
...🌹🌹🌹...
Nyonya Weni
" Brengsek!"
Ia melempar tasnya dengan kemarahan membara saat ia telah tiba di rumahnya, bersama suami dan menantunya. Ia meradang usai kalah telak oleh ucapan menohok dokter Andra.
Kini, ia menatap suaminya yang kakinya tak dapat digunakan untuk berjalan normal, sebab terkena penyakit menahun itu, dengan perasaan marah.
" Bagaimana ini? Jika Jonathan menggugat cerai Feli, maka akan semakin sulit mendapatkan apa yang kita mau jika Jonathan menikahi wanita itu!"
Feli yang turut berada di sana, kini tampak tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Mama mertuanya.
" Mendapatkan yang kita mau?" Batin Feli menatap ragu Mama mertuanya.
Ya, mereka semua tengah was-was sebab notaris yang baru saja mereka hubungi, dan mengatakan akan tiba beberapa saat lagi itu mengatakan jika segala kepemilikan Jonathan tak akan bisa berpindah tangan jika Jonathan belum menandatangani surat perjanjian.
Selain itu, satu-satunya orang yang mengetahui jika kesemua kekayaan itu milik Jonathan adalah sang notaris itu sendiri. Notaris yang tidak berani melakukan penyelewengan. Benar-benar membuat nyonya Weni berada di ujung tanduk.
" Semua ini gara-gara kamu Fel!"
PLAK!
" Mama?"
Tuan Iqbal langsung melerai istrinya yang tampak panik detik itu juga. Membuat Feli terkejut karena mengapa Mama mertuanya tercinta, kini berani menampar wajahnya.
" Apa maksud Mama menampar Feli?" Bentak Feli yang tak terima dengan perlakuan sang Mama mertua.
" Apa kalian mau melakukan sesuatu kepada Jonathan? Oh, atau jangan-jangan selama ini aku hanya kalian manfaatkan, iya?" Hardik Feli yang rasa hormatnya terhadap wanita itu telah memudar.
Nyonya Weni yang sebenarnya menyesali diri akibat tak dapat mengontrol emosi, kini benar-benar bingung harus berbuat bagaimana. Membuatnya menatap wajah tuan Iqbal dengan perasaan resah.
" Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Kalau begini, lebih baik aku mengatakan kepada Jonathan jika kalianalah yang memaksa aku untuk menikah dengan Jonathan karena...
" Tutup mulutmu!"
Nyonya Weni yang semakin murka, kini mendorong tubuh Feli karena terpantik ucapan wanita itu. Tuan Iqbal yang kesulitan mengendalikan kedua wanita itu, kini terlihat panik.
" Mati kau, apa kau pikir aku takut kepadamu? Ingat, kalau bukan karena aku, kau tidak akan pernah bisa sukses seperti ini wanita kurang ajar!" Geram Nyonya Weni yang kini berada di atas tubuh Feli dan tampak mencekik wanita itu.
Feli yang memukul-mukul lengan nyonya Weni bahkan tak mampu menyadarkan kekalapan wanita itu.
Kini, dalam napas yang semakin tak bisa ia hela, Feli terlihat mendelik cekikan itu semakin kuat membelit lehernya.
" Mama, lepas ma!" Tuan Iqbal yang kakinya sudah sering sakit, kini kalah tenaga dalam melerai aksi biadab itu.
" Papa pergi jangan ganggu!" Hardik Nyonya Weni yang semakin kesetanan. Wanita itu benar-benar terpantik akan ucapan Feli yang terdengar seperti sebuah ancaman.
" Mama henti..."
" Minggir!"
Tubuh Nyonya Weni yang gemuk jelas membuat tuan Iqbal yang tak dapat berjalan dengan normal itu, seketika terjatuh seusai di dorong dengan impulsif oleh Nyonya Weni.
PRYANG!
Membuat tubuh kurus itu ambruk dengan sebuah pot besar mendadak jatuh menimpa kepala tuan Iqbal, tepat saat Feli melotot dengan lidah terjulur sebab kehabisan napas.
Kini, tangan Nyonya Weni seketika ia tarik dengan tubuh yang bergetar hebat, demi melihat Feli yang matanya perlahan memejam.
Tidak!
Dari sebelahnya pula, Nyonya Weni tampak membulatkan matanya demi melihat suaminya yang kini kepalanya bocor akibat terhantam benda pecah belah yang berat itu.
Membuat wanita itu semakin panik.
" Papa!" Ucapnya menggoyangkan tubuh suaminya yang semakin lemah dengan perasaan panik yang luar biasa.
CEKLEK
Detik itu juga, mata Nyonya Weni semakin melebar demi melihat sang notaris yang kini datang di saat yang tidak tepat.
" Kumohon, ini salah sangka. Tolong aku membawa suamiku ke rumah sakit..." Ucapnya yang tak ingin membuat notaris itu salah paham.
Notaris dengan rambut yang sudah memutih itu tampak pucat kala melihat seorang lain tergeletak, dan seorang lagi tengah terluka.
Sadar akan keadaan yang bisa saja menyeretnya kedalam permalasahan, pria itu tampak membalikkan badannya dengan kaki yang gemetaran sembari berniat untuk pergi saja. Persetan dengan urusan wanita itu.
Namun diluar dugaannya, langkahnya mendadak terhenti demi melihat Delon yang saat itu datang bersama anak buahnya untuk mencari sesuatu.
DEG!
" Permi..."
Membuat tubuh Nyonya Weni seketika lemas sebab Delon juga datang di saat yang tidak tepat.
.
.
Jonathan
Ia merasakan bahagia untuk beberapa saat. Seru juga bermain hal absdurd bersama Denok. Sejenak, ia merasa jika menjadi orang biasa itu menyenangkan juga.
" Sekarang apa?" Tanya Jonathan sengaja menggoda wanita bar-bar
" Apa apanya?" Sahut Denok seraya melengos. Meletakkan lato- lato itu keatas nakas.
Membuat Jonathan terkekeh kala melihat Denok yang ketus dengan alis yang tak berhenti bertaut.
" Aku akan menceraikan Feli setelah ini. Meski resikonya aku akan menjadi miskin. Apa kau masih mau denganku jika aku miskin?"
Denok menatap heran ke arah Jonathan yang menanyakan hal itu dengan wajah jenaka. Apa pria itu ngaco?
" Jangan gila Jon. Aku enggak mau dikira jadi pelakor. Lagipula, apa kau tidak takut denganku? Aku ini kan wanita kot..."
Denok seketika mendelik saat ia di tarik cepat dan langsung di cium bibir oleh Jonathan, kala pria itu tahu jika Denok akan merendahkan dirinya lagi. Membuat Denok tak habis pikir.
"Pria ini sudah cedera masih kuat juga!"
Kini, Jonathan mengusap bibir Denok dengan wajah serius sesaat setelah merasa cukup. " Aku tidak ingin mendengar jawaban tidak. Kau tahu, seberapa tersiksaku selama ini karena tak mendengar kabar apapun darimu. Bertahun-tahun hidup bagai robot!"
" Aku tidak peduli masa lalumu. Aku sudah memutuskan. Aku akan tetap pada pendirianku Nov. Tapi kau juga harus tahu, jika setelah ini mungkin kehidupan kita tidak akan seperti ini lagi. Tak ada sebutan Pak untukku. Tidak ada kemewahan. Tapi ...aku janji, aku akan bekerja keras!"
Entahlah, meski Denok ragu dengan ucapan Jonathan barusan, tapi hatinya benar-benar bahagia kala Jonathan menjadikannya prioritas. Bukan ragu karena ia takut miskin, tapi lebih kepada posisinya yang pasti akan dikira merebut Jonathan.
" Terbuat dari apa sebenarnya hatimu ini Jon? Kau orang terhormat dan aku hanya wanita yang ko..."
Lagi, Jonathan selalu menarik Denok saat wanita itu akan mengucapkan kalimat yang tak Jonathan suka.
"Mmmm!"
"Mmmm!"
" Kau mau membuatku tak bisa bernapas?" Kesal Denok dengan napas terengah-engah yang membuat Jonathan malah terkekeh.
Kini, Jonathan tampak menikmati waktu berdua itu dengan perasaan tenang. Meski kedepan akan banyak yang perlu ia hadapi termasuk kedua orangtuanya, tapi entah mengapa ia tak ingin lagi menipu nuraninya.
Semula Denok ketar-ketir dengan apa yang akan di lakukan oleh pria itu. Hingga, Denok yang merasa bila Feli juga pantas mendapatkan hal itu sebab nyatanya Feli lah yang mencurangi Jonathan terlebih dahulu, kini berani meraba pipi Jonathan.
" Itu nggak akan mudah Jon..." Ucapnya menatap lekat Jonathan yang juga menatapnya dalam. " Kau tahu stigma yang akan kau dapat jika bersama denganku!"
" Aku tidak peduli!"
Denok mendecah demi jawaban yang terlontar dengan begitu cepatnya.
Kini, rasa yang tak bisa ia definisikan, Denok terdiam kala tangan kekar Jonathan meraba bibirnya seraya menatapnya dalam.
" Yang penting kau mau dulu. Sisanya itu urusanku, hm?" Bisik Jonathan dengan dengan suara sensasional.
Sejurus kemudian, kecapan hangat yang saling tersesap itu kini bisa saling mereka nikmati dengan kondisi normal dan penuh kehangatan. Membuat keduanya lupa jika mereka masih berada di rumah sakit.
Hingga, sesuatu yang terjeblak dengan keras membuat keduanya berjingkat.
BRAK!
" CK, si anjing di cariin ternyata cipookan disini. Bener-bener lu ya!"
Jonathan dan Denok seketika kikuk demi melihat Kelvin dan Karin yang kini membulatkan matanya di ambang pintu.
" Tunggu dulu, Rin? Ada apa? Kenapa wajahmu..." Tanya Denok yang lebih memperhatikan seraut panik ketimbang rasa malunya kala memperhatikan Karin.
"Tadi begitu kami sampai, dokter itu mengatakan jika Jonathan ada disini. Delon barusan ngabarin kita jika dirumahnya Jonathan sedang..."
Membuat Jonathan dan Denok seketika mendelik.
to be continued...
.
.
.
.