
...🌹🌹🌹...
Denok
" Pernah lihat anak ini nggak Pak?"
Ia menunjukkan gambar Yusuf beberapa saat setelah ia ngobrol banyak dengan kang ojek itu. Benar-benar pendekatan yang begitu baik.
Membuat kang ojek itu menyipitkan mata demi menatap objek yang ada di layar ponselnya, " Kok belum pernah ya. Memangnya ini siapa?"
" Anak saya Pak!"
" Hah?"
Kang ojek itu terkejut, namun Denok masih santai manakala menghisap rokoknya.
" Tolong kabarin saya Pak kalau lihat anak ini. Pokonya anak ini logatnya khas timuran banget!"
Tak berhenti disitu, Denok berjalan terus menyusuri daerah lain dan sampai di sekumpulan anak-anak jalanan yang berkerumun di depan dua bungkus nasi untuk makan bersama.
Terlihat ironis.
Denok yang sudah biasa dengan potret kehidupan kelas bawah itu, tau bagaimana caranya membaur dengan mereka.
" Nih buat kalian, aku ada sedikit rezeki!"
Anak-anak yang semula hanya saling menatap, kini tanpa ragu meraih bungkusan yang di bawa Denok. Lima bungkus nasi dengan lima botol air mineral.
Dan entah mengapa, hati Denok selalu merasa damai manakala berhasil dan mampu memberi orang-orang yang membutuhkan seperti mereka.
" Makasih Buk. Kami... memang masih lapar!" Ucap seorang anak dekil yang tadi membawa ukulele penuh kejujuran.
Denok mengangguk seraya menunggui anak-anak nestapa itu makan dengan lahapnya.
Hingga,
" Boleh aku minta tolong?"
Membuat wajah pemilik delapan biji kepala itu menoleh menatap Denok.
" Anak saya hilang. Besok tolong bantu cari ya. Saya ada hadiah buat kalian kalau bisa nemuin anak saya!"
Denok tersenyum demi beberapa raut penuh antusias di depannya. Ia yakin, banyaknya jumlah anak jalanan yang ia mintai tolong, akan semakin mempercepat dia menemukan Yusuf, yang menurut Denok besar potensinya untuk ada di jalanan.
.
.
Jonathan
Malam ini ia tak bisa tidur. Ia membuka kamar Yusuf dan melihat anak itu telah lelap nyaman memeluk guling dengan mulut terbuka lebar. Sepertinya anak itu benar-benar kelelahan.
Usai menutup pintu, ia tertegun sejenak kala melihat foto pernikahannya bersama Feli. Tersenyum kecut demi fatamorgana kehidupan yang semakin mengusik.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam namun entah atas karena apa, ia malah menyambar kunci mobil. Berniat ingin keluar malam ini.
Merefresh dan membunuh kejenuhan dengan sedikit hiburan tidak ada salahnya.
Ia yang sedari dulu memiliki sikap tak banyak bicara, nampak selalu serius manakala berkendara. Namun, sesosok objek yang tiba-tiba melintas di zebra cross membuatnya melek dalam waktu singkat.
" Denok?"
Ia mendadak menjadi tegang demi melihat orang yang mirip dengan wanita yang masih menjadi pemenang di hatinya itu.
Membuatnya buru-buru menepikan mobil di seberang guna memastikan sosok itu. Namun, orang yang barusan lewat tadi telah menghilang dari pandangannya. Membuatnya berpikir jika ia benar-benar telah berhalusinasi.
" Aku bahkan terus memikirkan wanita itu!"
Gumamnya saat ia merasa bila semua itu hanya ilusi semata, ia membasuh wajahnya kasar dengan hati bagai di iris sembilu.
Ia duduk di depan live musik dan berharap hatinya sedikit terhibur, tapi yang di dapat justru sindiran dari sebuah lagu.
🎶 Malam ini tak ingin aku sendiri
Ku cari damai bersama bayanganmu
Hangat pelukan yang masih kurasa...
Damned (sialan!)
Memaki dalam hati.
" Jo!"
Sebuah tepukan disertai sapaan membuatnya spontan menoleh.
" Bos, anda di sini?" Ucap Jonathan seketika mengangguk sopan kala Jodhistira datang menyapa. Tak menyangka jika ia akan bertemu bosnya di waktu yang tidak tepat seperti saat ini.
" Apa kabar kamu, kita terakhir ketemu waktu konferensi kapan hari?" Jodhi nampak menarik kursi di depan Jonathan, membuat suami Feli itu gugup.
" Saya baik, anda sekeluarga bagaimana? Danuja?"
Jodhi terkekeh demi melihat Jonathan yang masih saja terlihat kaku dan formal saat bersamanya, " Danuja dan ibunya sehat. Kau jangan bohong, kau pasti tidak sedang baik-baik saja kan saat ini?"
Tebak Jodhi dengan tawa dan membuat Jonathan seketika tergelak lirih. Ya, itu benar! Jitu sekali tebakan anda pak!
" Ngomong-ngomong dimana istrimu, kenapa kau disini seorang diri?"
" Dia sedang menemui clientnya. Urusan gaun. Anda sendiri?"
" Danuja dan Lintang sama Bu Yanti sedang menginap di rumah Mama. Besok aku ada acara penting, aku baru saja menemui rekanku!"
Jonathan mengangguk paham. terlihat senang dengan kabar Jodhi yang baik-baik saja. Ia takjub, Jodhi benar-benar pria yang produktif.
" Sepertinya, semakin kesini kau semakin terlihat tidak bahagia Jo!" Tukas Jodhi lebih serius. Menatap Jonathan dengan kening yang mengerut.
Jonathan menarik segelas minuman lalu meneguknya, merasa grogi kala di tebak oleh mantan Casanova itu. " Entahlah Pak. Aku merasa, semakin menyesali keputusanku. Terutama karena aku telah menyakiti seseorang!" Ucap Jonathan dengan tatapan menerawang.
Membuat Jodhi seketika bisa menarik kesimpulan.
" Apa kau sempat dekat dengan dadenya Danuja?"
Membuat Jonathan yang di tuding dengan pertanyaan seperti ini seketika mendelik.
Damned!
" Apa dia bercerita?" Tanya Jonathan dengan wajah polos dan ragu.
Kini, Jodhi tergelak saat menatap wajah bodoh Jonathan. " Hey, aku hanya bertanya dan memastikan, kenapa kau langsung sepucat itu?"
Jonathan hanya diam saat Jodhi semakin renyah kala menyuguhkan tawa. Kini ia bingung untuk mengakui.
" Dengar, aku tidak menyarankan mu untuk berselingkuh Jo. Jangan pernah kau lakukan itu. Bagiamanapun juga, Feli adalah wanita yang kau nikahani secara sah dan sadar. Tapi, sepertinya kau juga harus meluruskan kesalahpahaman jika semua itu bersumber darimu. Kau tau Jo, menyimpan rasa bersalah kepada seseorang itu benar-benar tidak enak Jo!"
Jonathan tertegun. Jodhi benar, menyimpan rasa bersalah terhadap orang lain itu tidak enak rasanya. Apalagi jika orang itu merupakan orang yang ia sayangi dalam diam.
Apalagi, ia memang tak pernah menemui Denok sejak saat itu. Saat dimana ia tak memiliki pilihan selain menikahi Felisha. Ditambah, kedua orangtuanya bahkan mengancam Jonathan untuk tidak menemui wanita itu lagi, atau ia tak akan pernah di anggap oleh keluarganya lagi
Benar- benar pilihan yang sangat berat.
.
.
Felisha
" Terimakasih sudah mengantarku!" Ucap wanita itu manakala Andra berhenti di depan kamar hotelnya.
Ya, Andra yang memang baik tak tega membiarkan Feli kembali ke hotel seorang diri.
Namun, Feli mendadak limbung sesaat setelah ia berpamitan dengan Andra.
" Astaga, Fel!"
Andra yang terkejut seketika menangkap tubuh Feli lalu membawanya masuk ke kamar dengan perasaan khawatir. Andra menduga, Feli pasti kelelahan dan pikirannya juga terlalu terforsir.
Feli yang di perlakukan manis oleh Andra sempat menatap wajah laki-laki itu dari jarak yang begitu dekat. Ia yang memiliki suami namun jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu merasa begitu miris.
" Minumlah dulu. Sudah ku katakan, minumlah multivitamin saat kau ini sangat sibuk!" Andra mengomeli Feli demi teringat jika ia kerap mengingatkan Feli melalui komentar - komentar di jejaring sosial wanita hedon itu.
Feli menerima gelas berisikan air putih lalu meneguknya. Kini, entah mengapa Feli nampak menatap nanar punggung lebar Andra yang sibuk membereskan perkakas di nakas kamar hotelnya.
Tiba-tiba terbesit suatu hal, yang tak ia dapatkan kala mengajak Jonathan kemarin. Gejolak yang mendadak timbul demi suguhan sikap baik, manis dan hangat dari seorang kawan lama.
" Baiklah, istirahatlah aku pergi dulu. Besok aku akan mengantarmu!" Ucap Andra tersenyum dan kini membalikkan badannya.
" Tunggu!"
Membuat langkah Andra terhenti dan seketika berbalik kembali.
" Bisakah kau menemaniku?" Ucap Feli dengan lirih dan mata terpaku.
DEG
Kini, Andra menatap sorot mata sendu dari Feli dengan tatapan tak percaya.
.
.
.
To be continued