The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 56. Perkenalan yang unik



...🌹🌹🌹...


Denok


Ia kini menepikan diri dengan mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang di sebuah taman terbuka. Ia benar-benar lelah dan tak ingin berdebat dengan siapapun termasuk Feli.


Tenaganya harus ia hemat karena setelah ini, pasti akan banyak hal yang bakal dia hadapi.


Apa yang tejadi antara dirinya dan Jonathan mungkin tak ada yang tahu. Meski semua ini sungguh indah dan membahagiakan, tapi masalahnya saat ini adalah, ia jelas tak akan bisa melihat kondisi Jonathan sebab secara legalitas, ia bukanlah siapa-siapa.


Yap, Denok sadar akan hal itu.


" Dia pria kuat, dia akan baik-baik saja!"


Sebuah suara bariton membuat lamunannya buyar. Denok menoleh sekilas, sebab rupanya Jodhi mengikutinya.


" Kau benar-benar masih menjadi malaikatku!" Ucap Denok berusaha biasa saja.


Kini, Jodhi tampak mendudukkan dirinya tepat di sebelah Denok. Ada banyak hal yang ingin pria itu ketahui. Tentang mengapa ia bisa tak tahu, bila Denok berada di kotanya.


" Jika Lintang datang bersama Bu Yanti, aku rasa kau adalah orang yang akan dibuat sibuk untuk menjelaskan!" Tatap Jodhi dengan sisa pertarungan yang masih terasa dari keringat dan debu di kening pria itu.


Denok masih menatap lurus kedepan. Dan untuk pertama kalinya, Jodhi melihat Denok serius seperti ini.


" Apa kau berniat menakutiku?" Tanya Denok melirik dan membuat Jodhi terkekeh.


" Untuk apa aku menakutimu. Yang ada...orang yang bakalan takut sama elu!"


Berganti Denok yang terkekeh.


Kini, usia saling berusaha menghibur dengan kelakaran ringan, mereka semua terdiam. Suasana menjadi hening untuk beberapa waktu.


" Dia masih mencintaimu!" Seru Jodhi lagi seraya menghela napas. " Aku juga tidak menyangka jika pria se datar Jonathan bisa di taklukan oleh wanita pecicilan sepertimu!"


Denok mencibir sebab di balik pujian Jodhi, agaknya juga terkandung sebuah cibiran. Membuat Jodhi lagi-lagi terkekeh akan ekspresi Denok yang melengos kesal.


Kini, Denok tampak menundukkan kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya. Apa yang di ucapkan Jodhi mungkin akan menjadi pelangi indah, atau matahari yang cerah di hatinya, bila saja Jonathan itu pria single.


Namun...


" Dia suami orang! Dan aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya lagi kepadamu bukan?"


Jodhi terdiam namun dengan wajah yang masih santai. Pria itu selalu kalah telak jika berbicara dengan Denok.


" Apa Danuja dan adiknya sehat-sehat saja?"


" Apa hanya Danuja dan adiknya yang ingin mbak Denok ketahui kabarnya? Apa aku dan Ibu sama sekali tak membuatmu rindu?"


DEG


Tidak hanya Denok, kini Jodhi turut memutar tubuhnya sebab terkejut manakala melihat Lintang telah berada di sana.


Membuat Jodhi seketika berdiri menyongsong sang istri.


Kini, dengan keadaan yang masih kacau balau, Denok turut berdiri dan menatap Lintang muram dengan mata berkaca-kaca. Sudah sangat lama mereka tak bertemu. Dan sekalinya bertemu, kenapa dalam suasana yang menyedihkannya seperti ini?


" Lin.."


Tanpa menunggu lagi, Lintang langsung maju dan memeluk tubuh Denok dengan begitu erat seraya menitikkan air matanya. Membuat Jodhi yang ada di sana turut larut dalam haru.


.


.


Di sebuah ruangan berwarna hijau pastel, Jodhi dan Lintang tampak saling bertukar pandang demi melihat sebujur tubuh anak kecil, yang tidur memejamkan mata dengan beberapa alat yang menempel.


Di pojok ruangan, mereka juga melihat seorang wanita muda yang tampak karib dengan Denok. Terlihat begitu sopan kala menyambut mereka.


Usai membersihkan diri di kamar Yusuf, Denok yang sudah menceritakan asal mula ia berada di kota itu tampaknya di layani oleh Windi dan membuat Jodhi serta Lintang tersenyum tenang.


" Ya beginilah keadaan Yusuf. Bocah yang aku ceritakan kepada kalian tadi!"


Denok yang rambutnya basah di jam pagi itu, kini duduk sembari mengobrol bersama Jodhi dan Lintang. Nampak santai meski sebenarnya pikiran wanita itu masih berpusat kepada Jonathan.


Beberapa detik yang lalu, Raka baru saja menelpon dan mengabarkan jika dia sedang menemani Komandan kepolisian yang berada di lokasi, untuk melakukan olah TKP sebab banyak sekali ditemukan kejanggalan.


Sementara Kelvin, pria yang mudah marah namun juga mudah tertawa itu infonya membawa Karin menuju rumah sakit yang terdekat dengan lokasi kejadian itu.


Yap, rumah sakit yang sempat membuat Delon berang.


" Aku benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Bahkan kau tidak memberitahuku jika kau ada di sini mbak. Kau tahu, Ibu yang mendengar hal ini sangat kecewa!"


Denok tertegun dengan wajah lelahnya. Itu memang benar. Denok tahu bila mereka pasti akan kecewa. Tapi sebagai manusia, kita tidak pernah tahu, rahasia semesta.


Terlebih, Denok bukanlah manusia yang aji mumpung.


" Aku tidak mengabarimu bukan karena aku tidak ingat lagi pada kalian. Tapi..."


" Apapun alasannya, enggak seharusnya mbak Denok melakukan hal ini. Mbak Denok seharusnya bilang mbak. Aku ini keluarga mbak Denok. Berulang kali aku tegaskan hal itu. Jangan ada jarak antara kita!" Sela Lintang yang masih belum terima.


Kini, Denok menghela napas panjang lalu menatap Lintang serius. Membuat Lintang yang baru melihat Denok seserius itu menjadi takut.


" Bahkan jika bukan karena anak ini, aku tidak akan pernah datang kesini Lin. Kau tahu karena apa, karena untuk datang kesini sama saja mengorek luka lama!"


Membuat Lintang dan Jodhi seketika muram demi melihat Denok yang gusar.


.


.


Andra


Ia kini menatap wajah pucat Jonathan yang masih dalam pengaruh obat bius usai ia tangani. Beruntung, timah panas itu tak mengenai organ dalam Jonathan.


Kini, ia masih harus memantau perkembangan Jonathan hingga pria itu siuman.


Ya, Andra telah berhasil mengeluarkan dua proyektil berkaliber standard dari dalam perut pria itu meski dalam rasa hati yang bercampur aduk.


Merasakan perang batin antara dirinya yang bertindak sebagai dokter, juga dirinya yang sebenarnya memiliki hubungan dengan istri pria yang kini terkapar itu.


Benar-benar sangat rumit.


Ia telah menyelamatkan pria yang dulu sangat ingin ia kalahkan. Namun, entah mengapa semenjak ia melihat Windi, ia tak memiliki keinginan lagi untuk mendekati Feli.


Membuat Andra merasakan sesak di relung hatinya.


" Maafkan aku Jo. Maafkan Aku karena aku dan Istrimu..."


Andra bahkan tak sanggup untuk sekedar meneruskan kalimat dalam hatinya. Ia tahu jika pernikahan mereka hanya berdasarkan paksaan. Dan Feli memanfaatkan hal itu untuk sebuah ketenaran.


Entah mengapa pula, pria itu kini menjadi sangat mencemaskan Jonathan. Apalagi, ia juga sedikit banyak tahu dari Feli jika Jonathan bukanlah putra kandung Nyonya Weni dan Tuan Iqbal.


" Ada apa sebenarnya dengan keluargamu?"


.


.


Kelvin


Ia memijat keningnya yang terasa pening juga pusing. Gencar berbalas pesan bersama Delon sembari menunggu Karin siuman.


" Dokter masih menanganinya. Kedua orangtua bersama istri nya juga sudah ada di sini!"


Ia yang panik manakala melihat Karin tak sadarkan diri seketika diminta Raka untuk membawa wanita itu ke fasilitas terdekat, walau ia dan wanita itu tak mengenal satu sama lain.


Raka memilih untuk menemani komandan kepolisian bukan tanpa alasan. Sebagai pria beristri, ia menganggap jika pria lajang seperti Kelvin akan dapat meminimalisir resiko masalah lebih baik, ketimbang dia yang sudah menjadi bapak, dari dua orang anak.


Di tatapnya seraut pucat yang beberapa jam yang lalu sempat berciuman dengannya walau tanpa sengaja itu. Membuat Kelvin mendecah dalam hati. Damned!


Beberapa saat kemudian, Karin tampak mengerjapkan matanya dengan kepala yang terasa sangat pusing.


" Auwh!"


Kelvin yang mendengar rintihan itu seketika beranjak dari duduknya demi melihat Karin yang telah siuman.


" Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kelvin dengan wajah cemas.


Ia mengangguk meski sebenarnya rasa tubuhnya sangat lemah. Berusaha mendudukkan dirinya diatas brankar itu.


" Kata dokter kau syok dan dehidrasi. Akan aku ambilkan makanan dulu, sebentar!"


Karin tercenung beberapa saat manakala melihat Kelvin yang kini mengurusnya dengan baik setelah beberapa saat yang lalu ia telah mendampratnya.


" Apa kau yang membawaku kemari?" Ucap karin yang tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Kelvin yang mendengar intonasi suara Karin yang begitu lemah hanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan.


" Makanlah. Ini...Aku akan keluar sebentar!"


Karin mengangguk saat menerima box makanan dengan air mineral itu, namun sejurus kemudian.


" Tunggu!" Seru Karin dengan ragu


Membuat langkah Kelvin terhenti.


" Terimakasih karena sudah menolong ku. Dan...aku minta maaf karena aku...telah memukulmu!" Timpal Karin dengan suara yang lirih di akhir kalimat sebab merasa malu.


Kelvin yang agak terkejut dengan permintaan maaf itu kini hanya mengangguk pelan dengan senyum canggung. Tak mengira jika wanita itu mu berbesar hati mengakui kesalahan.


Sejurus kemudian, pria itu tampak pergi keluar untuk memanggil dokter.


Karin yang kini di perhadapkan dengan makanan, lebih memilih mengambil minum itu dulu dengan pikiran yang melayang kepada sahabatnya. Apakah Denok juga baik-baik saja? Lalu Jonathan?


Ia termenung seorang diri untuk beberapa saat. Memikirkan harus kemana setelah ini. Menjalani pekerjaan sebagai wanita nakal ternyata resikonya terlalu mengerikan. Kini, dalam hati yang bimbang ia tampak berpikir keras.


CEKLEK!


Ia mendongak manakala daun pintu itu terbuka. Membuat segala lamunannya menguap. Agak terkejut sebab rupanya Kelvin memanggil dokter untuknya.


" Apa kau merasa pusing?" Tanya dokter itu kala menyongsongnya.


Karin menggeleng lemah. Sedikit rasa pusing yang perlahan menghilang dan membuatnya untuk menggeleng saja.


" Kau sangat syok. Dan tubuhmu masih sangat lemah. Habiskan makananmu dan minum obat ini setelah ini ya. Kau boleh pulang saat infus ini habis!"


Karin mengangguk dengan senyuman tipis saat dokter itu berkata ramah kepadanya.


Sepeninggal dokter itu, kini keduanya tampak sama-sama canggung. Kelvin tak bisa meninggalkan Karin sebab dialah orang yang membawanya kesana. Lagipula, menurut info dari Raka, wanita yang belum ia ketahui namanya itu merupakan sahabat Deni Novita.


" Apa kau juga sudah makan?" Tanya Karin menatap Kelvin.


Kelvin seketi kaget dengan pertanyaan itu. Ia bahkan melupakan dirinya. Oh Gosh!


" Belum!" Jawabnya jujur. Ia memang belum makan. Karena biasanya, di jam jelang subuh itu ia masih enak tidur.


" Makanlah. Ini terlalu kebanyakan untukku!"


Karin menyisihkan makanan itu untuk Kelvin. Namun, Kelvin tentu saja menolak meskipun ia juga sangat lapar. No way! Gengsi dong!


" Aku tidak lapar!" Sahutnya datar.


Namun tiba-tiba.


KRUK!


Membuat Karin menahan tawa demi melihat Kelvin yang tampak bergumam ke arah perutnya.


" Perut sialan!"


" Kau tidak lapar tapi perutmu mengadu. Sepertinya perutmu lebih jujur!"


Membuat Kelvin benar- benar malu.


Kini, keduanya tampak saling menikmati makanan itu dalam keheningan. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Kelvin yang memikirkan Karin yang ternyata orang yang mudah peduli. Sementara Karin memikirkan jika Kelvin orang yang sangat bertanggungjawab dan perhatian.


" Aku sangat takut waktu melihatmu marah sewaktu memukuli Jac tadi!" Seru Karin seraya mengunyah makanan itu dan berhasil memecah keheningan.


" Tapi tadi kau juga terlihat sangat keren!" Puji Karin yang memang merasa takjub dengan keberanian Kelvin.


Kini, Kelvin yang tengah membuka seal botol air mineral itu tampak tersipu. Baru kali ini ada wanita yang terang-terangan memujinya.


" Kau juga sangat keren. Mengemudikan truk dengan sangat ngawur!" Ucapnya sesaat setelah meneguk air dalam kemasan itu.


Alih-alih marah, kini Karin justru malu seraya sedikit tergelak.


" Delon yang memaksaku. Kau tahu, tapi aku senang. Jika aku dan Delon tidak datang, mungkin kalian..."


Kelvin mengangguk setuju. Itu memang benar. " Jadi kau sudah mengenal Delon?"


Karin mengangguk seraya meletakkan box makan yang telah kosong, ke atas nakas yang terletak di sampingnya. " Kenal agak udah beberapa hari, tapi baru ketemu orangnya beberapa jam yang lalu!"


Kini, Karin akhirnya menceritakan mengapa dia bisa mengenal Delon, serta apa hubungannya antara dirinya dengan Denok.


Bahkan, wanita itu tak tanggung-tanggung menceritakan sebab musabab Denok kembali ke kota ini.


Membuat Kelvin tertegun tiada percaya.


" Jadi...kau..."


" Aku enggak mau disebut mucikari. Aku lebih senang di sebut manager. Orang yang me manage Denok!"


" Denok?"


Karin mengangguk. " Deni Novita, panggilannya Denok!"


Membuat Kelvin garuk-garuk kepala. Banyak sekali nama wanita itu.


" Hah, beginilah hidup!" Tutur Karin dengan wajah menerawang. Membuat Kelvin menatapnya penuh selidik. " Orang-orang seperti kalian tidak akan pernah mengerti alasan kami menjadi seperti ini!" Tutur Karin tersenyum kecut.


" Bahkan jika di pikir, kenapa masih banyak rakyat yang bekerja keluar negeri saat " katanya" tempat kita ini tempat yang kaya!"


Membuat Kelvin semakin menatap Karin yang terlihat manis saat berdiplomasi.


" Kau mau tahu alasannya?" Tanya Karin menatap Kelvin. Dan membuatnya pandangan mereka tak sengaja terkunci selama beberapa detik.


" Apa?" Jawab Kelvin terpana.


" Karena saking sulitnya merubah nasib di negeri sendiri!"


Kelvin seketika merasa bila Karin sebenarnya wanita yang cerdas. Hanya saja, mungkin lingkungan yang membuatnya seperti itu.


" Beda sama kamu, Jonathan, juga Delon yang mungkin udah tajir dari orok. Orang-orang kayak kau sama Denok harus berpikir sendiri. Tidak ada sawah, warisan, bahkan keluarga yang bisa dijadikan tempat berunding!"


Membuat hati Kelvin merasa nyeri.


" Kau tau sendiri kan, di negara kita ini ada, standard lulusan ini lulusan itu...yang harus tercantum biar bisa dapat kerja."


" Sementara... pada kenyataannya, ada berapa banyak mulut yang setiap harinya harus terus mengecap makanan. Kalau menunggu hal itu, orang-orang kayak aku yang gak sanggup bayar uang sekolah bakal mati karena gak akan dapat kerja kalau nunggu itu!"


Entah mengapa, hati Kelvin seketika merasa kasihan demi mendengar kisah itu. Dan potret kehidupan seperti yang di bahas oleh Karin barusan, memang bukan rahasia umum lagi di negara ini.


" Aku sih terimakasih banget karena orang seperti mau dan sudi buat nolong manusia hin..."


" Stop men judge diri sendiri dengan penilaian seperti itu!" Potong Kelvin yang mengetahui jika Karin sepertinya akan merendahkan diri.


"Jika kau percaya hari pasti berganti, maka kau juga harus percaya bahwa setiap orang juga memiliki kesempatan untuk membenahi diri!"


Kini, kedua manusia beda gender itu tampak saling menatap. Kelvin yang kasihan dengan sepenggal kisah memilukan itu, dan Karin yang kagum dengan pria tampan di hadapannya itu.


" Karin!"


" Kelvin!"


Sungguh, sebuah perkenalan yang unik.


.


.


.