
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Siang ini, ia sedang istirahat bersama Windi dan juga semua karyawan secara bergantian.
Bekerja benar-benar membuatnya lupa untuk menanyakan kabar Yusuf.
" Nih mbak, mbak Deni makan dulu!"
Denok tersenyum saat melihat Windi mengambilkan makanan untuknya. Ah sepertinya Windi sangatlah polos.
" Suwun ( makasih) Win!"
Windi mengangguk tersenyum. Entah mengapa pula, Windi suka dengan pribadi Denok yang sepertinya tidak neko-neko.
" Ngomong-ngomong, kok mereka pada enggak gabung sama kamu?" Tanya Denok seraya menyelupkan tangannya ke wadah berisi air. Berniat makan menggunakan tangan saja.
" Aku selalu sendiri sebelum ada mbak Deni. Ya, maklum mbak. Saya gak selevel sama mereka-mereka. Saya kurang nyaman juga kalau pas lagi sama mereka. Yang dibicarakan hal-hal mewah!"
Windi nyengir dan membuat mata sipitnya makin sipit. Denok mengangguk paham. Ia pernah berada di posisi Windi. Singkat kata, Denok merasa cocok dengan gadis itu.
" Kok mbak Denok bisa tahu lowongan disini. Pekerjaan disini kalau gak ada info dari orang dalam, susah masuknya mbak!" Tanyanya di sela kegiatan makan.
" Iya kah?" Tanya Denok heran sembari menggigit krupuk.
Kroak!
Windi mengangguk sambil mengunyah makanan yang baru saja ia jejalkan kedalam mulutnya.
" Kalau aku dulu di info sama satpam di depan itu. Beliau dulu kost di sebelah kost saya mbak! Begitu nawarin, saya langsung mau!"
" Kamu udah lama dong?"
" Belum terlalu sih!"
Denok hanya manggut-manggut sambil mengigit ampela pedas yang rasanya gurih itu. Ia tak percaya jika bisa bekerja normal di kota besar seperti ini, saat dulu ia pernah di tolak berkali-kali tiap melamar pekerjaan dengan dalih pendidikan yang rendah.
" Kalau mbak Denok. Dapat info dari mana?" Tanya Windi polos.
Membuatnya seketika kebingungan dalam menjawab.
" Aku..."
Windi melirik Denok sambil mengatur suapannya. Nampak menunggu mulut Denok melanjutkan ucapannya.
" Dari musuhku sih sebenernya" Jawab Denok seraya meringis sembari ingat akan Jonathan yang mencetuskan ide ini.
" Hah, musuh? Siapa?" Windi bahkan sampai tidak jadi menyuapkan makanan yang sudah ia tata.
" Istirahat kalian kurang lima belas menit lagi. Tolong segera bersiap setelahnya karena akan ada rombongan mahasiswa yang akan datang!"
" Dan kamu anak baru. Sebaiknya segera beradaptasi dengan baik, di tempat ini semua harus sat set!"
Denok sempat beradu tatap dengan manager sombong itu untuk beberapa saat. Sepertinya, hari-hari kedepannya wanita itu akan sangat menyebalkan untuknya.
" Sombong banget tuh orang!" Cetus Denok tak suka.
" Emang begitu mbak orangnya. Tapi, sebaiknya mbak Deni jangan melawan. Dia kenal sama orang-orang atas. Dulu, pernah ada yang cari masalah sama dia ujung-ujungnya di tendang dari sini!" Ucap Windi murung. Menginformasikan jika wanita itu memiliki posisi yang cukup krusial.
Denok sebenarnya tak takut dengan wanita itu. Tapi dia harus bisa meredam diri sebab ia masih harus menyelesaikan hal ini secara benar! Terutama untuk Yusuf!
.
.
" Aku pulang dulu ya mbak. Kita ketemu besok lagi. Da..."
Denok melambaikan tangan kepada Windi setelah mereka merampungkan pekerjaan mereka di jam dua siang, untuk kemudian menyerahkan pekerjaan itu kepada sift berikutnya.
Ia hendak menemui Delon yang sudah mengirimkan pesan kepadanya. Sangat bersemangat karena ia akan segera mengembalikan uang itu kepada Jonathan agar malam ini, ia bisa membawa Yusuf pulang.
Yeah!
" Ingat, kau akan di potong gaji hingga hutangmu lunas!"
" Tapi jika kau sudah memiliki uang lain, maka itu terserah mu!"
Mereka berdua bertemu dan seperti biasa, selalu tak pernah akur.
" Aku masih belum pikun!"
Tunggu dulu, wanita ini memang cantik sih jika tidak marah-marah. Apa Pak Jo dan wanita ini akan?
" Baiklah cahaya kehidupan ku sepertinya sudah mulai meredup Pak. Lagipula, sepertinya berada bersama saya lama-lama nampaknya cukup membuat adrenalin anda kurang beres!"
Denok menatap licik ke arah Delon yang selalu beraura harap-harap cemas bila di dekatnya. Membuatnya tekrikik-kikik dalam hati.
" Terimakasih banyak atas bantuannya. Pak Delon. Selamat siang jelang sore!"
Delon hanya melongo saat wanita itu pergi usai menekankan intonasi penuh misteri saat menyebutkan namanya dengan wajah mengerikan.
"Astaga, bagaimana bisa pak Jo dulu menyukai wanita seperti dia. Membayangkan saja, burungku rasanya ngilu!" Batin Delon seraya bergidik ngeri.
Di perjalanan pulang, Denok tak ingin berlama-lama dengan uang itu. Ia berniat menemui Jonathan detik itu juga.
TUT
TUT
Ia yang kini duduk di depan sebuah minimarket nampak serius saat menunggu panggilannya di jawab. Menepikan rasa malu dan sungkan sebab menghubungi Jonathan lebih dulu.
" CK, brengsek! Apa dia sibuk dan belum pulang dari kantor?" Ia bergumam sembari sibuk berpikir. Merasa lelah sekali hari ini.
Namun, saat ia masih melepas lelah dengan meneguk sebotol minuman isotonik, tanpa ia duga Kelvin keluar dari minimarket itu, dan melihat dirinya melamun.
" Novi!"
Denok yang di panggil seperti itu seketika menoleh. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Kelvin yang tersenyum ke arahnya.
Oh ya ampun!
" Kamu ngapain disini?" Tanya Kelvin yang tanpa permisi langsung duduk di kursi kosong sebelah Denok dengan wajah senang.
Denok hanya tersenyum canggung. " CK, kenapa ketemu dia lagi sih?"
" Baru pulang kerja kamu?" Tebak Kelvin saat melihat Denok yang mengenakan sepatu, celana juga sebuah ransel kecil.
" Enggak baru turun dari khayangan. Udah jelas-jelas nyangklong tas ransel begini!"
Denok mengangguk tanpa menjawab. Lagi-lagi, wanita itu selalu tak bisa berkutik jika Kelvin yang mengajaknya berbicara.
" Aku tadi mampir kesini karena ambil uang cash di dalam!"
" Siapa juga yang nanya'!"
" Mau bareng?"
" Oh enggak-enggak terimakasih Pak. Saya masih ada urusan!"
Tolak Denok tersenyum. Entah mengapa, ia tak ingin menambah persoalan jika dekat dengan orang-orang kaya, yang bisa berubah sifat sewaktu-waktu.
Perlakuan Jonathan kepada dirinya, agaknya mengubah seluruh sudut pandangnya terhadap orang berada. Menjadikan Denok memukul rata bila orang kaya itu selalu semaunya.
" Kemana? Barangkali kita sejalan!"
Denok melihat cuaca yang agak terik itu dengan wajah lelah. Apa sebaiknya ia menumpang saja. Lagipula, ia harus hidup hemat setelah ini. Pria sialan itu gara-garanya.
" Saya mau ke Jalan XX" Jawab Denok sembari meminum kembali minumannya, karena pasti jalan yang ia sebut barusan, tidak akan di lewati oleh Kelvin.
" Wah kebetulan dong. Aku mau ke tempatnya Jonathan. Aku bisa turunkan kamu di sana!"
Dan, jawaban Kevin tersebut seketika membuat Denok tersedak minuman yang baru saja ia teguk.
Are you kidding me?
" Uhuk- Uhuk!"
" Aduh, pelan-pelan Nov, kamu nggak apa-apa kan?"
Denok hanya diam tercenung menatap Kelvin, yang nampak cemas manakala menotolkan sapu tangan yang ia ambil secara buru-buru, ke wajah Denok yang kini belepotan.
Membuatnya teringat akan sapu tangan yang kini masih ia simpan.
" Kenapa aku nggak bisa lupain kamu Jo?"
.
.
.