
...🌹🌹🌹...
Jonathan
Ia dibuat tertawa dengan tingkah Yusuf yang pagi itu bahkan sudah sibuk dengan tiga kucing peliharaannya. Nampak begitu menyayangi kucing-kucing dengan harga yang tak murah itu.
"Yusuf girang banget saat ngerawat Miko sama Mika Pak. Pasti Bu Feli senang kalau pulang nanti!" Seru ART Jonathan yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh pria itu.
Namun, mendengar nama Feli, Jonathan seperti seolah-olah diingatkan jika anak itu pasti akan takut. Sikap Feli yang tak humanis kala bersama orang dari kalangan bawah, sebenarnya tak Jonathan sukai.
Dan itu jelas akan menjadi PR nya saat ini.
" Ingatkan dia untuk makan. Tolong bersikap baik dengan anak itu. Entah mengapa, aku kasihan melihat wajahnya yang sayu!"
Pembantu Jonathan tersenyum seraya mengangguk. Ia senang kepada Yusuf karena selain baik, anak itu sangat siaga.
" Kau bisa istirahat setelah mengurus mereka. Minta bibik di belakang kalau kamu lapar. Jangan sungkan!"
Yusuf mengangguk riang. Ia senang, pekerjaan ini selain menyenangkan, upah yang di janjikan sangat besar.
Yusuf tidak tahu, jika sebenarnya Jonathan hanya ingin menolong Yusuf yang hendak kabur. Dan berniat akan menyadarkan anak itu secara perlahan, agar mau kembali ke kota asalnya.
Di kantor.
Ia menekuni sejumlah laporan yang membuatnya senang. Moodnya sudah sangat bagus sejak pagi tadi, dan melihat pertumbuhan keuangan di perusahaannya yang terus meningkat, ia semakin merasa senang.
Apa yang ia kerjakan selalu berhasil. Ini suatu pencapaian yang gemilang.
Ia yang diingatkan soal Feli oleh Jodhi semalam, sejak subuh tadi mencoba menghubungi istrinya namun tak aktif. Mencoba melawan rasa kosong dan hampa walau rasanya masih sama.
" Kenapa masih tidak aktif?" Gumamnya dengan perasaan menerka-nerka.
CEKLEK!
Kepala Delon yang menyembul dari balik pintu membuatnya menepikan ponsel yang semula ia genggam.
" Siang ini mister Wong mengajak kita bertemu di resto hotel XX Pak. Beliau tidak ingin pergi jauh infonya!"
" Sudah kau jawab De?"
" Langsung saya iyakan Pak. Mister Wong kan memang seperti itu orangnya!"
Jonathan mengangguk bangga, " Bagus, kita kesana nanti. Sekarang, tolong kumpulkan para supervisi!"
.
.
Felisha
Ia pasti di cap wanita tak tahu malu saat ini oleh para malaikat yang melihatnya. Tapi, ia memang butuh teman saat ini. Gejolak dan gelora yang telah lama tak terpuaskan, menuntut Feli untuk berbuat lebih. Mengalahkan logika dan kewarasannya.
Ia bangun dengan tubuh polos yang hanya di tutupi oleh selimut putih tebal itu. Menatap Andra yang nampak masih lelap di jam semalam itu. Kelelahan usai melebur hasrat bersama.
Kini, rasa dalam jiwanya mendadak aneh. Semacam bercabang. Namun, saat Feli hendak menuju kamar mandi, Andra kembali menarik wanita itu.
" Sepertinya, kau sangat jarang di sentuh oleh suamimu?" Ucap Andra tersenyum smirk.
" Lepas! Aku mau mandi!" Feli melepaskan cekalan tangan Andra dengan perasaan aneh demi tertampar oleh ucapan Andra yang benar adanya.
Bukan salah Jonathan, ia juga sering sibuk keluar kota demi ambisi menjadi manusia kaya dan terkenal.
" Kau sangat lezat Fel!" Ucap Andra tersenyum-senyum sendiri kala melihat Feli yang menuju kamar mandi dengan tubuh loncos.
Feli menatap wajahnya ke cermin besar di wastafel dari marmer itu. Melihat beberapa kissmark yang tercetak di area leher juga dadanya. Hatinya kembali berdesir demi mengingat perlakuan panas Andra semalam.
Sedikit menyesal namun ia juga tak dapat menghalau rasa ingin itu.
" Brengsek, bagiamana aku menutupinya!" Feli menatap resah noda merah yang tak dapat ia hilangkan dengan apapun itu.
Kini, tanpa ia sadari, Feli telah menggali lubang besar yang sewaktu-waktu dapat membuatnya terperosok ke dalamnya.
.
.
Jonathan
" Terimakasih Mister Wong, saya senang dengan kerjasama ini. Semoga kita semua bisa sukses!" Ucapnya dengan senyum penuh kewibawaan. Membuat pria dengan perut tambun itu seketika tersenyum puas.
" Thankyou! Saya kembali dulu ya!"
Jonathan mengangguk, ia tahu jika partner bisnisnya akan segera menemui wanita simpanannya saat ini. Itu bukan urusannya, yang penting masalah bisnis beres.
Delon yang sibuk membereskan berkas-berkas yang baru saja mereka gunakan untuk berbincang, terkejut saat melihat wanita galak yang kapan hari telah mendampratnya itu berjalan menuju ke koki yang standby di depan.
" Kau kenapa?" Tanya Jonathan yang menatap heran dengan wajah Delon yang seketika pias.
" Ki- kita pulang saja ya bos. Makan di tempat lain!" Ucapnya gelagapan.
" Nggak, saya mau makan disini. Lapar!" Ketus Jonathan yang memang lapar sebab Mister Wong menolak untuk makan terlebih dahulu.
Membuat Delon mengumpat dalam hati.
" Mbak, buatin saya..."
DEG
Saat hendak memilih menu, sebuah suara khas milik seorang wanita membuat Jonathan tertegun demi mengingat warna suara yang cukup familiar itu.
.
.
.
To be continued...