
...🌹🌹🌹...
Denok
Kendati ia telah berusaha untuk melawan dirinya, namun entah mengapa ia semakin tersudut dan dibuat bingung oleh azimat Jonathan. Bagiamana bisa dalam waktu singkat, laki-laki yang terus menyunggingkan seringai licik itu mengkudeta anaknya.
" Cup, kita pulang sekarang, ini bukan tempat kita!"
Denok mencoba tak menggubris tatapan Jonathan yang begitu mengiris dan masih mati-matian berdiplomasi dengan bocah kurus itu.
" Enggak, aku enggak mau balik ke kontrakan Mak. Mamak disini saja ya Mak, biar gak ada yang hina- hina Mamak lagi!" Dengan sorot mata pupy eyes, bocah kurus itu nampak menatap Denok dengan tatapan mengiba.
CK yang benar saja!
Dalam hati ia bahkan telah mengumpat puluhan kali demi merasa jika Yusuf sangat sulit ditaklukan.
CUUK!
"Gak ada kayak- kayak gitu. Kamu kira tinggal di kota ini enak? Udah sekarang pokoknya kamu ikut Mam..."
" Kenapa kamu memaksanya?"
What?
Ya, Jonathan seketika pasang badan tatkala melihat Denok yang hendak menarik tangan Yusuf karena gemas dengan anak yang dinilai cukup ulet itu.
" Minggir, ini urusanku. Kamu siapa mau ikut campur?" Ucap Denok mulai ketus. Membuat Jonathan ingin tertawa demi melihat Denok yang terus-terusan berengut karena ulahnya.
" Dia anak buah ku, kenapa? Bukankah dia sudah mengatakan jika dia akan terus bekerja kepada ku?" Sahut Jonathan tersenyum penuh kemenangan.
Denok menatap sengit ke arah Jonathan yang ia rasa semakin menyebalkan saja. Kini, Denok bagai tersudut.
" Kau juga sudah dengar kan apa yang di katakan Yusuf. Sekarang, lebih baik kamu pikir-pikir dulu tawaranku tadi. Kudengar, tetangga kontrakan mu juga tidak menerima kalian lagi!"
Timpal Jonathan lagi kali ini dengan sikap yang jumawa.
Namun, bukannya menjawab, wanita bar-bar itu justru membuang pandangannya dengan wajah mendengus kesal.
Jonathan nampak sekali lagi menghela napas demi sikap Denok yang benar-benar keukuh dan masih saja keras kepala.
" Cup, Paman mau pergi. Sekarang terserah kamu!"
Bocah itu tampak menatap Denok murung. Dari sorot matanya, Yusuf nampak mengharap bila Denok tak kembali ke kota S, terlebih kembali ke pekerjaannya yang lama.
" Maaf Mak, Yusuf pingin Mamak enggak kembali kesana. Kita bisa sama-sama kerja disini ya Mak?"
" Yusuf... Yusuf enggak mau di bully lagi di sekolah Mak!" Terang Yusuf seraya menundukkan kepalanya.
Denok terkejut dan seketika nampak muram kala mendengar kejujuran Yusuf perihal kasus pembulian.
.
.
Jonathan
Ia tersenyum sepanjang perjalanan demi mengingat Denok yang sepertinya tak memiliki pilihan detik itu. Entah saat ini, aku esok nanti. Namun yang jelas, setidaknya ia bisa menahan wanita itu untuk tak pergi.
Dia pasti sudah gila.
" Paman, bagaimana jika Mamak pergi dan tidak mau tinggal di sini? Apa aku keterlaluan tadi?" Yusuf yang duduk di sampingnya nampak cemas dan menyuguhkan raut khawatir.
" Karena..."
" Karena disana banyak yang jahat sama Mamak!"
Masuk akal. Sebenarnya Yusuf begitu menyayangi Denok, sama sekali tak menduga jika bocah sekecil itu, harus dipaksa untuk berpikir berat.
Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan waktu yang belum terlalu siang. Membuatnya berinisiatif untuk mengantar Yusuf kerumah sebelum dia kembali ke kantornya.
Namun, sesuatu di luar dugaannya terjadi sesaat setelah ia memasuki rumahnya.
" Dari mana aja kamu sampai aku datang kamu nggak sempet jemput aku?"
Feli datang dengan melipat kedua tangannya lalu nampak mengerutkan keningnya demi melihat Yusuf.
" Anak ini? Kenapa dia?"
" Dia Yusuf. Dia kerja disini!"
Feli seketika tertawa tak percaya. Ia baru pergi sehari dan Jonathan sudah membuat keputusan tanpa sepengetahuannya.
" Suf, sebaiknya kamu istirahat dulu!"
Yusuf mengangguk lalu membungkuk hormat kepada Feli yang menatapnya tak ramah. Kini, tempat luas itu hanya menyisakan suami istri yang nampak canggung.
" Siapa dia sebenarnya, kenapa anak kampung itu ada dimana-mana?" Tanya Feli tak suka.
" Berhenti memanggilnya seperti itu, mamanya Yusuf!" Ketus Jonathan yang tak suka dengan sikap Feli.
" Kau bahkan..."
" Dia ku pekerjakan sebagai bentuk tanggungjawabku karena telah menabraknya. Dia miskin dan yatim piatu. Apa kau puas?"
Feli mendecak kesal. Laki-laki di hadapannya itu bahkan tak menanyai soal dirinya yang baru saja datang.
.
.
Malam menjelang. Jonathan yang malam itu nampak menyelesaikan beberapa pekerjaannya menatap gelisah ponsel yang tak jua menerima pesan dari seseorang yang ia harapkan.
CEKLEK
Ia nampak melirik pintu yang terbuka. Menampilkan sosok Feli yang telah mengenakan gaun malam yang begitu sexy.
" Belum selesai?"
" Belum, sebentar lagi!"
Feli nampak memeluk suaminya dari arah belakang. Nampak merekatkan bagian dadanya ke punggung lebar Jonathan.
" Aku kangen banget sama kamu Jo. Aku ingin malam ini kita..."
.
.
.
to be continued...