
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia senang karena Yusuf akhirnya telah bersamanya kembali. Namun, kebisuan Jonathan di malam itu membuatnya bertanya-tanya. Tak ada sapaan atau tatapan yang biasanya di lakukan oleh pria itu, sekalian ia ketus.
Dan entah kenapa pula, Denok merasakan sepi di dalam hatinya. Singkat kata, Denok mengharap untuk di sapa.
"Paman pergi Cup!"
Ucup mengangguk. Pria itu sejurus kemudian berbalik dan tak menatap Denok.
" Ayo masuk Cup!"
Yusuf hanya diam saat Denok mengajaknya masuk ke dalam. Sungguh, perpisahan yang benar-benar canggung.
" Kita sementara disini dulu. Mamak akan usaha untuk mencari tempat yang lebih baik buat kita setelah ini!"
Yusuf mengangguk seraya melihat ke arah jendela. Jendela yang menampilkan sebuah mobil yang kini bermanuver kasar.
.
.
Pagi hari, Denok yang kebagian sift siang tengah sibuk menata baju milik Yusuf. Namun, saat masih sibuk merapikan lemari usang itu, ia menggerutu manakala pintu kostnya di gedor oleh seseorang.
BRAK BRAK!
" CK, siapa sih?" Gumamnya heran dan kesal sebab siapa yang pagi-pagi melakukan hal tidak sopan itu kepadanya.
BRAK BRAK!
Yusuf yang semula masih tidur kini turut terbangun. Membuat Denok buru-buru menuju ke arah pintu.
CEKLEK!
PLAK!
Denok serasa mendapat kejutan yang tak ia harapkan pagi itu manakala sebuah tangan halus telah menampar wajahnya dengan begitu keras.
" Aku sudah mengira. Jika wanita murahan seperti kamu pasti tidak jera menggoda suami orang. Dengan tidak tahu malunya kau bahkan meminta anak haram ini tinggal dirumah ku!"
Denok yang wajahnya masih terasa kebas, kini terkejut demi menatap Feli yang begitu emosi nampak di depan kamar kostnya.
Dari tempatnya berdiri pula, ia melihat wajah Wawan yang nampak ketakutan tengah berdiri di belakang Feli. Sepertinya Wawan tak berhasil menghadang Feli yang menerobos masuk.
" Apa maksudmu?" Sergah Denok yang memang tidak tahu apa maksud ucapan Feli. Memfokuskan perhatiannya kepada wanita yang nampak sombong itu.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau sengaja kembali ke kota ini karena ingin menemui Jonathan kan?"
Apa?
" Dia ini pel acur! Wanita murahan!" Teriak Feli menunjuk Denok yang masih berdiri setegar karang.
" Kau mengutus anak haram itu untuk memeras suamiku, hah?"
" Wanita tidak tahu mal..."
PLAK!
BRUK!
Denok yang dikatakan seperti itu di muka umum, tanpa banyak cing- cong seketika menempeleng wajah Feli hingga membuat wanita itu terjerembab ke lantai.
Melihat adanya keributan, tetangga kost yang pagi itu sedang membersihkan kotoran burung jalak seketika berlari dan harus merelakan burungnya kabur.
" Apa yang kau bicarakan brengsek? Menemui Jonathan kau bilang?"
BUG!
Wawan dan tetangga kost yang melihat Denok telah menaiki tubuh wanita terkenal itu, kini mendelik di waktu bersamaan.
" Hey tolong jangan seperti ini, astaga!"
" Mbak berhenti mbak, eling - mbak eling!"
" Astaga, bagaimana ini?"
Keduanya kesulitan melerai aksi yang benar-benar menegangkan itu. Seorang wanita terkenal dan kaya, tengah bertengkar dengan penghuni kost baru di tempatnya.
BUG!
Denok yang benar-benar telah emosi sebab tak terima Yusuf dikatai anak haram, hanya bisa melampiaskan emosinya tanpa mempedulikan dua orang yang kini kesulitan kala melerai mereka berdua.
" Wanita sepertimu yang tidak pernah merasakan lambung sakit karena menahan lapar beraninya mengatakan hal seperti itu!"
" Apa kau tau rasanya hampir mati karena kelaparan hah? Jika tidak, nggak usah banyak bacot!"
DUG!
" Arrgh!"
Feli nampak kesakitan. Tangan wanita itu bergerak-gerak dan menemukan sebuah batu.
CRUK!
Feli yang posisinya semakin tersudut nampak memukul kepala Denok dengan batu dan membuat wanita itu mengerang kesakitan.
" Awh!!" Ringis Denok yang terpaksa menghentikan hujamannya.
Kini, wanita itu berada di atas tubuh Denok dan langsung memukuli wajah Denok hingga babak belur.
BUG!
" Aku tidak akan membiarkanmu menggoda suamiku wanita brengsek!"
BUG!
" Sudah, sudah apa-apaan kalian ini!"
" Berhenti atau aku laporkan ke polisi!"
Feli yang semula berpakaian rapi dan elegan nampak acak-acakan dengan wajah yang memburu di sana-sini.
Sementara Denok yang bibir serta keningnya berdarah, nampak mengatur napas yang kembang kempis usai mendengar hardikan keras itu.
Membuat beberapa penghuni kost lain saling berbisik.
" Kau wanita tidak tahu malu. Apa kau pikir Jonathan akan tergoda dengan wanita ja lang sepertimu, hah?"
" Wanita breng...!"
" Cukup!"
Pemilik kost benar- benar berang saat mulut keduanya masih sulit untuk di kendalikan. Membuat seluruh penghuni kost yang pagi itu terganggu seketika menatap tegang.
Feli menatap tajam bapak kost yang baru saja menghardik mereka dengan suara keras. Nampak tidak terima.
" Saya Felisha Gunawan!"
DEG
" Fe- Felisha Gunawan?" Ucap bapak kost itu terkejut demi mengetahui nama yang baru saja disebutkan. Terlihat berbeda dari yang biasa muncul di majalah-majalah fashion.
" Maaf Nona Felisha, tapi anda telah membuat..."
"Saya tidak sengaja membuat keributan disini. Saya hanya ingin memberi pelajaran orang yang sudah mengganggu rumah tangga saya!" Ucap Feli menatap tajam kearah Denok yang mengeraskan rahangnya.
" Pastikan anda usir wanita itu. Anda tahu siapa saya kan?" Feli tersenyum licik menatap Bapak kost yang ingat dengan sosok cantik di depannya itu.
Membuat bapak kost itu kesulitan kala meneguk ludahnya.
Oh tidak!
" Saya ingin anda mengusir wanita itu sebelum tempat anda ini akan saya buat hancur!"
Kini, Wawan turut menjadi pias demi mendengar ancaman itu.
Denok yang mendengar hal itu menatap benci ke arah Feli yang benar-benar sombong. Ingin sekali rasanya ia merobek mulut wanita itu.
" Ma- maaf mbak Deni!"
" To- tolong kemasi barang-barang anda. Semua demi kelangsungan tempat ini!" Lirih bapak kost yang sebenarnya tidak enak hati kepada Denok.
Denok seketika menatap geram dengan dada yang terasa panas manakala menatap Feli yang kini tersenyum licik dan penuh kemenangan.
Sungguh wanita yang jahat dan berhati iblis.
Kini, pandangan Denok teralih kepada Yusuf yang tampak pucat dan kini terlihat begitu ketakutan. Membuatnya seketika cemas.
" Cup, kamu nggak apa-apa?"
Denok yang lupa menutup pintu benar-benar menyesali keteledorannya. Bertanya kepada Yusuf demi memastikan kondisi anaknya yang kini nampak pucat.
" Jangan harap kau akan menang melawanku! Wanita murahan!" Cetus Feli dengan wajah sombong.
Denok menyeka matanya yang tiba-tiba basah, walau setengah mati telah ia tahan. Mengapa? Mengapa saat baru saja ingin hidup lurus, ujian yang datang selalu membuatnya merasa ingin mati saja.
" Ini uang sisa kost. Saya kembalikan ke samoean, maaf mbak saya tidak bisa..."
Ya, bapak kost yang tahu siapa Feli benar-benar tak memiliki pilihan selain meminta Denok untuk mengosongkan kamarnya.
Tak berani menggadaikan kelangsungan kostnya.
Denok yang tampak bingung tak menjawab dan langsung menyambar uang pecahan biru itu dengan lidah kelu. Otaknya dipaksa untuk berpikir cepat, tentang kemana mereka harus pergi setelah ini.
" Kita pergi nak. Kita cari tempat lain!" Lirihnya seraya mengelus rambut lurus Yusuf yang terlihat syok.
Dengan wajah sengit, Feli memastikan sendiri jika Denok telah enyah dari tempat kost itu. Kini, Denok yang menggandeng tangan Yusuf seraya menarik koper kecilnya, berjalan dengan hati campur aduk.
Sungguh, kenapa takdir malah mengajaknya bercanda disaat ingin lebih serius dalam meniti kehidupan.
Mereka berjalan menyusuri trotoar sembari menunggu taksi yang di pesan Denok datang. Dalam waktu yang benar-benar mepet, Denok seakan-akan kehilangan kejernihan otak dalam berpikir.
Mereka terus berjalan gontai bersisihan dan sejurus kemudian.
" Mamak kok aku..."
Yusuf yang sedari tadi menahan rasa pusing di kepalanya, kini memberanikan diri berucap kepada Denok. Ya, Yusuf tak tahan dengan apa ia rasakan.
" Ada apa Cup?"
" Mak, kenapa kepala Ucup rasanya..."
Denok seketika mendelik manakala melihat hidung Yusuf yang tiba-tiba mengeluarkan darah, saat bocah itu masih berupaya menyelesaikan keluh kesahnya kepada Denok.
Membuat tubuh Denok seketika gemetar karena di dera rasa panik.
" Astaga Cup, kamu kenapa Cup?"
" Ucup!"
Dan, saat Denok masih larut dalam keterkejutannya, sebuah reaksi lain dari tubuh bocah itu semakin membuat Denok kalang kabut.
Bruk!
DEG
Kini, tubuh Denok seketika menegang dengan rasa kaki yang tak menjejak bumi manakala melihat Yusuf yang tiba-tiba limbung dan terlihat tidak sadarkan diri.
" Yusuf!"
" Yusuf!"
.
.
.