
...🌹🌹🌹...
Delon
Ia lupa jika Selasa ini, ia harus buru-buru ke restoran milik Jonathan, dan musti berpura-pura menjadi bos atas perintah nyeleneh Jonathan.
Oh astaga, semenjak wanita itu ada di kota ini, ia bahkan turut merasa tidak tenang manakala harus menjalankan tugas yang berkaitan dengan wanita itu.
" Ingat, suruh dia tanda tangan untuk mau bekerja dengan gaji yang di potong untuk pinjaman ini hingga dia bisa membayar seluruh pinjamannya!"
Benar-benar membuatnya kesal sekaligus tak habis pikir. Mengapa ada aturan seperti itu? 😒.
Ponselnya yang semalam ia charge bahkan masih lupa ia nyalakan. Pria dengan kumis tipis itu kini fokus menuju ke Restoran, sebab ia yakin jika wanita mengerikan itu pasti sudah datang dan akan membuatnya kena skakmat jika ia membuat ulah.
Dan benar saja dugaannya, ia yang pagi ini berpenampilan cool dan rapih di kejutkan dengan kedatangan Windi yang hendak membersihkan lantai sebelum tempat itu buka.
" Pagi Pak De, maaf tadi anak barunya sudah..."
" Saya tahu!"
Sahut Delon dengan isi hati yang harap-harap cemas. Ia tak tahu apa rencana bosnya kedepannya nanti. Tapi yang jelas, wanita itu benar-benar membuatnya serba salah.
" Oh ya..." Delon memundurkan langkahnya kembali, dan melirik Windi yang masih berdiri keheranan" Dia bukan anak baru. Tapi, dia adalah orang baru. Kenapa aku menyebutnya begitu, sebab dia bukan anak-anak!"
Delon tergelak sementara Windi hanya mencibir sebab lelucon itu sangatlah garing.
Apanya yang lucu?
CEKLEK
Delon menghela napas terlebih dulu, sebelum memulai aksinya. Mengumpulkan energi positif sebelum berhadapan dengan aura negatif.
...Tolong kamu ke ruangan. Saya ada di lantai dua!...
Ia mengetik pesan setelah ponsel mahal itu berhasil ia hidupkan. Sibuk menyembunyikan nama meja agar Denok tak menaruh curiga. Semua karyawan disana tahu siapa Delon. Pria yang memang lebih sering wara-wiri kesana dari pada Jonathan itu, mampu membuat siapa saja yang ada di sana sungkan.
Tak berselang lama, apa yang di tunggu datang juga. Wanita itu kini datang dengan wajah yang agak keruh. Ya, dia melihat itu.
" Duduk!" Ucapnya sok cool demi meminimalisir terjadinya gangguan mengerikan.
" Untuk hari ini, kau bagus sekali. Datang before schedule!"
Denok hanya melirik tajam dengan hati dongkol demi mendengar ucapan menyebalkan dari Delon.
" Ini, baca surat ini. Aku tidak ingin kau menipuku!"
Denok semakin mendengus saat Delon mengatakan hal itu. Benar-benar pria yang mengesalkan!
Sejurus kemudian, Denok nampak tekun membaca secara saksama isi surat itu. Surat yang menerangkan bila Denok akan mendapatkan potongan selama ia belum bisa mengembalikan pinjaman itu.
" Menyusahkan saja. Kalau mau minjam uang, kenapa tidak di KSP saja?"
Delon bergumam lirih saat Denok tekun membaca hal itu.
" Hey aku dengar itu. Apa yang kau katakan?Aku sudah pernah bertanya kepadamu kan di awal. Kalau kau tidak mau ya sud...."
" Ehh Ehh!"
Delon yang panik sebab melihat wanita itu marah seketika menangkap tangan Denok yang hendak pergi, sebelum ia kena masalah nanti.
Oh Shiit!
Pak Jo bisa membunuhku gara-gara ini!
" Aku hanya bercanda. Kenapa kau mudah salah paham sih?"
Delon merayu Denok seraya tersenyum secerah mentari. Tak apalah, dari pada ia kena semprot Jonathan nanti.
" Pokoknya pinjamkan saja dia uangnya. Buat dia kerja di lingkungan kita. Kamu jangan banyak tanya. Lakukan saja!"
Mendadak teringat akan titah Pak Jo beberapa waktu lalu yang seketika membuatnya merinding.
" Apa uangnya ada sekarang?"
Tanyanya langsung tanpa basa-basi. Menatap Delon yang nampak syok.
" Bukankah kita sudah membicarakan hal ini? Tenang saja ada, aku ini bukan penipu!"
"Terserah kau saja!" Sahut Denok muak.
Delon yang mendengar gumaman itu hanya berusaha bersabar. Ia heran, kenapa Pak Jo mau menolong wanita di depannya itu.
" Beri aku uang cash saja. Uang itu akan aku berikan langsung kepada sundel bolong itu!"
Delon yang mendengar kata sundel bolong, seketika mengulum bibirnya demi menahan tawa.
" Pasti Bu Feli yang dibicarakan!" Tekrikik-kikik dalam hati.
" Kalau kau minta cash, aku baru bisa memberikannya sepulang kerja nanti. Sekarang ayo kebawah. Aku kenalkan kamu kepada yang lainnya!"
.
.
" Ini Gery, dia yang menjembatani antar lini. Di ruangan pembersihan ini ada Windi, Via, sama kamu. Ada anak laki-laki nanti yang bakal bantuin.
" Yang masuk pagi, jam dua pulang!"
"Apa ada pertanyaan?"
Delon mengumpulkan beberapa orang yang akan berkerja dengan Denok sekaligus memperkenalkannya.
Denok diam dan nampak tak berminat bertanya pada pria menjengkelkan itu.
" Baiklah, kalau tidak ada saya permisi dulu. Ingat, tetap jaga kondusifitas saat bekerja!"
" Woy kenapa masih pada ngerumpul disitu? Via, aku tadi nyuruh kamu untuk apa?"
Denok menatap ke arah wanita bersuara ketus, yang mengenakan seragam lebih bagus dari kepunyaan Via dan Windi.
Untuk beberapa saat, merkea berdua saling menatap dengan tatapan tak suka.
" Kamu karyawan baru?"
Tanya orang itu ketus seraya melipat kedua tangannya. Menghujam Denok dengan tatapannya yang sinis.
Denok mengiyakan dengan mimik wajah datar dan cenderung melawan. Membuat wanita itu menatap tak suka ke arah Denok .
" Disini tempat kerja. Bukan tempat ngobrol apalagi nggosip. Sebaiknya segera biasakan diri kamu untuk disiplin. Win, cepat bawa tray itu ke meja koki!"
Ia masih diam saat Windi menatap dirinya dengan wajah ketar-ketir saat wanita itu berlalu dari hadapannya.
" Siapa sih wanita tadi? Belagu amat!"
Denok bertanya dengan wajah yang masih menatap tak suka wanita yang mulai menjauh dari pandangannya itu.
" Itu mbak Tika mbak. Manager Operasional disini!"
Terang Windi dengan wajah muram sebab takut.
" Kenapa dimana-mana ada sundel!" Gumam Denok keras meluapkan ketidaksukaan.
Membuat Windi mendelik kala mendengar Denok bergumam kata-kata seperti itu.
.
.
Pekerjaan ini rupanya tidak terlalu sulit. Namun ia heran, kenapa piring kotor, gelas, mangkok, serta beberapa perabot lain yang harus ia cuci tiada habisnya.
Kini, ia menjadi mengerti kenapa gaji yang di perlihatkan oleh Delon tadi sangat lebih dari cukup. Semua sesuai porsi pekerjaan.
" Mbak Deni aku gantiin ya? Dari tadi nggak berhenti!" Tanya Windi muram yang pagi jelang siang itu menatap kasihan Denok yang tidak mau di gantikan.
" Udah kamu yang bagian ngambil sama ngantar aja. Aku biar disini!"
Denok tersenyum kepada Windi. Satu-satunya manusia yang bisa ia ajak bicara dengan wajar. Denok sengaja menghindari berada di depan publik karena ia takut kalau-kalau akan bertemu dengan mantan clientnya dulu. No way!
" Kalau capek bilang ya mbak?"
" Iya-iya udah sana!"
Mereka bekerja dengan sibuknya. Denok semakin heran, kenapa restoran ini dari padi tak hentinya memproduksi perabot kotor? Jelas mengindikasikan bila tempat makan ini begitu ramai.
Sejenak ia tertegun dan mendadak tersenyum getir. Andai Jonathan meminta istrinya untuk tidak mempermasalahkan Vas itu. Mungkin ia tidak akan pernah disini.
Tunggu dulu, siapa dirinya? Kenapa dia harus mengharap hal itu terjadi?
.
.
Sementara itu, di sebuah lokasi lain.
Jonathan tampak senyam-senyum kala melihat Denok yang kini sibuk berjibaku dengan spons juga piring yang kotor.
" Sebenarnya apa yang membuatmu tertawa seperti itu Pak Jo?" Batin Delon kala melirik Jonathan yang sibuk melihat subuh rekaman video.
" Aku senang karena kau memilih bekerja di belakang. Sebab sepertinya kau lebih meresahkan jika mengenakan seragam itu dan berada di depan!"
Delon menatap tak percaya bosnya yang masih bermonolog, serta senyam-senyum sendiri saat melihat rekaman itu.
" Ehem!"
" Ehem!"
Jonathan seketika tersentak, kala Delon berdehem. Membuat keceriaannya seketika buyar.
" Dia minta uang cash Pak!" Sela Delon melaporkan sesuatu.
" Berikan saja. Lagipula, uang itu akan kembali kepadaku!"
Dan itu membuat saya heran pak?
Suasana hening untuk beberapa saat, hingga...
" Pak, bolehkah saya bertanya?" Ucap Delon penuh kecemasan.
" Hm!"
" Sebenarnya, apa Bu Feli meminta ganti rugi sebanyak itu?" Tanya Delon dengan nada yang begitu hati-hati.
Membuat suasana kembali senyap beberapa detik.
" Tidak. Tentu saja aku tidak akan membiarkan Feli melakukan itu!"
Delon nampak menatap bos-nya yang kini menarik napas seraya memejamkan matanya secara saksama.
"Aku hanya sedang berupaya meluruskan jalan hidup seseorang De!" Ucap Jonathan sejurus kemudian kala ia membuka mata.
Delon yang di tatap serius oleh pria datar itu hanya bisa menelan ludah dengan pikiran bertanya-tanya.
" Meluruskan jalan hidup?"
.
.
.