
...🌹🌹🌹...
Felisha
Ia sangat frustrasi sebab semua pria yang berada di dekatnya kini pergi. Ia yang semakin bingung akan sikap Mama Weni juga terlihat tak bisa mengontrol diri.
Nyatanya, ada banyak hal yang sepertinya harus Feli jadikan pelajaran bahwa setenar apapun dirinya, setinggi apapun sebuah pencapaian, dan sehebat apapun nama besarnya, nyatanya dia sebagai kaum hawa masihlah memerlukan pria karena Tuhan menciptakan satu sama lain bukan tanpa alasan.
Dalam kebimbangan serta ketakutan akan perkataan mertuanya beberapa waktu lalu, serta sikap Andra yang kian tak biasa, membuat wanita itu jatuh kedalam keresahan dengan sejuta keraguan yang mengganggunya.
Tentang apa yang sebenarnya di rahasiakan oleh Mama mertuanya itu.
Tapi, jauh dalam relung hatinya, yang ia inginkan hanyalah sebuah ketaatan dari orang-orang terdekatnya, seperti Jonathan. Tapi dia tekahy lupa, bahwa membina rumah tangga dalam keterpaksaan pun, diharuskan melibatkan sebuah keseimbangan agar semua bisa berjalan lancar.
Tidak dengan sikap, perbuatan, bahkan perasaan sekalipun.
Andai saja Feli mau bersikap rendah hati sedikit saja, mungkin Jonathan bisa mencintainya seiring berjalannya waktu. Tapi sepertinya, tabiat buruk dari seorang Feli tak bisa dirubah. Wanita itu selalu haus akan kemewahan juga sikap sombong yang berlebih.
Merasa dirinya selalu benar, serta mengabaikan nilai-nilai kebajikan yang seharusnya bisa ia implementasikan secara baik, mengingat ia dilimpahi rizki berlimpah oleh yang kuasa.
Dalam sepinya, ia tampak meneguk minuman rasa favoritnya dan berharap keresahan hatinya dapat teralihkan.
Dilihatnya sesosok pria berkemeja putih yang masuk. Ia seperti melihat Jonathan pulang dengan wajah datarnya.
" Hey Jo, kau sudah pulang?" Ucapnya yang merasa pria itu semakin berjalan mendekat ke arahnya.
" Aku sangat merindukan Jo!" Ucapnya lagi dengan wajah mabuk yang membuat pria itu kini tampak kebingungan.
" Bu Feli!"
DEG
Mendengar suara yang familiar itu, matanya mendadak terkerjap dan jelaslah pandangannya saat ini.
Ia buru-buru melepaskan tangannya dari lengan Delon, demi menyadari jika pria yang ada di depannya adalah sekretaris suaminya.
Delon mengerutkan dahinya manakala melihat Feli yang gusar, dan kini duduk seraya menjambak rambutnya frustasi.
" Apa kau belum menemukan suamiku?"
Cetusnya dengan suara dingin dan tatapan nanar ke lantai. Merasa benar-benar tak sanggup untuk menahan keadaan yang ada.
" Kenapa anda menyiksa diri anda seperti ini?" Tanya Delon demi melihat botol botol yang telah kosong. Walau bagiamanapun juga, Delon tetap merasa kasihan dengan Feli.
"Kau harus melindungi dia De. Kau harus menemukannya!" Tatap Feli dengan sorot mata penuh harap. Seperti menyimpan sesuatu.
Dan ucapan janggal Feli barusaja, membuat Delon menatap wanita itu keheranan.
" Ada apa?" Tanya Delon ragu-ragu. Tampak menangkap secercah sinar keresahan.
Kini, Feli tampak berdiri lalu berjalan pasti menuju ke arah Delon berdiri. " Dia sedang dalam bahaya, bukan karena orang lain. Tapi...."
Kini, usai mendengar cerita mengejutkan dari bibir Feli, pria itu tampak berlari pergi dengan pikiran yang tidak-tidak.
Delon melajukan mobilnya lagi dengan gusar. Sangat bingung dengan langkah apa yang harus dia ambil. Hingga, otaknya yang mendadak buntu itu membuatnya memutuskan untuk menemui seseorang.
Keluarga Aryasatya.
Di kantor Delta group, ia tampak duduk di hadapan pria tampan yang terlihat tegang.
" Kenapa kau baru bercerita sekarang?" Ucap Jodhistira yang sedikit kecewa dengan Delon yang tak melibatkan dirinya lebih awal.
" Saya baru mengetahui semua ini dari Bu Feli!" Jawab Delon merunduk. Merasa ragu apakah keputusannya ini nanti akan di setujui Jonathan atau tidak. Namun, keselamatan Jonathan benar-benar hal penting untuk dirinya saat ini.
Kini, Jodhi tampak menghubungi seseorang dengan wajahnya yang mulai keruh dan tegang.
" Dimana kau, aku perlu bantuanmu. Aku ingin bernostalgia sedikit saja!"
Delon yang tak mengerti arti ucapan Jodhi kepada seseorang melalui sambungan telepon itu, hanya diam sembari menerka-nerka.
" Kenapa mereka menakutkan sekali jika sudah begini?"
.
.
Jonathan
Dengan perlahan, ia mencoba untuk kabur dari ruangan itu meski sekujur tubuhnya terasa remuk redam. Ia berkali-kali menemui kesulitan sebab rupanya penjaga disana ada banyak sekali yang berlalu lalang.
" Jon, kalau kita ketangkap, kita bisa di dor disini sama dia!" Bisik Denok dengan wajah resah saat mereka bersembunyi di balik dinding kayu.
" Itu akan membuat semuanya menjadi mudah. Aku dan kamu mati bersama!" Jawab Jonathan asal seraya mengamati pergerakan di depannya.
" CK, cangkemu!" Dengus Denok yang kesal karena Jonathan selalu mengajaknya bercanda di situasi darurat. Membuat Jonathan kini terkekeh.
" Kemana perginya mulut lemes yang kurang ajar itu?" Cibir Jonathan yang tak bohong jika hatinya saat ini tengah bahagia.
" Diam sialan. Yusuf masih berjuang melawan penyakitnya. Aku nggak mau mati dulu! Aku masih punya hutang janji mau ngajak dia jalan-jalan ke taman safari!"
" Kalau begitu kita jangan mati dulu, aku juga ingin berekreasi!" Sahut Jonathan asal yang lagi-lagi membuat Denok mendecak kesal.
" Orang ini!"
" Benar kan?"
" Siapa di sana!"
Kini, tubuh Denok seketika menegang demi mendengar suara berat yang agaknya memergoki aksi mereka. Jonathan tampak meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir guna memberikan kode kepada Denok untuk diam.
Sungguh, dari jarak yang begitu dekat, Jonathan dua kali terlihat lebih jantan dan tampan manakala bersiaga seperti ini. Oh ya ampun!
Mereka terdiam saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Jonathan tampak sangat tenang sembari menunggu pria itu datang.
Dan sejurus kemudian.
BUG
Jonathan yang telah bersiap nampak meninju wajah satu orang pria yang memergoki mereka dengan begitu keras. Denok yang melihat hal itu menjadi panik sebab takut ada orang lain yang melihat kejadian itu.
Dalam gempuran waktu yang semakin terbatas, Jonathan tampak mencekik leher pira itu menggunakan tali dan membuat Denok mendelik.
Karena kehabisan napas, pria itu akhirnya pingsan. Kini, dengan napas yang terengah-engah, Jonathan tampak menyambar tali yang kebetulan teronggok di dekat mereka.
" Jon, kalu mati dia gimana?" Bisik Denok risau saat menatap wajah barang yang kini terlelap.
" Dia tidak akan mati sebelum merasakan dinginnya penjara!" Seru Jonathan santai seraya mengikat tangan pria yang saat ini tak sadarkan diri itu, lalu menyumpal mulut pria itu dengan pola yang persis Denok alami.
" Ayo!"
Denok dengan alis yang tak hentinya berkerut, kini meraih uluran tangan Jonathan dan terlihat hati-hati dalam melangkahi pria itu.
" Jon, Karin gimana?" Bisik Denok lagi saat mereka sudah mencapai lorong di sisi barat.
Denok yang terus saja memasang wajah resah hanya bisa mengikuti saran Jonathan dengan hati-hati, sembari berdoa agar mereka selamat.
Beberapa kali mengendap-endap lalu bersembunyi saat nampak anak buah Jac ada yang melintas disana.
Mereka tampak mencari cara dan berusaha keras untuk membuka gembok besar itu guna meloloskan diri, saat suasana telah kondusif.
" Lepaskan penjepit rambut mu!" Bisik Jonathan.
" Apa?"
" Lakukan saja!"
Denok mendengus saat melihat pria itu berubah-ubah perlakuannya. Sebentar manis, sebentar ketus.
Tanpa dia nyana, rupanya pria menyebalkan di hadapannya itu dengan cekatan merusak penjepit rambutnya, lalu ia gunakan untuk membuka gembok yang besar itu.
Daebak!
" Common!" Gumam Jonathan yang kini berusaha menggoyangkan penjepit itu dan berharap gembok besar itu akan terbuka.
" CK!" Decak Jonathan yang tampak berharap upayanya itu berhasil.
Denok yang berada di sana kini justru salah fokus dengan lengan kekar yang mengetat kala menggerakkan benda kecil itu. Otak kotornya bertraveling kesana-kemari dan membuatnya menjadi merinding demi mengingat jika pria tampan di depannya itu pernah menghujam nya dengan kenikmatan.
Ia bahkan masih ingat seberapa perkasa pria yang irit bicara itu. Damned!
Denok turut resah saat Jonathan berkali-kali mengumpat manakala usahanya belum membuahkan hasil. Namun sejurus kemudian.
KLIK
" Yes!"
Ucapan singkat yang kaya akan makna rasa syukur itu, membuat imajinasi Denok langsung buyar. Ya, saat melihat Jonathan tersenyum bahagia, ia juga turut tersenyum karena merasa lega.
Kini, dengan gerakan hati-hati dan penuh kewaspadaan, mereka berhasil meloloskan diri meski kini mereka bingung harus kemana karena rupanya, sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.
Oh tidak.
Membuat Denok seketika lemas.
" Jangan takut. Sebaiknya kita kesana!" Tunjuk Jonathan ke arah Utara menggunakan dagunya.
Mereka berjalan merunduk sebab takut kalau-kalau kamera atau sejenisnya akan menangkap mereka. Mereka berjalan sangat lama hingga rasa lelah yang teramat, menuntut mereka untuk mendudukkan tubuhnya dengan napas yang kembang kempis.
" Udah mau gelap, mana disini tempatnya kayak gini, kalau ada setan gimana Jon?" Ucap Denok dengan kaki yang benar-benar lelah.
" Bukannya kamu setan? Mana ada setan' takut sama setan!"
Membuat Denok seketika menatap Jonathan dengan wajah kesal.
Jonathan terkekeh. Sungguh, berada di tempat mencekam bersama wanita yang ia kasihi jauh lebih baik dari pada dirumah mewah bersama Feli.
Kini, mereka semua tampak terdiam menatap fajar yang sebentar lagi akan ditelan oleh cakrawala jingga itu. Sangat indah meski waktunya sangat terbatas.
Kini, keduanya terdiam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Kenapa kau melakukan semua ini?" Tanya Denok dengan wajah yang masih menatap indahnya matahari sore itu. Merasa lelah dan ingin terus mendudukkan bokongnya di atas tanah itu.
" Memangnya apa yang aku lakukan?" Sahut Jonathan juga masih menatap semburan oranye di ufuk barat. Rambut lurusnya tampak tersapu oleh angin sepoi-sepoi.
Denok kembali menghela napas. Pria di sampingnya itu masih saja begitu. Sangat susah di selami.
" Kelvin sudah menceritakan semuanya kepadaku!" Ucap Denok dengan rambut yang juga berterbangan karena angin.
Membuat Jonathan langsung menoleh. Menatap wajah cantik yang ia yakini lelah lahir batin.
" Tentang kamu yang meninggalkan aku tanpa kata beberapa tahun yang lalu!" Imbuh Denok dengan tatapan yang masih menerawang kurus kedepan.
" Tentang kenapa kamu lebih memilih menikah bersama Feli dan meninggalkan aku!" Ucap Denok seraya tersenyum kecut dan bibit bergetar. Teringat jika ia pernah salah menilai pria baik di sampingnya itu.
" Bahkan..." Denok nampak menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya. " Aku tahu alasan kamu malam itu menjadi clientku dan mengambil resiko besar karena harusnya malam itu aku harus melayani Jac!"
Kini, Denok tak dapat lagi menahan air matanya. Ia wanita yang kuat dan jarang menangis. Namun bersama Jonathan, entah kenapa ia menjadi sangat cengeng.
Jonathan adalah satu-satunya pria yang membuatnya memiliki arti lebih. Pria baik yang mengemas perhatian melalui cara unik.
" Jadi kau sudah tahu semuanya?" Ulang Jonathan menatap Denok yang berusaha menahan tangis.
" Kenapa kau mau dengan wanita kotor sepertiku Jo?" Tatap Denok dengan mata yang basah. Menyiratkan sejuta tanya kepada pria di depannya itu.
Bukannya menjawab, Jonathan kini tampak merubah posisi duduknya dan bergeser di belakang Denok. Mengarahkan pandangan wanita itu ke arah senja yang kian menurun.
" Setiap orang punya kisahnya, setiap orang punya jalannya, dan setiap orang punya takdirnya!"
Denok yang kini berada di depan Jonathan bisa merasakan terpaan hangat napas, yang menyetrum kuduknya. Menandakan bila jarak mereka sangat dekat.
" Jika diminta untuk memilih, kau pasti juga tidak akan mau menjeburkan diri salam kubangan lumpur hitam seperti itu kan?"
Dada Denok semakin terasa sesak kala mendengar ucapan Jonathan barusan.
" Bagiku, kau adalah orang yang berhasil menyadarkan ku tentang arti kepedulian. Aku takjub dan kagum akan sikapmu yang selalu peduli kepada orang lain, meski dirimu sendiri dalam kekurangan!"
" Membuatku merasa malu, karena di tengah keberadaan ku selama ini, aku bahkan tak bisa melakukan apa yang kamu lakukan!"
Keduanya hanyut dalam suasana yang menyenangkan.
" Aku akan membereskan apa yang seharusnya aku lakukan dari dulu!"
Membuat Denok menatap heran ke arah Jonathan.
" Aku mencintaimu Nov. terlepas dari buruknya semua masa lalu mu. Aku juga bukan orang baik. Jadi... bisakah kita sama-sama memulai dari awal?"
Denok menggeleng tak percaya, " Kau jangan gila. Walau bagaimanapun juga kau masihlah suami dari Fe..."
Ucapan Denok yang mengandung kadar banding itu menjadi menguap percuma ke udara, sebab Jonathan lebih dulu melumaat bibir wanita itu penuh dengan kerinduan.
Walau berusaha berontak, namun tekanan kuat pada tengkuk Denok membuat wanita itu paham jika Jonathan tak ingin di sela.
Kini, dalam temaram cahaya jingga yang kian meredup, dan dalam perasaan yang tak bisa mereka halau lagi, keduanya tampak saling berciuman melebur segala rasa yang ada.
Biarkan Tuhan, biarkanlah wanita nakal ini sejenak merasakan kebahagiaan. Walau tiada yang tahu, akan menjadi apa mereka beberapa waktu kedepan.
.
.
.
.