
...🌹🌹🌹...
Denok
Kerongkongannya mendadak terasa sempit, sulit menelan ludah, juga bagai mati kutu manakala melihat gerombolan indukan sultan, yang jelas-jelas akan membuatnya repot.
Oh sial!
Jangan harap ia bisa bersembunyi apalagi melarikan diri. Never ever!
Sebenarnya Denok juga tahu bila mereka pasti akan datang untuk menemuinya. Namun, Denok juga tidak menyangka jika mereka bakal tiba secepat ini. Membuatnya kelimpungan sebab belum menyiapkan jawaban pamungkas yang relevan.
" Eh..!" Ia kini bahkan menjadi speechless, dan tidak tahu harus mengatakan apa.
Habislah aku!
" Lintang sudah cerita semua ke saya. Kamu kok begini sih? Udah gak mau nganggap kita saudaramu lagi?" Cetus Tante Rania dengan wajah bersungut-sungut.
Pun dengan Om Bastian yang juga nampak kecewa dengan keputusannya yang enggan menemui keluarga Jodhistira saat berada di kita J. " Kenapa kamu melakukan semua ini Nok?"
Membuat Denok menundukkan kepalanya karena sungguh ini bukan seperti yang mereka kira.
Sedetik kemudian, Denok tampak meringis di hadapan Tante Rania, Om Bastian, Yanti, Lintang serta Jodhi. Bersikap konyol saja demi cari aman.
Namun, saat melihat anggota keluarga paling cimpil yang turut mendakwanya sinis, ia langsung memiliki ide agar membuat suasana semakin mencair.
Yes!
Wanita itu terlihat menarik tangan Danuja yang berdiri tepat di depan kedua orangtuanya, tanpa mempedulikan tatapan penuh kekesalan dari keluarga Om Bastian.
" Astaga, apakah ini Danuja nya Dade yang hobi menangis itu? Oh ya ampun... kamu apa kabar? Aduh Ja, kamu semakin besar kenapa semakin ganteng dan semakin meresahkan aja kayak bapakmu sih?" Ia terkikik-kikik sendiri saat memangku Danuja yang memang terlihat tampan, dan membuat Jodhi mendengus sebal. Kenapa harus aku?
Bisa-bisanya dia mengelak begitu!
Begitulah isi hati para manusia di hadapannya. Mereka membatin sebab Denok terlihat licin sekali dalam mengelak.
" Omegot ( Oh my God) Ja, rasanya baru kemaren lho Dade nyusutin ingus kamu pakek dasternya Dade, sekarang kok kamu udah susah Dade tangkap begini sih?" Seru Denok seraya menusuk pipi Danuja yang gembul, menggunakan jari telunjuknya.
Ya, bocah itu tampak menggeliat kala Denok mengkudetanya dengan pelukan.
Alih-alih membuat para tetua itu lupa, kelima manusia itu malah kompak menatapnya sebal dari arah ranjang Yusuf. Membuat Denok mencari ide lain.
" Nah...kenalin, itu Mas Yusuf. Ganteng kayak kamu kan? Doain biar cepat sembuh ya. Halo Mas Ucup...ini aku Danuja!!!" Ia menggerak-gerakkan tangan Danuja yang masih menatapnya bingung sebab wanita itu benar-benar nyerocos.
Sengaja membuat suasana lebih heboh agar mereka semua tak memperpanjang durasi kekecewaan.
Namun, sepertinya segala upayanya tak berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh. Raut muka Bu Yanti dan Tante Rania justru semakin datar.
Oh Shiit!
" Ah Ja, coba kau lihat itu!" Seru Denok sembari memutar kepala bocah yang kini duduk di taman kanak-kanak itu. " Lihatlah para sekutumu itu. Mereka bahkan masih menatap Dade tanpa ekspresi. Dade kok jadi takut!"
Danuja yang pastinya lupa- lupa ingat akan sosok Denok, tentu hanya diam manakala ia di pangku oleh wanita yang pagi ini tak mengenakkan riasan apapun itu.
Membuat Jodhi menahan tawa sebab wanita yang heboh sendiri itu, akhirnya meringis hampa demi kegagalan usahanya.
Damned!
" Kau lihat, Danuja bahkan hanya diam karena dia itu lupa sama kamu. Bagaimana bisa kau keluyuran di sini dan tidak memberitahukan kami!" Kesal Yanti yang belum terima dengan sikap Denok.
Bagaimanapun juga, ia dan Denok memiliki ikatan yang sulit di jelaskan kepada orang lain. Mengingat merasa merupakan kawan baik di masa lalu.
Hah, membuat Denok seketika menghela napas sebab ternyata kekecewaan mereka terlalu dalam.
Yanti yang mengatakan hal itu dengan gamblangnya, malah membuatnya semakin tak dapat berbicara.
Wanita itu sejurus kemudian menatap Yusuf yang tertunduk layu.
" Aku..."
" Semua gara-gara saya!"
Hah?
Kesemua orang yang berdiri memutari ranjang Yusuf bak orang yang sedang melakukan konferensi, kini menatap anak itu dengan wajah kaget, dan membuat perkataan Denok memudar dengan cepat.
" Gara-gara saya yang kabur ke kota. Mamak jadi nyusulin saya kesini. Jadi saya mohon...tolong jangan marahi Mamak lagi!"
Kini, Rania yang berdiri di dekat Bastian turut memandang Yusuf dengan tatapan muram. Bocah sekecil itu bahkan sudah terlihat membela Denok dengan kesungguhan.
" Kami datang kemari tidak sengaja. Meski Ucup belum mengenal anda semua, tapi Ucup yakin Mamak ngelakuin itu, pasti karena enggak mau menyusahkan anda sekalian."
Denok yang melihat bocah pucat itu berbicara dengan mata berkaca-kaca, kini mendadak terenyuh. Membuat Yanti kini berada di dekat bocah itu, tampak tak bisa menyela.
Ya, mereka tahu siapa Yusuf dari cerita Lintang dan Jodhi beberapa jam yang lalu. Sepasang pasutri itu langsung membeberkan segenap peristiwa yang mereka ketahui, kepada seluruh anggota keluarganya termasuk cerita Yusuf setibanya di rumah besar.
Kini, Rania yang melihat Yusuf tampak menatap murung setiap manusia yang ada, terlihat mendekat dan mengusap punggung anak itu.
" Kamu beruntung karena bertemu dengan wanita itu!" Seru Tante Rania yang menunjuk Denok dengan tatapannya matanya, dan merasa kasihan dengan nasib anak itu.
Yusuf mengangguk mengiyakan ucapan Tante Rania. " Saya beruntung karena juga di pertemukan dengan orang baik Bu. Seperti, Paman Jonathan, Paman Delon, Tante Windi..."
Meski kebanyakan dari mereka tampak heran sebab mengapa Yusuf bisa mengenal Jonathan, namun kesemuanya menatap Yusuf dengan senyum penuh keharuan.
" Dan sekarang, ada Danuja!" Seru Yusuf yang tampak menyukai bocah menggemaskan itu dengan mata berbinar. Membuat Lintang dan Jodhi saling menatap senang.
" Mak kalau Ucup sembuh, Ucup pingin ke taman safari sama Danuja ya?"
Rania dan Yanti semakin terisak karena mendengar secuil niat yang teramat sederhana itu.
Sungguh, bahkan mereka bisa memberikan hal yang lebih dari itu saat ini juga.
" Pasti Cup, pasti. Mamak bakal bawa kamu jalan-jalan. Makanya kamu harus sembuh!" Seru Denok dengan suara bergetar sebab menahan tangis.
Hah begitulah arti keluarga sebenarnya. Walau tak ada istilah darah lebih kental dari pada air dalam silsilah mereka, namun nyatanya semua kebaikan Denok pada Lintang dan Danuja di masa silam, terbayarkan hari ini.
Hari dimana Bastian dan Rania akan memberikan bantuan kepada wanita anti-hero itu.
Namun, saat kesemuanya masih larut dalam keharuan, suara seseorang tampak membuat mereka terkejut.
" Woy wanita sundal, keluar kamu!"
Membuat kesemua orang saling menatap.
" Keluar kamu sekarang!"
Mendengar suara yang familiar itu, membuat Denok seketika naik pitam.
" Mau nyari gara-gara lagi dia!" Ucap Denok geram sembari mengangkat tubuh gembul Danuja dan berniat memindahkan anak itu agar ia bisa membereskan mulut kurang ajar itu. Membuat Lintang dan Jodhi saling menatap.
" Tunggu!"
Kini, Denok yang sudah berjalan hendak menyongsong suara jahanam itu, seketika menghentikan langkahnya manakala Tante Rania angkat suara.
" Biar saya yang menghadapi!"
What?
Jakun Jodhi bahkan seketika naik turun saat melihat Mamanya begitu geram. Membuat Lintang turut tegang.
" Mas, apa yang mau Mama lakukan?" Bisik Lintang resah kepada suaminya.
" Tenang aja. Kayaknya Mama mau nebus semua kebaikan Denok kepada cucunya!" Balas Jodhi yang meyakini hal itu.
Dan, saat Rania telah membuka pintu itu, tampaklah seraut wajah yang kini begitu terkejut demi melihat sosok yang memiliki posisi krusial di jajaran pengusaha kaya raya di kota J itu.
" Nyo-nyonya Rania!" Ucap Feli dengan mulut tergagap. Pun dengan Nyonya Weni yang mendadak syok demi melihat Bastian yang juga turut ada disana.
" Apa kalian tidak waras karena berteriak-teriak di rumah sakit? Siapa yang kau sebut wanita sundal?"
DEG
Membuat Nyonya Weni yang semula ingin mendamprat Denok, seketika ciut nyali.
Dari lokasi ketegangan itu terjadi, dua manusia beda gender yang baru saja datang dan berjalan bersama tanpa sengaja itu, tampak syok manakala melihat sosok yang terkenal, kini ada di hadapan mereka.
Wow, amazing!
" Hah, bukankah itu Nyonya Rania yang sering muncul di TV karena talkshow? Itu juga tuan Bastian kan? Oh ya ampun, wanita itu benar-benar cantik sekali. Astaga, skincare apa yang dia pakai?"
Andra yang mendengar Windi bergumam dengan wajah takjub dan norak itu, seketika mencibir.
" Untuk apa kau menggunakan skincare. Begitu saja kau sudah cantik!" Sahut Andra tanpa menatap Windi. Pria itu justru fokus terhadap Feli dan tak menyadari ucapannya barusan.
Alih-alih marah, Windi yang berdiri di samping dokter itu malah seketika malu dengan wajah merona usai mendengar ucapan dokter mesum itu. Ahay!
.
.