
...🌹🌹🌹...
Kelvin
Bagai memasang pelita di siang hari, Kelvin nampaknya telah melakukan pekerjaan yang agaknya sia-sia.
Bagaimana tidak, laki-laki itu telah memuja wanita yang sejatinya merupakan bagian masa lalu sahabatnya itu. Menggerutu dalam hati kenapa ia bisa kecolongan seperti ini. Dan pria semacam Kelvin, tentu menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan diatas apapun.
Kini, selain bingung harus berkomentar apa dan harus bersikap bagaimana, pria itu kini benar- benar merasa tak enak hati kepada Jonathan. Oh ya ampun!
" Ta- tapi kenapa kau tidak memberitahuku, maksudku waktu aku, kita di- di kantormu kemarin... kenapa kau diam saja?" Tanya Kelvin ragu dengan wajah muram.
" Salahmu sendiri, kenapa kau tidak bertanya!" Sahut Jonathan cepat dengan wajah yang selalu saja flat dan suara cetus.
" Apa? Astaga, aku tidak percaya kalau kau mengatakan hal ini dengan wajah se santai itu!" Timpal Kelvin menggerutu demi merasai jawaban Jonathan.
Kini, keduanya nampak sibuk dengan urusan masing-masing. Jonathan yang kembali tekun mengelap kemejanya menggunakan tissue, sementara Kelvin nampak gencar berpikir dengan hati ketar-ketir.
Berpikir nelangsa. Sebab tidak tahu harus melanjutkan perjuangannya atau berhenti saja demi sorot mata penuh harap dari kedua netra Jonathan.
" Kenapa kau melihatku?" Cetus Jonathan sengit kala ia merasa di perhatikan oleh Kelvin dengan tatapan saksama.
"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Tanya Kelvin menyipitkan matanya. membidik pria tampan itu dengan tatapan penuh selidik.
Kini, Jonathan tampak meletakkan kedua tangannya keatas meja, lalu menatap Kelvin dengan wajah penuh misteri.
" Jika aku memiliki rencana, apa kau mau bergabung?" Tanya Jonathan dengan senyum menyeringai.
Membuat mata Kelvin seketika melebar.
.
.
Meninggalkan dua pria konyol itu, kita beralih ke tempat lain, tepat dimana keributan serta persengitan tengah terjadi.
"Apa yang kau lakukan?"
Windi yang ditugaskan oleh Denok untuk menjaga Yusuf kini berteriak manakala seorang pria asing mendadak berada di kamar bocah itu.
Membuat laki-laki yang setengah terkejut akan suara stereo itu, kini menatap bingung ke arah Windi yang nampak terheran-heran dengan tubuh yang siaga menjelang.
" Kau siapa? Kenapa bisa ada di ruangan ini? Kau pencuri?" Tuding Windi yang menaruh kecurigaan berdasarkan pengamatan pertama.
Membuat pria rupawan yang kini berada di hadapan Windi sedikit kesal sebab dikatakan sebagai pencuri.
" Pencuri kau bilang?" Pria manis itu tak habis pikir dengan Windi. Bagaimana bisa ia di katakan sebagai pencuri.
Pria itu tampak tak menggubris Windi yang menatapnya penuh kecurigaan, sejurus kemudian terlihat mulai melangkahkan kakinya kedepan dan berhasil membuat Windi tak bisa tinggal diam.
" Apa yang kau lakukan? Apa kau orang suruhan wanita kurang ajar itu?"
Windi tampak menghadang langkah pria itu dengan tangan merentang. Matanya mengiris tajam, membuat pria itu mengernyit dengan mulut terbuka.
" Ada apa dengan wanita ini?"
" Benar kan, kau pasti orang suruhan wanita gila itu untuk mencelakai Yusuf!"
" Sudah ku duga. Akan aku hajar kau ya!"
Dokter Andra yang pagi itu menginap di rumah sakit demi menangani Yusuf memang tak mengenakan name tag ataupun baju dinasnya. Hal itu terjadi sebab ia ingin melihat keadaan Yusuf sebelum menjalani operasi.
Namun siapa sangka, Windi yang hanya menjalankan tugasnya dan belum pernah bertemu dengan dokter Andra, kini berhasil membuat dokter itu kesakitan sebab cubitan maut itu telah berhasil mencumbu kulit dokter Andra hingga terkoyak.
" Beraninya kau!"
Dokter Andra hanya bisa mundur dengan tubuh berjingkat- jingkat sebab tak kuasa menahan serangan cubitan yang bertubi-tubi.
" Astaga, apa yang kau lakukan? Apa kau gila?"
" Hey, hentikan!" Seru dokter Andra yang kini merasa dirinya terancam oleh wanita gila itu.
" Ada apa ini, nona kenapa anda menyerang dokter?"
Seorang perawat yang hendak masuk ke ruangan Yusuf seketika berteriak demi melihat aksi nyeleneh itu.
" Apa? Dokter?"
.
.
Dokter Andra masih nampak menyuguhkan raut sebal dengan cuping hidung yang melebar akibat sisa cubitan yang begitu perih.
" Sialan nih perempuan. Sakit banget lagi rasanya!" Batin dokter Andra menggerutu saat ia masih memeriksa kondisi Yusuf yang beberapa jam lagi akan memasuki ruangan operasi.
Seusai memeriksa kondisi bocah itu, dokter Andra yang berniat untuk keluar mendadak menghentikan langkahnya manakala Windi tiba-tiba muncul di depannya.
" Mau apalagi dia?"
Namun, saat dokter Andra hendak ngeloyor pergi, tanpa di duga tangan wanita itu berhasil menahan dada dokter Andra dan sukses membuat langkah pria itu terhenti.
Dokter Andra seketika mengerutkan keningnya saat melihat wanita yang kini tampak sungkan itu, terlihat membuka sebuah plaster lalu menempelkan plaster bergambar hello Kitty itu ke lengan dokter yang tadi ia cubit hingga terkoyak.
What the...?
" Saya enggak mau sampai saya di laporkan karena KDRT. Saya juga minta maaf karena tidak tahu kalau...anda itu dokter!" Windi berucap dengan muka di tekuk.
Karena jujur saja, selain tak enak hati, ia kini takut jika perlakuannya tadi akan berpengaruh kepada Yusuf. Oh astaga!
" Lagipula, kenapa ada dokter yang berpenampilan seperti itu!"
" Bukankah dokter itu selalu menggunakan jas dan nama gantung?"
Dokter Andra hanya bisa melolong tak percaya saat wanita itu memberondongnya dengan pertanyaan menyudutkan.
Oh Gosh, bagaimana bisa seorang dokter yang cedera kini di tempeli plaster hello Kitty oleh seseorang yang bisa ia katakan sebagai tersangka.
Membuat dokter itu seketika menatap wajah manis Windi yang tekun mengusap plaster yang telah menempel di lengan kuning langsat itu. Nampak tertegun untuk beberapa saat, kala tangannya di sentuh lembut oleh Windi.
" Aku bukan dokter sepertimu. Jadi kalau rasanya masih sakit, sebaiknya kau obati sendiri. Setidaknya, aku sudah bertanggungjawab atas perbuatanku!" Seru Windi yang hendak pergi. " Oh ya, lain kali pakai name tag mu biar orang lain tahu kalau kau ini dokter!"
" Permisi!"
Alih-alih marah, dokter Andra justru tersenyum dengan perasaan yang sulit di jelaskan, manakala wanita cerewet itu mencecarnya dengan ucapan bar-bar, lalu kini meninggalkannya dengan plaster pink bergambar kucing feminim itu.
" Beraninya dia!" Gumamnya seraya tersenyum.
.
.
.