.
" Am I right?"
Jonathan yang tahu kemana arah pembicaraan Jac, mengenai ia yang telah membuat dirinya tak dilayani oleh Denok malam itu, kini tampak sedikit khawatir.
" Jika kau berani menyentuh wanita itu, akan ku pastikan kau akan mati di tanganku!" Ancam Jonathan tak main-main dengan wajah keruh. Terlihat tak mentolerir kelakaran Jac yang menyinggung soal Denok.
Membuat Jac tergelak.
" Kau masih saja sombong tuan perfeksionis. Lihatlah dirimu saat ini. Pria terhormat sepertimu kenapa harus menyukai pelacur seperti..."
DUG
" Arggh!"
" Hey kau!"
Jac mengangkat tangannya ke atas dan membuat para anak buahnya berhenti melangkah.
Meski kesakitan akibat di jaduk oleh Jonathan yang tampak naik pitam, namun Jac tampak ingin bermain halus terlebih dahulu.
" Wow, kau bahkan tak pernah semarah ini saat aku membicarakan soal istrimu!" Sindir Jac demi melihat reaksi Jonathan yang tampak marah.
Jonathan menatap tajam pria blasteran yang kini tertawa mengejek itu. Terlihat menyuguhkan wajah berang.
" Dan satu lagi. Karena perbuatanmu beberapa waktu lalu juga, aku kini harus mengalami kerugian!" Timpal Jac yang kini menjauhkan wajahnya lalu bersedekap.
" Dan aku tidak suka sebuah kekalahan, kau tahu itu?"
Kini, keduanya tampak saling bertukar pandang. Menyiratkan aura permusuhan yang begitu jelas.
" Jangan sentuh wanita itu atau kau akan tahu akibatnya!" Tukas Jonathan lagi dengan wajah yang lebih serius.
Membuat Jac mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Jonathan yang mulai mengeraskan rahangnya.
" Jangan memberiku perintah karena saat ini aku lebih suka membuat kesepakatan!" Tutur Jac tersenyum licik. Membuat Jonathan semakin geram.
" Kau punya kuasa juga relasi orang-orang penting di sektor keamanan. Aku butuh akses agar aku bisa lolos ke perbatasan pekan depan. Ingat, kalau sampai gagal, wanita itu akan menjadi taruhannya, hahahah!"
Jac pergi seraya tertawa meninggalkan Jonathan yang geram dengan kondisi brengsek macam ini. Entah mengapa, mendengar nama Denok di sebut-sebut, membuat laju darahnya seolah mendidih.
.
.
Dirumah sakit
Pagi yang menjelang membawa serta penghiburan baru bagi Yusuf yang saat ini terlihat lebih baik, meski jarum infus masih terpasang di lengannya.
" Psst, mbak, kenapa yang meriksa bukan dokter mesum itu?" Bisik Windi yang pagi itu sengaja datang kerumah sakit lebih awal sebelum bekerja untuk mengantarkan makanan.
Namun, bukan Denok namanya jika ia tidak membuat onar.
" Mbak, kalau lihat dokter Andra, bilang dicari sama wanita yang namanya Windi..."
" Eh eh enggak-enggak. Duh mbak Denok nih ngawur aja!"
Denok terkikik-kikik demi melihat wajah kesal Windi yang malu sekali.
Namun, tanpa diduga, pria tampan yang di cap mesum oleh Windi, yang barusaja dibicarakan itu terlihat masuk dengan baju dinas dan lengkap dengan ID card.
" Panjang umur juga itu manusia!" Cetus Denok melirik Windi yang kini kaget.
" Gimana sus?" Ucap Andra pura-pura mengabaikan Denok dan Windi.
Mereka berdua terlihat diam saat Andra tengah berkomunikasi serius dengan perawat itu. Entahlah, Windi merasa ngeri demi mengingat Andra yang berciuman bersama Feli kemarin hari.
" Win, aku kasih tahu!" Bisik Denok merapat ke telinga Windi.
" Ada apa mbak?" Jawabnya memasang wajah serius.
" Lu lihat, orang kalau badannya tinggi, tegap kayak dokter Andra begitu, dijamin itunya pasti gede Win!" Bisik Denok terkakak-kakak demi melihat Windi yang langsung membuang wajahnya karena malu.
" Ih mbak Denok apaan sih, kok jadi ke arah situ!" Mendengus kesal.
" CK, aku ini serius. Ini tips biar kamu gak salah pilih. Kamu sih belum pernah ngerasain enaknya daging lonjong!" Denok terkikik-kikik lagi usai membisikkan siraman roh halus di telinga Windi. Membuat Andra memicingkan matanya sebab sadar jika dua betina di depan itu tengah merasai dirinya.
" Jika sudah tidak pusing, Yusuf bisa dibawa jalan-jalan pakai wheelchair!" Ucap dokter Andra seraya menarik stetoskop.
Denok hanya mengangguk tanpa mencampuradukkan apa yang telah terjadi antara mereka. Nampak biasa saja meski sebenarnya ia sangat kesal dengan dokter itu.
" Aku pergi dulu ya mbak. Nanti aku langsung ke sini!" Pamit Windi yang risih kala di tatap terus oleh dokter Kelvin.
Sepeninggal Windi, Andra terlihat ingin berbicara kepada Denok. Sedikit serius sebab kedua netranya lekat menatap.
" Mengenai yang kemarin.... aku minta maaf!"
Senyap, Denok yang membenahi selimut Yusuf tampak enggan menoleh.
" Semua yang kau katakan itu benar. Dan antara aku dan Feli..."
Kini, Denok menoleh dengan wajah datar sebab mulai muak. " Untuk apa minta maaf kepadaku? Kalaupun mau minta maaf, kau harus meminta maaf kepada Jonathan!"
" Karena terus terang saja, kau pasti juga menyakiti hatinya!"
Andra tertegun untuk beberapa waktu. Sedikit banyak, ia sebenarnya tahu jika Feli sangat cemburu kepada Denok. Dari pengamatannya, Denok sepertinya merupakan wanita logis bersifat baik, yang terkemas dengan kerasnya kehidupan.
" Kau sangat berpendirian dan berhati mulia. Mungkin itulah alasan Jonathan sangat menyukaimu!" Tutur Andra dengan segenap kejujurannya.
Membuat Denok melirik tak suka.
" Maaf bukan maksudku ikut campur. Tapi dari cerita Feli...selama ini pernikahan mereka tidak bahagia. Itu artinya, meski Feli memiliki raga Jonathan, tapi hatinya masih dimiliki oleh orang lain!"
Membuat Denok seketika membisu karena tidak tahu harus menjawab apa.
" Dan aku rasa orang itu adalah kamu!"
Denok terdiam karena bingung harus menjawab apa. Membuat dokter Andra menghela napas seraya tersenyum kosong.
" Aku pergi, tetap beri air minum yang banyak untuk menjaga hidrasi!"
.
.
Windi yang berada di luar tampak kesal karena ojol yang ia pesan memberikan kabar jika ban nya bocor. Membuat Windi benar-benar kebingungan.
" CK, mana gak ada taksi yang lewat. Bisa di makan di Tika aku kalau telat!" Gumamnya menggerutu.
TIN!
Ia berjingkat kaget saat sebuah mobil mewah mengklakson dirinya. Membuat Windi spontan mengumpat ke arah pemilik mobil.
" Brengsek nih orang!"
" Mau kemana? Kau sedang menunggu taksi?" Tanya Andra ramah sebab merasa bersalah.
"Sialan, dokter cabul ini ternyata!"
Namun, alih-alih menjawab, Windi justru mengabaikan dokter Andra sebab ia malah teringat saat dokter itu berciuman dengan Feli.
" Dasar mesum. Apa dia pikir aku akan tertarik?"
" Kau kerja di restorannya Feli? Kau akan terlambat jika terus menunggu. Jika kau mau, kau bisa nebeng ke aku. Kebetulan aku lewat jalan kesana!" Cetus Andra dengan wajah ramah.
Membuat Windi tampak berpikir. Jika ia ikut, ia pasti kehilangan harga dirinya, tapi jika menolak, bayangan wajah Tika yang marah kini menari-nari di dalam otaknya.
Ah brengsek!
" Halo, mau apa tidak?"
.
.
" Terimakasih!"
Seru Windi seraya menutup pintu mobil Andra dengan wajah malu, sebab ia telah menumpang kepada pria yang baru saja ia damprat.
Benar-benar definisi dari muka tebal dalam arti sebenarnya.
" Ini tidak gratis!"
" Apa?" Ucap Windi kaget menatap wajah dokter Andra yang tersenyum licik seraya turun dari mobilnya.
" Perutku lapar. Sebaiknya aku sarapan disini saja. Dan aku minta, kau yang melayaniku..."
Windi menatap keki wajah tampan Andra yang kini tersenyum penuh kemenangan. Terlihat jumawa sebab agaknya pria itu memiliki banyak ide mendadak.
" Selamat pagi dokter Andra. Suatu kehormatan bagi kami karena anda berkunjung kemari!"
Windi yang masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, bahkan semakin tak percaya jika Tika yang baru datang, mengenali dokter itu.
Membuat Windi semakin tersudut.
" Minta dia membawakan aku makanan terbaik di resto itu! Dan jangan lupa, harus dia yang melayaniku!"
Tika mengangguk seraya tersenyum. Ia yang paham siapa-siapa orang penting di keluarga Jonathan dan Feli, selalu bisa menghandle tamu itu dengan baik.
" Kenapa kau masih berdiri disitu, cepat masuk dan layani dokter Andra!" Titah Tika dengan wajah tegas. Tak mau menggadaikan jabatannya saat tamu penting sedang bersabda.
Membuat Windi melebarkan cuping hidungnya dengan hati dongkol, demi melihat Andra yang tersenyum licik ke arahnya.
Beberapa saat kemudian.
" Ini pesanan anda Pak. Jika membutuhkan sesuatu bisa panggil saya atau pelayan yang lain!"
Dokter Andra tergelak demi melihat raut kesal Windi yang setengah hati dalam melayaninya. Entah mengapa, ia kini menjadi terhibur dengan sikap Windi yang tak dibuat-buat.
" Duduk dan makan denganku!"
" Apa?"
.
.