The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 60. Kelakuan absdurd sang CEO



...🌹🌹🌹...


Denok


Saat ini, ia membiarkan kelurga Lintang untuk bersenda gurau bersama Yusuf dan Danuja dalam ruangan yang kini tampak penuh itu, sebab ia tahu jika Yanti begitu tertarik untuk turut mengurusi Yusuf.


Rencana, selepas dari sana Jodhi dan keluarganya akan bergeser untuk membesuk Jonathan. Bagaimanapun juga, Jonathan pernah menjadi bagian dari mereka.


Wanita itu sengaja ingin menepi sebab mendadak kepikiran soal kondisi pria yang beberapa saat yang lalu telah menciumnya di hadapan sorot senja yang merona indah.


Meski, ia juga sadar jika tak akan mungkin bisa ke ruangan Jonathan, sebab keluarganya pasti tak akan mengizinkannya.


Ponselnya yang hilang saat di markas Jac, berkontribusi membuatnya tak memiliki akses untuk terhubung dengan orang-orang itu.


Entahlah, semakin kesini, ia tak bisa melawan kenyataan jika dirinya memang perduli dengan pria yang selalu datar itu. Apalagi, pernyataan cinta yang sempat di ucapkan oleh Jonathan sesaat setelah pria itu tertembak, membuat jiwanya semakin gelisah, karena berada di antara Feli.


Saat tengah berjalan dengan pandangan melamun. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, yang cukup membuatnya tersentak.


" Astaga, dimana Karin sekarang? CK, aku bahkan melupakan anak itu gara-gara si Jojon!" Gumamnya panik sebab ia baru mengingat Karin di jam yang sudah lewat jauh itu.


Membuatnya memutuskan untuk kembali ke ruangan Yusuf, dan berniat meminta bantuan Jodhi dan lainnya agar ia bisa mengetahui keberadaan sahabatnya itu.


Namun, saat ia sudah akan berbalik arah , suara seseorang terdengar memanggilnya dan membuatnya menghentikan langkah.


" Mbak Denok!"


" Mbak!"


" Tunggu!"


Ia menoleh ke arah belakang, dan tampaklah Windi yang berjalan ke arahnya, seraya tersenyum girang. Menampilkan pipi sumringah yang tertarik ke atas. Membuatnya merasakan arti pepatah, ' pucuk dicinta ulam tiba'.


" Kebetulan banget kamu udah datang Win, bisa tolong aku?"


.


.


Seorang Denok dirumah sakit sedang mencemaskan Karin dengan rasa bersalah yang mendominasi. Namun yang di cemaskan justru terlihat tak seperti yang mencemaskan.


Ya, wanita itu terlihat ketiduran diatas sofa, sebab terlalu lama menunggu Kelvin yang tengah bersiap.


Benar-benar definisi dari menunggu itu hal yang membagongkan.


Kini, laki-laki tampan yang memang mandinya selalu lama itu, tanpa sengaja menarik sebuah senyuman demi melihat wajah teduh Karin yang terlelap. Membuat jalaran rasa kasihan mendadak menyelinap ke dalam relung hatinya, sebab saat ini ia telah mengetahui profil wanita itu.


" Kamu sih mandi selalu lama. Kasihan tuh jadinya!"


Ia sedikit terkejut manakala melihat Nyonya Belinda yang tiba-tiba muncul dari arah belakang, lalu mengucapkan kalimat yang semakin membuatnya merasa bersalah.


Yes, that's my bad!


" Gak kamu bangunin aja? Katanya mau jenguk Jonathan?" Tanya wanita tua yang masih saja energik di usianya yang terbilang uzur itu.


Ia menggeleng. " Biarkan saja Oma. Biar dia tidur dulu! Sebenarnya... sebelum aku bawa dia kemari tadi, dia sempat dirawat di RS karena pingsan!"


" Apa? Kenapa kamu nggak bilang sih Vin?"


Nyonya Belinda menunjukkan raut khawatir dan syok usai mendengar penjelasan cucunya. Sama sekali tiada mengira jika Karin sempat mendapatkan perawatan.


" Lupa!" Sahut Kelvin dengan tatapan yang masih terarah ke wajah Karin.


" Ya sudah, Oma kebelakang dulu kalau gitu! Oma gak bisa ngebayangin setelah ini kalian pasti dapat giliran di interogasi sama polisi!"


Kelvin diam usai Oma-nya mengatakan hal itu. Oma benar. Tentu saja ia juga akan mendapat jatah untuk di panggil ke kantor polisi nanti.


Namun, alih-alih turut pergi dan membiarkan wanita itu beristirahat, entah mengapa Kelvin malah menjadi betah berdiri di ambang pintu , demi melihat wajah Karin yang tenang jika diam seperti itu.


Mendadak muncul debaran aneh, yang belum pernah Kelvin rasakan sebelumnya.


"Aku enggak mau disebut mucikari. Aku lebih senang di sebut manager. Orang yang me manage Denok!"


" Hah, beginilah hidup!"


" Orang-orang seperti kalian tidak akan pernah mengerti alasan kami menjadi seperti ini!" Tutur Karin tersenyum kecut.


Namun, saat sebuah kilasan ingatan kembali ke pembicaraan serius beberapa waktu yang lalu, ia mendadak ragu dan menjadi insecure sendiri dalam waktu bersamaan. Membuatnya menghela napas panjang.


Kenapa dari ratusan wanita yang pernah ia temui, ia sedikit tertarik untuk menyelami kehidupan wanita itu?


Tapi, bagaimana jika Nyonya Belinda tahu bila Denok dan Karin merupakan orang yang bekerja dalam bisnis esek-esek?


Apakah Omanya masih bisa beramah tamah seperti itu?


KLOTHKAK!


Ia langsung terkejut, pun dengan sosok yang kini turut terbangunkan akibat ponsel yang mendadak jatuh dengan tiba-tiba, sebab Kelvin terkaget manakala benda itu bergetar saat dia sibuk melamun.


Membuat Kelvin gelagapan, saat Karin menatapnya heran.


Kini, ia tampak meraih ponsel yang jatuh ke tas lantai kinclong itu lalu melihatnya barang sejenak. Rupanya dari sekretaris kocak itu.


" Ya..halo De?" Ucapnya usai menggulir tombol hijau.


" Dimana Pak? Bapak bawa temenannya Novi? Kata Pak Raka dia sama bapak. Cepetan balikin. Pada di cariin orang dirumah sakti No!"


Kelvin mendengus seraya menjauhkannya ponsel itu dari telinganya sebab Delon sengaja menaikkan volume suaranya, dan membuat rumah siput di telinganya sakit.


" Sekretaris brengsek!"


.


.


Jonathan


Ia berdiam diri dengan wajah kosong manakala dokter Andra memeriksanya. Bertingkah seolah-olah tak terjadi sesuatu antara mereka.


Ya, usai membuat Windi speechless dengan perbuatannya yang memang di sengaja itu, dokter Andra kini memeriksa keadaan Jonathan sekaligus ingin mengatakan sesuatu kepada pria itu.


Baik Jonathan sendiri maupun dokter Andra agak merasa heran sebab keluarganya tidak nampak berada di sana. Kemana rimbanya ketiga manusia itu?


" Kondisimu baik menuju ke stabil. Jangan banyak bergerak dulu agar jahitan mu tidak rusak!"


Jonathan masih saja bungkam dengan raut yang menyiratkan ketidaksukaan kepada dokter itu.


" Sebaiknya di rawat dulu sampai kondisimu benar-benar stabil!"


Jonathan masih diam dengan wajah yang menatap lurus ke arah pintu kamarnya. Membuat Andra memahami, bila pria itu sebenarnya tahu apa yang tejadi antara dia dengan istrinya.


" Aku minta maaf karena aku dan Feli..."


Dokter Andra yang ragu kini melirik Jonathan yang tampak tak terkejut, ataupun terganggu itu dengan jantung yang mendadak tremor.


" CK, apa pria ini memang tak memiliki ekspresi?" Batin dokter Andra yang tak percaya dengan mimik wajah yang di tunjukkan oleh Jonathan.


" Aku dan Feli telah menjalin hubungan terlarang!" Ucapnya akhirnya melengkapi.


Walau keringat dingin telah membanjiri keningnya, namun dokter Andra merasa berlega hati, karena sebagai pria jantan, ia telah mampu dan berani mengakui kebrengsekannya.


Membuat suasana menjadi semakin canggung sebab Jonathan sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun.


" Aku tahu kau pasti terluka dan..."


" Aku malah berterimakasih kepadamu untuk hal itu!" Sahut Jonathan dan membuat ucapan dokter Andra menguap.


" Apa?"


Jonathan yang semula ogah-ogahan menatap wajah Andra, kini tampak memandang wajah pria yang ada di depannya itu dengan raut tak terbaca.


" Karena jika dia wanita baik-baik, di tidak akan tergoda, ataupun menggoda!" Ucap Jonathan yang malah teringat akan Denok yang tak mau lagi menemuinya dengan dalih jika seburuk apapun Feli, wanita itu secara sah masihlah istrinya.


Lihatlah wanita unik itu, bahkan meski orang lain mengecam buruk dirinya, namun nyatanya wanita itu lebih mengerti soal batasan-batasan yang ada. Dan hal inilah yang Jonathan suka, wanita itu merupakan mutiara, yang terbalut lumpur pekat ketidakberdayaan.


Wanita kuat yang lebih memilih menutup mata juga telinga, demi nyawa yang harus terus tersambung tanpa membuat manusia lain merasa di repotkan olehnya.


Terlebih, Jonathan yang sengaja mengutus orang untuk mengetahui rekam jejak Denok , menemukan fakta bila wanita itu pernah mengalami kekerasan juga perlakuan tidak adil dari mantan suaminya.


Kini, Jonathan semakin paham dan meyakini betul, bila kesukarsulitan hidup, telah memaksa wanita itu untuk menggadaikan harga diri.


Dan itulah hebatnya cinta, itulah ajaibnya sebuah kasih, yang tak pernah memperdulikan perbedaan kelas yang ada, yang tak menghiraukan kesenjangan yang ada. Sebab nyatanya, ia justru menemukan sesuatu yang berbeda dari wanita itu, sesuatu yang hanya bisa aja rasakan dan tafsirkan sendiri, sesuatu yang membuat bahagia.


Wanita yang memiliki hati emas, yang tak seorangpun bisa mengetahui kilaunya, jika ia tak menyelaminya hingga ke palung terdalam.


Membuat dokter Andra seketika meneguk ludahnya saat melihat kilatan yang begitu mengiris dari kedua netra Jonathan.


DEG


Membuat Andra terlolong tak mengerti.


" Sudahlah Ndra. Di dunia ini tidak ada laku manusia yang bersih. Bahkan porselin yang terlihat mengkilat sekalipun, mustahil tak di hinggapi setitik debu!"


Andea tak menyangka jika pria di depannya itu memiliki pemikiran yang bijak. Kini ia tahu, bila sejatinya, sebelum Feli berhasil merebut diri pria itu, ada seorang wanita yang berhasil merebut hati Jonathan.


" Boleh aku minta tolong?" Tanya Jonathan dengan tatapan serius dan lebih bersahabat kali ini.


Membuat dokter Andra menatap pria itu lekat-lekat.


.


Denok


Ia baru saja berlega hati sebab sekretaris konyol itu mengatakan jika Karin aman bersama Kelvin. Sama sekali tak menduga jika pria itu mau melibatkannya diri untuk menolong mereka.


Andai saja Denok tahu apa yang telah terjadi antara mereka, wanita itu pasti akan terbahak-bahak kala mendengar cerita menggelitik soal ciuman yang tak di sengaja itu.


Ia yang merasa lebih damai usai mendengar kabar itu, kini kembali di kejutkan dengan kemunculan dokter Andra yang membuat beberapa pasang mata menatapnya penuh selidik.


Ya, selepas Denok meminta Windi untuk menanyakan keberadaan Karin kepada Delon, tanpa ia duga dokter Andra muncul ke ruangannya dengan wajah yang begitu serius.


" Ada yang ingin aku jelaskan. Dan sebaiknya kamu ke ruangan saya!"


Membuat Denok seketika mengikuti dokter itu tanpa pikir panjang , sebab dalam pikirannya sibuk menebak apakah ini berkaitan dengan progres kesehatan Yusuf?


Ia terus berjalan mengekor di belakang Andra hingga sampailah ia di sebuah ruangan yang membuatnya menatap heran.


" Silahkan!"


" Disini? Bukannya..." Ucapnya ragu sebab ia mengetahui bila ruangan dokter Andra tidak berada di sana.


" Ruangan ku sedang di bersihkan. Masuklah!"


Ia mengangguk lalu masuk tanpa menaruh rasa curiga dengan perlakuan dokter Andra. Hingga tiba-tiba, ia yang telah berada di dalam dan melihat seseorang sedang berbaring di ruangan itu membuat tubuhnya mendelik.


" Kau berbohong?" Ucap Denok dengan mata melebar ke arah dokter Andra.


Namun alih-alih memberikan penjelasan, dokter Andra malah menggaruk kepalanya seraya meringis.


" Jangan lama-lama, omgkosy sewa ruangan ini mahal! Apalagi, ini diluar daftar !"


Denok yang masih bingung dengan apa yang terjadi masih membeku selama beberapa saat. Tentang bagaimana bisa dokter Andra dan Jonathan berkompromi menipunya.


" Jika ada banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan, sebaiknya kau tanyakan dengan pria datar itu. Masuklah, aku harus memeriksa pasien lain!" Cetus dokter Andra yang ingin tertawa karena melihat Denok terkaget-kaget.


" Permisi!"


Oh my Gosh. Are you kidding me?


Sesudah Denok masuk, Andra tampak membuang napasnya penuh kelegaan karena berhasil membantu Jonathan agar bisa berbicara dengan Denok di ruangannya.


Ya, Jonathan meminta Andra untuk menyediakan tempat sebab ia ingin berbicara dengan Denok, sebab ia takut jika Mamanya sewaktu-waktu akan kembali.


" Sory Fel!" Batin Andra menghela napas demi sebuah kelegaan.


.


.


Di ruangan yang begitu estetik itu, Denok melihat wajah datar yang pura-pura merem itu dengan perasaan tak tentu sebab terfokus pada bekas luka yang masih kentara di sekujur tubuh Jonathan.


Pria pucat yang masih terlihat tampan itu mengenakan pakaian rumah sakit, dengan selang infus yang masih tertancap di punggung tangan kirinya


Membuat Denok nampak berkaca-kaca demi melihat kondisi itu. Tadinya ia berpikir jika ia tak akan lagi bisa bertemu dengan pria itu untuk sekedar mengucapkan terima kasih.


" Pria sombong yang menggunakan kekuasaan!" Cibir Denok demi melihat Jonathan yang masih saja terlelap, karena bisa membuat pria sekelas dokter Andra menyediakan tempat bagi mereka untuk sekedar bicara.


Namun tak di sangka, dari posisinya yang berdiri begitu dekat, sebuah suara membuatnya terlolong.


" Sudah aku katakan, aku akan membereskan apa yang harus aku bereskan!" Tutur Jonathan seraya tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


" Apa, jadi kau tidak benar-benar tidur? Dasar pria Sialan!" Denok yang terkaget tak sengaja langsung memukul lengan Jonathan sebab merasa telah di tipu.


" Auwh!" Ringis Jonathan seketika pura-pura sakit agar dirinya selamat. Benar-benar pria licik yang aji mumpung.


Membuat wanita itu seketika panik dengan wajah yang merasa bersalah. " Apa sakit? Sory...sory... aku tidak sengaja Jon. Kamu sih lagian..."


Jonathan yang melihat Denok berengut namun cemas, kini senyam-senyum sendiri dan menikmati wajah cantik yang lebih menarik tanpa make up tebal itu.


Membuat Denok seketika melempar tangan Jonathan manakala ia menyadari jika pria itu telah menipunya untuk kedua kalinya. Sialan!


" Kau lebih cantik jika tidak mengenakan bulu mata palsu begini!" Ucap Jonathan dengan mata yang lekat menatap.


" Beraninya kau menipuku dua kali!" Seru Denok dengan wajah monyong. Melirik kesal pria yang malah membuat rasa sakitnya, sebagai bahan candaan.


Jonathan tergelak kecil demi melihat Denok yang marah-marah kepada-nya. Entahlah, meski tak bisa se ekspresif orang lain, tapi Jonathan selalu suka jika wanita di depannya itu bersungut-sungut. Terlihat lucu.


" Bagaimana kabarmu?"


" Bagaimana kabarmu?"


Kini, keduanya malah kompak membeku demi ucapan terlontar pada waktu yang bersamaan.


Oh nice!


" Ternyata tertembak itu, rasanya sakit sekali Nov!" Ucap Jonathan manja. Ia pasti sudah gila. Mana pernah ia bersikap seperti ini kepada siapapun.


Astaga, andai saja Delon melihat drama ini, pria itu pasti akan membuli Jonathan semalam suntuk.


Denok langsung mencibir usai mendengar hal itu " Cuma kelon yang rasanya sakit tapi enak! Lagian, dari jaman nabi Joni, mana ada ketembak yang enak Jon!"


Membuat Jonathan seketika mendelik. Jika sudah begini, Jonathan jadi ngeri.


Denok yang sedari tadi berdiri, kini merasa kakinya pegal. Dan saat hendak mendudukkan tubuhnya keatas kursinya tarik itu, ia sedikit kaget sebab ada sesuatu yang mengganjal di bawah bokongnya.


" *Astaga, apa ini?"


"CK, mainannya Danuja kebawa lagi*!" Batin Denok yang teringat sesuatu.


Dari balik sakunya, Denok tampak meraih sebuah benda yang tak sengaja terbawa kala Danuja tadi merengek meminta untuk di naikkan ke ranjang Yusuf.


" Apa itu?" Tanya Jonathan penuh rasa ingin tahu, yang melihat Denok meraih dua beda bulat berwarna biru cerah dengan diameter sama, dengan sebuah tali yang melengkapinya.


" Ini?" Tunjuk Denok menggantung mainan yang kini tengah viral itu. Mainan yang berpotensi membuat tangan linu dan nyeri, saat tak seimbang kala memainkannya.


Jonathan mengangguk.


" Ini namanya lato - lato!"


Membuat Jonathan semakin mengernyit. Apa itu?


" Gini cara mainnya!"


Denok mulai menggoyangkan dua benda bulat yang keras dengan sebuah tali tampar kecil sebagai penyeimbangnya, lalu mengerakkan perlahan tali pengikatnya, dan membuat dua bola keras itu membentur satu sama lain. Sejurus kemudian, begitu gerakan bolanya semakin aktif Denok langsung mengangkat tali itu cepat dengan gerakan naik turun dan timbullah suara TEK TEK TEK yang agak keras.


Membuat Jonathan menyeringai dengan senyuman licik saat melihat Denok masih asik memainkan mainan aneh itu.


Sekalian saja ia mengerjai Denok. Begitu pikirnya terkikik-kikik dalam hati.


" Aku juga punya kalau cuma kayak gitu. Malah lebih besar!" Ucap Jonathan jumawa dan seketika membuat Denok menghentikan permainannya.


" Oh ya?" Tanya Denok polos.


Jonathan mengangguk.


" Mana?"


" Nih!"


Denok seketika mendelik manakala tangannya di tarik cepat oleh Jonathan, lalu di remaskan ke area kelelakiannya.


Damned!


" Kalau ini sih bukan lato - lato Jon. Tapi kont*lato!" Teriak Denok yang terkejut karena tak mengira jika sang CEO bisa bertingkah absdurd seperti itu.


Membuat Jonathan semakin tergelak demi mendengar jawaban yang terlontar dari mulut kejam Denok.


.


.