
...🌹🌹🌹...
Yusuf
Ia terlihat duduk sembari memangku Miko yang bulu putihnya baru saja ia keringkan dengan hairdryer khusus. Nampak menggeliat manja di pangkuan bocah kurus itu.
Sepertinya, Miko senang dengan pengasuh barunya.
Dengan hati bertanya-tanya pula, Yusuf menunggu paman tampan mengaduk laci meja kerjanya dengan wajah sangat serius. Entah apa yang kini tengah di cari pria itu.
Apa aku akan di pecat? Kenapa paman itu tampak tegang sekali?
Beberapa saat kemudian, paman tampan nampak duduk di hadapannya. Bak seorang pesakitan, ia duduk tepat di depan Paman tampan yang saat ini sangat serius.
" Sekarang ceritakan siapa dirimu dan asal usulmu!"
Yusuf yang tersentak membuat Miko melompat dari pangkuannya ke atas lantai dengan berjalan santai menuju permadani berwarna krem yang ada di ruangan kerja Jonathan.
" Bukankah Paman Delon sudah mencatat semua?" Tanya Yusuf yang mulai resah akan kelangsungan dirinya. Menerka-nerka apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh paman itu. Kenapa ia di interogasi seperti ini?
Ya, semenjak bekerja disana, Yusuf memanggil dua laki-laki tampan itu dengan sebutan paman.
" Aku ingin tahu siapa orang tuamu!" Timpal Jonathan dengan wajah yang selalu datar. As usually.
Membuat Yusuf seketika menunduk demi merasai riwayat dirinya yang menyedihkan.
" Saya tidak tahu paman. Saya selama ini tinggal di panti asuhan. Bunda panti harus membiarkan kami pergi karena tidak ada lagi donatur yang mau membantu!" Lirihnya dengan suara yang mulai berat karena getaran.
Ya, Yusuf mendadak sedih demi mengingat siapa dirinya. Membuat Jonathan seketika membeku saat menatap Yusuf yang terlihat muram. Pria itu nampak tekun menunggu bocah itu bercerita.
Hatinya perih saat mengetahui bila Yusuf adalah anak tak bertuan.
" Lalu?" Ucapnya masih dalam posisi menyidang Yusuf. Semakin penasaran akan hubungan bocah itu dengan Denok.
" Saya hanya ingin tahu asal usul orang yang bekerja dengan saya!" Bohong Jonathan yang menangkap sorot mata kebingungan dari Yusuf.
" Apa mbak Min juga begitu?"
Jonathan mengangguk, " Semua yang bekerja kepada saya begitu. Paman Delon juga!"
Membuat Yusuf mengangguk patuh.
" Waktu itu perut saya sakit. Saya tidur di emper toko karena hujan besar. Tiba-tiba ada yang menolong saya. Saya di gendong dan di bawa kerumah orang itu!"
"Saya di tolong oleh Mamak. Mamak orang baik, membiayai saya sekolah. Mamak bilang, saya sekarang adalah anaknya, saya gak boleh lagi sedih!"
" Sudah lebih dua tahun ini saya di asuh Mamak!"
Jonathan tertegun demi mendengar cerita Yusuf. Apa yang di maksud Mamak adalah Denok?
Dugaannya semakin menguat.
" Mamak saya namanya Mamak Denok. Tante Karin seorang manggil begitu!"
DEG
See! Benar sekali dugaan Jonathan rupanya. Wanita itu benar-benar definisi nyata dari malaikat sesungguhnya. Membuat hati Jonathan seketika menghangat.
Kau masih sama. Selalu mementingkan orang lain daripada dirimu sendiri Nov!
" Lalu, kenapa kau kabur?"
Kini, tangis Yusuf tak lagi bisa bocah itu bendung. Yusuf menatap Jonathan dengan mata basahnya yang semakin menganak sungai.
" Orang-orang mengatakan Mamak pela cur. Mamak orang gak bener. Yusuf sering dihina. Mamak juga sering di omongkan sama tetangga kontrakan. Padahal Mamak orang baik. Cuma Mamak yang Yusuf punya. Yusuf mau kerja biar Mamak enggak dihina-hina lagi! Jangan pecat saya Paman!" Jawab Yusuf dengan deraian air mata yang tiada mau berhenti.
DUAR
Hati Jonathan bagai teriris. Perih sekaligus nyeri. Perasaan yang di rasakan Yusuf, jelas sama dengan yang ia rasakan. Apalagi, ia tahu jika Denok sebenarnya adalah orang yang baik.
Maafkan aku!
Maafkan aku Nov!
Lirih Jonathan yang merasa menyesal karena harusnya ia bisa lebih mengupayakan wanita itu.
" Tolong jangan pecat saya Paman. Saya akan pulang jika paman sudah memberikan saya gaji. Saya hanya ingin melihat Mamak tidak bekerja seperti itu lagi!"
Dengan bibir gemetar, Jonathan mengusap puncak kepala Yusuf. Hatinya dipenuhi dengan kesesakan saat ini.
Anak yang luar biasa.
" Paman tidak akan memecatmu!"
" Sekarang paman tanya satu hal lagi, apa kau mengenal orang ini?" Tanya Jonathan dengan suara bergetar sembari menunjukkan sesuatu kepada Yusuf.
Mata Yusuf membulat manakala ia melihat gambar seseorang yang ada di ponsel Jonathan. Foto Mamaknya yang tersenyum dengan memakai baju bagus.
.
.
Sementara itu, di tempat lain seorang pria yang nampak pucat berdiri di depan wanita yang wajahnya sudah sangat tidak ramah.
" Ayo cepat bicara!" Hardik Denok kepada Delon manakala dia telah sampai di sebuah restoran yang lebih tenang namun terlihat mahal.
" Emmm!"
" Emmmm!"
Delon benar-benar bingung harus memulai dari mana. Apalagi, ia juga tak mengerti akan maksud Jonathan untuk tidak memberitahu soal bosnya itu. Memangnya siapa wanita ini?
" CK, ini nih pentingnya orang saat kecil wajib diberi ASI!"
Delon menatap Denok dengan tatapan tidak mengerti saat wanita itu malah membahas soal air susu ibu.
" Supaya kalau gede, enggak jadi ASU!" Ucap Denok lagi dan kali ini lebih keras tepat di wajah Delon. Membuat pria itu seketika terkejut dengan ucapan luar biasa betina garang di hadapannya itu.
Oh astaga wanita ini!
" Cepat ngomong!" Hardik Denok dengan wajah yang sudah sangat muak.
" Ba- baik, jadi begini..."
Astaga, kenapa aku jadi sama sekali tak memiliki harga diri di depan wanita ini sih?
" Sebenarnya... Yusuf tidak sengaja di tabrak oleh Bos saya!" Ucap Delon dengan hati-hati dan wajah yang meringis takut.
" Apa? Siapa bosmu?" Ucap Denok yang mengiris Delon dengan tatapannya yang tajam.
" Oh sial, habislah aku. Kenapa aku malah menceritakan soal Yusuf yang di tabrak bos. Astaga!"
Bagai makan buah simalakama.
" Pokoknya ada. Lalu singkat cerita, anak itu merengek dan rewel minta di pekerjakan karena ingin membantu Mamaknya dia bilang!" Ucap Delon lagi sambil menunggu reaksi wajah Denok.
Delon yang masih siaga dan harap-harap cemas menatap Denok yang kini tertegun demi secuil cerita itu.
" Wanita aneh, kenapa aku harus bertemu dengannya sih?" Batin Delon menatap Denok yang nampak melamun.
" Jadi kamu pergi karena Mamak nak?" Jerit hati Denok mendadak terasa nyeri.
" Sekarang mana anakku?Aku mau ketemu dia! Kalau kau tak mengembalikan dia. Aku akan..."
" E e e, sabar sabar! Ngomong-ngomong, kita bisa makan dulu kan?" Rayu Delon dengan wajah meringis keranjingan.
.
.
Jonathan
Ia tergelak sejenak demi melihat Delon yang bersungut-sungut kala menceritakan ketakutannya manakala menghadapi Denok.
" Sumpah pak, kayaknya kita salah nolong orang!" Sela Delon yang masih kesal.
" Kita tidak salah De. Aku justru bersyukur karena bisa menabrak Yusuf!" Ucap Jonathan yang tersenyum seraya menatap jendela ruangannya yang terbuka. Membuat Delon menatap tak mengerti.
" Tapi, gimana ceritanya kamu bisa mengelak?" Tanya Jonathan kini lebih serius.
" Saya bilang kalau anda masih belum bisa ditemui!"
" Apa? Jadi kau hilang kalau aku.."
" Maaf bos, saya keceplosan. Lagian, saya takut kali bos kalau masa depan saya di remukkan di sana. Saya bener-bener takut bos!" Jawab Delon jujur dengan wajah muram dan bibir manyun.
" Memangnya siapa sih wanita itu? Mengerikan sekali orangnya!" Gerutu Delon sembari meraih secangkir kopi yang memang terhidang untuknya.
Kini, Jonathan nampak menghela napas seraya memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari asistennya itu.
" Dia wanita yang pasti saat ini kecewa kepada ku De. Wanita yang pernah aku kecewakan!" Jawab Jonathan dengan sorot menerawang dan senyum kecut.
Membuat Delon seketika tersedak kopi yang baru saja ia seruput.
.
.
.
To be continued...