
...🌹🌹🌹...
Denok
Saat pintu lift terbuka, ia kembali mengangguk saat dokter ramah itu menyapanya. Ingatannya mendadak melesat melanglang buana.
" Apa itu dokter yang sempat memeriksa Yusuf dulu?" Ia bergumam saat mendadak teringat akan nama yang tertera dalam ID card tadi.
" Alah bodo amat!" Gumamnya ogah mau pusing. Mungkin ia mungkin tidak. Lagipula, berprofesi sebagai dokter memang mengharuskan mereka berada di suatu tempat demi keperluan kemanusiaan bukan?
Setibanya dikamar, ia menelpon Karin yang saat ini juga mengeluh bingung pekerjaan.
" Elu yakin mau kerja jadi tukang cuci piring?
" Gimana lagi, katamu jangan jualan tempe dulu biar aman. lagipula, alasan Yusuf pergi karena biar aku enggak kerja begini lagi Rin. " Ia menjawab lesu seraya menatap langit-langit kamar hotel.
"Dia bilang gitu?"
Denok mengangguk seraya berguling diatas kasurnya. " Mumet banget Rin. Aku hari ini mau nyari kost yang dekat aja!"
" Kenapa gak minta tolong temanmu yang disana? Katamu, dia kaya!"
" Ogah lah. Enggak pernah aku hubungi, masak nelpon - nelpon minta sumbangan. Miskin ya miskin, tapi pantang bagiku buat ngemis!"
" Ya kali aja mau jadi pengemis kelas atas!"
Ia turut cekikikan saat suara Karin di ujung telepon tampak turut tertawa. Sesederhana itu sebenarnya ia mencari pelipur laranya.
.
.
" Permisi!" Ia malam itu nampak menemui orang yang yang ada di rumah kost yang telah ia booking beberapa saat lalu. Mendapat info kamar kost dari akses google yang selalu menjadi sumber pemecahan masalah tercepat saat ini.
Rencana yang sudah ia petakan adalah, ia akan meminjam uang kepada pria licik itu ( Delon) , lalu membayarkan uang itu agar Yusuf bisa ia bawa ke kost, lalu setelahnya ia akan bekerja sampai keadaan aman. Setelah ia membayar hutang, ia akan kembali ke kota S.
Fix, itu rencana yang sempurna.
Tapi, mari kira lihat, apa ekspektasi selalu sesuai dengan kehendak?
" Mbak Denok?" Tebak seorang pria gemuk yang memakai kacamata tebal dengan rambut cepak yang menyambut kedatangannya .
" Buset, kenapa ada buntelan kentut disini?"
" Iya benar. Ini kost keluarga Cemara?" Tanyanya mencoba menepikan makhluk unik di depannya.
" Betul. Saya Wawan, anak yang punya kost. Mari masuk, ibuk masih pergi hajatan!"
" Buset, anaknya segini, gimana babonnya?"
" Gimana mbak?" Tanya Wawan yang mendengar suara seperti gumaman.
" Ah enggak, saya agak heran kenapa banyak pohon Cemara di kota padat kayak gini!" Ia meringis mencari alibi.
" Ini di tanam sejak kecil dulu mbak sama Ibuk. Mangkanya dinamakan keluarga Cemara!"
Membuat Denok mengangguk karena selamat dari kesialan mulutnya yang susah diatur itu.
Kost-kostan itu terdiri dari dua lantai, tiap kamarnya terdapat kamar mandi juga dapur kecil. Sangat pas dengan harga yang harus dibayar tiap bulannya. Sudah termasuk listrik dan air.
" Kata Ibuk, mbak istirahat saja. Besok pagi baru menghadap ibuk buat bayar. Ini kuncinya. Kalau mau keluar, paling malam jam 11. Saya permisi dulu, kalau ada apa-apa, nomor telpon saya ada di tiap tembok di bawah saklar!"
Ia merinding saat laki-laki gendut itu menaik-turunkan alisnya sewaktu memungkasi seremonial pengenalan diri itu.
" Ah kampret, daki leher setebal selai Nutella bisa pede begitu dia. Hih!" Ia buru-buru menutup pintu kamarnya seraya bergidik ngeri demi mengingat Wawan.
.
.
Malam ini, ia datang ke kediaman Bu Weni bersama Jonathan atas permintaan ibu mertuanya yang mengajak mereka makan malam dirumah beliau.
" Jangan lupa Fel, sebentar lagi kita ada undangan pesta. Pasti banyak yang bertanya terkait kalian yang belum memiliki momongan!"
" Jadi, sebaiknya siapkan jawaban yang elegan!"
Jonathan hanya diam tanpa ekspresi saat menikmati makan malamnya. Andai Mamanya tahu, jika wanita yang menjadi istrinya lah saat ini yang enggan memiliki anak.
Bukannya menjawab selorohan dari mertuanya tercinta, Feli justru nampak pias dan sibuk menekuni ponsel, manakala pesan yang masuk ke ponselnya membuatnya panik.
" Aku di kota J beberapa hari. Bisa ketemu?"
Feli mengumpat dalam hati. Tak mengira jika Andra akan berani mengirimkannya pesan bahkan saat dia sudah memperingatinya.
" Fel?"
Pertanyaan bernada mengulang dari Mamanya membuat Jonathan seketika melirik istrinya.
" Amm maaf Ma, clientku yang kemarin minta aku kirimkan detail bahan!" Bohong Feli meringis.
" Kau sedang makan, untuk apa kau membuka ponsel?" Ketus Jonathan yang tidak suka sikap tak sopan Feli yang malah sibuk bermain ponsel saat makan.
" Tidak apa-apa Jo, menantu Mama ini memang desainer terkenal, jadi wajar sekali kalau sangat sibuk. Teman-teman mama di arisan selalu memuji kamu Lo Fel!"
Dua laki-laki yang berada dalam satu meja makan itu hanya diam dan lebih memilih untuk melanjutkan makan malamnya. Jonathan sangat tidak suka sebenarnya dengan sikap Feli.
" Aku usah siapain gaun buat acara lusa buat Mama. Besok pagi Feli antar kemari Ma!"
Wanita itu benar-benar pandai menjilat sang mertua.
" Oh sayang, Mama seneng banget. Gak salah punya menantu smart seperti kamu!"
Jonathan yang kini tengah meminum air hanya bisa melirik tak suka ke arah dua wanita itu. Entah mengapa, Jonathan merasa jika Mamanya telah dibutakan oleh gemerlap dunia.
Beberapa jam kemudian.
Feli yang geram kepada Andra yang terus menerus menelpon dirinya akhirnya mau tak mau menemui Andra.
Ia berdalih kepada Jonathan untuk ke butik guna menemui anak buahnya yang tengah lembur mengerjakan gaun.
" Sudah aku katakan, jangan hubungi aku saat aku dirumah!" Feli yang saat ini menemui Andra di sebuah tempat makan nampak marah.
" Hey, kenapa kau marah? Aku hanya ingin meminta balas budimu. Aku akan bertugas disini beberapa hari, apa kau tidak mau mentraktirku makan di kotamu?" Ucap Andra dengan tatapan yang sulit di artikan.
Feli datang kesana sebenarnya karena lebih ingin membuat Andra tahu batasan. Ia tahu mereka telah melakukan one night stand bersama, tapi bagi Feli, semua itu karena ia hanya ingin menyalurkan hasrat sebab ia bertengkar dengan Jonathan beberapa waktu lalu.
Namun, siapa sangka Denok yang malam itu ingin makan makanan mahal untuk terkahir kalinya sebelum ia akan menjadi babu di restoran, menghentikan langkahnya saat melihat wanita yang ia ketahui sebagai istri dari Jonathan ada disana.
" Sialan, ketemu si sundel bolong aku!" Gerutunya keras dan membuat pelayan yang kebetulan melintas di depannya ikut melihat ke arah pandang Denok.
" Tunggu dulu, sedang bersama siapa dia? Kenapa laki-laki itu sangat familiar?" Ia memicingkan matanya demi memperjelas objek yang ia lihat.
Melihat Feli ada disana, membuat selera makan Denok mendadak menguap. Membuatnya memilih untuk pergi daripada harus merasa sakit hati.
.
.
.