
...🌹🌹🌹...
Denok
" Makasih!" Ia menyambar card lock yang barusaja diberikan oleh resepsionis hotel lalu segera ingin menuju kamarnya yang terletak di lantai delapan bangunan tinggi itu.
Nampak berjalan angkuh bagai orang yang begitu tegar. Padahal, ia juga begitu rapuh saat ini. Tapi itulah Denok, yang tak mau menunjukkan kelemahannya di hadapan banyak orang.
Sebenarnya, bisa saja ia menghubungi Lintang bila ia ada di kota J saat ini. Astaga, Danuja saat ini pasti sudah masuk di taman kanak-kanak.
Namun, berhubungan dengan keluarga Jodhistira Mavendra sama saja seperti membuka tabir yang telah ingin ia tutup. Berhenti untuk tidak melibatkan perasaan dalam kehidupannya.
CEKLEK
Pintu itu terbuka usai ia menempelkan cardlock berwarna biru itu. Menampilkan tempat tidur yang nyaman. Kisahnya akan segera dimulai.
" Gimana, udah nyampek belum?"
Karin masih menjadi satu-satunya orang yang paling perduli dalam hidupnya saat ini. Mengirimkannya pesan sejak beberapa saat yang lalu.
" Baru aja nyampek hotel Sun. Belum apa-apa udah mau mengibarkan bendera putih aku!" Balasnya dengan posisi menelungkup diatas ranjang empuk itu.
" Aku sumpahin ketemu si Jojon!"
" Sialan!"
.
.
Jonathan
Ia pasti sudah gila. Membiarkan dirinya terlambat demi mencari bocah asing yang kini membuat dirinya beserta Delon pusing.
" Sudahlah Pak, biarkan saja dia. Mau sampai kapan kita keliling engga jelas begini?" Tanya Delon dengan cuping hidung yang tiada henti mekar sebab hatinya kesal.
Jonathan diam dan fokus menatap ke sekeliling trotoar. Namun, usahanya benar-benar sia-sia. Ia tak menemukan Yusuf.
" Ya sudah, kita kembali ke kantor!"
.
.
Yusuf
Ia pamit usai perutnya telah terisi dengan nasi cita rasa sejuta umat yang melegenda itu. Pertemuannya dengan bapak tua tadi harus terpungkasi demi segumpal harapan ia akan mendapatkan pekerjaan.
Tapi Yusuf hanyalah Yusuf, bocah minim pengalaman yang keras kepala. Ia tidak tahu, bila kota itu adalah tempat yang seharusnya tidak ia jajaki saat ini. Di usianya yang begitu kecil.
Telah seharian ini ia menawarkan diri di depan toko, rumah makan, hingga pedagang street food untuk memperkerjakan dirinya. Namun, lagi dan lagi, kekecewaan harus ia telan manakala jawaban yang ia dapat begitu membuatnya sedih.
" Kamu ini anak-anak, dimana orang tua kamu?"
" Sebaiknya kamu pulang, dimana ibumu?"
Tak tahan lagi, ia akhirnya menyerah dan berniat menuju ke kantor tuan tampan yang menabraknya kemarin. Tak ada pilihan lagi. Hanya dia yang ia kenal.
Ia menyelinap saat satpam yang berjaga di depan itu menuju ke parkiran. Memberinya kesempatan untuk masuk.
" Maaf, apa Pak Jonathan ada?" Tanyanya ragu-ragu kepada wanita cantik yang menatapnya penuh selidik.
" Kamu siapa? Kok bisa masuk? " Tanya wanita itu dengan penuh keterkejutan.
" Saya..."
" Iya-iya, saya mau kesana setelah ini. Iya... kita ketemu disana saja ya, baik..."
Obrolan kaku mereka teriterupsi oleh suara Delon yang nampak terburu-buru hendak menuju suatu tempat. Membuat mata Yusuf berbinar.
" Pak!" Panggilnya dan membuat laki-laki yang kini mengenakan kacamata itu menoleh.
" Kamu lagi?"
.
.
Delon melirik bocah yang nampak norak sebab begitu menikmati pemandangan sekeliling manakala mobil itu berjalan.
" Bawa dia, dan antar kerumah nanti!"
Balasan dari Jonathan membuatnya mendecah tak percaya.
" Kamu ini anak orang atau bukan sih?" tanya Delon kesal demi keputusan Jonathan yang benar-benar tidak ia mengerti.
" Bapak mau bawa saya kemana? Saya sudah boleh kerja?" Tanya Yusuf yang malah sibuk dengan angannya.
Membuat Delon memutar bola matanya malas. Anak ini benar-benar!
" Pak Jo minta saya ngantar kamu ke rumahnya. Nanti kamu ngurusin peliharaannya aja. Lagian bocah ingusan minta kerja!" Ucapnya mendengus.
" Peliharaan?" Mata Yusuf justru berbinar, sama sekali tidak terganggu dengan nada sengit dari Delon.
" Tapi kamu tunggu dulu di mobil, saya ada urusan sebentar. Jangan kabur lagi!"
" Siap!" Yusuf menirukan gaya hormat dengan wajah suka. Ternyata, kabur itu tidak enak. Membuatnya lebih baik kembali ke paman itu.
Delon nampak meninggalkan Yusuf yang telah ia bekali dengan jajanan sebanyak dua kantong. Meninggalkannya di dalam mobil sebab malu jika membawa bocah bengal itu.
Ia hendak menemui salah satu clientnya yang petang ini masih ada di hotel. Mereka bertemu di resto hotel, yang berada di lantai dasar.
Namun, saat ia sibuk berbalas pesan.
BRUK!!
" CUUK!"
Ucap perempuan yang tak sengaja ia tabrak, dan membuat Delon seketika mendelik demi mengetahui umpatan berbahasa daerah itu.
" Kacamata udah tebel masih aja nabrak orang! Asu!"
Delon makin dibuat melongo demi melihat wanita yang hanya mengenakan kaos, celana pendek diatas lutut, wajah tanpa make up yang menatapnya sengit seraya memakinya.
" Biasa aja kali!" Sahutnya tidak mau kalah. Membuat wanita itu seketika berbalik.
" Apanya yang biasa? Biasa picek ( buta) ?" Jawab wanita itu seraya melipat kedua tangannya dengan wajah kesal. Kesal sebab Delon berjalan dengan wajah fokus ke HP.
" Pak! Saya disini! " Terdengar suara seseorang yang melambaikan tangan ke arah Delon. Membuat laki-laki itu seketika pergi meninggalkan wanita judas itu.
Ia akhirnya duduk di meja clientnya, meski ia masih menatap aneh wanita yang nampak begitu apa adanya itu.
Hingga, ia yang makan dan mengobrol santai dengan clientnya, terkejut kala melihat wanita yang melabraknya tadi, terlihat menghisap rokok sembari mengacungkan jari tengah ke arahnya tanpa berdosa.
Membuat Delon seketika merinding.
.
.
Jonathan
Ia tergelak manakala mendengar cerita Delon yang bertemu dengan wanita judas saat ia menemui Vincent di hotel. Membuat Yusuf terdiam dan mengagumi kediaman Jonathan yang begitu megah.
" Sumpah Pak, kok ada wanita yang begitu!" Gerutu Delon sembari mendadak merinding demi mengingat wanita itu.
" Takut saya Pak!"
Kini, Delon benar-benar merasa takut sebab sepertinya wanita itu memiliki garis keras dalam sisi kehidupannya.
" Sudah sudah!" Ucapnya sambil menyeka sudut matanya akibat lelah tertawa. " Suf, kamu mau merawat kucing?"
Membuat Yusuf menatap Jonathan dengan wajah penuh minat.
" Mau Pak, apa itu pekerjaan saya?" Tanya Yusuf dengan mata berbinar-binar.
Ya, Jonathan sengaja memilih memperkejakan Yusuf sebab ingin membuat anak itu lega, ia benar-benar kepikiran dan kasihan dengan anak ktu. Anak sopan, tapi keras kepala.
Walau, diam-diam sebenarnya ia ingin memulangkan anak itu ke tempat asalnya. Kasihan pikirnya.
Ia mengangguk menatap wajah polos yang kini senang.
" Tapi, apa ibu galak itu tidak akan marah?" Tanya Yusuf menatap murung Jonathan.
Membuat dua pria dewasa itu saling bertukar pandang. Apa yang di maksud adalah Feli?
.
.
.