
...🌹🌹🌹...
Jonathan
Dengan sedikit memaksa dokter Andra agar semua perlengkapan medis yang menempel di bagian tubuhnya dilepas, kini Jonathan tampak terburu-buru untuk kembali kerumahnya.
Jodhi dan Raka yang hendak menjenguk pria datar itu, kini hanya melolong kebingungan manakala Jonathan tampak tegang kala berjalan menuju ke arahnya.
" Ada apa ini Jo?"
Jodhi bertanya dengan wajah curiga sebab kenapa pria itu mendadak keluar dengan di ikuti oleh Denok, Kelvin, Karin, dan juga dokter Andra yang sama-sama berwajah murung.
" Ada sesuatu yang telah terjadi. Dan aku harus segera kembali!"
Suara Jonathan yang bergetar membuat Jodhi dan Raka saling menatap. Para istri yang turut berada di sana juga mendadak bingung dengan situasi yang mendadak berubah seperti ini.
" Sayang kamu temani Denok dulu disini bersama Galuh dan yang lainnya, aku akan ikut mengantar Jonathan!"
Lintang mengangguk kala Jodhi mengusap lembut pipinya memberikan pengertian. Kini, dengan tanpa mengucapkan kata-kata, Jonathan terlihat menatap dalam mata Denok dengan menyiratkan sebuah maksud, untuk tetap tenang dan semua akan baik-baik saja.
.
.
" Apa kau bilang?" Jodhi yang kini duduk di samping Kelvin yang serius mengemudi, terlihat tak percaya dengan apa yang barusan di sampaikan oleh Jonathan. Membuat Raka yang memutuskan untuk ikut dan membiarkan Galuh bercengkrama bersama para betina disana, kini memikirkan sesuatu.
" Delon tidak mau menyebutkan apa yang terjadi. Tapi aku tahu pasti sesuatu yang fatal, jelas telah terjadi!" Jonathan menjawab dengan wajah meringis menahan nyeri sebab luka di area perutnya masih belum kering.
Dengan perasaan gundah gulana, Jonathan kepikiran dengan nada suara Delon yang nampak tegang dalam sambungan telepon beberapa waktu lalu.
" Saya tidak bisa jelaskan disini, tapi saya minta tolong anda datang secepatnya, saya sudah menghubungi Kelvin untuk mengantar anda!"
Setibanya di rumah, Jonathan tak melihat gelagat yang mencurigakan manakala ia memasuki kediaman Mama Weni. Semua tampak biasa dan rapi.
Namun, situasinya mendadak berubah manakala ia membuka handle pintu kamar itu, dan melihat ada banyak manusia yang menyambutnya dengan tatapan aneh.
Dan sejurus kemudian, matanya membulat demi melihat Delon yang berdiri di samping seorang dokter yang tampak memeriksa tubuh Feli yang kini tergeletak.
" Ada apa dengannya?" Tanya Jonathan cemas yang merasa terkejut dengan situasi abnormal itu.
" Dia sudah meninggal!"
DUAR!
Jonathan yang sejak awal sudah tegang, kini seketika menjadi beku demi mendengar penjelasan sang dokter itu.
Bagaimana bisa, orang yang beberapa jam yang lalu masih ia lihat, kini meregang nyawa dalam kondisi yang masih membuatnya menerka-nerka.
" Apa kau bilang?"
Raka yang tak percaya kini bertanya kepada dokter wanita itu dan seolah mewakili isi hati para pria jantan yang juga sama-sama terkejut itu.
" Sebaiknya kalian hubungi polisi, dia kehabisan napas dan dan lehernya sedikit memerah. Sepertinya dia telah di cekik. Polisi akan memastikan semuanya!"
Kesemuanya tercenung demi mendengar penjelasan yang semakin membuat aura di ruangan itu lebih mencekam.
" Tidak perlu!" Sergah Delon yang kini angkat bicara dan membuat semua orang menatapnya serius.
" Pak Jonathan sebelumnya tolong maafkan saya karena telah lancang melakukan hal ini tanpa memberitahu bapak. Tapi semenjak saya menaruh rasa curiga terhadap perintah bapak soal Nyonya Weni, saya diam-diam memasang kamera pengawas dirumah ini tanpa sepengetahuan mereka."
Mereka semua masih diam dan tekun mendengar penjelasan Delon yang kini wajahnya benar-benar sangat serius.
" Saya mengutus orang untuk menyelidiki Nyonya Weni juga meminta orang untuk mencari kebenaran tentang siapa anda sebenarnya. Dan hasilnya...."
" Dia yang akan menjelaskan kepada anda!"
Dengan otak yang harus di paksa berpikir taktis dalam durasi yang singkat, Jonathan tampak menatap pria yang kini tubuhnya telah gemetar itu dengan wajah tak ramah.
" Katakan!" Titah Jonathan dengan wajah yang sudah sangat geram dengan situasi yang benar-benar tak terkontrol itu.
" Sa- saya ti- tidak tahu apa-apa!"
" Jawab dengan jujur. Karena kejujuran bisa menyelamatkanmu dari malapetaka!" Delon mencengkeram lengan notaris tua itu dengan geram manakala merasa pria itu susah diajak bekerjasama.
Membuat pria yang kini ketakutan itu, tak memiliki pilihan lain selain menceritakan apa yang ia dan nyonya Weni hendak rencana.
" Orang tua anda yang asli telah membuat wasiat jika semua harta yang beliau miliki adalah ditujukan untuk anak-anaknya saat mereka lahir nanti. Saya juga tidak tahu alasannya waktu itu, mengingat anda masih ada dalam kandungan!"
" Apa?" Jonathan yang semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi kini menatap Delon dengan wajah bertanya-tanya.
Kini, Kelvin, Raka dan Jodhi semakin dibuat terperangah oleh keterangan orang itu.
" Sebenarnya Nyonya Weni adalah..."
Meski dengan terbata-bata dan ketakutan yang kian kentara, pria itu akhirnya membeberkan semua rahasia yang ia simpan selama ini, tanpa tanggung-tanggung.
Tentang siapa sebenarnya Nyonya Weni dan alasannya ingin merebut kekayaan yang sebenarnya memang milik Jonathan itu.
Pria itu juga menceritakan jika ia datang kesana karena diminta oleh Nyonya Weni untuk memalsukan surat-surat penting itu sebab takut karena Jonathan sudah tak tunduk lagi kepadanya.
Notaris yang awalnya menolak keras segala bentuk sogokan dan gratifikasi itu, akhirnya mau berkompromi dengan Nyonya Weni demi satu perjanjian.
" Jadi singkat kata, anda ini di asuh oleh Nyonya Weni setelah wanita itu membunuh kedua orang tua anda karena balas dendam!"
" Dan Nona Feli, adalah orang yang juga beliau gunakan untuk memuluskan rencananya!" Ucap Delon memungkasi keterangan sang notaris yang tampak ketakutan.
" Apa?" Ucapnya lagi dengan perasaan yang semakin tak bisa dijelaskan. Apa-apaan ini?
Tubuh yang semula berdiri tegak itu, kini mendadak lemah demi mengetahui cerita yang di ucapkan oleh Delon. Kelvin dan Jodhi yang melihat hal itu, seketika memapah Jonathan lalu mendudukkannya ke atas sofa.
Kini, di tatapnya wajah pucat Feli yang kini telah tak bernyawa itu. Wanita yang selama ini sama-sama di jadikan alat oleh nyonya Weni itu, kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa?
Dalam situasi yang benar-benar sulit di definisikan, tubuh Jonathan bergetar hebat karena tangis yang tiada lagi bisa ia tahan demi merasakan kesedihannya yang teramat dalam.
Sama sekali tak mengira, jika berpuluh-puluh tahun ia tinggal dan hidup bersama orang yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya. Pun, ia yang juga menyesali diri, lantaran terlalu mengedepankan empati daripada logikanya.
" Jadi...selama ini mereka sengaja membuatku merasa bersalah, dan seolah-olah memposisikan aku pada posisi yang harus tahu balas budi?" Gumamnya dengan wajah penuh keputusasaan.
Jonathan yang nyaris tak pernah mengeluarkan air matanya, hari itu membuat hati para pria jantan disana turut sesak. Bahkan dokter yang masih ada diantara mereka, turut menatap iba Jonathan yang tampak hancur.
Mereka semua tahu dan paham betul, tak akan mudah menerima kenyataan yang begitu menyakitkan semacam itu. Namun yang pasti, saat semua telah terjadi, sebagai manusia yang percaya akan adanya Tuhan, selayaknya mereka berserah diri, pada ketetapan yang musti mereka jalani.
" Lalu dimana dua biadab manusia itu?" Tanya Jonathan geram dengan sorot mata yang penuh kebencian.
" Kita harus kerumah sakit sekarang agar kita bisa tahu jawabannya. Bukan begitu dok?" Tanya Delon menatap dokter itu dengan tatapan penuh arti. Membuat kesemuanya yang masih ada di sana mengernyit tak mengerti.
.
.
.