
...🌹🌹🌹...
Denok
Semalam ia pulang dini hari. Semua itu terjadi lantaran ia terus berjalan membagi rizki untuk anak-anak yang kurang beruntung, sembari berharap bisa ada Yusuf diantara mereka.
Tapi sayang seribu kali sayang, malam itu ia belum mendapatkan hasil dari upayanya. Hah, dimana kamu Cup, mengapa kamu begitu keras kepala?
Begitulah hidup, apa yang dilihat orang cemar dan kotor, nyatanya memiliki hati sebersih kapas.
Ia yang baru bangun di jam siang itu, hendak ke lantai dasar untuk sarapan sekaligus makan siang. Seperti biasa, mengenakan jeans dan kaos dengan rambut yang ia ikat asal.
Semua tamu serta beberapa orang yang menggunakan jasa hotel, nampak tumpah ruah di jam yang memang pas untuk waktu makan siang itu.
"Mbak, buatin saya sambal yang cabainya banyak dong, bisa kan? Hidung saya agak mampet, pingin tak buat mbeler!"
Meski agak heran mengapa ada tamu yang meminta sambal saat makanan elit lain telah tersaji lengkap disana, tapi pelayan muda itu nampak mengangguk sebagai jawaban dari kesanggupannya.
Tamu itu memang banyak ragamnya.
Ia memilih duduk di dekat meja yang menghadap ke kolam. Memilih suasana outdoor agar bisa merokok.
TRING
Bunyi pesan yang masuk mengurungkan niatnya untuk menyulut rokok menthol nya.
Mbak, apa yang sampean cari anak ini?
Denok seketika membetulkan posisi duduknya manakala kang ojek yang semalam ia ajak ngobrol mengirimkannya pesan bergambar.
DEG
Benar saja, kang ojek yang tidak sengaja selfie di depan hotel saat mengantar tamunya kapan hari, mengirimkan foto anak kecil yang hendak masuk kedalam mobil bersama seorang pria muda yang sepertinya ia kenal.
" Ini kan orang yang kemarin..." Gumamnya manakala men zoom foto.
Tanpa menunggu lagi, Denok seketika menghubungi kang ojek itu.
" Halo, katanya gak pernah lihat?"
" Sory mbak, saya barusan lihat-lihat di galery foto saya. Setelah saya perhatikan, kok kayak foto anak yang sampean kirim!"
" CK, makasih Pak. Itu memang benar anak saya, saya yakin!"
Kini, Denok tertegun beberapa saat usai menutup sambungan teleponnya. Apa anaknya diculik?
Sialan!
Pucuk dicinta ulam tiba, Denok yang mendadak kehilangan selera makannya, dan berniat untuk pergi guna membatalkan pesanan, kini terkejut saat melihat Delon yang makan dengan wajah pucat tepat di arah jam 12 dari tempatnya duduk.
" Dia!"
.
.
Jonathan
Matanya membulat sempurna di sertai dengan sorot mata bahagia demi melihat sesok wanita yang selama ini ia rindukan dalam diam.
Ia bukan mimpi maupun berhalusinasi saat ini. Denok ada di depan matanya.
" Novi!" Lirihnya dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. Segumpal rasa rindu mendadak membuncah, memantik rasa iba yang bertangkup dengan sebongkah rasa sesal.
Namun, saat ia hendak melangkahkan kakinya, suara Delon menginterupsi.
" Bapak mau kemana?" Tanya Delon yang curiga kala netranya mengikuti arah pandang sang bos.
" Aku ingin menemui..."
" Jangan kesitu Pak, itu adalah orang menyebalkan yang saya ceritakan tempo hari ke Pak Jonathan!"
"Apa?" Jawab Jonathan kaget.
"Benar Pak, dia itu wanita galak yang saya ceritakan kemarin. Bapak jangan nyela dulu, bisa di garap sama dia nanti!"
Jonathan mendadak tersenyum. Sepertinya, Delon sama dengan dirinya yang di awal-awal terkejut dengan sikap Denok yang benar-benar apa adanya.
Kini, entah harus merasa bahagia atau merasa sedih. Jonathan membisu dan membuat Delon menatapnya penuh selidik.
Namun yang jelas, saat ini hati Jonathan mendadak menghangat. Nyatanya, Denok masih baik-baik saja meski jika dilihat wanita itu sudah tidak terlalu nyentrik.
" Lah kita mau kemana Pak?" Tanya Delon saat tangannya mendadak di seret oleh Jonathan ke tepian resto.
" Saya ada tugas buat kamu!"
Melihat Jonathan yang tiba-tiba tersenyum, tak hanya membuat Delon seketika merinding, pria itu bahkan namu merasa ngeri demi senyum aneh yang terbit dari bibir bosnya.
Beberapa menit kemudian, Delon mendecah tak percaya dan mendengus tiada henti.
Sungguh sial, tanpa alasan yang jelas, ia ditugaskan untuk mencari tahu apa sebab musabab wanita itu datang kesana. Benar-benar konyol. Ia saja hampir di telan mentah-mentah oleh wanita galak itu, dan kini bagiamana bisa bosnya memintanya untuk mencari tahu tujuan wanita itu.
" Yang benar aja si bos!" Menggerutu tiada habis.
Ya, Jonathan tahu jika ia langsung menemui Denok secara mendadak, potensi wanita itu untuk kabur akan semakin besar. Lagipula, diantara mereka kini ada dinding tebal yang memisahkan.
Ia penasaran, kenapa Denok ada di kota ini dan memilih menginap di hotel dan tak menemui keluarga Jodhistira?
Atau, Denok masih menerima tawaran dari pria - pria lain? Membuat hati Jonathan nyeri.
" Mati aku, dia datang kemari!" Ucap Delon menelan ludah kala melihat Denok mendadak datang ke arahnya dengan wajah bengis.
Benar-benar mengutuk bosnya yang memintanya melakukan pekerjaan dengan tingkat uji nyali serta resiko yang tinggi, tanpa di sertai alasan yang jelas.
Brengsek si bos!
" Dimana ucup?" Tuding Denok seketika tanpa tedeng aling-aling yang membuat Delon mendelik.
" Anji si bos, belum apa-apa udah gemetaran aku!"
" Maaf, apa maksud anda. Kenapa..."
" Arrghhh!" Delon mendelik bahkan tak bisa lagi meneruskan ucapannya, kala tangan Denok meremas kuat pahanya yang nyaris menuju ke arah ucok. Membuatnya seketika merinding.
" Kau penculik kan?"
" Apa? Kau ini benar-benar wanita gila!"
NYEK!
"Aaaa!"
Delon menjerit kala ujung pen til nya dicubit kecil oleh Denok, hingga ia kesakitan. Membuat beberapa tamu lain menatap aneh ke arah Delon yang mengusap - usap ujung pen til nya.
" Lihat!"
Denok nampak menunjukkan foto yang tadi dikirimkan oleh kang ojek kepada dirinya. Sama sekali tak menggubris Delon yang baru saja ia siksa. Membuat Delon makin mumet dibuatnya.
" Dia anak saya, dan dalam foto ini kamu bawa dia dalam mobil! Jadi, dimana kamu menyembunyikan anak saya?"
DEG
" Anak?"
Jonathan yang mendengar hal itu dari tempat persembunyiannya, seketika terkejut demi mendengar kata 'anak'.
.
.
.
.