
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia akhirnya memilih pergi saat merasa itu tak akan baik untuknya. Pemikiran yang cukup cermat untuk menghindari wanita yang ia ketahui sebagai istri Jonathan.
" Bagaimana bisa anakku serumah dengan sundel itu, CK!" Berpikir kesal demi teringat akan anaknya yang pasti kerap di marahi oleh Feli.
Tiba-tiba, ia merasa sedih.
" Kurang ajar! Semua ini gara-gara si Jojon brengsek!"
KLUNTHANG!
Ia menendang kaleng minuman berkarbonasi yang menganggur di depannya, demi melupakan perasaan kesal. Namun tak di sangka, kaleng itu malah mengenai wajah seseorang.
" Auwh!"
" Buset, mati aku. Aduh, gimana ini?"
Ia menjadi panik sendiri saat melihat pria berkemeja jeans yang hendak membuka pintu mobilnya, nampak mencari-cari asal benda sialan yang menimpa kepalanya itu.
" Hey, apa kau yang melakukan ini?" Tanya pria itu tanpa basa-basi saat melihat Denok yang notabene merupakan satu-satunya manusia yang berdiri di arah itu.
" Mampus!" Gumam Denok dengan tubuh tegang sebab ketakutan.
Pria itu terlihat berjalan mendekat ke arah Denok yang benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya, ia merasa bersalah atas sikapnya yang memang pecicilan.
" Apa kau tahu jika hal ini bisa membahayakan orang lain?"
Alih-alih ketakutannya terbukti, Denok yang mengira jika pria itu akan mengamuk akibat ulahnya, kini hanya bisa meringis saat mendengar kalimat sopan bernada lembut dari bibir pria itu.
Oh man!
" Ma-maaf, ta-tadi...saya gak sengaja!" Jawab Denok keranjingan.
Pria itu nampak memindai tampilan Denok beberapa saat lalu mengangguk tak masalah.
" Lain kali jangan begini!" Seru pria itu memungkasi pertemuan.
" Oh Ya" Ucapnya berbalik kembali seperti teringat sesuatu, " Wanita cantik sebaiknya jangan bepergian seorang diri. Di kota ini, bahaya bisa mengancam dimana saja. Apalagi, ini sudah malam!"
Denok seketika speechless saat laki-laki asing yang memiliki tinggi hampir seperti Jonathan itu mengatakan jika dirinya cantik.
Are you kidding me?
Kini, ia menatap mobil sedan kinclong yang mulai pergi menjauh itu dengan tatapan berbinar. Masih ada orang normal di dunia ini rupanya. Sudah kaya, sopan, tidak pemarah lagi.
Membuatnya meleleh.
Namun, Denok mendadak menggoyangkan kepalanya guna menggugurkan pemikiran yang tidak-tidak itu.
Pemikiran yang harus ia buang jauh-jauh.
" Mikir apa aku ini, haish!!!. Tidak-tidak, bagiku hidup adalah hari ini dan tanpa perasaan. Please nok, jangan main hati. Cukup!"
Ia bermonolog seraya menarik napas demi memeringati diri sendiri. Sebab, ia pernah jatuh hati dan hanya kekecewaan yang ia dapatkan.
.
.
Ia yang telah tiba di kostan usai menandaskan semangkuk soto mie nampak melihat kartu nama yang di berikan Nyonya Belinda tempo hari. Hasraat ingin makan enak mendadak muncul di kepalanya.
" Laki-laki sialan itu memintaku datang selasa depan. Sebaiknya aku datang aja ke acaranya nenek tajir itu. Lumayan buat dompet anak kost. Siapa tahu pulang di bawain bekal!" Ia terkikik-kikik sendiri saat memikirkan rencana liciknya.
Toh ia di undang secara langsung oleh nenek kaya itu, tidak masalah bukan?
Entahlah, baginya bergaya elit meski ekonomi sulit hanyalah sebagai bentuk self reward atas kerja kerasnya sendiri.
Tak muluk-muluk, jika pepatah Jawa mengatakan 'wong urip ing alam donyo iku mung mampir ngombe' ( manusia hidup di dunia ibaratnya hanya menumpang makan), maka ia sudah mengimplementasikan perumpamaan itu dengan baik.
Lagipula, kesenangan macam apa lagi yang bisa di raih oleh manusia macam Denok. Setidaknya, walau tidak kaya, ia masih bisa mencecap manisnya dunia sebelum nikmat sehatnya di cabut dan membuatnya harus memakan bubur dan makanan rendah garam setiap hari.
Waktu yang berlalu berisikan kegiatan yang sungguh monoton. Setiap pagi ia bahkan harus mencari cara guna menghindari pria gendut berdaki tebal itu. Pria yang tampaknya sering SKSD kepadanya.
Tapi ya sudah lah, mungkin itu rezekinya.
Apalagi, Yusuf tak memiliki ponsel. Membuatnya harus menebalkan muka saat meminta nomor Jonathan kepada Delon agar bisa menelepon anaknya itu. Sebab, ia pasti tak akan kesana karena ada Feli. Dan mustahil jika ia menceritakan masa lalunya kepada Yusuf yang polos.
" Bisa kau kirimkan aku nomor ponsel si Jojon?"
Harap-harap cemas ia menunggu balasan dari pria itu. Begitu lama hingga membuatnya bosan.
...+6281903765xxx...
" Hah brengsek, dia bahkan hanya mengirimkan nomor saja tanpa embel-embel kata-kata setalah aku telah menunggunya seperempat jam. Hah, manusia ini benar-benar!"
Menggerutu kesal atas sikap Delon.
Ia sempat bolak-balik mengetik lalu menghapusnya lagi, mengetik lalu menghapusnya lagi demi menemukan kata-kata yang pas.
...Jon, mana anakku, aku mau......
...Pastikan anakku selamat atau jika tidak......
...Beberapa hari lagi aku akan menebus Yusuf......
" Ah tidak-tidak, jika aku ketus, dia tidak akan menjawab!" Bergumam kala merasa tulisannya sangat tidak pas.
... Yusuf apa kabar. Bisakah aku bertemu dengannya?...
Ia terus menatap dua centang yang tak kunjung biru itu dengan perasaan was-was. Menunggu pria yang masih sangat ia kesali itu membalas.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Ia makin resah dan berniat menghapus pesannya saja saat tanda online pada nomor itu muncul, namun sang empunya tak jua membalas.
Namun sejurus kemudian.
📞 +6281903765xxx calling...
Ia mendelik saat nomor itu malah menghubungi dirinya. Bahkan, ia kini mendadak canggung.
Akhirnya, ia menggeser tombol hijau manakala nomor itu menghubunginya sebanyak dua kali.
" Halo?"
" Halo-halo, maaf aku sedang ada rapat. Aku akan menghubungimu setelah ini. Kau tidak masalah jika menunggu sebentar? Atau, kita bisa bertemu di suatu tempat?"
.
.
Akhirnya, Denok menyetujui ide Jonathan untuk bertemu agar ia bisa bertemu dengan Yusuf juga. Hah, persetan dengan sisa kekesalan di hatinya. Urusan Yusuf lebih penting.
Ia kini duduk menunggu di sebuah cafe dengan dinding kaca tebal yang transparan sesuai tempat yang telah di sepakati di jam siang itu. Sembari menunggu, as usually ia menyalakan rokoknya.
Lagi dan lagi, ia yang duduk santai dari mejanya melihat istri Jonathan nampak bersungut-sungut kesal terhadap seorang pria.
What?
" Kenapa aku selalu bertemu wanita itu? Dan kenapa selalu dengan pria itu lagi?"
Ia merasa Feli begitu karib dengan laki-laki yang sempat satu lift dengannya itu. Namun, ia merupakan orang yang ogah mumet untuk urusan orang lain. Membuatnya menepikan rasa ingin tahunya.
" Apa pernikahan mu selama ini baik-baik saja Jon?"
.
.
.
To be continued...