
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia terngiang-ngiang dengan ucapan pria yang bahkan belum ia ketahui namanya itu. Damned!
"Saya bisa saja bawa Yusuf sekarang. Tapi apa anda yakin kalau Yusuf mau menemui anda? Akan jauh lebih baik jika saya mengatur waktu agar kalian bisa berbicara baik-baik. Besok mungkin. Karena percaya atau tidak, Yusuf bahkan pernah mencoba mau kabur saat mendengar bos meminta saya untuk mengirim Yusuf kembali ke kota S."
Ia kalah telak.
Tawaran pria berwajah mengkilat tadi masuk akal juga. Ia bahkan kini merasa harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Yusuf.
Hah astaga, kenapa semua terasa runyam seperti ini?
Tidak ada cara lain selain menurut. Anak-anak seringkali bertindak ceroboh, dan jangan sampai ia ikutan menjadi ceroboh.
Denok memantik rokoknya lalu membuka jendela kamar hotel dari lantai 8 itu. Menikmati pemandangan kota yang ramai. Sangat kontras dengan batinnya yang terasa sunyi.
Apa ia harus berhenti demi Yusuf? Tapi dimana ada perusahaan yang mau menerima janda berusia 32 tahun seperti dia di zaman seperti sekarang ini?
Pikiran yang sumpek tidak akan sirna jika ia hanya berdiri di kamar itu saja. Ia memilih mandi lalu berniat untuk berjalan-jalan menenangkan pikiran.
Saat melintas, ia nampak menikmati pertunjukan musik yang membuatnya senang. Sekelompok anak-anak muda lintas gender nampak menyanyi dengan gitar, biola dan violin. Membawakan lagu yang mereka aransemen dengan indah.
🎶 Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku, kehilanganmu
Merintih sendiri
Di telan deru kotamu...
Walau kini kau telah tak kembali.....
Ia memberikan selembar pecahan rupiah berwarna biru lalu berjalan melalui sekumpulan anak-anak muda yang nampak ceria itu. Banyak sekali ragam serta warna kehidupan yang ada. Mendadak terbesit pikiran sampai kapan ia akan memilih warna hitam dalam hidupnya.
Saat hendak masuk ke sebuah toko roti karena tiba-tiba ingin menikmati tiramisu, Denok melihat seorang penjambret yang merebut sebuah tas jinjing milik nenek tua.
" Tolong!"
"Tolong!"
Teriakan nenek itu, membuat Denok seketika berlari dan sengaja menunggu penjambret itu lewat di hadapannya.
BRUK
Kena kau!
Denok menjulurkan kakinya dan membuat laki-laki paruh baya itu tersungkur diatas paving. Yes!
" Cari mati lu ya!" Pria yang jatuh itu nampak berang kepada Denok sebab tahu jika wanita itu telah merusuhinya. Nampak menatap Denok dengan tatapan penuh kebencian.
" Woy asu, aku nggak cari mati, dosaku masih banyak. Dari pada cari mati mending cari kont*l. Sini balikin tasnya!" Seru Denok yang menatap tak kalah bengis ke arah pria itu. Membuat jambret itu seketika mendelik karena mengira jika Denok adalah wanita lemah.
Namun, pria yang masih larut dalam keterkejutan itu, nampak menarik senyuman licik dan sejurus kemudian.
Srek!
" Argh!" Denok yang hendak merebut tas milik nenek itu, mendadak di serang oleh si penjambret.
Membuat Denok seketika meringis saat senjata tajam yang dibawa oleh pria jahat berhasil menggoreskan luka di lengan kanannya.
" Anjing!" Maki Denok yang kesakitan seraya menahan geram.
Pria yang berusaha kabur sesaat setelah melukai Denok itu mendadak mengerang kesakitan manakala Denok menjambak rambutnya menggunakan tangan kirinya, untuk sejurus kemudian biji telornya di tendang oleh Denok dengan begitu kerasnya.
BUG!
" Arrghhh!"
Mati kau!
BUG!
Lagi, Denok yang geram dan marah nampak berusaha membuat biji pria itu hancur. Membuat nenek tua yang melihat hal itu sampai tak berani menoleh lagi.
Entah sudah jadi apa dua biji yang pasti saat ini sedang tidak baik-baik saja itu.
" Maling ya maling, tapi lihat-lihat yang di malingin asu! No...pejabat yang korup no elu rampok, dijamin banyak yang dukung!" Seru Denok seraya merampas kembali tas nenek tua dari tangan laki-laki yang kini menahan sakit yang luar biasa itu.
Kini, penjambret yang benar-benar kesakitan itu nampak memilih kabur dengan terseok-seok sebelum dirinya akan babak belur karena beberapa orang sudah hendak mendekat.
Ia menatap Denok penuh kebencian.
" Awas lu ya!"
" Awas aja sendiri. Pikirin itu telur pecah. Kagak ada ganti! Mau mati disini lu?"
Denok menghardik laki-laki itu dan membuat orang itu lari terbirit-birit. Hari itu jelas menjadi hari sialnya karena bertemu dengan wanita ngawur yang dikira lemah.
" Astaga nak, kamu tidak apa-apa?" Nenek tua yang nampak kaya itu menyongsong Denok dengan wajah cemas.
Denok tersenyum mengangguk seraya menahan rasa perih di tangannya. Ia heran, kenapa saat nenek itu berteriak, para orang yang melihat tak ada yang berani mendekat.
" Ini tasnya nek. Lain kali jangan jalan sendirian!"
Denok yang masih heran, kenapa saat nenek itu minta tolong, orang-orang hanya nampak ketakutan, menatap para manusia yang kini saling berbisik.
" Dia itu preman yang biasa operasi disini. Saya tadi sudah putus asa karena pasti enggak akan ada yang berani nolong. Untung ada kamu!"
"Jadi itu alasannya!"
" Masih serem maling di kampung ku padahal!"
" Oh ya, tangan kamu terluka. Sebaiknya kita kerumah sakit!" Ucap nenek itu khawatir.
" Ah tidak perlu, dikasih handiplas nanti juga sembuh. Udah biasa nek!" Jawab Denok yang agak minder dengan nenek yang tampilannya sangat mewah itu. Berniat ingin segera membebaskan diri.
" Maaf nyonya, saya terlambat menjemput, tadi...saya kembali dan menukar mobil karena mobilnya mogok!" Ucap seseorang pria berseragam yang sepertinya adalah supir dari nenek itu.
" Dasar, udah tau majikannya tua, pakai acara terlambat lagi. Kalau di mati bagaimana?" Denok menggumam namun masih bisa di dengar oleh supir itu. Membuat supir itu tertunduk takut dengan hati bertanya-tanya.
" Aku barusan di jambret orang. Untung ada nona ini yang menolong. Sekarang kita antar dia berobat."
" Apa? Ah, tidak perlu nek. Ini hanya luka..."
" Ayo! Bisa infeksi itu nanti. Har, buka pintu mobilnya!"
" Siap nyonya!"
Denok hanya pasrah saat tangannya di geret oleh nenek tua dengan gaya yang masih jelita itu. Astaga wanita rempong!
Di rumah sakit.
" Sudah kami bebat dengan perban dan kami berikan obat untuk lukanya. Ini obat yang harus diminum Nyonya!" Terang seorang dokter yang nampak segan terhadap nenek tua itu.
Denok hanya diam seraya mendecah dalam hati. Orang kaya ini senang sekali menghamburkan uang.
" Aku Nyonya Belinda. Terimakasih karena sudah menolongku!"
Denok melongo kala wanita yang rambutnya memutih itu menyalaminya dengan tersenyum.
" Saya...Deni!" Sambutnya membalas uluran tangan putih yang di hiasi keriput itu.
Pria yang menjadi supir itu melirik saat Denok menyebut namanya.
" Apa serius namamu Deni?"
" Deni Novita!"
" Ah, kau lebih cocok di panggil Novi. Deni lebih cocok digunakan oleh laki-laki!"
Sangat sepele, tapi entah kenapa mendengar sebutan Novi membuatnya ingat pada seseorang.
" Minggu depan suamiku berulang tahun. Aku ingin kau datang dan makan malam sebagai ucapan terimakasihku! Ini kartu namaku. Aku sangat berharap kau bisa datang!" Tutur nyonya Belinda tersenyum.
" Apa? Astaga ribet sekali. Oh Tuhan, kenapa aku harus bertemu orang ini?"
.
.
Jonathan
Siang jelang sore ini, hatinya diliputi kebahagiaan. Wanita itu ada di kota yang sama dengannya pikirnya. Benar-benar suatu mukjizat.
Namun, baru saja ia merasakan hati yang senang, kedatangan orangtuanya seketika melenyapkan semua itu.
" Siapa kamu? Kenapa bisa ada di sini?" Sinis seorang wanita yang nampak mengajak bermain Miko. Kucing kesayangan Jonathan.
Suara Mama Weni membuat Jonathan buru-buru menuruni anak tangga. Ia mendecak tak suka kala Mamanya nampak memarahi Yusuf.
" Sa..saya..."
" Ada apa Ma?" Jonathan datang dengan wajah datarnya. Membuat ucapan Yusuf menguap percuma ke udara.
Pria itu dengan sigap menarik lengan kurus Yusuf lalu seketika menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
" Dia Yusuf, dia yang merawat Miko!"
" Apa? Sejak kapan kau peduli pada kucing - kucing itu?" Tanya Mama tak suka.
" Ada apa Mama kemari?" Bertanya dengan wajah tak kalah sengit.
" Mama cuma mau mengingatkan, kita ada undangan pekan depan ke Tuan Janson. Kau harus datang bersama Feli. Jangan permalukan keluarga kita. Ingat, tuan Janson adalah orang berpengaruh di jajaran pembisnis muda seperti kamu!"
Circle kehidupan hedon yang ingin terus berkesinambungan membuat Nyonya Weni benar-benar menjaga siapa teman Jonathan.
" Siapa itu Paman?" Tanya Yusuf sesaat setelah Mama Weni hilang di balik pintu rumahnya.
" Itu Mamaku!" sahutnya datar.
Namun yang ada di pikiran Jonathan saat ini bukan soal keluarganya, tapi wanita yang menjadi ibu angkat dari bocah yang ada di belakangnya itu.
" Apa Paman akan datang ke pesta ulang tahun? Apa aku boleh ikut? Aku belum pernah melihat pesta."
.
.
.
.
To be continued...