The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 26. Bertemu lagi



...🌹🌹🌹...


Jonathan


Entah mengapa, setiap ada kesempatan untuk bertemu dengan Denok, debaran yang pernah ia rasa dulu, masih terasa sama. Walau pada sekarang, ia agak merasa licik lantaran memanfaatkan Yusuf.


Ia meminta Mimin untuk melaporkan sesuatu, kalau-kalau Feli memarahi Yusuf. Semenjak mengetahui jika bocah itu merupakan bagian penting dalam hidup Denok, membuatnya turut menjaga perlakuannya.


Tidak tahu juga, yang jelas, ada dorongan keinginan untuk memastikan hidup wanita itu baik-baik saja.


Entahlah, ia sendiri tidak tahu saat ini. Namun, tumbuh sejumput niat untuk mendukung Yusuf mengeluarkan Denok dari tempat pekat itu.


Pesan dari Denok yang mendadak membuatnya menghentikan langkahnya menuju parkiran.


...Aku pindah lokasi. Aku shareloc ke kamu!...


Entah apa yang akan di dapat Jonathan nanti manakala Denok mengetahui jika ia tak membawa Yusuf siang itu.


Yang jelas adalah kemarahan.


Ia nampak memacu kuda besinya membelah jalanan yang selalu padat di jam makan siang itu, dengan wajah datar namun hari senang.


Usai membalas pesan dari Feli, ia kembali menatap jalanan luas di depannya.


...Apa kau sudah makan? Aku lembur di butik hari ini....


^^^Sudah. Ya, semoga harimu menyenangkan.^^^


Selalu hambar. Entah sampai kapan Jonathan akan mengalah demi orangtuanya itu. Ia bahkan tidak tahu kemana arah kemudinya hendak ia layarkan.


Setibanya di lokasi, Jonathan tampak mengedarkan pandangannya lalu tersenyum saat melihat Denok yang duduk tenang seraya menghisap rokoknya dalam-dalam.


" Merokok tidak baik bagi wanita dan janin!" Ucapnya sembari merampas rokok yang masih terbakar separuh itu dari tangan Denok.


Membuat Denok seketika terkejut dan tidak terima.


" Kembalikan, apa kau pikir aku ini wanita hamil?" Denok menatap Jonathan yang kini membuang rokoknya dengan wajah datar.


" Apa kau sudah pesan makanan? Aku lapar!"


Bukannya menjawab, Jonathan justru mengalihkan pembicaraan seraya menarik kursi untuk ia duduki.


Membuat Denok mengernyitkan dahinya. Tunggu dulu, Dimana Yusuf? Kenapa Jonathan datang seorang diri?


" Dimana Yusuf? Kenapa kau tidak membawanya?" Ketus Denok yang sudah dalam mode kesal.


" Kenapa kau tiba-tiba berpindah lokasi seenaknya? Ini sangat jauh!"


Denok semakin geram saat Jonathan justru terus membicarakan bahasan lain tanpa menggubris pertanyaan darinya.


Laki-laki brengsek!


" Kau sang..."


Saat hendak mendamprat pria datar di depannya itu, ia mendadak tercekat demi teringat alasannya memilih pindah ke tempat itu.


Ya, alasannya ialah, karena ia tak mau jika Jonathan melihat Feli bersama pria tadi. Ia sedang fokus membebaskan Yusuf, dan akan sangat tidak baik jika Jonathan malah sibuk dengan perkara lain nanti jika mereka bertemu.


Begitu pikir Denok, yang sebenarnya juga gak tahu jika Jonathan bahkan tak mengetahui bila Feli telah berbohong.


" Ya... aku, ingin saja disini. Kenapa kau malah mengganti topik pembicaraan? Dimana Yusuf, kau benar-benar menipuku!" Timpal Denok dengan sangat ketus.


Jonathan masih saja santai dan datar saat Denok bahkan sudah berapi-api.


" Mbak!"


Kesebalan Denok semakin memuncak saat Jonathan malah mengacuhkannya dan justru sibuk memanggil pelayanan restoran itu.


" Silahkan Pak!"


Denok menatap kesal Jonathan yang justru sok manis di hadapan pelayan wanita.


" Untuk pacarnya apa juga mau di samakan menunya?" Tanya pelayan wanita itu dengan ramah.


" Apa kau bilang? Aku bukan pacarnya, dia ini ..."


" Samakan saja!" Potong Jonathan cepat.


What?


Denok menatap tak percaya ke arah Jonathan yang malah bersikap cool kala menjawab.


" Heh Jon, apa kau gila? Bagaimana kalau aku dikira menjadi pelakor kalau kau mengatakan hal itu!" Seru Denok bersungut-sungut dengan wajah tak suka.


" Kalau begitu mari kita berselingkuh!" Sahut Jonathan santai seraya menggulir ponselnya.


" Apa?" Denok seketika pias saat menatap Jonathan yang santai dalam berucap.


" Tenang dan makanlah setalah ini. Baru kita bicara!"


Denok sudah sangat kesal dengan pria datar itu. Beberapa tahun tidak bertemu, kenapa mulut pria itu sudah sangat slong?


Pesanan akhirnya datang dan mereka makan salam diam. Denok yang biasanya tak menyia-nyiakan makanan lezat itu hanya terlihat membidik Jonathan dengan wajah sebal.


" Jangan menatapku terus. Aku memang tampan!"


" Aku tahu, aku bahkan sudah pernah melihat burungmu brengsek!"


" Uhuk- uhuk!" Jonathan seketika tersedak saat mendengar ucapan Denok yang mulai absdurd.


Damned, dia mulai lagi!


Membuat Denok langsung menyeringai licik.


" Aku sudah selesai, katakan apa yang ingin kau bicarakan!" Jonathan berusaha menguasai diri dari ingatan yang bisa saja membahayakan jiwa kelelakiannya itu.


" Aku ingin setelah aku membayar uang Vas sialanmu itu, kau harus mengembalikan Yusuf kepadaku!"


Suasana hening saat Jonathan nampak mengelap bibirnya yang berminyak.


" Itu saja?" Jawab Jonathan enteng setelahnya.


" Hmmm!"


" Cepat sekali kau dapat uang bahkan sebelum kau bekerja. "


" Bukan urusanmu. Yang jelas, ada orang baik yang mau menolongku dari majikan jahat macam kalian!"


Jonathan menatap dalam Denok yang selalu lebih cantik saat dia marah selama beberapa detik.


" Pak, Mamaknya Ucup mau pinjam uang dulu. Bagaimana ini?"


Jonathan bahkan masih ingat saat Delon dengan resahnya menelpon dirinya beberapa waktu lalu.


SREK!


Denok berdiri dan berniat meninggalkan laki-laki licik itu.


" Kau mau kemana?" Tanya Jonathan bingung


" Aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku katakan. Harusnya sore ini aku bisa pergi dengan Yusuf. Tapi sayangnya, kau benar-benar majikan yang pelit, perhitungan, juga kejam!"


" Aku benar-benar membencimu!"


Jonathan mendelik kala Denok mengacungkan jari tengah ke arahnya sesaat sebelum wanita itu berbalik.


Membuat beberapa orang mata yang berada di dekat mereka saling berbisik-bisik.


Namun alih-alih kesal, Jonathan justru tertawa dan merasa terhibur oleh sikap bar-bar Denok.


" Tidak masalah kau kesal denganku saat ini Nov. Tapi yang jelas, aku dan Yusuf akan membawamu ke tempat yang seharusnya!"


.


.


Malam ulang tahun Tuan Janson dari group Bimasakti ternyata sangat meriah. Bu Weni dan suaminya tampak menjilat kepada pria yang kini genap berusia 70 tahun itu.


Pesta yang benar-benar di datangi oleh orang-orang berkelas. Nyaris tak ada orang miskin kecuali Yusuf yang tampak risih karena harus mengenakan dasi kupu-kupu.


Bu Weni datang bersama Jonathan juga Feli. Meski sepanjang perjalanan, mereka kesal karena Jonathan keukuh mengajak serta Yusuf.


" Selamat ulang tahun Tuan. Ini sungguh pesta yang luar biasa!"


Jonathan tampak bosan sebab kebanyakan yang hadir adalah orang tua, pebisnis yang kerjaannya terus-menerus menjilat agar mendapatkan kesempatan bekerja sama demi melebarkan sayap usaha.


" Apa ini anakmu? Astaga di sangat tampan!" Puji Nyonya Belinda kepada Jonathan yang memang sangat tampan malam itu.


" Halo Nyonya, selamat ulang tahun!" Ucap Jonathan penuh kesopanan.


Feli yang sedari tadi menempel juga nampak cantik dan bersinar. Berusaha mengukuhkan keberadaan dan posisi jika ia adalah Nyonya Felisha Jonathan.


" Kelvin pasti senang begitu mengetahui kalau kalau ada disini!"


Pak Iqbal dan Bu Weni seketika tersenyum saat Nyonya Belinda menyebutkan nama cucunya yang merupakan teman sekolah Jonathan. Pun dengan Jonathan.


Membuat Feli bertanya-tanya. Siapa Kelvin?


" Apa dia sudah kembali dari luar negeri?" Tanya Jonathan dengan wajah berbinar.


" Benar, kakeknya sudah tua, dia yang memimpin perusahaan saat ini. Ayo ayo, nikmati pesta ini ya. Di akan turun sebentar lagi!"


Yusuf yang melihat taman indah di depan memisahkan diri dari rombongan. Ia terpana melihat hal indah dalam rumah mewah itu. Jonathan yang melihat Yusuf begitu menikmati pesta nampak tersenyum dari kejauhan.


" Anak itu benar-benar memalukan!" Cibir Feli yang tahu jika Jonathan menatap Yusuf.


" Sebaiknya kau menjaga bicaramu. Ada banyak telinga disini. Jangan sampai, kau justru mempermalukan dirimu sendiri!"


Jonathan pergi usai mengatakan hal itu kepada istrinya. Membuat Feli kesal.


Di lain pihak, Denok yang baru turun dari taksi mengecek kembali kebenaran alamat yang tertera di kartu nama itu.


" Benar kan Pak?"


" Benar mbak. Ini rumahnya Tuan Janson. Pemilik Bimasakti group!"


Denkk mengangguk demi melihat keyakinan yang membara di mata bapak supir itu.


" Ini Pak!"


" Gak ada uang pas aja mbak?"


" Gak ada, udah ambil aja. Saya lagi banyak uang!"


Jawaban ngasal Denok itu membuat sulit taksi online itu meringis.


Banyak dari mana? Untuk besok saja ia harus pandai-pandai membagi.


" Terimakasih banyak mbak! Semoga di balas Tuhan!"


Denok yang malam itu mengenakan dress diatas lutut yang dulu pernah ia gunakan kala berdinas di malam hari itu, terlihat sangat berbeda.


Rambut Curlynya ia biarkan menjuntai, mengenakan heels dengan tinggi standart, dengan make up yang tidak ia tebalkan.


Sangat fresh dan memesona.


" Pasukan gaya elit ekonomi sulit!" Ia terkikik-kikik demi merasai dirinya sendiri kala langkahnya lekas menapaki kediaman besar itu.


" Buju buset, ada yang jaga!" Gumamnya agak kaget.


" Selamat malam Nyonya. Bisa ditunjukkan undangannya?"


" Hah, undangan? Undangan yang mana?


" Yang ini Pak?"


" Benar Nyonya. Silahkan masuk!"


Denok yang sudah terbiasa mengenakan pakaian sexy tentu tak kesulitan kala berjalan. Dress warna merah maroon itu jelas membuat siapa saja yang melihatnya, akan memusatkan perhatiannya kepada Denok.


Tanpa terkecuali Feli yang mendelik saat melihat Denok berjalan anggun manakala masuk ke kediaman orang kaya itu.


Melihat Feli terpaku, Bu Weni yang seperti pernah melihat wanita yang kini menjadi pusat perhatian itu nampak seperti mengingat - ingat.


Dan saat hendak berjalan maju, Denok mendadak bertabrakan dengan pria bertubuh tinggi tegap yang membuatnya nyaris limbung.


BRUK


" Auwh!" Ringis Denok yang nampak kesakitan sebab pria itu sangat tinggi seperti Jonathan.


" Lah, kamu?" Ucapnya kaget demi melihat pria yang tempo hari sempat terkena kaleng minuman akibat ulahnya.


" Kamu?"


.


.


.


To be continued...