The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 29. Hari pertama bekerja



...🌹🌹🌹...


Jonathan


Usai acara itu terpungkasi dengan seremonial yang wajar, ia nampak menuju ke arah mobil meski tatapan matanya tak bisa lepas dari Denok saat berjalan.


Rasanya, tak rela meninggalkan wanita itu disana yang masih di tahan oleh Nyonya Belinda.


Ia menjadi bangga sebab alasan Denok berada di sana adalah karena aksi heroik wanita itu dalam menolong Nyonya Belinda.


So proud of you


Namun, di sisi lain, ia mendadak merasa sedikit jahat. Jahat karena ia tetap membawa Yusuf untuk pulang bersamanya, dengan dalih jika uang Vas itu harus di bayar Denok terlebih dulu.


Padahal, Jonathan tak membutuhkan hal itu. Ia hanya sengaja ingin membuat dia memiliki keterikatan dengan Denok. Bahkan terkait pemalsu kepemilikan restoran.


Di dalam perjalanan, ia hanya diam meski Feli tampak mencecarnya dengan pertanyaan yang menyuguhkan kecemburuan. Membuat Yusuf takut.


" Aku tidak menyangka, wanita itu bahkan sudah berani mendekati orang-orang kaya demi keuntungannya!" Ucap Feli tersenyum sumbang seraya bersidekap tak percaya.


Yusuf yang kurang paham dengan apa yang dibicarakan oleh Feli, hanya diam. Ia hanya bingung kenapa Paman Jonathan memintanya untuk tak banyak bicara saat di mobil.


" Sudahlah Fel, lagipula apa yang kau ributkan?" Sahut Jonathan tanpa menoleh. Muak dengan istrinya yang terus membicarakan hal buruk tentang Denok.


" Jangan sampai aku mendengar jika kau berhubungan dengan wanita itu lagi. Ingat Jo, aku bisa melakukan apapun yang aku mau!" Ancaman Feli dengan suara kesal.


Jonathan memilih diam dengan wajah tak terbebani. Mungkin karena sudah sering di ancam. Harus ia akui, Feli memang orang yang sangat di gandrungi oleh mamanya.


Dan Jonathan, titik lemahnya ada pada Mamanya hingga saat ini.


Sungguh rumit.


.


.


Kelvin


Ia mengangguk puas tatkala Nyonya Regina menceritakan sebab musabab Denok berada di pesta ini. Membuatnya berdecak kagum.


" Jadi Oma di tolong sama dia?"


Kelvin menunjuk Denok yang sepertinya tak nyaman karena masih di tahan di sana bersama para sultan itu.


" Dia ini sungguh wanita yang berani dan peduli dengan manula sepertiku!" Tutur Nyonya Belinda seraya mengusap lembut punggung Denok.


Denok hanya meringis seolah-olah menjadi wanita anggun. Padahal, ia sudah sangat ingin mengganti dress sialan itu dengan celana pendek yang longgar saat ini. Hah, pasti sangat nyaman.


" Nyonya, maaf saya harus pulang karena ini sudah malam!" Tutur Denok sungkan kepada wanita tua yang ramah itu.


" Maaf juga malam ini belum bisa mengobrol banyak ya. Maklum banyak tamu tadi. Tapi lain kali, kita masih bisa bertemu kan? Aku tertarik dengan jamu yang kamu bahas tadi"


" Oh ya, kamu biar di antar cucuku. Vin, tolong antar Novi pulang ya. Ini sudah sangat malam!"


Membuat Denok seketika gelagapan.


" Ti- tidak usah Bu!" Ucapnya menolak sehalus mungkin.


" Aduh buset, ini kenapa malah diantar segala sih?"


" Ini sudah malam, saya tidak rela orang yang menyelamatkan saya nanti pulang dalam keadaan tidak selamat!"


.


.


Denok hanya bisa diam seribu bahasa saat ia kalah telak. Wanita tua itu benar-benar susah untuk di debat.


Entahlah, pria sopan yang nampak berjalan di depannya itu justru membuatnya tak bisa berkutik. Apalagi, ia yang merasa pernah bersalah terhadapnya semakin dibuat canggung.


" Mau apa kamu?"


Tanya pria itu saat Denok hendak membuka pintu belakang mobil Kelvin.


" Lah, katanya..." Alis Denok sudah mulai berkerut saat mendengar pertanyaan membagongkan itu.


Pria itu terkekeh demi raut Denok yang kebingungan, " Aku memang akan mengantarmu, tapi bukan berarti aku harus menjadi supirmu. Pindah ke depan!"


Apa?


" Astaga orang ini, ribet banget seperti neneknya!"


Kini, Denok yang telah mengenakan sabuk pengaman nampak membuang pandangannya ke luar jendela.


Memikirkan Yusuf yang tadi di gandeng oleh Jonathan. Sejenak ia juga bertanya dalam hati, kenapa ia harus kembali ke kota ini? Harusnya saat ini ia menjalani hidup yang damai di tempat asalnya. Jika Yusuf tak berulah tapi.


" Rumah kamu dimana?"


Pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari mulut pria tampan di sampingnya itu membuatnya tersentak.


" Enggak punya rumah. Rumah kost adanya!"


Sahut Denok yang mulai bersikap apa adanya. Ternyata berpura-pura menjadi elegan itu benar-benar melelahkan.


" Are you serius?" Tanya Kelvin tak percaya.


" Duh jangan pakai bahasa enggres lah. Gak bisa jawab aku!" Cicit Denok protes.


Membuat Kelvin semakin terkekeh. Wanita di sampingnya itu benar-benar unik, lucu dan apa adanya. Beda dari kebanyakan wanita yang selalu ja'im jika di depan pria baru.


" Jadi kamu bukan asli sini?"


" Memangnya kamu enggak bisa lihat dari logatku ngomong?"


" Aku hanya memastikan. Jadi, kamu disini karena kerja?"


" Iya!" Sahut Denok yang ogah memperpanjang durasi bicara.


" Tidak, aku kesini karena nangkap anak yang kabur. Bukannya dapat malah harus ganti vas sialan milik wanita brengsek itu!"


Mengumpat dalam hati demi teringat akan alasan yang sebenarnya.


" Kerja dimana?"


Denok seketika tertegun, mustahil ia jujur jika ia adalah orang yang terjebak kejahatan pasutri brengsek dan kini harus bekerja di restoran milik laki-laki sialan itu.


" Di restoran!"


" Oh ya, Restoran mana?"


Denok seketika menatap tak suka ke arah Kelvin kala pria itu terlalu banyak bertanya. Dari tatapan matanya, Kelvin paham jika Denok sepertinya tak suka di interogasi panjang-panjang.


" Aku senang hari ini, karena aku berjumpa kembali dengan sahabatku!" Ucap Kelvin tersenyum demi teringat akan Jonathan yang masih saja datar.


" Siapa juga yang nanya setan!" Batin Denok melengos.


" Aku juga senang karena bisa kenal dengan wanita baik seperti kamu!"


" Aku tak sebaik yang kamu kira!" Elaknya lagi bermonolog dalam hati.


Denok lebih memilih diam sebab ia agak lelah. Usai menghabiskan waktu lebih dari 40 menit, mereka tiba di sebuah kost-kostan dengan tembok yang tinggi.


" Terimakasih karena sudah di antar. Saya masuk dulu!"


Kelvin mengangguk seraya tersenyum. Pria itu terus memperhatikan Denok yang kini berjalan menuju rumah kost itu. Sejenak, Kelvin tertarik dengan sikap apa adanya yang di tunjukkan wanita itu.


Membuat Kelvin senyam-senyum sendiri.


...🌹🌹🌹...


Hari yang berganti terasa begitu cepat bagi Denok. Selasa pagi ini, sesuatu jadwal, ia akan menuju restoran yang di infokan adalah milik Delon. Pria sialan yang sikap dan sifatnya masih kerap membuatnya geram hingga detik ini.


Seperti pagi ini misalnya, nomor orang itu malah tak bisa di hubungi saat ia bahkan telah berada di depan restorannya. Benar-benar kurang ajar!


Padahal, berdasarkan informasi yang ia terima beberapa waktu lalu, pagi ini ia harus masuk untuk menjalani training.


Celana katun berwarna hitam yang fit di kaki jenjangnya, kemeja mustard yang lengannya ia gulung sebatas siku, membuat tampilan Denok sangat segar pagi itu.


" Semangat demi Ucup! CK, andai kamu gak kabur cup, pasti kamu udah berangkat study tour bareng temen-temen kelas kamu dan kita akan hidup damai di sana!" Ia bergumam sembari mengikat tali sepatunya.


" Mbak Deni mau kemana?"


Wawan yang pagi itu baru pulang dari jalan pagi nampak mendekat ke arah Denok dengan badan yang kuyup dengan keringat.


" Kenapa ini buntelan terus sih yang aku lihat. Kenapa tidak ada mahluk lain yang lebih melek gitu rupanya?"


" Pagi-pagi harusnya dapat anugerah malah dapat musibah!"


" Ada apa mbak?"


" Ah enggak, lagi ngapalin lirik lagunya Changcuters!" Bohongnya seraya meringis.


" Jadi kerja? Kerja dimana?" Tanya Wawan yang semakin penasaran.


" Mau mbabu Wan!" Sahutnya sekenannya.


" Hah? Serius mbak?"


" Serius lah. Hidup itu buat kerja Wan. Bukan cuman untuk produksi lemak terus!" Ucapnya sembari menusuk perut Wawan yang seperti anaconda.


Membuat laki-laki gemuk itu mendengus sebal.


Setibanya ia di depan restoran yang besar itu, Denok kebingungan karena tak ada satupun orang yang bisa ia tanyai. Bahkan, ia sudah misuh- misuh puluhan kali saat nomor Delon tak bisa di hubungi.


Sialan!


Namun, sepertinya Dewi Fortuna masih mau berbaik hati kepadanya. Pagi itu ia yang memasang wajah sebal melihat wanita manis seusianya, nampak berjalan masuk mengenakan seragam kerja.


Yes, sepertinya wanita itu bisa ia tanyai.


" Hallo maaf, apa kamu karyawan disini?"


Wanita muda itu seketika menghentikan langkahnya, dan sejurus kemudian memindai tampilan Denok dari atas hingga bawah.


" Iya benar. Ada apa ya mbak?" Jawabnya dengan tatapan bertanya-tanya.


" Nah kebetulan. Aku hari ini masuk kerja di bagian cuci-cuci, aku bingung gara-gara nomor laki-laki siala..."


" Emmm mak- maksud aku nomor Pak Delon gak bisa di hubungi!" Denok meringis demi menyadari jika ia telah salah bicara.


" Oh iya iya, kemarin Pak Delon sempat kasih info kalau ada anak baru. Kenalkan saya Windi mbak!"


Denok tersenyum kala menerima uluran tangan Windi. Sungguh hari yang jauh dari bayangannya. Ternyata masih ada manusia yang memanusiakan manusia seperti dirinya.


" Aku Deni Novita, kalau gitu boleh aku barengan masuk?"


" Boleh mbak. Kebetulan aku juga di bagian itu!"


Kini, Denok merasa sedikit lega. Pasalnya, wanita di depannya itu bakal menjadi orang yang bisa ia ajak berteman. Lumayan lah, dari pada tidak sama sekali.😁


.


.


.