The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 49. Keadaan kacau



...🌹🌹🌹...


Windi


" Tidak mau!" Ucapnya spontan yang tentu saja menolak ajakan gila itu. No way!


Membuat dokter Andra seketika memiliki ide untuk menaklukkan banteng betina itu.


" Halo, ya anda...!" Ucapnya melambaikan tangan kepada Tika dan sukses membuat Windi menatap tak percaya.


" Mau apa dia?"


" Ya dokter, ada yang bisa saya bantu?" Jawab Tika menjilat dengan menyuguhkan keramahan yang berlebihan.


" Bisakah kau membuat anak itu duduk di sini karena aku malas teriak-teriak jika ingin memerlukan sesuatu!" Tunjuk Andra ke arah Windi menggunakan dagunya.


Membuat Tika melirik bingung ke arah wajah Windi yang tampak pias.


" Apa yang orang ini lakukan? Kenapa memintaku duduk sialan?" Batin Windi menggerutu tak setuju dengan keresahan yang kentara.


Tika sempat menatap bingung beberapa saat akan permintaan nyeleneh dokter tampan itu, namun sejurus kemudian. " Ah, tentu saja dokter. Win, cepat lakukan apa yang dokter Andra perintahkan. Jangan buat pelanggan kecewa!" Titah Tika pura-pura ramah. Sebab yang utama dari wanita ber-make up tebal itu adalah keberlangsungan jabatannya.


Dan menjilat beberapa orang penting, jelas merupakan salah satu keahliannya.


" See, kau harus dengar apa kata supervisormu. Jangan buat pelanggan kecewa!" Seru Andra dengan senyum penuh kemenangan. Membuat Windi begitu kesal.


Kini, mau tidak mau Windi akhirnya duduk meski terpaksa. Membuat Tika membungkuk hormat lalu undur diri dengan perasaan kesal dan iri kepada Windi.


" Ah ini, enak sekali. Kau harus mencobanya!" Cetus dokter Andra tak mempedulikan raut sebal Windi di hadapannya.


" Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" Tanya Windi dengan mulut setengah diam, sebab takut ketahuan Tika jika ia sebenarnya tak sudi duduk disana.


" Cobalah makan ini!" Ucap Andra lagi tanpa menghiraukan Windi yang semakin kesal. Tampak mengangsurkan makanan lezat dan mahal ke hadapan Windi.


Windi pura-pura meringis dengan mata melirik Tika yang masih saja mengintipnya dari kejauhan. Terlihat memonitor serta mengawasi secara saksama.


" Aku yakin meskipun kau bekerja disini, tapi kau belum pernah makan makanan ini kan?" Tukasnya sembari mengulum bibirnya dan terlihat memilih makanan lezat itu untuk ia ambil menggunakan sumpit.


" Cepat makan dan pergilah dari tempat ini dokter cabul!" Bisiknya penuh penekanan dengan mata awas yang berjaga dari Tika yang sewaktu-waktu bisa saja mendengar hal itu.


Membuat dokter Andra seketika menatap lekat Windi yang tampak tidak tenang.


" Suapi aku!"


" Apa?"


" Kau tidak dengar, suapi aku!" Ulangnya dengan wajah yang begitu menyebalkan. Membuat Windi merasa ingin mencekik dokter itu.


" Kau tidak lihat tadi, supervisor mu saja bahkan takut kepadaku. Kau bisa tahu akibatnya kan kalau sampai aku melaporkanmu atas dugaan pelayanan buruk!" Seru dokter Andra menyeringai.


Membuat Windi benar-benar kesal.


" Aku tidak percaya kenapa harus bertemu dengan dokter aneh yang cabul sepertimu!"


Windi yang tentu saja tak kebal ancaman, akhirnya menarik makanan di hadapan Andra lalu berniat menyuapinya. Membuat beberapa rekannya yang lain menatap tak percaya, pun dengan Tika yang semakin iri.


" Aaa!" Dokter Andra membuka mulutnya seraya memejamkan mata dan membuat Windi mencibir kesal.


" Makan ini!"


Windi menyumpalkan sesendok besar yang melebihi kapasitas, kala menyuapi dokter Andra. Membuat mulut pria itu monyo- monyo.


" Hey, apa kau mau membuatku tersedak?" Ucap dokter Andra kesal dengan suara tak jelas akibat kepenuhan makanan dalam mulutnya.


Membuat Windi terkikik-kikik karena puas membalas dokter Andra.


Namun, alih-alih marah, Andra yang melihat Windi tersenyum tanpa di buat-buat itu, entah mengapa membuat hatinya senang.


Singkat kata, dokter Andra bagai menemukan hiburan baru akan hidupnya yang monoton dan membosankan.


...🌹🌹🌹...


Hari terus berjalan dan berganti sesuai takdir yang harus terjadi. Nyonya Weni tampak semakin kebakaran jenggot sebab belum bisa menemukan Jonathan hingga hari ke lima ini.


Takut kalau-kalau anak itu tengah merencanakan sesuatu.


" Tenanglah dulu. Lagipula, semua ini gara-gara kamu juga, kenapa memarahi anak itu dengan terlalu!" Tutur tuan Iqbal yang merasa mungkin saja Jonathan benar-benar marah kepada mereka.


Feli yang kaget akan kabar Jonathan yang menghilang, menjadi wanita paling stress disana. Kabar tentang hilangnya Jonathan juga di endus oleh beberapa pemburu berita


Di sisi lain, Delon yang lekas mencium keberadaan Jonathan dari orang-orang suruhannya kini tertegun tak percaya manakala melihat foto kiriman anak buahnya itu.


Foto dimana Jonathan tampak di naikkan kedalam mobil dengan keadaan kacau. Namun, ia tak bisa bertindak gegabah dan ceroboh saat ini, mengingat hal seperti itu sangat riskan dan bisa saja mengancam nyawa.


Ia harus berkordinasi dengan pihak kepolisian untuk membereskan kasus gila ini.


Selain itu, entah mengapa Delon memiliki inisiatif untuk tak menceritakan hal ini kepada Nyonya Weni. Pria itu semakin hari semakin curiga saja akan sikap kedua orangtua Jonathan yang terlihat melakukan unsur pembiaran.


Feeling serta instingnya mengatakan untuk menahan menceritakan informasi, yang berkaitan dengan Jonathan kepada dua manusia tua itu.


Di perjalanan, ponselnya berdering.


" Ya?" Sahutnya usai menggulir tombol hijau pada layar pipih nya.


" Bos, mobilnya bergerak menuju arah selatan!"


Membuat Delon seketika tertegun. Siapa sebenarnya yang menyekap Jonathan.


" Awasi terus dan jangan sampai kalian tertangkap!"


Ia melesatkan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Berniat untuk segera menemui Denok sebab ini juga merupakan tugas penting dari Jonathan sebelum pria itu menghilang.


Mengawasi keadaan Yusuf.


Di rumah sakit.


Delon melihat Denok yang tampak berjalan terburu-buru saat ia berpapasan di pintu kaca rumah sakit itu.


" Hey kau mau kemana?" Tanya Delon cemas. Mencegat Denok yang benar-benar seperti kalang kabut.


" Ah, kebetulan kau disini. Yusuf akan di kemo, dan aku harus segera pergi ada urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku janji akan segera kembali!"


" Hey, kau mau kemana? Hey!"


Teriakan Delon berlalu bersama suara hari yang semakin bising. Di tatapnya sesosok wanita yang terburu-buru dan tampak resah.


" Kenapa dia sebenarnya?" Gumamnya yang merasa jika Denok sedang tidak baik-baik saja.


.


.


Denok


" Halo Rin, elu di mana?" Tanya Denok gusar yang tahu jika Karin kini dalam bahaya.


Ya, beberapa jam yang lalu, ia mendapat telepon dari Karin jika ia tengah mengalami kecelakaan di kota J.


Denok yang kaget karena mengapa sahabatnya itu berada di kota J, merasa senang sekaligus khawatir dalam waktu bersamaan.


Dia yang sampai di lokasi, langsung membayar ongkos taksi itu dengan buru-buru sampai tidak memperhatikan lokasi di sekelilingnya.


Selalunya panik jika sudah menyangkut urusan nyawa seseorang.


Hingga, sepeninggal taksi itu, kini ia dibuat terkejut kala melihat tempat yang begitu sepi dengan sosok Karin yang di kalungi senjata oleh pria asing.


" Sory Nok!" Ucap Karin menyambut kedatangan Denok dengan tangis. Membuat mata Denok membulat.


" Apa-apaan ini?" Batin Denok yang merasa terkejut dengan semua yang ada.


Kini, dalam keterbatasan pikiran, Denok berusaha memetakan keadaan yang ada. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Karin bisa di sekap seperti itu.


PLOK PLOK PLOK!


Suara tepuk tangan disertai dengan kemunculan sosok yang mendadak itu, membuat Denok melolong kaget.


" Jonathan pasti akan senang jika aku membawamu, my Whore!" Tutur pria itu tergelak ngeri.


Membuat tubuh Denok seketika menegang.


" Siapa kalian? Dimana Jonathan?" Tanya Denok yang mulai berjaga-jaga sebab pria itu tampak tersenyum jahat kala menyebut nama Jonathan.


" Wow, slow darling!"


" Selain galak di ranjang, kabarnya kau juga sangat galak di dunia nyata ya, hahahahah!"


Untuk pertama kalinya dalam hidup Denok, ia benar-benar jijik melihat pria yang meraba bibirnya itu.


Karin hanya bisa menangis dengan hati yang sangat menyesal.


" Zam, bawa wanita itu bersama kita!"


Membuat Karin seketika memberontak sebab melihat Denok kini di ringkus oleh sekawan pria berpakaian hitam itu.


.


.


.