The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 53. Misi penyelamatan part 1



...🌹🌹🌹...


Andra


Suasana yang semula ia pantau tenang walau berbalut kasak-kusuk, kini menjadi canggung saat dirinya masuk ke ruangan Yusuf.


Seharusnya malam ini pengecekan cukup di lakukan oleh perawat saja. Tapi entah mengapa, semenjak mengetahui jika Windi selalu menjaga Yusuf, membuatnya ingin menyatroni tempat itu sering-sering.


Entahlah, semenjak skandal stiker Hello Kitty beberapa waktu yang lalu, dokter tampan itu terlihat kecanduan sikap Windi yang kerap membuatnya senang jika marah.


" Emmm dokter, bagaimana kondisi Yusuf?"


Andra tertegun beberapa saat manakala Delon menyongsong nya dengan pertanyaan bernada khawatir.


" Sejauh ini baik, semuanya berjalan sesuai dengan grafik. Saya selalu memantaunya dengan instensif. Tapi...maaf, kenapa anda terlihat begitu cemas?"


Delon tampak melirik Windi dengan tatapan ragu. Nampak berpikir apakah ia perlu membeberkan hal ini kepada pria di depannya itu?


" Saya harus pergi untuk satu urusan penting. Dan, Mamaknya Yusuf belum bisa kembali karena..."


" Pergilah. Aku akan merawatnya dengan baik!" Cetusnya yang kini mengusap lembut kepala Yusuf yang kini lebih sering terlelap.


Windi melirik Andra yang tampak serius manakala mengucapkan hal itu.


Delon sebenarnya juga tahu, jika dokter di hadapannya itu merupakan pria yang diceritakan Jonathan beberapa waktu lalu. Pria yang disinyalir sering berkirim pesan dengan Feli.


Tapi, Delon sepertinya masihlah menjadi orang yang bijaksana serta profesional. Membuatnya tidak mencampuradukan permasalahan dengan perawatan Yusuf.


" Aku pergi!"


Windi mengangguk tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Kini, dalam pikiran yang harap-harap cemas, Windi tampak duduk dengan resah demi memikirkan Denok.


" Yusuf akan sering tertidur beberapa waktu kedepan. Jadi...kau jangan terlalu cemas!" Tutur dokter Andra sepeninggal Delon. Membuat Windi tersentak dari lamunannya.


Windi melirik dokter mesum itu dengan wajah mencelos. Pria yang seenaknya sendiri manakala ia di restoran kemarin itu, sangatlah menyebalkan.


TOK TOK TOK


" Masuk!" Sahut dokter Andra.


" Dok, apakah anda memesan ini?"


Seorang pegawai rumah sakit tampak mencari dokter Andra dan kini terlihat menyembulkan kepalanya seraya membawa dua tentengan yang sepertinya adalah makanan.


" Sudah datang ya, terimakasih banyak ya!" Seru dokter Andra kepada karyawan itu dengan ramah.


Membuat Windi menatap bungkusan mencurigakan itu dengan tatapan saksama.


Apa itu?


" Makanlah!"


Bukannya menjawab, Windi justru menatap bingung dokter Andra yang kini terlihat datar. Sungguh aneh. Sebentar hangat, dan sebentar dingin.


" Makanlah. Kau sangat kurus dan jelek dengan tampilan yang seperti itu!" Tutur Andra kembali dengan wajah mencibir.


" Apa kau bilang?"


.


.


" Aku takut banget Nok. Apa kau tahu, mereka tadi menembak kepala Leon dengan kejam!"


Denok yang kini dikurung bersama Karin hanya bisa menunggu sesuatu yang tak pasti di dalam sana. Akan mati, ataukan akan selamat. Akan mujur ataukah akan sial.


Nobody knows.


CEKLEK!


Kedua wanita yang terkaget akan kemunculan pria garang yang tiba-tiba itu, kini kembali harap-harap cemas.


" Kemari kau, bos memanggilmu! Sepertinya, dia ingin menagih sesuatu yang seharusnya kau berikan kepadanya beberapa waktu yang lalu!" Ucap pria itu seraya menyeringai.


Membuat Denok seketika menegang.


" Nok!" Seru Karin takut seraya mengiba demi menyadari jika yang di maksud cecunguk itu pasti merupakan layanan ranjang yang sempat di tukar.


" Lepas, katakan bosmu aku tidak sudi!" Elak Denok sembari menepis tangan bajingan itu dengan kasar


" Tuan Jac adalah bosnya, bukan kau, ingat itu!" Ancam pria itu menatap tajam Denok memberikan peringatan.


" Lebih baik aku mati dari pada..."


PLAK!


" Ikut dan jangan buat masalah!"


Karin semakin ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa manakala melihat Denok kini diseret paksa, sesaat setelah di tampar keras oleh dia pria bertubuh besar itu.


Kini, dengan rasa wajah yang nyeri dan berdenyut, Denok terlihat di masukkan kedalam ruangan yang di dalamnya berisikan Jac yang telah menunggu.


Tampak bersiap untuk mencabik-cabiknya malam ini.


Jac tampak menjentikkan jarinya dan membuat titah kepada anak buahnya untuk keluar.


" Saatnya bersenang - senang sayang!"


.


.


Diluar, seorang penjaga yang lengkap dengan persenjataan tampak mendelik dengan tubuh berusaha memberontak, kala lehernya di jerat oleh rekannya sendiri, yang merupakan mata-mata yang dikirim oleh Delon.


Ya, pria yang mengetahui jika Delon akan datang untuk menggerebek tempat itu saat ia sudah bisa mematikan jika Jonathan bersama Denok ada di sana.


Benar-benar pekerjaan yang sangat beresiko.


" Pintu masuk aman!" Ucap pria itu menekan earpiece dan melaporkan kondisi yang telah ia kuasai kepada Delon yang saat ini telah ada di radius beberapa meter saja dari tempat itu.


Membuat Delon yang kini bersama Jodhi dan Raka serta beberapa anak buah mereka mengangguk siaga.


Namun, saat hendak bersiap untuk turun dari mobil, sebuah interupsi datang.


Kelvin calling...📞


" Angkatlah, kita masih punya waktu!" Seru Raka yang membuat Delon mengangguk paham.


" Hal.."


" Dimana kau sialan. Aku kerumah sakit dan dokter itu bilang jika kau..." Cecar Kelvin dengan nada suara yang terdengar sangat kesal.


Apa dokter? darimana dokter itu tahu kalau..


" Katakan dimana kau sekarang. Kau mencari sahabatku tanpa memberitahukan hal penting ini kepadaku? Apa kau sudah bosan hidup nyaman?"


Damned! Kenapa para penguasa selalu ringan kala mengancam. Begitu batin Delon yang serba salah.


" Aku di kawasan XX. Jika kau kemari, bawa stok makanan yang banyak!"


" Apa untuk apa?"


" Jangan rewel, lakukan saja dan pastikan magazenmu terisi peluru yang benar!"


TUT


Membuat Jodhi dan Raka yang menguping pembicaraan nyeleneh itu, menjadi tekrikik-kikik.


" Jonathan tak salah menjadikanmu sebagai asisten!" Tepuk Jodhi ke arah pundak Delon dengan penuh kebanggaan.


" Kelebihan saya adalah tidak mudah ditindas Pak!" Sahut Delon cepat, membuat Raka terkekeh.


" Sabar. Jonathan dulu juga seperti mu saat ikut aku. Sukses itu dimulai dari bawah!" Timpal pria yang menjadi ayah Citra itu.


" Kalau dari Nol mah slogannya SPBU Pak!" Balas Delon dengan wajah mendengus.


Membuat Raka semakin tergelak.


DOR!


Kini, acara tawa ria ketiga pria itu harus terjeda demi mendengar suara tembakan yang keras dari dalam. Membuat ketiganya saling menatap dengan wajah tegang.


Rupanya, suara tembakan yang keluar itu, berasal dari peluru yang di Lesatkan oleh Jac, untuk menakuti Denok sebab wanita itu menolak untuk melayani Jac diatas ranjang.


" Wanita sepertimu tak pantas menolak. Jangan berlagak sok suci, karena tubuhmu ini pasti telah di tindih oleh puluhan pria!"


Denok menangis bukan karena penghinaan itu. Tapi karena rasa menyesalnya kepada Jonathan, yang sepertinya janjinya untuk berhenti menjual diri akan ia langgar.


Ya, Denok merasa tak bisa menepati janji jika pria di depannya itu berhasil membuatnya untuk melayani nafsu bejat itu.


" Lakukan!" Hardik Jac yang membuat Denok ketakutan.


Kini, wanita itu dengan segala keterpaksaan, terlihat menanggalkan pakaiannya lalu mencoba melakukan tugasnya. Meski dengan jijik, tapi ia tak memiliki pilihan.


Jac tampak terpukau dengan bentuk tubuh Denok yang benar-benar tak ada duanya. Pria itu sejenak terhipnotis akan sentuhan Denok yang meraba pipinya sensasional.


Di tatapnya dua benda kenyal yang terbungkus oleh penutup berwana hitam. Membuat kejantanan Jac seketika menegang.


Denok sebenarnya tak sudi dengan pria jahat itu, tapi ia tak memiliki pilihan, ia masih ingin hidup sebab ia masih teringat akan Yusuf yang masih berjuang melawan penyakitnya.


" Kau sangat cantik dan juga bertubuh menarik. Sepertinya aku berubah pikiran, aku akan membawamu pergi dan menjadikanmu budakku!" Bisik Jac dengan seringai licik.


Dengan bibir yang gemetar sebab menahan diri, Denok berusaha tenang. Ia tak boleh membuat kesalahan yang bakal membuat nyawanya terancam. Meski, jauh di dalam relung hatinya, ia masih berhati akan ada pertolongan dari yang maha kuasa.


" Hisap dia!"


Denok mendelik kala melihat kelelakian Jac yang telah menjulang itu di perhadapkan ke arahnya. Membuatnya seketika merinding dengan rasa jijik yang teramat.


Tapi sejurus kemudian.


JEBLAK!


Jac yang terkejut akan kemunculan Jonathan, seketika menarik pakaian bawahnya lalu menutup kembali kejantanannya yang kini berubah ukuran dalam waktu sekejap.


Hasrat serta naafsunya hilang bersamaan dengan kemunculan Jonathan, yang tubuhnya nampak bersimbah keringat.


Brengsek!"


Ya, Jonathan yang mendengar suara tembakan seketika memberontak lalu menghajar beberapa orang dengan sikap brutalnya.


Ia yang panik dan takut kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Denok, semakin dibuat berang demi mendengar ucapan Karin yang mengatakan jika Denok dibawa paksa untuk melayani Jac.


Kini, manakala ia melihat Denok yang hanya mengenakan pakaian dalam dengan posisi sialan seperti itu, membuat laju darah Jonathan seketika mendidih.


" Beraninya kau!"


Denok yang takut langsung mengambil pakaiannya lalu mengenakannya dengan cepat. Kini, ia sibuk mencari peralatan untuk membatu Jonathan yang kini saling serang bersama Jac.


Beberapa saat kemudian, datang anak buah Jac yang mengepung Jonathan. Membuat Jac tersenyum jumawa.


" Aku akan menambah hukumanmu karena berani menganggu kesenangan ku Jo. Ayo sayang kita pindah!"


" Lepas!" Denok tampak menarik tangannya dan berusaha memberontak.


Jonathan yang kini di bidik oleh banyak pasang mata, terpaksa menghentikan langkahnya demi membaca pergerakan musuh.


Namun, sedetik kemudian.


" Lepaskan wanita itu!"


Kini, Jonathan yang tampak bersiap-siap untuk melawan ketujuh anak buah Jac, tampak melolong demi melihat mantan bosnya berdiri dengan gaya keren bersama assistenya dan tuan Raka yang masih saja awet muda.


" Tuan..!" Lirihnya dengan sorot mata tak percaya.


Membuat mata Jonathan seketika berkaca-kaca.


" Azam!"


" Azam!"


Panggil Jac kepada tangan kanannya dengan panik, demi melihat ketiga pria yang entah mengapa bisa memasuki tempat tinggalnya itu tanpa pengawasan.


Sementara itu, Azam yang sedari tadi di panggil oleh bosnya melalui HT, tampak tak bisa hanya untuk sekedar menjawab, sebab kesulitan menghadapi Hexa, mata-mata yang dikirim oleh Delon ke tempat itu.


" Pengkhianat!" Seru Azam menatap bengis Hexa yang kini telah melepaskan penutup wajahnya.


" Tangan merentang, bahu memikul. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Pecundang!" Balas Hexa dengan wajah tegas.


Azam dan Hexa tampak sing serang. Memukul, meninju, bahkan saling beradu otot.


Kini, Jac yang merasa keadaan gila ini tidak sesuai rencananya, seketika kebakaran jenggot. Dengan gerakan yang cepat, ia tampak menyeret Denok lalu pergi ke jalan rahasia yang hanya ia ketahui.


Membuat Jonathan panik sebab para anak buah Jac langsung menodongkan senjata ke arahnya, saat ia hendak melangkah.


" Lakukan tugasmu Jo! Aku akan membereskan bagianku. Sudah lama aku tidak senam otot!" Seru Raka yang kini membidikkan senjatanya ke arah anak buah Jac.


" Benar Jo, jangan buat kami dihukum oleh ibunya anak-anak karena kau gagal menyelamatkan dadenya Danuja, itu sangat mengerikan ketimbang bermain senjata dengan cecunguk itu!" Seru Jodhi yang selalu saja mengemas percakapan dengan sebuah perkataan jenaka.


Delon yang kini berusaha menghindar dari serangan anak buah Jac, masih tampak mendengus kesal karena bagaimana bisa dalam situasi darurat macam ini, kedua papa keren itu nampak berkelakar.


Kini, Jonathan yang merasa mendapat bala bantuan terlihat menyusut air matanya sebab terharu dengan orang-orang hebat yang datang tepat waktu itu.


" Pak!" Teriak Delon sesaat setelah melayangkan tendangan ke wajah anak buah Jac dan membuat Jonathan menghentikan langkahnya.


" Jaga dirimu, aku punya banyak cerita untuk kau dengar!"


HAP


Delon melempar sepucuk senjata kepada bosnya itu dengan tatapan yang memberikan kobaran semangat. Membuat Jonathan tersenyum penuh kebanggaan atas dedikasi Delon yang hingga sejauh ini.


Sungguh, jika mereka malam ini tak datang, ia tak tahu lagi apakah masih bisa menghirup napas atau tidak.


" Aku berhutang budi kepadamu De!"


Denok yang di seret dengan kasar oleh Jac, berulang kali memberontak sebisa mungkin dan membuat langkah Jac tidak lancar.


" Jangan memaksaku untuk berbuat kasar kepadamu sialan!" Maki Jac kepada Denok yang berusaha melepaskan diri. Membuat niatnya untuk kabur terjeda.


Ya, Jac yang tak menyangka jika Jodhi dan Raka membantu Jonathan, menjadi sedikit gusar, sebab ia tahu jika kedua pria itu tidak bisa diremehkan.


Melihat dirinya kini di bawa ke tempat yang sepi, membuat Denok menggigit tangan Jac lalu menendang kejantanan pria itu dengan keras. Membuat Jac mengerang kesakitan.


"Argh!"


" Wanita sialan!"


DOR


" Aaaah!"


Denok yang mendengar suara tembakan keras itu, seketika menjerit karena spontan ketakutan. Membuat Jac menyeringai karena rupanya mudah sekali untuk menghentikan wanita itu.


PLAK!


PLAK!


" Argh!"


Denok mengerang kesakitan kala wajahnya dipukul oleh senjata yang tadi di pegang oleh Jac. Membuat wanita itu kini menangis karena wajahnya berdenyut dengan rasa pedih yang teramat.


.


.


Kelvin yang diminta membawa makanan oleh Delon kini mengumpat kesal karena meski ia kerepotan, nyatanya ia mau melakukan.


Damned!


Dengan seorang diri dan dengan perasaan yang was-was, ia tampak melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke arah selatan yang terbilang sepi.


Ia mengikuti lokasi yang dikirim oleh Delon dengan wajah tak hentinya tegang. Ia pernah memecahkan kasus kekasih sahabatnya yang di culik manakala ia berada di luar negeri. Sama sekali tak mengira jika dirinya bakal mengalami hal seperti ini lagi.


Hingga, ia yang sampai di sebuah lokasi yang sangat sepi mengira dirinya telah salah jalan. Namun, sebuah mobil dengan plat D 310 N membuat dirinya yakin jika assiten konslet itu benar ada disana.


Delon.


DOR!


Ia mendelik sesaat setelah menarik tuas handbreak, demi mendengar letusan tembakan yang begitu dekat. Membuatnya buru-buru mengambil senjata yang ia simpan di dalam dasbor mobilnya, lalu berjalan mengendap-endap.


" Ok Jo, semoga aku tidak terlambat!" Gumamnya mensugesti diri untuk semangat.


Kelvin berjalan maju dengan langkah mengendap-endap. Pria itu kini terkejut demi melihat pria berbaju hitam yang tergeletak di dekat pintu masuk.


Ia menduga, jika pria itu pasti rival yang telah di kalahkan oleh Delon dan kawan-kawan.


" Akan kubuat kau tak bisa kabur!" Gumam Kelvin mengikat tangan pria itu kebelakang agar tak kabur. Benar-benar mitigasi yang baik.


Hingga, ia yang berhasil memasuki ruangan tanpa penjagaan itu, tak sengaja melihat Hexa yang dalam posisi kurang beruntung saat ia hendak masuk lebih dalam lagi.


Pria itu menatap Kelvin dan membuat Kelvin meletakkan telunjuknya ke ujung bibir. Membuat Hexa terdiam. Berusaha membuat Azam tak tahu bila ia ada disana.


" Sekarang kau akan mati sialan! Hahaha!"


Azam tampak berbicara jumawa seraya bersiap menarik pelatuk itu untuk melesatkan peluru ke arah Hexa.


Dan sejurus kemudian.


DOR DOR DOR


Azam tampak melotot dengan wajah memerah sebab menahan sakit, dan sejurus kemudian ia ambruk dengan mengerang kesakitan.


Ya, Kelvin telah melumpuhkan kedua kaki Azam dan memungkasinya dengan tembakan untuk menjatuhkan senjata yang di pegang pria jahat itu. Membuat Hexa bernapas lega.


" Thanks buddy!" Seru Hexa sesaat setelah mengambil kembali senjatanya yang tergeletak.


Kini, Hexa tampak naik sementara Kelvin terlihat mengikat tangan Azam dan membiarkan pria itu tersiksa oleh rasa sakit.


Benar-benar pria yang kejam.


.


.


.