The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 10. Kasih tak langsung



...🌹🌹🌹...


Denok


Ia berjalan lesu diatas peron stasiun kota J sesaat setelah ia dan para penumpang lainnya telah tiba pada tujuannya.


Rencananya, ia akan check in di hotel terlebih dahulu. Rasa tulang ekornya terasa persis seperti saat dia datang ke pernikahan Jodhi dan Lintang.


Sengaja tak mau merepotkan Lintang. Meski ia tak berjanji, jika hal itu akan bisa ia lakukan nanti.


Namun, siapa sangka, sebuah banner bertuliskan nasi pecel membuat perutnya berdendang.


Dia lapar.


" Pak, makan sini ya, gak usah pakai lodeh!" Ucapnya sesaat setelah meletakkan bawaannya ke atas lantai granit itu.


Ia membuka ponselnya sambil melihat jam. Jam tujuh pagi. Jika saat berangkat semangatnya berkobar, namun saat ini ia justru menjadi kebingungan sebab harus memulai mencari dari mana.


" Dari mana mau kemana mbak?" Tanya pedagang itu kepada Denok saat mengangsurkan pesanan Denok.


Sebuah nasi putih yang berbaur dengan buliran nasi jagung, sawi hijau, kecambah, mentimun dan siraman saus kacang yang legit dan nampak pedas sebab kulit cabai yang begitu melimpah, jeroan ayam, serta peyek udang yang nampak garing. Membuat wanita itu fokus terhadap sajian dengan kepulan asap putih diatasnya.


" Dari timur mau ke barat Pak!" Sahut Denok singkat yang memang fokusnya telah beralih pada sajian sederhana yang menggiurkan itu.


Membuat pemilik warung nasi itu menatap heran dengan jawaban yang di lontarkan oleh Denok.


Wanita aneh!


Rasa lapar itu tak bohong, terbukti nyata saat piring itu telah kosong, licin tandas tak bersisa, hanya dalam waktu beberapa menit saja.


" Eeiikkk!"


Sendawa yang keras itu membuatnya segera menutup mulutnya sebelum malu menggantikannya.


Saat meneguk segelas teh panas, dari tempatnya duduk, ia melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di tepi jalan tepat di samping pintu masuk stasiun.


Nampak seperti tunawisma.


" Pak, bungkusin dua lagi. Taruh box aja ya !" Pinta Denok yang sepertinya hendak melakukan sesuatu.


Usai membayar makanan, ia bergegas menuju ke arah depan untuk menunggu taksi online yang ia pesan untuk menuju hotel. Sembari menunggu taksinya datang, ia mendekati bapak tua itu tanpa risih.


" Sarapan Pak!" Ucapnya sembari menyerahkan dua nasi beserta sebotol minum untuk kakek itu.


Membuat bapak itu mendongak menatap Denok.


" Untuk saya?" Tanya bapak itu seolah memastikan.


Denok mengangguk, " Belum sarapan kan?"


Membuat tangan bapak itu seketika terulur untuk meraih bungkusan dengan plastik putih yang semula di bawa oleh Denok.


Sejurus kemudian, Denok nampak mendudukkan tubuhnya tepat di samping bapak itu tanpa rasa sungkan.


" Ngapain pagi-pagi udah disini?" Tanya Denok sembari menggapit sebatang rokok sebab kedua tangannya masih sibuk mengaduk tas mencari korek.


" Kata orang suci, dimanapun tempat adalah rumah bagi semua makhluk!" Jawab Bapak itu dengan tatapan menerawang ke arah angkasa biru pagi itu.


Membuat Denok seketika melirik bapak di sampingnya, sesaat sebelum ia menyalakan rokoknya.


Mutiara kehidupan.


Lagi, ia bisa mendapat pengajaran hidup lewat orang-orang sederhana seperti beliau.


"Bapak rumahnya mana? Gak ada yang nayriin?" Tanya Denok sesaat setelah menghisap rokoknya.


" Saya di tinggalkan anak istri saya!"


Membuat Denok seketika tertegun. Ragam kejahatan manusia benar-benar beraneka. Namun, ragam bentuk kesabaran juga lebih banyak.


" Tapi, kalau kamu benar-benar dekat dengan Tuhan , maka dimanapun tempat kamu tidak akan kuatir sama rezeki!"


Membuat Denok yang asik menghisap rokoknya itu kini tertegun menatap tanah di depannya. Seolah menampar dirinya saat ini.


" Tapi kalau gak kerja, dapat dari mana pak rezeki!"


" Boleh percaya boleh tidak. Rezeki yang Tuhan beri itu pasti cukup untuk hidup. Untuk makan lah. Tapi, Yo jelas tidak akan pernah cukup jika untuk memburu gaya hidup!"


" Seperti saat ini. Kamu kasih saya rezeki, kalau bukan karena Tuhan baik sama saya, mustahil hati kamu di gerakkan!"


Luar biasa.


Di balik rupanya yang dekil dan kotor, tersimpan hati sebersih mutiara di lautan.


" Bapak nggak pulang ke rumahnya bapak?"


" Tidak untuk saat ini!"


Denok mengangguk. Ia percaya, tak satupun manusia di muka bumi ini yang luput dari yang namanya persoalan hidup. Membuat sejumput rasa syukur mendadak menyelinap kedalam relung hatinya.


" Kamu sepertinya bukan orang sini?" Tanya bapak itu meladeni Denok.


" Iya, ada urusan mendadak !" Jawab Denok santai di sela-sela kegiatan merokoknya.


Kini, kakek itu menjadi tertegun demi melihat Denok yang asik merokok. Menatap wanita ayu yang nampak apa adanya, dengan tingkah ektrem.


" Rokok Pak?" Tawar Denok mengangsurkan rokok kepada bapak itu.


Laki-laki itu menggeleng, " Saya tidak punya jaminan kesehatan. Saya tidak mau sakit!" Ucap Bapak itu berkelakar. Membuat Denok terkekeh.


TIN


" Ibu Deni?"


" Doakan saya bisa nemuin anak saya Pak. Ini...buat beli makan siang sama makan malam nanti!"


DEG


" Nemuin anak?" Batin Bapak itu bingung.


Kini Bapak tua itu nampak melongo demi melihat wanita unik yang murah hati itu, rupanya memiliki persoalan hidup.


Bapak itu nampak turut tersenyum, kala Denok melempar senyum ke arahnya, sesaat sebelum mobil itu melaju.


Kini, kakek itu terbelalak demi melihat tiga lembar rupiah bergambar proklamator yang saat ini ada dalam genggamannya.


" Siapapun kamu, semoga anak yang kamu cari segera kamu temukan. Semoga keberuntungan menyertaimu!" Ucap Bapak itu tulus dari dalam hati, sembari mengiringi mobil yang semakin menjauh dari pandangannya dengan tatapan berkaca-kaca.


.


.


Delon


Ia mengumpat, menggerutu, serta mendengus sepanjang perjalanan. Waktu yang harusnya ia gunakan untuk berendam dalam bak air panas, kini harus ia ganti dengan buru-buru di jalan raya demi secuil info bila Yusuf kabur.


Terus kenapa? Kenapa tidak membiarkannya pergi saja?


" Apa bos sudah tidak waras?" Ucapnya kesal.


Hingga, ia yang kini tiba di kos-kosan di jam yang masih pagi itu, terkejut kala melihat Jonathan yang nampak bingung.


Benar-benar aneh.


" Lagian kenapa si bos gak lihat kanan kiri dulu sih kalau mau nelpon?" Dengus Delon yang masih saja kesal.


" Biarin aja lah dia pergi bos!"


" Cari dia!" Ucap Jonathan menatap tajam Delon.


" Apa? Tapi..."


" Aku tidak tahu kenapa aku kasihan dengan anak itu De. Aku tidak tahu alasannya!" Timpal Jonathan yang nampak tak mengerti dnehan dirinya sendiri.


Membuat Delon menatap bosnya tak percaya.


Jonathan memang merasa kasihan dengan bocah dan tak tahu apa sebabnya. Apalagi, ia adalah orang yang membuat Yusuf terluka.


Yang jelas, nuraninya saat ini begitu terpusat kala mengetahui bila anak itu berasal dari kota yang memuat beberapa memori dalam hidupnya.


.


.


Yusuf


Pria tampan itu jahat sekali pikirnya. Sudah tidak mau memberinya pekerjaan, malah mau mengirimnya kembali ke kota S.


Ia tak mau pulang saat ini. Tidak!


Ia harus bekerja. Keras kepala sekali memang. Tapi, apa mereka tahu bila mendengar Mamak di hujat itu sangat tidak menyenangkan sekali?


Ia berlarian menyusuri pinggiran kali yang mengalir panjang dengan bau yang menyiksa hidungnya. Bahkan, ia terus berlari walau perutnya kosong.


Sial!


Lagi dan lagi, Yusuf menyadari bila rasa lapar itu tidaklah menyenangkan.


Setibanya ia di jalan raya, ia berjalan sembari sesekali menoleh ke arah belakang. Berharap tak ada yang mengejar lalu menangkapnya. Hingga, tak terasa ia tiba di depan stasiun dan duduk mengatur napas yang kembang kempis di sebelah bapak tua yang menatapnya heran.


"Mau minum? Kebetulan aku punya dua" Tawar laki-laki dengan tampilan agak lusuh. Nampak memperhatikan dirinya yang tersengal-sengal.


Yusuf seketika menoleh menatap kakek yang kini tersenyum ramah dengan wajah berbinar.


" Terimakasih!" Sahutnya langsung menerima sebotol air mineral.


Merasa tenggorokannya kering sebab bagai berolahraga. Bahkan di saat ia telah selesai mandi. Ya , Yusuf langsung meneguk sebotol air itu dengan rakusnya.


Melihat Yusuf yang kelelahan dan tak sungkan dengan dirinya yang berpenampilan ala kadarnya, Bapak itu merasa bila Yusuf bocah baik.


" Makanlah, aku baru dapat rezeki pagi ini!"


Yusuf tercenung menatap dua bungkus nasi yang membuatnya terpukau. Ia lapar, dan rezeki sudah ada di depan mata.


Berkeliaran di kota orang membuat Yusuf tahu bila kehidupan itu memang sulit.


" Jangan takut, makanlah. Aku memberikannya untukmu. Nasi ini bersih, masih hangat juga. Ambillah!" Ucap Bapak it lagi meyakinkan Yusuf, demi sorot yang mengandung kadar keraguan itu.


Kini, Yusuf ikut tersenyum saat bapak tua itu tersenyum kala menyerahkan sebungkus makanan untuknya.


" Terimakasih Pak. Saya memang lapar!"


Dan, mereka berdua nampak akrab sembari menikmati sarapan lezat sambil beberapa kali mengobrol ringan.


Mereka, seketika menjadi orang paling damai di dunia.


.


.


.


.


To be continued...