The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 34. Kanker otak



...🌹🌹🌹...


Felisha


Semalam usai Jonathan pergi bersama Yusuf ia menjadi curiga. Membuatnya membuntuti Jonathan menggunakan mobil lain untuk memastikan kemana suaminya akan membawa bocah miskin itu.


Namun, sungguh diluar dugaannya, ia sama sekali tak mengira jika Jonathan mengantarkan anak itu kepada wanita yang ia ketahui sebagai Denok.


Membuatnya benar-benar meradang. Bagaimana bisa ia kecolongan seperti saat ini? Tidak, ini tidak bisa ia biarkan!


Semalam, usai berhasil mengetahui dimana lokasi wanita sialan itu berada, ia langsung pulang sebelum suaminya mengetahui hal itu.


Dan pagi harinya, ia yang tak bisa lagi menunda diri untuk melabrak wanita jalaang itu, nampak berangkat bahkan sebelum Jonathan bangun.


Kini, dengan rasa wajah yang teramat pedih. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk melakukan perawatan.


Namun, di perjalanan, ponsel yang tergeletak di dashboard itu tiba-tiba berdering.


📞 Andra Calling....


" Kebetulan dia telepon!" Gumamnya seraya menekan tombol earphone dan sangat bersyukur karena Andra menelpon nya di saat yang tepat.


" Ada apa?" Ucapnya sesaat setelah telepon itu tersambung.


" Aku mulai berdinas di kota ini. Apa kau punya waktu. Aku ingin mengajakmu makan!"


" Lupakan hal itu. Sekarang dimana kau, aku membutuhkanmu!"


.


.


Di dalam ruangannya, Andra menatap tak percaya ke arah Felisha yang wajahnya baru saja ia obati. Merasa kasihan demi seraut yang penuh luka biru dan memar itu.


" Kenapa kau merendahkan diri seperti ini?" Andra mengomel sembari memasukkan beberapa peralatan kedalam kotak.


" Apa kau tahu, wanita itu telah ada di kota ini!" Cetus Feli yang masih saja geram akan apa yang barusan terjadi.


" Siapa yang kau maksud?" Tanya Andra tak mengerti.


" Wanita yang dulu pernah di bawa Jonathan kemari. Aku melabraknya pagi ini!"


" What? Are you crazy?" Andra semakin syok dibuatnya.


"Aku rasa dia bukan levelmu, untuk apa kau melakukan hal bodoh itu!" Oceh Andra yang tak setuju dengan tindakan Feli.


" Dia memang tidak selevel denganku, tapi suamiku sepertinya masih menaruh perasaan kepada wanita brengsek itu!" Sahut Feli dengan wajah keruh


" Fel, kau jangan lupa, antara kita juga .."


" Diam kau! Malam itu kita tak lebih dari sekedar melampiaskan kesepian! Jangan berharap lebih!" Hardik Feli yang ingin membuat Andra ingat batasannya.


" Terimakasih bantuanmu. Aku pergi!"


Andra mendecah tak percaya. Wanita yang penuh ambisi itu benar-benar sulit di taklukkan.


Namun, saat Feli hendak membuka gagang pintu itu untuk keluar, seorang perawat yang juga hendak membuka pintu itu nampak terkejut.


" Maaf!" Tutur perawat itu yang hampir menabrak Feli.


Tanpa menjawab, Feli melengos pergi dengan wajah sombongnya.


" Ada apa Nay?" Tanya dokter Andra yang melihat Nayla begitu cemas.


" Dokter, ada pasien darurat!"


.


.


Denok


Ini mungkin adalah kali kedua ia merasa cemas setelah menolong Danuja beberapa tahun lalu. Dengan wajah yang kacau dan babak belur, Denok berlari menuju ke ruang rumah sakit menatap Yusuf yang kini pucat dalam kondisi yang tak sadarkan diri diatas brankar.


Nampak cemas karena Yusuf sempat kejang di dalam mobil tadi.


Ia beruntung, ada orang baik yang membawanya kerumah sakit. Seorang wanita yang hendak mengantarkan anaknya menuju sekolah.


" Mohon di tunggu dulu Bu, kami akan melakukan pemeriksaan!" Ucapan perawat itu mau tidak mau membuatnya berhenti.


Denok mengangguk di sebelah wanita yang kini turut menatap cemas Yusuf yang lekas hilang di balik pintu.


" Yang sabar ya mbak!"


Denok yang lupa jika ada orang lain di sampingnya seketika tersentak.


" Saya terimakasih banyak atas bantuan Bu. Kalau gak ada Ibu, mungkin anak saya tadi..."


" Sama-sama mbak. Tapi...saya harus segera pergi, takut terlambat. Semoga anaknya baik-baik saja ya. Kopernya tadi ada di depan, saya titipkan ke resepsionis!"


Denok sungguh merasa berterimakasih kepada wanita paruh baya itu itu. Wanita yang sangat baik.


Kini, dengan sudut bibir yang terasa nyeri, Denok mendudukkan tubuhnya dengan perasaan frustrasi. Ada apa dengan Yusuf sebenarnya, kenapa ia bisa sampai tak sadarkan diri dan kejang seperti tadi?


Dalam kekalutan yang ia rasakan sendiri, ingatannya kembali kepada Karin. Ya, ia harus menghubungi Karin untuk meminjam beberapa uang sebab ia tahu, uang dalam tabungannya sangatlah kurang.


Ia takut, kalau-kalau Yusuf memerlukan tindakan medis per segera. Apalagi, ia menyadari jika ia dan Yusuf tak memiliki jaminan kesehatan.


Dengan menepikan rasa sakitnya, Denok nampak menghubungi Karin pagi itu.


"Rin, bisa bantu aku ?" Ia tak berbasa-basi lagi.


" Nok, lu nangis? Ada apa? Semua baik-baik aja kan?" Tanya Karin dengan suara penuh kekhawatiran


Denok menggigit bibirnya guna menetralisir kesedihannya. Ia tak suka dengan dirinya yang cengeng.


Namun, sekuat apapun seorang wanita, ia hanyalah makhluk yang memiliki sisi rapuh dan perlu sandaran.


" Yusuf gak sadarkan diri dan masih di periksa di dalam Rin. Hidungnya ngeluarin darah. Aku perlu uang Rin!"


" Apa?"


Saat ia masih sibuk berkomunikasi dengan Karin, kedua matanya tak sengaja melirik dokter yang waktu itu bersama dengan Feli nampak buru-buru masuk ke ruangan tempat dimana Yusuf dirawat.


" Itu kan...?"


.


.


Selang beberapa waktu kemudian, Denok yang sedari tadi menunggu pintu ruangan itu terbuka, kini di izinkan masuk oleh perawat yang baru saja keluar.


Dalam ruangan itu, Yusuf nampak lelap dengan tangan yang sudah di infus. Membuat Denok seketika tercenung dengan hati nyeri.


Untuk beberapa saat, dokter itu nampak terkejut dengan wajah Denok yang babak belur.


" Astaga, kenapa pagi-pagi aku sudah melihat dua wanita yang babak belur sih?" Batin dokter Andra seraya menghela napas.


" Apa anda baik-baik saja? Maaf maksud saya..wajah anda .."


" Tidak apa-apa dok. Hanya kecelakaan yang tidak di sengaja!" Jawab Denok asal. Tak mau berbicara panjang lebar lagi.


Lagipula, ia tak mau menjelaskan kepada siapapun. Ia sudah lelah akan hidupnya.


Kini, ia bersama dokter muda itu dalam satu ruangan. Nampak serius dan membuat Denok sejenak melupakan jika pria itu mungkin saja teman Feli.


" Bisa anda jelaskan apa yang anak anda keluhkan sebelum anak anda pingsan? Atau mungkin keluhan selama ini?"


Tanya dokter itu dengan lugasnya. Membuat Denok nampak berpikir.


" Dia sering mengeluhkan pusing, dan sakit kepala, terus sering mengeluh mudah lelah. Tapi itu sudah agak lama. Dan kejadiannya di kota S. Soalnya, saya bukan orang sini!"


Dokter Andra mengangguk paham.


" Penglihatannya sebenarnya juga kurang jelas. Mungkin, semenjak dia selalu main hape!" Tutur Denok membeberkan beberapa fakta yang mungkin saja memang dari gadget.


" Baik lalu?"


" Dia tadi mengatakan kepalanya sakit, lalu sempat kejang waktu di mobil!" Jawab Denok yang kini harap-harap cemas.


" Apa anak saya baik-baik saja dok?" Tanyanya menepikan ingatannya soal Feli yang bersama orang itu.


Sungguh, ia tak mau tahu dengan urusan orang lain.


" Semoga dugaan saya salah. Untuk membuktikannya saya akan melakukan CT scan!" Tutur dokter itu dengan wajah muram.


" Memangnya apa yang terjadi dengan anak saya dok?" Tanya Denok cemas.


" Itu dia, saya akan jawab jika hasil CT scan sudah keluar. Sebaiknya anak ini dirawat disini dulu karena kondisinya lemah!"


Secara keseluruhan dari persiapan hingga selesai, CT scan memerlukan waktu sekitar 30–60 menit. Dokter akan menjelaskan hasil CT scan beberapa hari atau minggu usai prosedur dilakukan.


Kini, Denok mengusap kening Yusuf yang nampak lelap.


" Ada apa sebenarnya Cup. Mamak harap kamu nggak apa-apa!"


Matahari yang semakin meninggi menjadi penanda bila hasil pemeriksaan medis akan segera keluar dan diketahui. Kini, dengan hati berdebar, Denok nampak duduk di depan meja dokter yang nisa ia baca jelas siapa nama dokter itu.


dr. Nevandra.


" Jadi, apa yang tejadi dengan anak saya dok?"


Dokter Andra nampak menarik napas sebelum mengatakan hal penting itu. Membuat Denok semakin tegang.


" Ada kanker dalam otak anak anda!"


" Apa?"


Kanker otak terjadi ketika sel-sel di otak mengalami mutasi (perubahan) dan tumbuh tidak terkendali. Sel-sel abnormal ini tumbuh dengan cepat dan membentuk sebuah massa (tumor).


Kanker otak yang bersifat ganas, bisa menyebar ke sel-sel yang sehat dan jaringan di sekitarnya, bahkan di lokasi yang jauh dari otak.


Belum diketahui secara pasti mengapa sel-sel tersebut berubah menjadi sel kanker. Akan tetapi, ada beberapa faktor risiko yang diduga dapat meningkatkan seseorang menderita kanker otak.


Kanker otak terjadi ketika sel-sel di otak tumbuh secara tidak normal. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang kanker otak, misalnya paparan radiasi di kepala, riwayat kanker otak pada keluarga, dan kelainan genetik.


Gejala kanker otak dapat berkembang secara bertahap dan memburuk seiring berjalannya waktu. Gejala yang dialami juga sangat bervariasi, mulai dari sakit kepala, hingga halusinasi.


Gejala di atas bisa muncul akibat peningkatan tekanan di dalam kepala atau kerusakan di bagian otak tempat kanker tumbuh.


.


.


.


.