The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 8. Heading to the J



...🌹🌹🌹...


Denok


Ia sebenarnya bisa saja meminta bantuan Lintang terkait permasalahan ini. Tapi, itu sama saja mengingkari nuraninya yang telah berjanji untuk tidak menyusahkan orang lain selagi ia bisa. Sikap teguh yang sedari dulu ia pegang.


Karena hutang budi itu jauh lebih sulit. Apalagi, sudah dua tahun ini Denok sengaja menghindari keluarga Lintang sebab ia benar-benar ingin melupakan seseorang yang bisa saja, masih sering berhubungan dengan keluarga Jodhistira.


" J itu luas Nok. Gak mungkin juga elu ketemu!" Timpal Karin yang membantu Denok untuk siap-siap. Sedikit tahu bila Denok pasti berperang melawan batinnya saat ini.


" Siapa juga yang mikir itu!" Elaknya dengan membuang muka.


" Yaelah, mukamu kelihatan pucet gitu saat tahu Yusuf ada di sana. Kalau menurut aku sih, udah takdir kalau elu emang harus datang ke kota itu lagi!"


" Dan soal Jonathan. Kalau hati elu masih berat, itu artinya elu masih ada perasaan!"


" Kalau bukan karena anak aku juga kagak bakal mau kali Rin!" Ucapnya masih bersikukuh tak mau membahas nama itu lagi.


" Nih, aku tambahin ongkos. Sory gak bisa nemenin ya. Lu tau kan, kalau..."


" Aman! Udah tau rasanya jagung Himalaya ogah berhenti lu. Dasar!"


Membuat keduanya tergelak bersamaan.


" Tapi sebenernya, aku nggak enak kalau ngerepotin begini!" Ucap Denok pura-pura murung.


" Alah gayamu! Bilang aja seneng!"


Mereka berdua terkakak- kakak bersama. Menikmati hidup dengan cara mereka, yang kadang bertolak-belakang dengan norma dan aturan umum yang ada.


Ya, antara Denok juga Karin selalunya memang seperti itu. Mana yang dulu ada, itulah yang membantu. Karib melebihi saudara.


" Jadi pindah kontrakan habis ini?" Tanya Karin lagi di sela-sela mengepak baju.


" Kalau perlu beli rumah di tengah sawah aja Rin. Biar gak punya tetangga sekalian. Aku juga mau pindahin sekolah Yusuf setelah ini kalau ketemu dia!" Ucap Denok melipat sebuah underwear.


" Wes lah jangan sedih sedih, gak pantes tahu mukamu begitu!"


" Brengsek lu!"


.


.


Jonathan


Ia memijat keningnya yang terasa pusing saat ini. Kenapa ia kini malah sibuk dengan urusan bocah dekil itu?


Hah!


Apalagi, Delon barusaja menelponnya dan mengatakan jika anak itu tidak mau pulang. Bahkan mengancam ingin pergi saja jika tidak diberikan pekerjaan.


" Aku tidak tega De. Carikan dia kos-kosan atau sejenisnya kalau begitu. Kita pikirkan lagi saja besok!"'


" Astaga, andai Yusuf adalah orang tua, aku akan jauh lebih mudah untuk mengirimnya ke pantai jompo. Anak itu bandel sekali!" Gumam Jonathan yang lelah sore jelang malam itu.


Menjadi mantan abdi Jodhistira Mavendra membuatnya terbiasa berkendara sendiri menuju kantor. Bahkan, sebenarnya ia masih canggung kala dilayani oleh Delon. Sebab dia sendiri merupakan mantan pelayan pria bucin.


.


.


Felisha


Ia tersenyum senang kala melihat perkembangan perusahaan yang begitu pesat. Tak salah ia memaksa keluarga Jonathan untuk menikahkan mereka.


Jonathan pria yang cekatan, pandai, tampan dan menurut kepada kedua orangtuanya. Dan kedua orang tua Jonathan, sangat segan kepada keluarganya.


Membuatnya merasa begitu berkuasa atas diri Jonathan.


Ia menyambut kedatangan suaminya dengan penampilan yang begitu sensasional. Aroma parfum yang pasti bisa menjerat gai rah pria dewasa, ia kenakan malam ini.


Dan benar saja, suaminya datang saat hari telah petang.


" Kau sudah datang?"


Jonathan agak terkejut kala melihat dandanan Feli. Namun sejurus kemudian, pria itu nampak memalingkan wajahnya dan langsung masuk kamar mandi.


" Aku mandi dulu!"


" Hemmm!"


Tak berselang lama, ia melihat Feli bersandar di atas tempat tidur sembari membaca sebuah buku. Terlihat cantik dengan pakai dari satin yang terbuka.


" Kau mau makan dulu?" Tawar Feli kepada suaminya.


" Aku sudah makan bersama Delon tadi. Aku lelah, aku ingin istirahat!"


Jonathan yang lekas membaringkan tubuhnya mendadak terkejut kala Feli mendadak merayap diatas tubuhnya.


Tanpa persiapan pula, ia yang tak siap mendapat serangan ciuman dari Feli seketika merasa terbuai.


Feli menekan tubuh bawahnya lalu menggesekkan ke arah kejantanan Jonathan yang lekas mengeras. Reaksi alami dari seorang pejantan yang tersulut gelora.


Jonathan yang terbuai, reflek meremas bokong wanita itu. Turut menyambut ciuman yang memanas.


Hingga, sekelebat bayangan wanita yang mendadak muncul, membuat Jonathan tersadar lalu melepaskan ciumannya secara mendadak.


Membuat Feli seketika membulatkan matanya.


.


.


Jonathan


Ia hanya bisa menatap nanar mobil yang di kemudian Feli melaju dengan kecepatan tinggi dari jendela kamarnya di lantai dua.


Bayangan wanita yang terus saja menganggu, seketika memutus sulutan panas yang lekas menggila.


Membuat Feli marah dan pergi entah kemana.


" Kenapa aku sama sekali tak bisa melupakanmu Nov?" Ia membasuh wajahnya dengan kasar. Nampak frustasi dengan apa yang menderanya saat ini.


.


.


Felisha


Besok ia akan terbang ke kota lain demi clientnya yang akan merancang sebuah gaun kepadanya. Relasi dan koneksi orang-orang besar itu sangat penting bagi keberlangsungan ketenarannya.


Namun, alih-alih ingin merajut gelora bersama Jonathan, pria itu justru membuatnya merasa kesal.


" Beri aku satu!"


Ia menuju Pub tempat dimana teman-teman sosialita nya berkumpul untuk bersenang-senang.


" Lah, tumben kau..."


Feli hanya bisa mengeraskan rahang saat para sahabatnya mengejeknya. Para wanita itu paham, jika Feli datang kesana, itu berarti anak Gunawan itu tengah mengalami kekesalan.


" Kenapa, susah di atur lagi? Udah aku kasih tahu Fel, jangan terlalu mengekang. Jonathan itu perfect. Salahmu sih, dari dulu gak mau hamil. Kalau kau punya anak, itu malah akan menguatkan posisimu!"


Feli hanya bisa tertegun sesaat setelah mendengar nasihat sahabatnya. Ya, dia memang salah. Tapi, dia takut jika anak akan membuatnya repot menjalani karirnya yang semakin cemerlang.


.


.


"Permisi Selena Gomes mau lewat!" Ucap Denok yang berniat membelah antrian pengecekan di stasiun kereta api di jam malam itu.


Membuat Karin terkikik-kikik.


" Mbak Mas permisi, maaf ada ibu hamil ini. Tolong kasih jalan ya!" Seru Karin lagi yang mengantar Denok ke stasiun.


" Sembarangan aja lu sialan. Hamil- hamil, hamil benih siapa. Sialan lu emang!"


" Kalau nggak gini, mereka gak akan mau Minggir!" Jawab Karin terkekeh-kekeh.


" Dah ya, kabarin kalau dah sampai. Aku mau ketempatnya si Leon!"


" Kempret terus lu ya sekarang. Awas jadi nanti tuh. Bisa-bisa punya anak beda bapak semua!"


" Mulutmu!"


" Ya dah ya,. keretanya dah mau datang tuh. Pergi dah lu sana. Ati- ati ya!!"


Mereka berdua melambaikan tangan usai. saling melepaskan pelukan.


Dan entah mengapa, hal itu Denok merasa Dejavu seperti beberapa tahun silam. Dimana kereta yang sama, jam yang sama, membawanya ke kota yang sama, dengan banyak cerita yang bermutu beraneka.


Kota J, aku datang lagi.


.


.


.


.