
...🌹🌹🌹...
Jonathan
Ia tidak menolak dan tidak juga mengimprovisasi gelora Feli yang terus menggerayangi tubuhnya dengan penuh gairaah. Namun, sebagai laki-laki normal, benteng pertahanannya semakin di gempur oleh gelora yang kian bangkit.
Tanpa meminta persetujuan, Feli seketika menduduki Jonathan dengan posisi wajah yang saling berhadapan. Wanita itu nampak mencium suaminya dengan penuh nafsuu.
Membuatnya kini memejamkan mata kala sapuan hangat itu makin beringas.
Ciuman mereka berlangsung tanpa gerakan apapun dari Jonathan. Bahkan, kedua tangan pria itu masih berada diatas meja kerjanya. Entahlah, saat bercinta bersama Feli, selalunya terasa seperti ini.
DRRRT
DRRRT
Feli seketika menarik napas geram manakala ponsel suaminya bergetar.
" Jangan kau angkat!" Dengan jarak yang masih dekat, Feli melarang suaminya untuk meraih ponselnya. Menatap mata Jonathan untuk tak menghiraukan ponsel itu.
Namun, saat Feli hendak memantik kembali gelora suaminya, ponsel itu tiba-tiba bergetar kembali.
DRRRT
DRRRT
Membuat Feli memejamkan matanya dengan perasaan kesal manakala Jonathan memilih mengangkat telepon itu.
" Ya De ada apa?" Ia melirik Feli yang nampak kesal dengan situasi yang terjadi. Benar-benar tak enak.
" Pak, Mamaknya Yusuf mendatangi saya dan minta saya buat ngambil Yusuf. Saya ngeri banget sama ancaman dia pak!"
Jonathan ingin tertawa saat mendengar suara getir penuh ketakutan dari assistenya itu.
" Rupanya kamu enggak dengerin aku sama sekali Nov!"
PRYAANG!
Belum sempat Jonathan membalas Delon karena sibuk membatin, suara benda pecah di lantai dasar membuatnya kaget.
" Keributan apa lagi ini?" Ketus Feli yang main dibuat kesal.
Ia menatap Feli yang nampak tegang dengan wajah marah saat mendengar suara benda pecah itu.
" De, nanti aku telepon lagi. Thanks infonya!"
Ia menutup panggilan dari Delon dan sejurus kemudian mengejar Feli yang sudah lebih dulu keluar. Dan betapa terkejutnya ia, saat melihat Yusuf berdiri muram di depan vas mahal kesayangan Feli.
" Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memecahkan vasku anak sialan!"
Maki Feli kepada Yusuf yang saat ini matanya mulai basah. Membuatnya seketika kesal saat mendengar Feli yang begitu kasar kepada anak kecil.
" Apa kau tidak punya mata, hah? Vas ini mahal dan kau malah memecahkannya. Dasar anak kurang aj..."
" Feli!"
Hardikan keras dari Jonathan membuat tangan Feli yang sudah melayang di udara seketika terjeda.
Tubuh Yusuf sudah gemetaran dengan air mata yang menganak sungai karena ketakutan, saat mendengar intonasi suara Feli yang begitu marah.
" Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Jo. Kau bahkan membentak istrimu dan lebih membela anak asing ini!" Ucap Feli dengan kemarahan serta kekecewaan combo.
Ia hanya bergeming saat Feli menabraknya dengan kemarahan yang tiada lagi terbendung. Entahlah, rasanya ia juga tak ingin mengejar Feli.
Kini, ia mendekati Yusuf lalu mengusap punggungnya perlahan demi mengobati wajah ketakutan yang begitu kentara itu.
" Saya tidak sengaja Paman. Saya ngejar Miko dan tadi saya..."
" Sudah, tidak apa-apa. Jangan takut. Ayo, sebaik-baiknya kamu istirahat!" Sahutnya dan membuat ucapan anak itu terhenti sebelum waktunya.
Yusuf mengangguk seraya mengusap matanya yang terus menerus berair.
Namun, saat Jonathan melirik ke samping guna melihat pecahan Vas yang parah itu, ia justru nampak tersenyum tipis manakala lampu pijar Albert Einstein mendadak muncul diatas kepalanya.
.
.
" Apa kau gila? Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?"
Ya, keesokan harinya Jonathan berhasil menemui Denok di hotel tempat wanita itu bertahan. Tentu saja atas bantuan Delon bersama para anteknya.
" Istriku marah saat vas nya pecah. Harga Vas itu lima ratus juga, kau bisa mengeceknya di aplikasi jual beli barang antik. Dan Yusuf harus menggantinya!" Seru Jonathan menatap licik Denok yang nampak geram.
Sepertinya, Jonathan sudah memulai aksinya.
" Seharusnya kau berpikir, hari sial itu tidak pernah ada di kalender. Kau juga yang salah, kenapa mau memperkerjakan anak-anak!"
Denok nampak tidak terima dengan ucapan Jonathan yang begitu memberatkan itu.
" Aku tidak bisa meredam kemarahan istriku. Yusuf ketakutan. Dia titip ini untukmu!"
Denok mendecah tak percaya saat ia melihat video rekaman Yusuf yang kini di tunjukkan oleh Jonathan.
...Mamak, Istri Paman tampan ini memarahiku. Tolong ganti uang vas itu secepatnya dan kita akan pulang Mak!...
Begitulah isi suara Yusuf dalam video rekaman berdurasi tujuh menitan itu. Membuat Denok menatap geram Jonathan yang kini tersenyum licik.
" Oh ya, ini ada surat untukmu dari Yusuf!" Jonathan mengangsurkan secarik kertas biru yang terlipat simetris.
SREK
Denok menyambar surat yang diberikan oleh Jonathan itu dengan wajah mendengus sebal.
...Bisakah Mamak mengembalikan uang Vas ini dengan uang yang lebih halal Mak? Yusuf janji akan pulang bersama Mamak setelah ini!...
Ia seketika terduduk lemas sesaat setelah membaca surat dari Yusuf.
Uang halal?
Membuatnya seketika merasa tertampar dan bagai di telanjangi oleh kenyataan yang kini harus ia telaah secara waras.
Sebenarnya bisa saja ia meninggalkan anak nakal itu. Tapi entah mengapa, saat melihat Yusuf, ia seperti melihat dirinya sendiri yang sebatang kara.
.
.
Denok
Ia kini berjalan diatas trotoar dengan perasaan hampa sesaat setelah meninggalkan Jonathan karena geram.
Darimana ia mendapat uang sebanyak itu dengan cara lain? Ia saja yang setiap hari menjual lendir terhadap orang lain belum pernah mendapatkan nominal sebanyak itu.
" Brengsek si Jojon! Aku nyesel pernah terbawa perasaan sama elu Jon. Asu!"
Orang-orang yang berjalan di sekitar Denok mendadak menatap aneh kepadanya. Wanita dengan pakaian santai yang berteriak-teriak sendiri.
Apa dia gila?
Begitu bisik para khalayak yang tengah wara-wiri di sebelahnya.
Restoran Delon sedang membutuhkan karyawan. Jika kau mau, aku bisa menjadi orang dalam untuk membantumu bekerja di sana!
Mendadak muncul sebuah perkataan dari seseorang yang menyelinap ke otaknya.
" Apa aku harus menemui laki-laki sialan itu? Ah tidak-tidak, dia bahkan sulit untuk aku tekan. Sebenarnya siapa dia, apa hubungannya dengan Jonathan?"
" Alah, mending aku cari bule aja yang banyak duitnya. Sekali croooott berjeti- jeti!" Ia cekikikan seorang diri menghibur dirinya.
" Tapi..."
Saat ia sibuk melamun demi kejujurannya yang sedang tertantang diatas jembatan penyeberangan itu, ponselnya mendadak bergetar.
" Karin?" Ia mengernyit demi rasa heran, sebab tumben menghubunginya di jam pagi itu.
" Opo cuuk?"
" Duh Nok gawat Nok gawat. Teman kita banyak yang ketangkap gara-gara si Mely ke gerebek. Elu buruan ganti nomor, terus jangan open BO dulu deh!"
" Hah?"
Ia yang baru saja ingin menggunakan caranya untuk mendapat uang dengan cepat seketika mumet demi mendengar kabar hamsyong itu.
" Apa urusannya sama kita?" Elaknya demi menenangkan diri.
" Duh, di kota beberapa hari aja
dah jadi oon banget sih! Ya jelas ada urusannya lah. Kalau sampai yang ketangkap buka mulut soal peritilan macam kita, kita-kita juga bakal ngandang sialan!"
Membuatnya seketika ingin menenggelamkan diri saja ke dasar bumi, demi kerumitan hidup yang menimpanya.
.
.
.