The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 66. Kesadaran insan biasa



...🌹🌹🌹...


Andra


Malam ini, ia dan beberapa petugas dari DOKPOL tampak berada di kamar mayat, untuk melakukan serah terima.


Ya, malam itu team dari kepolisian akan mengambil alih mayat Feli dan akan melakukan otopsi, guna melengkapi berkas yang bisa digunakan untuk menjerat tersangka.


Ia membuka penutup wajah mayat Feli dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Berkali-kali menghela napas manakala ingatannya kembali saat ia dan wanita itu pernah melewatkan malam bersama.


" Aku nggak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku belakangan ini Fel. Tapi jelas, sejak wanita itu datang, aku ngerasa aku ini ngerasa salah karena menjalin hubungan yang nggak sehat sama kamu. Tapi ...walau aku memang berniat ninggalin kamu, yang pasti aku juga gak ingin kamu kayak gini"


Di samping petugas lain yang sibuk melakukan persiapan dan pengecekan, Andra nampak menahan air matanya yang kini sudah berjejalan di pelupuk matanya.


Sungguh, walau ia tak ingin lagi bersama wanita itu, tapi ia juga tak mengharap kejadian ini menimpanya. Ia memejamkan matanya lalu berusaha menenangkan diri di hadapan Feli yang telah terbujur kaku.


" Ampuni aku dan dia Tuhan..."


.


.


Denok


Ia dan Jonathan sudah duduk di atas meja makan bersama Kelvin. Sedikit berlega hati karena pria itu mau makan saat ini.


" Bagaimana dengan Tante Weni?"


Kelvin bertanya dengan tatapan ragu usia menandaskan segelas air putih lalu mendaratkan gelas kaca itu keatas meja.


Denok yang mendengar pertanyaan itu, kini tampak mendengar dengan saksama. Meski juga tampak khawatir, namun wanita itu mencoba bersikap biasa saja.


" Dia mengalami depresi. Keadaannya kacau banget!"


Seru Jonathan dengan wajah datarnya. Mematahkan segenap kekhawatiran yang kini bersarang didalam hati dua manusia itu.


Kelvin mengangguk paham. " Di hold dulu dong penanganannya?" Tanya pria itu masih penasaran.


Jonathan mengangguk kembali dengan pandangan wajar, " Delon dan siapin pengacara buat ngurus kasus ini!"


Kelvin turut mengangguk, " Delon barusan kasih kabar kalau orangtuanya Feli nuntut Tante Weni tadi. Kamu udah..."


Jonathan kembali mengangguk untuk kesekian kalinya. " Mereka udah nelpon aku tadi. Mereka minta maaf ke aku. Katanya..mereka bahkan enggak tahu jika Feli dan Mama..."


Jonathan mendadak tercekat demi mengingat hubungannya bersama Feli selama ini.


" Kalau elu gak kuat gak usah di bahas. Remember Jo, life must go on, apapun yang diizinkan oleh Tuhan untuk terjadi, kita harus percaya jika itu akan membawa kebaikan untuk kita!"


Denok mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan oleh Kelvin. Sama dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ia mungkin tak akan bertemu dengan keluarga Tante Rania, bahkan pria sebaik Jonathan jika ia tak menemui jalan sulit bersama Lintang dulu.


" Udah malam, aku pulang dulu. Tadi...aku bilang cuma sebentar. Mereka nggak tahu kalau aku kesini!"


Jonathan mengangguk mengerti. Lagipula, ia juga melihat guratan penuh kelelahan di wajah cantik Denok.


Kelvin yang melihat interaksi keduanya dibuat seperti kambing congek disana. Jonathan yang melihat Kelvin bangkit dari duduknya, seketika menatap heran ke arah pria itu.


" Aku mau nganter dia!"


" Kamu?" Tanya Jonathan murung yang merasa tak enak dengan sahabatnya itu.


"Aman...nanti aku balik kesini lagi Jo!"


Jonathan terlihat mencibir. Sahabatnya itu pasti menyimpan maksud lain karena bersemangat mengantar Denok.


.


.


Di dalam mobil.


Kelvin tertegun dengan wajah muram kala mendengar ucapan Denok, jika Karin mungkin akan kembali ke kota S.


" Yang bener kamu Nov?"


Denok mengangguk.


" Karin itu kayak aku, nggak punya siapa-siapa. Tapi bukan berarti bisa seenaknya memanfaatkan kebaikan orang lain untuk numpang hidup!"


" Soal Yusuf, Yanti mau bawa anak itu berobat ke luar negeri. Aku setuju aja, aku nggak punya duit sebanyak itu jika harus menahan. Lagipula, aku udah kenal Yanti lama banget. Mulai dari jaman kita masih jadi gembel, sampai dia jadi sultan. Dan saat aku ngerasa itu mungkin rejekinya Yusuf, ya aku... langsung oke."


Entah mengapa, hati Kelvin terlihat gelisah demi mendengar hal itu. Bukan karena apapun, tapi karena mengetahui fakta jika Karin tak berminat untuk tinggal di kota ini.


Setibanya mereka dikediaman Jodhistira, Kelvin yang kini berada di ambang pintu bersama Denok tampak ragu untuk masuk.


" Tenang, aku panggilin!"


Kelvin seperti terhenyak saat mendengar perkataan Denok. Sama sekali tak mengira jika wanita pethakilan itu tahu isi hatinya.


Denok masuk dan mendapati para anak-anak telah tidur. Namun ia tersenyum demi melihat Karin yang masih asik menonton drama Korea pada layar besar diruang tengah itu.


" Rin!" Sapa Denok yang membuat Karin terlonjak kaget.


" Sialan ni anak, lagi tegang malah ngagetin!"


Denok terkikik-kikik saat melihat wajah Karin yang kesal.


" Dah malam bukannya tidur malah lihat adegan yahud! Entar pingin malah ribet sendiri!" Cibir Denok demi melihat adegan enak-enak yang terputar pada layar besar itu.


" Udah lama gak nonton tipi. Tipi orang gedongan mah beda ternyata. Lagian...dari mana sih lu?" Tanya Karin sedikit sebal dengan wajah penuh selidik.


" Jangan banyak tanya, ada yang nungguin no diluar!"


Membuat Karin mengerutkan keningnya.


" Siapa?"


"Lihat aja sendiri!"


Karin mendecak kala melihat Denok yang justru ngeloyor pergi usai mengatakan hal itu.


" Lah kok malah pergi, siapa yang nungguin. Nok..woy!!! CK!"


Ia akhirnya menatap beberapa saat pemain film yang tengah berciuman dengan lawan jenisnya itu dengan tatapan ingin.


Namun, sedetik kemudian ia terlihat enggoyangkan kepalanya sejenak agar otaknya tidak terkontaminasi.


Sialan!


Sepeninggal Denok, ia yang penasaran akan siapa orang yang tengah menunggunya itu, tampak menuju ke arah luar.


" Awas aja dia bohong!" Gumamnya seraya menarik daun pintu besar itu.


Dan tiba-tiba, ia sangat terkejut demi melihat Kelvin yang duduk seraya tersenyum kaku ke arahnya.


" Kelvin?"


Kecanggungan menyeruak. Untuk apa pria itu datang malam-malam begini?


" Kamu ngapain malam-malam disini?" Ucapnya mengeluarkan pertanyaan yang muncul dari dalam otaknya.


" Novi... maksudku Denok gak ngasih tahu ke kamu kalau aku..."


Karin mengerutkan keningnya. Jadi yang di maksud Denok adalah Kelvin? Oh ya ampun.


" Masih jam sepuluh malam. Mau ngopi nggak? Aku udah izin Denok tadi!"


Karin menatap Kelvin yang tersenyum ragu ke arahnya. Mungkin takut jika dia menolak. Tapi sejurus kemudian, ia tampak berpikir.


" Boleh lah, toh aku mau pulang bentar lagi. Masa' disini gak aku manfaatin buat jalan!" Batin Karin mensugesti diri.


" Baiklah. Tapi...kau kan yang menjemput. Jadi...kau juga yang harus mengantar. Karena aku bukan jelangkung!" Seru Karin dengan wajah tak mau rugi.


Membuat Kelvin terkekeh.


" Setuju!"


.


.


.