
...🌹🌹🌹...
Nevandra
Entah atas dasar apa, usai membersihkan diri setelah menjalankan operasi Yusuf, pria itu membelokkan langkahnya menuju kamar bocah itu.
Tampaknya, ia ingin jumawa kepada Windi atas kesalahpahaman yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia orang yang sangat suka akan pengakuan. Dan di anggap remeh oleh Windi, jelas telah menyentil harga dirinya.
Ya, Ia pasti sudah gila. Hendak memamerkan sumbangsihnya kepada wanita yang memberinya plaster Hello Kitty itu hanya demi sebuah ratting.
Namun, seperti itulah kehidupan. Apa yang ada dalam benak atau angan-angan kita, nyatanya tak selalu bisa semulus yang di bayangan.
Seperti saat ini misalnya. Alih-alih bertemu dengan Windi, ia malah dibuat terkejut dengan sosok Denok. Wanita yang ia sinyalir lebih ekstrim.
Awalnya biasa saja, namun siapa sangka, pertanyaan menohok dari wanita berambut panjang yang tampak jutek itu benar-benar membuat biji matanya serasa hendak copot detik itu juga.
Damned!
"Ada hubungan apa sebenarnya antara anda dengan istri Tuan Jonathan?"
DEG
Tatapan yang mengiris tajam di sertai bidikan bengis itu benar-benar membuat ludah yang ada di esofagus nya, mendadak berubah menjadi sesuatu yang serat dan susah ia telan.
Membuat Andra membeku.
MEKH!
" Argh!"
Dokter Andra seketika membulatkan matanya manakala tangan Denok mencengkeram payu dara bidangnya dengan tatapan tajam.
" Aku pernah melihatmu berduaan dengan wanita itu. Akan sangat tidak mungkin jika barangmu ini tidak pernah bersilaturahmi ke liang wanita itu."
" Katakan, apa kau berselingkuh dengan wanita gila itu?"
What?
Dengan segala keterkejutan yang ada, Andra benar-benar bingung, tidak percaya, dan juga kaget demi pertanyaan yang tanpa tedeng aling-aling itu. Tapi tunggu dulu, siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa mengenal Jonathan? Dan yang lebih penting, kenapa analisanya benar sekali?
CEKLEK!
Denok seketika melepaskan cengkeraman mautnya manakala Windi tiba- tiba muncul dari balik pintu dan sudah berhenti baju. Sial!
Kini, wajah dokter Andra selain sudah sangat pucat, pria itu bahkan sulit mengkondisikan keringat sebiji jagung yang tak mau berhenti muncul di dahinya yang glowing.
" Sa- saya permisi dulu!" Ucap Dokter Andra dengan gagapnya.
Windi hanya terlihat bingung saat dokter itu tampak pergi dengan wajah ketakutan. Membuat Windi curiga.
" Ada apa mbak? Kenapa dokter itu....?" Tanya Windi ragu menatap ke arah Denok yang biasa saja.
" Gak tau, kalau penasaran kenapa kamu gak tanya dokternya aja!" Sahut Denok yang tampak kesal karena interupsi Windi.
Windi mencibir menatap Denok yang kini sibuk mendaratkan bokong ke sofa rumah sakit dengan wajah manyun, terlihat biasa saja meski keduanya tampak tertangkap basah sedang menyembunyikan sesuatu.
Sementara itu di ruangan dokter Andra.
" Astaga, siapa wanita itu sebenarnya? Setelah wanita itu yang menyakiti kulitku, kini putiingku juga sangat sakit karena wanita yang satunya. Astaga, ada apa dengan dua wanita itu!"
Andra menggerutu manakala melihat dadanya yang memerah akibat di remas oleh Denok. Merasa terganggu dengan pertanyaan yang terus saja terngiang-ngiang di kepalanya.
" Kenapa dia mengenal Jonathan?"
.
.
Kelvin
Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali menekan klakson seraya mengumpati siapa saja yang mengganggu perjalanannya.
Ya, usai menyelesaikan donor darahnya, ia tak bisa lagi menunda waktu untuk menemui Delon dan berjanji akan mengabari Denok soal keberadaan Jonathan.
Di tengah perjalanannya, Kelvin merasa sangat cemas dengan apa yang terjadi kepada Jonathan. Ia bahkan tak habis pikir akan jawaban Nyonya Weni yang baru saja ia hubungi.
" Jonathan sedang kesal kepadaku. Mungkin dia ingin menyendiri. Siapapun bisa bertingkah konyol jika sedang marah bukan?"
Membuatnya benar-benar tidak habis pikir cenderung kecewa. Mengapa ada orang tua yang tak khawatir akan kondisi anaknya.
"Dimana sebenarnya kamu Jo?"
.
.
Ia kini berdiam diri di dalam mobilnya. Nampak memecahkan teka-teki tentang apa yang dibicarakan Mama mertuanya tadi.
Apakah ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
Apakah mereka menyimpan satu rahasia?
Ia mencoba mengejar Jonathan namun tidak di izinkan oleh Mama Weni. Selain itu, ia bertambah kesal manakala ponsel suaminya tak bisa ia hubungi.
" CK, brengsek! Punya suami atau tidak sama saja!" Ucapnya marah dengan napas kembang kempis.
Merasa terseret ke titik nadir sebab hubungannya bersama Jonathan nyatanya tak pernah ada kemajuan.
Feli yang mendadak teringat akan sesuatu kini menyalakan mesin mobilnya, lalu sejurus kemudian melesat jauh. Terlihat memerlukan bahu untuk bersandar.
Tak di nyana, Feli yang saat ini benar-benar membutuhkan teman bicara menyatroni rumah sakit tempat dimana Andra berdinas. Wanita itu nampak berjalan angkuh dengan kacamata yang bertengger manis diatas hidungnya yang mancung.
Membuat beberapa pegawai, pengunjung juga pasien yang ada di sana terpana dengan penampilannya yang berkelas.
Tanpa menunggu, ia langsung menuju meja resepsionis. Menanyakan dimana ruangan dokter Andra dengan bermodalkan kartu pengenalnya. Membuat tethekbengek yang rumit, sirna dalam sekejap.
Dan beberapa saat kemudian.
CEKLEK!
Ia menatap heran Andra yang tampak terkejut akan kedatangannya.
" Kapan kau datang?" Tanya Andra dengan wajah terkejut. Merapikan bajunya yang terbuka sebab baru saja mengoleskan salep ke dadanya yang nyeri.
Feli yang tampak benar-benar membutuhkan teman untuk bicara langsung menghambur ke pelukan Andra sesaat setelah pintu itu tertutup.
Membuat dokter Andra kebingungan manakala melihat Feli yang menangis di pelukannya.
" Kenapa dia tidak pernah mencintaiku? Kenapa Ndra?"
" Kenapa?"
Andra yang tahu siapa pria yang di maksud oleh Feli, hanya bisa diam seraya tekun mengusap punggung wanita itu untuk memberikan kekuatan kala tubuhnya bergetar. Walau bagiamanapun juga, Andra sejatinya memang pria baik.
" Apa yang telah terjadi?" Tatap Andra serius kepada Feli yang wajahnya telah basah oleh air mata.
" Dia pergi, aku tidak tahu akan kemana dia. Kami barusaja bertengkar hebat dengan Mama Weni!"
Isak tangis Feli membuat Andra muram. Jelas sesuatu telah terjadi.
" Tenanglah. Semua akan baik-baik saja, hm!" Andra mengusap lembut punggung Feli dan membuat wanita itu merasa nyaman.
Terus dan terus saling berpeluk hingga Feli kini tenang. Dalam keadaan yang ada, Feli yang merasa sangat membutuhkan seorang lelaki saat ini nampak melepaskan pelukannya lalu meraba bibir Andra.
Membuat laki-laki itu terkejut.
" Apa kau masih mau menemaniku?" Tanya Feli dengan sorot mata lelah. Dari pancaran sinar kelopak matanya, Andra bisa menangkap kesedihan dan kerinduan yang mendalam.
Jakun Andra naik turun kala terpaan napas Feli mengenai wajahnya. Membuat tubuh pria itu tegang.
Belum juga Andra menjawab, Feli yang butuh pelampiasan langsung melumaat bibir Andra hingga berjinjit, membuat Andra kaget meski ia tak menolak ciuman itu.
Semakin lama semakin menuntut hingga mereka tak sadar telah menabrak beberapa file saking masiv-nya gerakan mereka.
Namun tiba-tiba.
BRAK!
" Hah, apa yang kalian lakukan?!" Teriak seorang wanita yang tak lain adalah Windi.
Membuat ciuman kedua manusia yang terciduk terang-terangan itu seketika terlepas sebelum waktunya.
Damned!
.
.
.
.
Slow update karena mommy kena musibah. Anak Mommy kakinya gak sengaja kena air panas dan saat ini melepuh. Masih memerlukan perawatan intensif. Jadi mohon maaf ya reader🙏