
...🌹🌹🌹...
Delon
Ia sama sekali tak dapat mencerna apa yang tengah terjadi. Seorang wanita absdurd yang tanpa takut telah menyiksanya. Ditambah lagi, kenapa bosnya malah memintanya untuk menggali informasi tentang tujuannya datang ke kota J.
Apa dua orang itu sama-sama tidak waras?
Tapi tunggu dulu, ada rahasia apa sebenarnya antara keduanya?
Begitu pikir Delon yang kesal atas diskriminasi yang ia dapatkan.
" Mungkin ada salah orang. Saya tidak..."
Denok seketika melotot kala melihat Delon yang hendak mengelak dari fakta yang ia tunjukkan melalui gambar yang berbicara kebenaran itu.
" Ba- baik baik, saya akan katakan tapi tolong jangan siksa saya lagi!" Delon benar-benar tidak tahu harus dengan apa melawan wanita unik di depannya. Terbesit dalam pikiran jangan-jangan yang di maksud Yusuf dengan kata kabur dari Mamak adalah karena wanita ini jahat.
Benar, mungkin Yusuf telah mengalami KDRT.
TRING
Sebuah bunyi pesan yang masuk ke dalam ponselnya , membuat Delon bisa menghela napas dari jeratan makhluk membahayakan ini untuk beberapa saat.
" Jangan bilang kalau kamu mengenalku. Pokoknya jangan kamu beritahu dimana Yusuf saat ini. Ajak dia pergi, aku pulang duluan. Kabari aku info selanjutnya!"
" Apa? Sialan si bos!" Delon spontan memaki bosnya demi kesewenangan yang kini menimpanya.
" Apa kau bilang?" Cecar Denok demi kata sialan yang terucap dari bibir laki-laki parlente di depannya itu.
Membuat Delon ingin berteriak karena posisinya yang selalu serba salah.
" Emmm begini aja, bagaimana jika kita bicara di tempat lain? Sepertinya disini kurang nyaman." Delon meringis dengan hati was-was. Sepertinya wanita di depannya itu lain dari yang lain.
" Katakan sekarang juga atau aku akan..."
" Kumohon, kita berbicara di tempat yang private saja. Bukankah ini informasi penting?"
Denok nampak menimbang tawaran dari pria yang nampak pias di depannya itu. Menatap wajah penuh harapan di depannya.
" Kalau kau sampai menipuku, aku patahkan masa depanmu!"
Delon seketika merinding saat kata masa depan yang di maksud, selaras dengan tatapan Denok yang menatap aset berharganya.
" Sepertinya aku dalam masalah!"
.
.
Ia bergegas pulang dan berniat menginterogasi Yusuf. Hatinya benar-benar campur aduk saat ini. Ia bahagia karena bisa melihat wajah Denok secara langsung, namun di sisi lain ia juga penasaran akan siapa Yusuf sebenarnya.
Benarkah jika Yusuf adalah anak Denok? Kenapa ia tidak tahu menahu soal ini?
Semesta sedang mengajaknya bermain-main. Mempermainkan takdir dan menantang keberaniannya sebagi pria dewasa yang kalah dengan titah orang tua.
"Suf Yusuf!"
Panggil Jonathan tergesa-gesa. Membuat Mbak Min yang tengah sibuk menggosok perkakas kotor tergopoh-gopoh lari demi menyambut sang majikan.
" Tumben sudah pulang Pak?"
" Dimana Yusuf?"
Mbak Min sampai keheranan demi melihat majikannya yang nampak panik kala menanti Yusuf.
" A- ada di belakang, mau sa..."
Ucapan mbak Min menguap kala Jonathan berlari dengan cepat guna menemui Yusuf.
" Aneh banget sih si bos!" Gumam mbak Min dengan wajah kebingungan. Belum pernah bosnya se cemas ini sebelumnya.
Di halaman belakang.
Yusuf nampak rajin membersihkan kandang Miko. Bocah itu juga sangat telaten kala mencuci wadah makanan Miko dan pasangannya. Sepertinya, Yusuf memang penyayang binatang.
" Suf!"
Yusuf yang tengah membalas wadah kotoran itu kaget karena paman tampan itu pulang di jam yang tak seharusnya.
" Ya Pak?"
" Saya mau bicara penting sama kamu, sekarang!"
.
.