
...🌹🌹🌹...
Jonathan
BYUR!
Ia menggoyangkan kepalanya dan berusaha menggugurkan kadar air yang baru saja tersiram ke tubuhnya. Kepalanya terasa berat, dan pandangannya juga nampak kabur.
" Dimana aku?"
Sama sekali tak mengerti tengah berada dimana, dan kenapa ia bisa berada disana.
Tampilannya begitu mengerikan, pelipisnya terluka dengan pakaian yang koyak di sana-sini. Wajahnya masih sangat tampan meski darah jelas mengotori.
" Akhirnya kau bangun brengsek!" Seru seorang pria dengan wajah bengis.
" Siapa kau ?" Tanya Jonathan parau cenderung lemah dengan kedua tangan yang masih terborgol di kanan kiri. Tubuhnya duduk dengan jalaran rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.
" Hahaha!"
Ia hanya melirik sekilas dengan wajah datar saat seorang pria mendadak tertawa mengerikan. Sejurus kemudian, pria dengan bau alkohol yang begitu menyengat itu tampak mencengkeram rahangnya hingga membuatnya mendongak.
" Bersabarlah. Rasa sakit ini belum seberapa! Kau harus lebih banyak menerima rasa sakit setelah ini!" Hahahahah" Ancam pria itu. Membuat Jonathan menarik senyum meski tubuhnya lemah. Sama sekali tak terpengaruh dengan ancaman itu.
" Lebih cepatlah sedikit. Karena jika kau lama, akan yang menembak kepalamu lebih dulu! " Balas Jonathan dengan tersenyum mengecoh. Membuat pria berkumis di depannya seketika berang.
" Kurang ajar!"
BUG!
BUG!
" Argh!"
Jonathan memekik kesakitan manakala perutnya di hadiahi bogem mentah sebanyak dua kali oleh pria itu.
Oh Shiit!
" Jangan bermimpi. Nyawamu ada di tanganku brengsek, hahaha!" Pria itu menepuk pipi Jonathan sesaat sebelum pergi lalu tertawa kembali dengan mengerikan.
" Siapa sebenarnya yang mengajakku bermain-main seperti ini?" Batin Jonathan dengan perasaan resah. Sejenak berpikir tentang siapa sebenarnya mereka.
Ia memerhatikan sekeliling ruangan asing itu. Ruangan itu gelap dengan bau solar yang begitu menyengat. Di ujung ruangan ia melihat banyak botol minuman keras dengan berbagi merek. Di atas lantai yang kotor itu, ia juga melihat ada jutaan kulit kacang yang teronggok tak berguna.
Ingatannya kembali kepada kejadian beberapa waktu lalu, saat ia terpaksa membelokkan mobilnya sebab menghindari kontainer besar dari arah berlawanan di turunan yang curam menuju pantai.
Ia yang berniat menyendiri seusai bertengkar dengan kedua orangtuanya, memilih menuju pantai sebagai tempat yang ia rasa sangat damai. Tak di nyana, sebuah kecelakaan itu menimpa dirinya dan membuatnya tak mengingat apapun.
.
.
Delon
Ia tak puas dengan jawab pihak polisi yang melakukan segala sesuatunya berdasarkan prosedur yang agaknya cukup lamban. Membuat Kelvin mengajak Delon untuk mencari sendiri jejak Jonathan yang masih bisa di telusuri.
" Jonathan tidak mungkin jatuh ke jurang itu, lagipula jika dia jatuh ke jurang, polisi pasti sudah menemukannya sedari tadi!"
Delon tampak fokus mengemudi saat Kelvin terus saja berbicara berdasar spekulasi pribadinya.
" Kita putar balik!"
" Apa? Hey, apa yang kau lakukan? Apa kau gila?"
Alih-alih menjawab, Delon semakin menginjak pedal gasnya dengan kencang kala Kelvin memprotes dengan wajah bingung. Ia harus memastikan sesuatu sebelum ia mengambil tindakan.
Tanpa Kelvin sangka , Delon rupanya melajukan mobilnya ke kediaman Jonathan untuk menemui nyonya Weni. Membuat Kelvin terbengong-bengong.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Kelvin lagi saat Delon hendak membuka pintu mobilnya.
" Membereskan apa yang seharusnya kita bereskan!"
" Kita semua tahu jika Nyonya Weni hanya orang tua angkat Pak Jonathan. Tapi...apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?"
Kini , Kelvin tampak menatap Delon dengan tatapan penuh arti.
.
.
" Apa yang kalian bicarakan? Anak itu pergi dengan kemarahan, dan kalian sekarang menuduhku mencelakai anakku sendiri? Apa kalian tidak waras?"
Delon dan Kelvin hanya bisa diam saat nyonya Weni mendampratnya dengan perkataan penuh kobaran emosi.
Kini, Delon yang semula mencurigai Nyonya Weni seketika ragu dengan prasangkanya. Membuat Kelvin melirik resah ke arah sekretaris bengek itu.
" Maaf, tapi saat ini kami tidak menemukan Pak Jonathan dimanapun. Bahkan mobil yang ada di lokasi kejadian dibiarkan terbuka begitu saja. Pasti ada seseorang yang telah membawa Pak Jonathan pergi!"
Nyonya Weni tampak menyuguhkan raut bingung sesaat setelah Delon berbicara. Kalau begini ceritanya, lalu dimanakah anak itu saat ini?
" Lakukan apapun untuk menemukan Jonathan. Aku takut jika sesuatu terjadi kepada anak itu!" Ucap nyonya Weni resah dengan wajah yang serius. Membuat Kelvin dan Delon saling bertukar pandang.
" Kalau begitu kami permisi dulu!"
Sepeninggal Kelvin dan Delon, nyonya Weni tampak tertegun dengan pikiran tak tidak-tidak. Apa yang sebenarnya terjadi, ia bahkan belum memerintah seseorang untuk menangkap Jonathan. Lalu, siapakah yang saat ini menculik Jonathan?
.
.
Denok
Malam ini ia sendiri. Yusuf yang sudah sadar beberapa waktu lalu kini harus kembali lelap seusai meminum obatnya. Ya, dimana pemulihan seperti saat ini Yusuf memang harus banyak-banyak beristirahat.
Ia duduk seraya memeluk lututnya, menatap kelap-kelip lampu kota yang mirip seperti bintang di angkasa dari jendela kamar Yusuf yang terbuka.
Pesan dari Delon mengatakan jika dia bersama Kelvin masih sibuk mencari keberadaan Jonathan.
Berita ini sengaja tidak di perluas sebab demi keamanan bisnis, kadangkala mereka lebih memilih untuk merahasiakan persoalan. Benar-benar hal yang tak pernah ia pahami.
Ia membuka tas kecilnya lalu mengambil sebuah sapu tangan dengan bordiran nama Jonathan Alexander di bawahnya. Sapu tangan yang ia dapat saat perpisahannya bersama Jonathan beberapa tahun silam. Sapu tangan yang selama ini menjadi satu-satunya kenangan yang masih bisa ia lihat.
" Kenapa kau melakukan semua ini Jon? Kenapa kau sulit sekali dimengerti? Dimana kau sebenarnya?"
Lelehan air mata itu tampak tak bisa Denok bendung. Wanita itu terlihat menghirup aroma sapu tangan itu seraya menangis. Nampak mencium kain itu seolah melepas kerinduan yang kini merasuk kedalam relung hatinya.
Tentang ia yang tak bisa lagi menipu diri, jika ia juga memang jatuh hati kepada pria datar itu. Kini, tubuhnya semakin bergetar demi merasai semua yang telah terlewati dalam hidupnya.
Kini ia juga tahu, bila Jonathan sebenarnya menginginkan Denok untuk berhenti bekerja menjadi seorang wanita malam.
Ia yang kini juga baru sadar, bila takdir yang membuat Yusuf pergi ke kota, merupakan jalan baginya untuk mengetahui siapa Jonathan sebenarnya.
Semua hal yang dilakukan oleh pria itu, membuat dirinya menyesal karena pernah salah paham, dan menyangka Jonathan hanya mempermainkan dirinya.
Dalam kesendirian yang menyiksa batinnya, Denok merindukan Jonathan.
.
.
Jonathan
KLUNTHANG!
Ia menatap makanan dalam piring seng, yang baru saja di lempar oleh pria bengis tadi ke hadapannya. Nasi dengan lauk yang tak wajar, di lempar hingga membuat separuh isinya tumpah ke lantai kotor itu.
" Makan itu dan jangan membuat masalah!" Titah pria itu dengan suara tak ramah.
Jonathan yang masih duduk dengan kedua tangan yang di borgol kanan kiri hanya menatap datar pria itu. Dalam hati berkata jika ingin sekali rasanya mematahkan tangan pria itu hingga kesakitan.
" Apa kau tuli, cepat makan!" Teriak pria itu menjambak rambut Jonathan dengan suara yang memekakkan telinga. Membuat Jonathan merasa begitu kesakitan.
" Kau jangan kasar-kasar Zam!"
Sebuah suara lain membuat atensi Jonathan dan pria bengis itu teralihkan. Dari arah jam satu siang, Jonathan melihat pria tinggi yang berjalan menuju ke arahnya dengan pengawalan dua laki-laki.
"Siapa dia?"
" Bos, anda sudah datang?" Tutur Azam dengan sikap hormat.
Pria itu terlihat muda dan mengenakan masker hitam. Tampak berusia sepadan dengan Jonathan.
Hingga, saat pria itu membuka masker nya, membuat Jonathan membelalakkan matanya dengan keterkejutan yang begitu kentara.
" Bagaimana kabarmu, Jonathan Alexander?"
.
.
.
.