The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 12. Kegelisahan Feli



...🌹🌹🌹...


Felisha


Ia merupakan rising star di bidang desainer gaun pernikahan para manusia kelas atas. Mulai dari artis, hingga pejabat. Ketenaran dan ambisi untuk terus terkenal merupakan hal yang membuatnya tak menyadari, bila akan ada yang harus ia korbankan kelak.


Kelangsungan pernikahannya.


Ia memang menyukai Jonathan yang sedari awal sengaja dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Pria tampan yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata.


Namun, pada perjalanannya, ia menepikan tujuan utamanya menikah. Ia menjadi begitu serakah dan ingin menjadi semakin terkenal.


Feli pergi dengan segumpal rasa kesal akibat Jonathan yang enggan bersetubuh dengannya kemarin. Ia tahu, ini salahnya, karena selama ini, ia yang menolak untuk memiliki anak terlebih dahulu.


Ia mencoba menghubungi suaminya saat pesan-pesan darinya tak dibalas maupun dibuka oleh Jonathan sama sekali.


" CK, dimana sebenarnya kamu Jo!" Ucapnya kesal dengan alis yang tiada berhenti menyatu.


TRING


Sebuah pesan dari temannya membuat emosinya teralihkan.


" Kamu serius ada di sini? Mau dinner bareng?"


Feli nampak menimbang tawaran dari teman laki-lakinya itu. Ia sedang emosi saat ini, butuh sedikit hiburan.


" Share lokasi kamu!"


.


.


Denok


Malam ini ia sengaja ingin memulai mencari Yusuf. Informasi yang ia dapat dari Lan, tetangganya itu sempat melihat Yusuf di sekitar terminal yang kebetulan dekat dengan hotel yang ia huni saat ini.


Tapi, bukankah J itu kota yang luas? Mana mungkin ia dekat menemukan hal ini jika tak ada yang membantu. Tapi, setidaknya ia harus berusaha bukan?


Belajar dari pengalamannya sebagai wanita malam, ia meyakini jika anak jalanan dan gelandangan pasti akan mengistirahatkan diri di jam seperti saat ini. Jam dimana energi mereka pasti telah luruh bersama matahari yang telah tenggelam.


" Rokok Pak?" Tawar Denok kepada tukang ojek konvensional yang mangkal di sebelah terminal. Menatap Denok yang malam itu mengenakan jeans serta jaket Hoodie ber- sneaker putih dengan tatapan heran.


" Ambil aja Pak. Saya Denok!" Ucap Denok santai sembari berniat melakukan pendekatan-pendekatan.


Tanpa takut dan canggung, Denok turut duduk di sebelah dua orang abang ojek yang usianya sudah lumayan sepuh.


" Makasih. Tapi, saya kok nggak pernah lihat kamu?" Jawab pria itu memindai sekeliling Denok.


" Sama, saya juga nggak pernah ngeliat bapak!" Sahut Denok seraya asik menyulut rokoknya.


Kini, keduanya saling tergelak setelah beberapa saat saling menatap bingung.


" Mau ngapain malam-malam disini? Gak takut kena..."


" Saya nggak operasi kok pak. Cuman pingin nongkrong aja!" Jawab Denok cepat seraya memainkan asap rokoknya. Membentuk asap putih itu menjadi bulatan.


Bapak itu mengangguk sembari turut menyalakan rokoknya.


" Belum dapat penglaris?" Tanya Denok lagi. Mencoba membaurkan diri.


Denok mengangguk paham. Inilah kelebihannya, ia tak kesulitan kala membaur dengan masyarakat kelas bawah. Ia bisa dengan mudahnya beradaptasi dengan segala lapisan masyarakat.


" Oh iya Pak , gak pernah ada anak nongkrong disini Pak?" Tanyanya memulai percakapan. Siapa tahu, ia bisa mendapat informasi berharga soal anaknya.


" Punk banyak di bawah jembatan di sono no. Kalau yang disini, palingan anak buahnya si boim tu. Anak ngamen!"


Denok menghisap rokoknya dalam-dalam manakala menndeh jawaban jujur dari bapak itu. Sepertinya, ia bisa menggali info dari orang ini.


" Boleh saya ngobrol sebentar pak?"


.


.


Felisha


Nevandra atau yang biasa ia panggil dengan nama Andra, menjadi temannya malam ini. Seorang pria yang ia kenal saat pertemuan dengan keluarganya. Putra dari salah satu dokter kaya di kota itu.


" Gak nyangka banget bisa ketemu elu lagi setelah sekian lama!" Seru Andra yang menatap Feli seraya tersenyum.


Feli hanya tersenyum sekilas. Ia tahu, Andra dari dulu menyukainya. Feli tidak tahu bila saat ini Andra sudah menjadi dokter yang memiliki banyak rumah sakit.


" Sendirian?" Tanya Feli mencoba memfokuskan diri dengan tidak memikirkan suaminya yang hingga kini tak membalas pesannya.


" Tadi iya, sekarang enggak, kan ada kamu!" Ucap Andra tersenyum dan membuat Feli turut tersenyum.


" Kamu..kenapa ada di sini sendiri, mana Jonathan?" Tanyanya seraya memotong makanan yang telah ada di depannya.


" Dia sibuk, aku kesini buat kerja!" Cetus Feli.


" Sibuk?" Tanya Andra terlihat memastikan.


Feli mengangguk sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Sesibuk apapun, harusnya tidak membiarkan wanita cantik sendirian begini. Apalagi istrinya!"


Membuat Feli tersenyum sumbang demi mengingat bila Jonathan selama ini memang tak pernah ikut campur soal pekerjaannya. Bahkan, suaminya itu nyaris tak pernah menginjakkan kaki ke butik sultan nya.


" apa kau akan bekerja mulai malam ini?"


Feli mengangguk, " Prepare buat ketemu client besok!"


" Oh ya, daerah mana yang mau jadi bride?"


" Dekat rumah sakit Sentra Medika!"


" Dekat dengan rumah sakitku dong?"


Membuat Feli seketika menatap ke arah Andra.


" Jadi...kamu...?"


.


.