The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 36. Tak memiliki pilihan



...🌹🌹🌹...


Felisha


Ia benar-benar geram. Bertahun-tahun menikah dengan Jonathan namun belum pernah sekalipun mereka berbicara dengan intonasi normal. Ia memiliki raga, tapi tidak dengan hati pria itu. Meski Jonathan telah melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik.


Feli memang mendapatkan apa yang dia inginkan, kekuasan, ketenaran, dan menikah dengan Jonathan yang memiliki kekayaan luar biasa, jelas menjadi keuntungan tersendiri.


Ia merasa beruntung karena mertuanya begitu memujanya. Namun, melihat wanita liar itu berada di langit kota yang sama dengan dirinya, benar-benar membuat hidupnya semakin tak tenang.


Bagai sebuah ancaman yang sewaktu-waktu dapat meruntuhkan segenap pencapaiannya.


Ia tak bisa secara langsung melaporkan hal ini kepada Mama Weni. Ia tak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menyeret Denok. Wanita tua yang berintegritas itu, sangat tidak senang dengan hal kampungan yang barusaja ia lakukan


Kini, dengan hati yang teramat kesal, ia berjalan keluar dan terlihat menuju ke suatu tempat.


.


.


Denok


Ia di kabari pihak rumah sakit jika Yusuf baik-baik saja. Membuatnya sedikit bernafas lega. Hah, setidaknya ia bisa pulang dengan tidak terburu-buru saat ini.


Malam ini, ia telah bersiap untuk pulang menuju rumah sakit. Windi berjanji besok akan menanyakan apakah masih ada kamar kosong di kostnya atau tidak.


Menjadi cemas terhadap kehidupan kawan barunya. Deni Novita.


" Mbak Deni nggak apa-apa pulang sendiri? Maaf ya mbak aku belum bisa ikut jenguk Yusuf!" Tutur Windi muram yang tak enak hati. Ia pulang sebab ada urusan yang harus segera diatasi.


Keadaan yang serba susah membuat keduanya tak memiliki banyak pilihan selain menerima takdir.


" Santai aja Win. Yang penting cepetan kabarin aku soal kostan!"


"Oke mbak. Sampai jumpa besok "


Sepeninggal Windi, Denok kini berjalan menuju trotoar dan berniat mencegat taksi. Tubuhnya sangat lelah sekali.


Namun, hal yang tak pernah ia duga, ia melihat Delon menunggunya di jarak beberapa meter di luar restoran.


" Kenapa lama sekali?" Cetus pria yang masih saja keren di jam semalam itu.


Denok menoleh ke belakang mencari apakah ada seseorang di belakangnya sebelum dia GR, " Apa dia berbicara denganku?"


" Tentu saja aku berbicara denganmu!" Tutur Delon yang seperti bisa membaca isi pikiran Denok seraya mendengus sebal.


" Ada apa Pak Delon?" Tanya Denok yang juga merasa sedikit kesal karena dia terburu-buru.


" Aku tadi ke kostmu, tapi kenapa kau tidak ada?"


" Apa? Untuk apa dia ke kost?"


Membuat Denok merasa curiga.


" Emm aku hanya memastikan jika semua karyawanku tinggal di lokasi kost yang memiliki izin!" Bohong Delon yang asal-asalan dalam mencari ide.


" Astaga bodohnya aku, kenapa aku malah mencari alasan itu!" Batin Delon merutuki segera kebodohannya.


Denok yang kesal dengan bos-nya itu seketika ngeloyor pergi. Tidak ada gunanya membicarakan hal kurang penting ini, anaknya sedang terkapar di rumah sakit, dan dia malah meladeni bos gila nya itu.


" Lah- lah tidak sopan sekali kamu. Bos mu sedang bicara denganmu tapi kamu malah pergi!" Teriak Delon kesal.


Membuat Denok seketika berhenti lalu berbalik.


" Dengan segala kerendahan hati saya, saya mohon undur diri dari hadapan pak bos, karena saya harus segera pulang pak. Saya benar-benar lelah. Tambahan mengobrol tidak akan membantu hutang saya lunas kan?"


" Permisi!"


Delon meneguk ludahnya dengan wajah hamsyong. Wanita itu jika sudah serius mengerikan sekali.


Niat hati ingin bicara wajar, rupanya memang susah sekali menyelami wanita itu. "Hah, astaga, kenapa hidupku menjadi runyam semenjak bertemu wanita itu?"


Ia tiba di rumah sakit setengah jam kemudian.


Denok yang baru membersihkan tubuhnya di kamar mandi ruangan anaknya, kini terlihat menjawab telepon dari Karin.


" Opo Rin?" Jawabnya lemas sebab lelah yang teramat.


" Nok, kamu jadi perlu uang?"


" Ya jadi lah!" Ia kini menjadi serius manakala Karin membicarakan soal uang.


" Aku ada client, proyek besar ini. Lu trima nggak?"


Dalam kebimbangan, ia kini menatap Yusuf yang tertidur dengan napas teratur. Haruskah ia mengambil hal itu? Tapi jika tidak, darimana ia mendapat uang dengan cepat?


" Woy, Nok!"


" Aku kabari besok ya baru masuk kerja siftnya kadang belum jelas, memangnya kapan sih?"


Hari yang berjalan semakin terasa lebih baik. Meski tawaran dari Karin belum ia jawab lantaran bimbang, namun ia terus menghabiskan waktu untuk bekerja.


Yusuf dan Denok saat ini telah tinggal di kost yang sama dengan Windi. Sebuah kost yang lebih luas, namun dengan biaya yang sepadan.


Gadis baik itu benar-benar mengupayakan Denok untuk bisa mendapatkan tempat tinggal.


Denok yang masih berperang dengan pikirannya, terus bekerja tak kenal lelah. Wanita itu juga jarang berkelakar seperti biasanya sebab fokusnya hanya untuk mencari uang demi membayar hutang, sekaligus biaya Yusuf.


Selama itu pula, ia sedikit tenang sebab Jonathan tak lagi menampakkan batang hidungnya beberapa waktu ini. Itu sangat baik bukan? Membuatnya bisa menjaga Yusuf dari ancaman wanita tak waras itu. Feli.


Jujur, ia sangat ketar-ketir sebab Feli bisa saja sewaktu-waktu mendatanginya. Bukan karena takut jika di hajar lagi, namun lebih ke menjaga mental dan pikiran Yusuf.


Apalagi, penyakit Yusuf bukanlah penyakit yang bisa di sepelekan.


Namun, sama seperti cuaca yang kerap berubah-ubah, dinamika kehidupan Denok pun sama. Ia selama sepekan ini meminta tenggang waktu kepada dokter untuk mencari biaya, terpaksa menunda jadwal operasi sebab ia masih berusaha mencari pinjaman.


Lagipula, siapa lagi yang bisa ia harapkan atas kesulitan hidupnya saat ini?


Pernah terbesit nama Lintang dalam benaknya, namun sungguh ia tak memiliki keberanian untuk mengutarakan hal itu.


Jika ia masih bisa berusaha, ia akan mengupayakan sendiri. Lagipula, sangat tidak mungkin tiba-tiba menghubungi seseorang hanya untuk berhutang. No way! Jelas itu bukanlah dirinya.


PRYAANG!


Denok yang sedang membereskan sisa makanan Yusuf di pagi hari, seketika terkejut manakala mendengar suara benda pecah.


Detik itu juga, matanya membulat sempurna demi melihat Yusuf yang kejang dengan gelas yang telah pecah di sekitarnya.


.


.


Dirumah sakit.


" Saya sarankan untuk segera menjalani operasi. Kanker ini masih stadium awal, namun jika tidak segera di tangani, ditakutkan akan menjalar ke bagian lain!"


Dokter Andra terlihat muram manakala mengutarakan hal itu. Apalagi, ia teringat jika Yusuf merupakan pasien yang pernah ia tangani di kota S beberapa tahun yang lalu.


Dalam keterdesakan, otak Denok benar-benar buntu. Ia sebenarnya telah menolak tawaran Karin demi menjaga perasaan Yusuf.


Entah mengapa, meski bocah itu bukanlah anak kandungnya, namun ia begitu menyayangi bocah kurang beruntung itu. Bocah yang nasibnya sama dengan dirinya.


" Halo, Rin. Aku terima yang kemarin. Yusuf kejang dan kata dokter harus segera di tangani. Katakan di hotel mana aku harus menemui laki-laki itu!" Ucap Denok terpaksa dengan wajah yang kalut.


Membuat Jonathan yang telah berada di balik dinding untuk menuju ruangan Yusuf seketika menghentikan langkahnya.


Ya, pria itu seketika membeku manakala mendengar Denok yang berbicara dengan nada serius.


" Apa yang sebenarnya terjadi?"


.


.


Malam ini, Denok meminta Windi untuk berada di rumah sakit dengan dalih ada urusan sebentar. Windi yang memang polos cenderung bloon jelas tak keberatan. Wanita itu nampak bermain dengan Yusuf yang semakin hari semakin pucat saja.


Bagi Windi, mengenal Denok merasa membuatnya memiliki kakak baru.


Dengan keteguhan hati yang berkobar, Denok menguatkan hati meski ia tahu, jika ia telah membohongi Yusuf. Jalan gelap yang dia pilih, tak lain adalah demi kelangsungan hidup bocah malang itu.


" Hotel Grand Luxury kamar nomor 343!"


Dengan riasan yang ia buat secantik mungkin, pakaian sexy yang ia tutup dengan mantel berkelas, ia berjalan menjemput biaya operasi Yusuf. Nominal yang jelas, tidak gratis. Ada kenikmatan yang harus ia suguhkan dengan segenap jiwa raganya.


Ia menarik nafas dalam-dalam sesaat sebelum ia mengetuk pintu bercat putih itu. Sudah agak lama ia tak melakukan hal ini, dan ia seperti kembali dengan sikap gugup.


CEKLEK


Pintu yang terbuka namun tak di barengi dengan kemunculan pemilik kamar. Denok masuk dan pintu itu seketika tertutup.


" Beraninya kau membuatku menunggu selama tiga menit!"


DEG


Denok seketika membalikkan tubuhnya dengan begitu terkejut demi melihat Jonathan yang berwajah datar hanya menggunakan handuk kimono.


Menatapnya dengan raut tak terbaca.


" Ke- kenapa bisa..?"


.


.


.


To be continued...