The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 59. Keluarga yang berdaulat



...🌹🌹🌹...


Rania


Kendati hubungannya dengan para wanita hedon itu baik selama ini, namun mendengar Denok di katakan seperti itu di muka umum jelas membuatnya tak suka.


Bahkan, wanita yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu, merasa bila sebanyak apapun ia memberikan materi, semua itu tak akan pernah cukup untuk menggantikan kebaikan Denok kepada cucunya di masa silam.


Dan itulah yang ingin ia tekankan kepada Denok.


Kebungkaman Denok kala berada di kota dengan kondisi susah seperti itu saja telah memantik kekesalan nya, apalagi saat melihat dua manusia kurang ajar di depannya itu.


Jelas membuat Rania harus ambil sikap.


" Nyo- nyonya ada disini? Anda..." Nyonya Weni tampak menjeda ucapannya dengan wajah memindai serta perasaan was-was, manakala ia melihat kilatan kemarahan dari bola mata Rania.


" Aku tanya sekali lagi, siapa yang kau katakan wanita sundal?" Ucapnya dengan wajah geram.


Kini, Feli yang berdiri di depan Nyonya Weni, tampak meneguk ludahnya dengan teramat sulit. Kenapa wanita seperti Denok bisa mengenal keluarga berpengaruh semacam Rania juga Bastian?


Sial!


" Saya tekankan kepada kalian berdua, Denok ini keluarga saya, dan jika ada yang mengusik keluarga saya, itu artinya kalian juga mengusik saya, dan jika kalian berani mengusik saya, tentu saja tidak akan tinggal diam. Camkan itu?"


Mampus!


Feli kini menatap tajam wajah Denok yang juga menatapnya sengit. Istri Jonathan itu tampak tak bisa membuka mulutnya lagi usai mendengar perkataan Rania yang penuh agaknya membuatnya gentar itu.


Membuat keduanya langsung enyah.


Kini, dengan perasaan tak enak, Denok menatap muram Rania yang rupanya ngeri juga jika sudah marah seperti itu.


" Bu...maksud saya Tante..."


Ia menoleh kala Denok menatapnya muram. Tahu maksud bila wanita itu merasa sungkan.


" Cukup Nok, cukup buat kamu untuk terus merasa sungkan kepada saya, kepada kamu. Apa kamu tahu, melihat kamu dalam kesulitan seperti ini dan saya nggak tahu, itu rasanya sakit Nok, karena kamu tahu kenapa? Karena saya dan anak saya berhutang budi banyak ke kamu!"


Membuat Bastian mengangguk setuju. Pun dengan Jodhi yang kini mengusap lembut lengan istrinya.


" Apa kamu ingat, anak yang di sana sekarang tertawa itu.." Tunjuk Rania kepada Danuja yang sedang duduk di ranjang Yusuf di temani Bu Yanti. " Mungkin saja aku tidak akan bertemu dengannya lagi jika bukan karena kamu yang ada di sana!"


"Saya tahu kamu orang baik. Manusia dilahirkan sudah memiliki warna tersendiri, tapi bukan berarti kita tidak bisa perbaiki. Bisa!"


Rania meluapkan segala rasa yang ada. Bahwa ia dan keluarganya sama sekali tak mempermasalahkan siapa diri Denok. Karena sejatinya, bagi mereka Denok merupakan wanita baik yang terbungkus ketidakberdayaan.


Denok mungkin tidak paham apa yang di rasakan oleh Rania. Sikap luhur dan mulia itu memang sudah di wariskan oleh Papanya Bisma. Membuat sikap tenggang rasa itu selalu ia bawa hingga sekarang.


Mungkin niat Denok juga baik, sebab ia memang sangat sungkan dengan kebaikan Rania apalagi mereka memiliki julangan sosial yang berbeda.


Selain itu, tidak ada alasan lagi bagi Denok untuk berada di sana sebab waktu itu, Jonathan telah meninggalkan dirinya.


" Saya gak mau tahu, mau kamu setuju atau tidak, saya tetap akan bawa Yusuf ke luar negeri untuk berobat. Tolong jangan mengelak apalagi menolak. Kamu adalah bagian keluarga saya. Dan selamanya akan seperti itu!"


Entah bagiamana Denok kini harus menjawab. Tak pernah ia membayangkan jika takdir hidupnya akan seperti ini.


Nyatanya, Tuhan maha bijaksana, Dia selalu mengerti apa yang kita perlukan, bukan yang kita inginkan.


.


.


Nyonya Weni yang hendak kembali ke ruangan Jonathan dengan hati dongkol, hanya bisa menahan geram sepanjang perjalanan. Pikirannya sangat tak tenang demi merasakan jika hubungannya dengan keluarga Rania kini bubrah, hanya karena wanita sialan itu.


Ia yang semula ingin membuat wanita itu tahu posisinya kini malah dibuat terkejut oleh kehadiran wanita berpengaruh tadi. Sial!


" Semua ini gara-gara kamu Fel. Kenapa kamu gak masuk secara pelan-pelan?" Ketus Nyonya Weni yang tak terima.


" Kok Mama nyalahin Feli sih?" Sahut Feli dengan wajah kesal.


" Kalian berdua sama-sama salah, bodoh!"


What?


Feli dan nyonya Weni yang mendengar obrolan mereka di sela itu, seketika menoleh ke belakang, tepat di mana Windi bersedekap.


Ya, Windi rupanya sengaja menunggu dua wanita jahat itu dan berniat mencibirnya.


" Siapa kau? Beraninya berbicara seperti itu!" Ucap Feli dengan wajah marah.


Belum juga mulut Windi terbuka, Andra yang rupanya masih ada di sana kini tampak keluar dari balik dinding hijau itu, dan berhasil membuat Feli melolong kaget.


Nyonya Weni yang melihat Feli mengenali dokter itu, seketika teringat akan perkataan Denok beberapa waktu yang lalu.


"Nyonya...tahu kah anda, aku bahkan sudah empat kali melihat menantumu berjalan bersama dokter yang mengoperasi Jonathan. Dan jika dugaanku tidak salah, pasti sesuatu telah terjadi antara mereka!"


"Jadi .. seharusnya kau juga tahu, kalau baik aku dan menantumu itu sama-sama rendah!"


" Siapa dia Ndra?" Tanya Feli yang geram dengan mulut kurang ajar Windi. Tampak tak menghiraukan tatapan penuh selidik dari mertuanya sebab hatinya kini di kuasai ketidakterimaan.


" Kau mau tahu siapa dia?" Tanya Andra datar. Dari sorot mata yang ada, Feli sedikit risau sebab Andra tampaknya tak lagi memujanya seperti dahulu.


" Dia sangat kurang ajar kepadaku dan Mama, sebaiknya kau..."


CUP


Detik itu juga, semua pasang mata yang ada seketika mendelik termasuk si pemilik bibir, manakala Andra menarik tengkuk Windi lalu menciumnya lembut di hadapan kedua manusia itu.


Oh Gosh! What the...


Entah apa yang ada di pikiran Andra saat itu, namun tindakan yang barusaja ia lakukan, pasti telah ia ketahui segala resikonya.


" Andra!" Teriak Feli yang nampak kesal, dan tidak terima.


And now, dari kekesalan itulah, Nyonya Weni semakin yakin jika antara dokter itu dengan menantunya telah terjadi hubungan tak biasa.


Windi yang ciuman pertamanya di curi oleh dokter mesum itu, hanya bisa melolong dengan bibir yang ia pegang kaku.


" Dia pacarku, kau sudah tahu sekarang kan?"


"Apa?"


" Kurasa telingamu masih normal untuk mendengar hal itu!"


Feli yang melihat Andra tersenyum kala mengucapkan hal itu seketika angkat kaki dan membuat Nyonya Weni menatap Andra lekat.


" Apa kau berselingkuh dengan menantuku?" Tanya Nyonya Weni menatap tajam Andra.


" Menantumu lah yang berselingkuh denganku. Sebab yang telah berumah tangga adalah menantumu bukan aku."


"Lagipula, bagaimana bisa pria bebas seperti ku anda sebut dengan istilah seperti itu. Kucing yang ditawari ikan asin mana mungkin menolak. Jadi...kurasa anda lebih paham soal ini!" Andra menjawab dengan tergelak.


Ia terpaksa mengorbankan Windi sebab ia memang tak mau membuat masalah lagi kepada Jonathan. Lagipula, semakin kesini ia tak suka dengan sikap Feli yang seperti itu.


Nyonya Weni yang tak bisa lagi menjawab kata-kata Andra, kini pergi dengan dada yang penuh kesesakan. Kebakaran jenggot sebab apa yang telah menjadi rencananya, kini porak poranda akibat ulah Feli.


" Dasar kurang ajar. Beraninya kau..!"


Kini, Windi yang baru tersadar dari aksi gila laki-laki di hadapannya itu, seketika meremas bibir dokter itu dengan perasaan kesal


" Auwh sakit tahu!" Dengus Andra yang kini kesakitan akibat bibirnya di remas oleh Windi.


" Bibirmu yang bekas orang lain ini seenaknya saja menciumku. Dan satu lagi, apa kau sudah gila? Kau bilang aku pacarmu?" Windi yang melabrak Andra terlihat begitu kesal.


Andra yang mulutnya barusan di jambak oleh Windi seketika memberengut karena Windi sungguh sangat bar-bar. Tak pernah sebelumnya ia di perlakukan seperti itu oleh wanita, bahkan Feli sekalipun.


Tapi, lihatlah wanita ini. Astaga, dia bahkan telah melakukan kekerasan di rumah sakit.


" Ya...aku minta maaf. Aku hanya ingin menghentikan apa yang seharusnya tidak aku lakukan!"


Dengan hati yang masih kesal, juga wajah yang bersungut-sungut, Windi menatap Andra yang terlihat murung.


Dasar!


" Aku benar-benar minta maaf, sungguh aku tidak sengaja tadi. Sekarang, kau boleh minta apapun dariku untuk menebus kesalahanku! Ini, bersihkan bibirmu pakai ini!" Ucap Andra menyelipkan sebuah benda ke tangan Windi.


Kini, dengan wajah yang menahan tawa dan ledakan misterius dari dalam hatinya, Andra pergi meninggalkan Windi yang masih mematung tak percaya.


Ah God, apakah dia jatuh cinta dengan wanita yang memberinya plaster Hello Kitty itu?


Sekarang, Windi yang di tinggalkan begitu saja oleh Andra yang sebenarnya cekikikan dalam hati itu, tampak melongo dengan wajah tak percaya demi melihat sebuah tisue anti septic yang kini berada di tangannya.


.


.


.


.


.