The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 65. Pelukku untukmu



...🌹🌹🌹...


" Kadangkala tak mengapa, untuk tak baik-baik saja. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna..."


( Diambil dari lirik lagu Fiersa Besari - Pelukku untuk pelikmu)


.


.


Jonathan


Tiada lagi bisa ia elakan, bahwa yang menjadi fokusnya saat ini adalah masalah hidupnya yang mendadak pelik. Merasa dirinya benar-benar bodoh juga egois dalam waktu bersamaan.


Bodoh karena mengapa orang se detail dirinya, justru menjadi korban penipuan yang di lakukan oleh kedua orang jahat itu.


Merasa egois sebab nyatanya Feli yang selama ini tak pernah akur dengannya, justru hanyalah sebagai pion, dan malah turut menjadi korban kebiadabannya Papa Iqbal dan Mama Weni.


Usai meninggalkan rumah sakit, ia bertolak menuju kantor polisi bersama Delon. Selama dalam perjalanan, ia terus berperang dengan isi otak yang tak baik-baik saja. Delon yang melihat kebisuan bosnya itu, lebih memilih untuk diam sebab ia tahu bila menjadi Jonathan tentu tidaklah gampang.


Daun pintu yang di banting jelas mengindikasikan jika Jonathan benar-benar marah. Meski menahan nyeri akibat luka jahitan dalam perutnya, pria itu terus melangkahkan kaki menuju ruangan dimana anak buah Delon telah menunggunya.


" Pak!"


Ia mengangkat tangannya dengan maksud agar membiarkan anak buah Delon tetap duduk kala menyambutnya.


" Dimana dia?"


.


.


Dada yang semula bergemuruh dengan ledakan kemarahan yang tiada berhenti berkobar, kini perlahan mereda demi melihat sesosok yang tampak menyuguhkan pandangan kosong dengan tubuh acak-acakan dan membuat Jonathan pangling.


" Mama?"


" Pemeriksaan sementara beliau mengalami depresi yang menjurus ke gangguan kejiwaan. Secara hukum yang berlaku, kami belum dapat menjerat seseorang yang mengalami gangguan jiwa!"


Jonathan masih menatap Nyonya Weni yang tampak terdiam dengan tatapan kosong, manakala seorang polisi berbicara kepadanya di depan jeruji besi. Membuat ia terseret dalam arus kebimbangan.


Kini, lama Jonathan menatap wajah Mama Weni. Masih belum lekang dari ingatannya, wanita yang selalu tampak panik dengannya manakala ia demam dulu, wanita yang selalu mengambilkan laut untuknya dulu, ternyata hanya serigala berbulu domba yang berniat menghancurkan hidupnya.


" Sebaiknya Pak Jonathan kembali dan beristirahat. Saya akan membereskan mereka semua Pak!" Ucap Delon demi melihat Jonathan yang tampak larut dalam keheningan kala menatap Mama Weni yang bahkan tak menganggap kedatangan mereka.


" Semua sudah selesai De. Aku ingin sendiri. Terimakasih untuk semua kerja kerasmu!"


Delon hanya mengangguk lalu terdiam saat Jonathan melewatinya dengan mata layu yang tak terdefinisikan. Membuat Delon menatap iba pria yang pasti saat ini tengah jatuh dalam kesunyian hatinya itu.


...🌹🌹🌹...


Malam hari, Denok dan Karin yang kini di paksa untuk menginap di rumah Lintang untuk sementara waktu oleh Jodhi, akhirnya tak memiliki pilihan untuk menuruti.


Bukan tanpa alasan Jodhi melakukan hal itu, ia bersama Jonathan tidak hanya sebentar, ia tahu jika pria irit bicara seperti Jonathan itu pasti memerlukan waktu untuk berdamai dengan semua yang terjadi.


" Pasti mikirin Jojon!" Ucap Jodhi mengagetkan Denok yang duduk di tepian kolam.


" CK, jadi malaikat emang gak tanggung-tanggung yang lu. Sebentar muncul di waktu yang tepat, sebentar muncul di saat yang kurang tepat!"


Jodhi terkekeh kecil manakala melihat Denok yang terlihat kesal karena terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


" Mau ketemu?" Tawar Jodhi membaca situasi. Menatap riak air kolam yang berkilau manakala terkena cahaya lampu.


Denok menggeleng. " Tadi aja nggak di sapa! Ngeri mau kesana. Aku bukan orang yang pandai bicara lembut dari hati ke hati kayak istrimu Jo!" Seru Denok menatap lurus kolam dengan tatapan putus asa.


Jodhi menghela napas dalam. " Aku harap kamu nggak ngambil hati soal itu. Masalah Jonathan ini kompleks banget. Dan kejahatan yang Tante Weni lakukan itu gak main-main!"


Denok tertegun saat Jodhi berbicara serius kepadanya. Dari tempat mereka berdua berbicara, sayup-sayup terdengar Dafa, Gita, Yusuf Danuja, dan adiknya yang saling bercengkrama.


" Mumpung Karin lagi asyik ngobrol sama Uti Tika di dalam!"


Dengan raut menimbang, Denok tampak mempertimbangkan tawaran Jodhi untuk menemui Jonathan. Apakah tepat jika dia menemuinya saat ini? Tapi jujur, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


" Gimana?"


Membuat Denok mendecak seraya melempar lirikan tak percaya ke arah Jodhi.


.


.


Sepeninggal mobil Jodhi, Denok yang kini ragu-ragu terlihat mulai melangkahkan kaki ke sebuah rumah yang baru pertama kali ia kunjungi ini. Rumah yang beberapa waktu yang lalu sempat memuat Yusuf di dalam.


Ia tampak menekan tombol dengan ragu. Tak tahu apakah Jonathan akan membukakan pintu dirinya atau tidak.


CEKLEK


"Kelvin?" Ucapnya mendelik.


" Kenapa kau baru datang sekarang? Aku kira kau tidak ingat dengannya!"


Denok kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh pria itu. Apa maksudnya?


" Kau kemari dengan siapa? Mana wanita itu?"


Denok semakin menatap aneh Kelvin yang menjulurkan kepalanya mencari sesuatu ke arah luar


" Apa yang kau cari? Aku kesini sendiri!"


" CK, kenapa kau tidak membawa Karin?"


Membuat Denok menatap aneh Kelvin yang malah menyuguhkan raut kekecewaan terhadapnya.


" Kamu masuk deh. Siapa tahu, dia mau makan. Aku dari sore tadi disini karena diminta Delon. Luka Jonathan belum kering. Tadi aku cari kamu tapi..."


" Dimana kamarnya?"


Potong Denok cepat yang membuat Kelvin tergagap karena melihat reaksi Denok yang sangat khawatir.


.


.


" Masuk aja, aku nunggu di bawah. Ngantuk banget aku dari kapan hari kurang tidur. Aku nunggu kamu dibawah. Aman, aku yang bakal ngantar kamu nanti!"


Denok mencibir kala ia melihat senyuman penuh maksud yang di tunjukkan oleh Kelvin.


Sejurus kemudian, ia nampak menarik handle pintu berukuran besar, yang membuatnya meneguk ludah seketika karena rasa ketar-ketir.


Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Jonathan yang berdiri mematung di hadapan jendela kaca lebar yang terbuka. Terlihat murung dan nestapa.


Ia berjalan dengan perasaan sedikit terperangah demi melihat ukuran kamar yang benar-benar mirip dengan kamar hotel yang kerap ia satroni.


Jonathan sepertinya benar-benar terpukul, hal itu bisa ia simpulkan sebab pria itu masih bergeming lantaran tak mendengar kedatangannya.


" Jon.."


Sapa Denok ragu seraya berusaha memberikan senyuman terbaiknya. Membuat pria yang ada di jarak beberapa meter darinya itu nampak tersentak bukan main.


" Novi?"


Ucap Jonathan dengan wajah yang terkejut dan seperti menyesali sesuatu.


Ia langsung mematung kala tubuhnya mendadak di peluk oleh Jonathan dengan begitu erat. Ia juga bisa merasakan kesedihan yang di alami pria itu, demi merasakan tubuh yang turut bergetar akibat getaran Jonathan saat ini.


Membuat tangannya yang semula mematung, kini mengusap lembut punggung kokoh nan lebar itu.


" Semua sudah terjadi Jon. Semoga hatimu kuat!" Bisik Denok dengan suara yang turut tercekat. Membuat pelukan Jonathan semakin erat.


Untuk beberapa saat, mereka saling memeluk, serta membagi kesedihan lalu meleburnya dalam isak tangis yang begitu lirih. Denok tahu, ini pasti tak akan mudah untuk Jonathan.


" Maaf aku sampai melupakanmu!" Ia menatap basah wajah Jonathan yang matanya sembab usai saling melepaskan pelukan.


Apa pria itu menangis dalam waktu yang lama?


Jonathan memang jujur dengan ucapannya. Kenyataan pedih yang menimpanya secara mendadak, bahkan membuatnya tak ingat akan Denok. Sungguh manusiawi.


" Aku ngerti, kamu... pasti berat melalui semua hal ini. Tapi Jon, kamu juga harus perduliin diri kamu sendiri. Kelvin bilang kamu dari tadi belum makan!" Tutur Denok murung. Membuat Jonathan tersenyum.


" Aku seneng banget kamu ada disini. Aku benar-benar minta maaf Nov karena terlalu fokus ke masalah..."


"Sstttt!" Jeda Denok menggunakan jari telunjuk yang ia tempelkan ke bibir Jonathan.


Kini Denok sepakat dengan ucapan Jodhi beberapa waktu yang lalu. Sekarang walau tanpa di jelaskan, ia telah percaya jika kenyataan yang di hadapi oleh Jonathan sangatlah tidak mudah.


" Kamu satu-satunya orang yang membuatku percaya akan indahnya cinta. Membuat ku percaya akan manusia yang selalu memiliki kesempatan yang sama untuk berbenah."


" Jadi...aku nggak mau orang yang menguatkan aku menjadi selemah ini,hm?"


Jonathan menahan sesak di dadanya kala Denok mengusap lembut wajahnya. Cinta yang tersirat dari kedua mata yang saling menatap, menegaskan jika siapapun yang mau menerima kekurangan satu sama lain, maka niscaya kesempurnaan akan hadir karena persatuan keduanya.


Denok memejamkan matanya manakala bibir lembut Jonathan kini menyatu dengan bibirnya. Ia menerima ciuman pria itu dengan sebongkah perasaan bahagia. Sudah selayaknya, ia kini ganti menguatkan Jonathan yang selama ini telah menolongnya dengan cara ajaib.


Denok nampak membalas ciuman itu penuh kasih sayang. Biarlah... biarlah air mata ini membersihkan semua noda yang ada, agar cinta yang mereka rajut, menjadi suci adanya.


.


.


.