The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 43. Sikap seorang sahabat



...🌹🌹🌹...


Jonathan


Bagai orang buta yang kehilangan tongkat, Jonathan kini mengalami keadaan sulit karena tidak tahu langkah apa yang harus ia putuskan.


Nuraninya yang jernih, selama ini menuntun pemikiran luhurnya untuk terus tunduk terhadap permintaan Mama Weni. Tapi seiring berjalannya waktu, apa yang telah ia lakukan, tak berbanding lurus dengan apa yang kini meresap kedalam relung hatinya.


Tentang dirinya yang harus mengakui bila jiwa dan raganya memang terjerat cinta wanita nakal itu. Kebaikan, ketulusan, pengertian, serta nilai-nilai kebajikan yang nyaris tak orang lain lihat itu, tampaknya membius Jonathan dan membuat laki-laki itu jatuh hati.


Kemarahan masih nyata berkobar. Tapi hatinya benar-benar merasa plong, seusai mengatakan hal tersebut. Perkataan yang bahkan nyaris tak pernah menyelinap kedalam otaknya.


Kini, dengan isi kepala yang di paksa berpikir taktis tentang bagaimana ia setelah ini, Jonathan terus melajukan mobilnya tanpa tahu kemana arahnya.


.


.


Denok


Usai tugasnya tertunaikan dengan baik, wanita itu tampak buru-buru dikarenakan Windi baru saja mengabari jika Yusuf memerlukan transfusi darah.


Stok darah yang cocok dengan darah Yusuf di rumah sakit kebetulan sedang kosong. Membuat wanita itu kalang kabut.


"Golongan darah B positif hanya bisa menerima golongan darah dari dua tipe golongan saja, yaitu B dan O. Hal ini dikarenakan golongan B positif memiliki antibodi-A yang akan bereaksi jika menerima golongan darah A dan Ab yang memiliki antigen A dalam darah mereka."


Bahkan penjelasan dari tenaga kesehatan melalui sambungan telepon beberapa menit yang lalu, terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia lari tunggang langgang bahkan menabrak pundak Tika yang kedapatan akan masuk kedalam pantry.


Kena kau!


" Wanita itu semakin hari semakin kurang ajar saja!" Geram Tika sesaat setelah ia terhuyung kesamping. Menatap Denok yang kini terbirit-birit dengan tatapan penuh kebencian.


Denok yang hendak mencegat taksi konvensional di depan restoran besar itu, mendadak berjingkat kaget manakala sebuah klakson mobil terdengar dan mendekat ke arahnya.


" Hy, Nov? Kita ketem...."


" Kebetulan kamu lewat sini, mau kemana? Bisa tolongin anterin aku nggak?"


Kelvin yang semula ceria kini mendadak menjadi serius saat melihat wajah panik Denok.


" Ada ap..."


" Bisa atau nggak itu aja, aku buru-buru!" Sahut Denok tak memberikan kesempatan Kelvin untuk sekedar kepo.


Kelvin seketika menelan ludahnya manakala melihat Denok yang tenang kalang kabut.


" Bisa-bisa, kemana?"


" Kerumah sakit!"


" Hah?"


Di dalam mobil.


Kini, Kelvin tak hentinya melirik Denok yang sibuk bersafari jari dengan benda pipih. Entah siapa yang tengah berbalas pesan dengan wanita unik versi limited edition itu. Terlihat benar-benar serius.


" Halo, iya saya sedang dalam perjalanan, gimana sus apa stok darahnya belum ada?"


Kelvin tampak menatap Denok lekat-lekat saat wanita itu tengah menjawab telepon yang sepertinya dari pihak rumah sakit dengan wajah serius.


" Apa? Belum ada ya?" Cetus Denok muram.


Kelvin nampak serius kala menguping pembicaraan Denok dengan seseorang melalui telepon itu. Seolah tak ingin ketinggalan satu katapun.


" Siapa yang memerlukan darah?" Kelvin yang melihat Denok murung usai sambungan teleponnya putus, kini memberanikan diri untuk bertanya.


" Anakku. Golongan darahnya B+. Dan itu agak sulit di dapat!" Jawab Denok dengan wajah putus asa dan isi kepala yang mumet.


Membuat Kelvin seketika tertegun.


" Golongan darahku O. Aku sehat, aku bisa mendonorkan dar..."


" Apa kau serius?"


Bukannya menjawab, Kelvin malah menatap tangan Denok yang kini berada di atas lengannya. Ia ingin tersenyum demi melihat Denok yang kini menatapnya penuh harap.


" Hidup sulit macam apa yang kau alami selama ini sebenarnya? Kenapa wanita cantik sepertimu harus menjual diri?"


Kelvin seketika terkekeh demi melihat Denok yang kini mati gaya. " Kenapa kau tidak menelepon Jonathan?" Tanyanya mengalihkan topik guna mengurangi kecanggungan.


Membuat Denok seketika menoleh dengan kening berkerut.


" Aku sudah tahu jika kau dan Jonathan..."


" Sebaiknya kita tidak membahas itu!" Potongnya cepat saat menyadari akan kemana arah topik pembicaraan itu.


" Percayalah. Kau tidak akan pernah bisa menyelami apa yang Jonathan lakukan. Bahkan dari hal yang paling menyebalkan sekalipun. Anak itu penuh perhitungan yang cermat. Setiap hal yang dia lakukan, pasti sudah ia pikirkan matang-matang. Termasuk meninggalkan mu waktu itu!"


Denok yang mendengar Kelvin membahas hal itu, seketika menjadi canggung. Apa-apaan ini, kenapa ujung-ujungnya membahas Jonathan


" Kau tidak mengenalku, jadi jangan membahas hal yang kurang perlu!"


" Bukan tidak kenal, lebih tepatnya belum!"


" Dengar! Aku memang tidak tahu apa yang kalian alami dulu. Tapi percayalah, dia masih mencintai mu hingga detik ini!"


Membuat Denok mendecah tak percaya demi melihat Kelvin yang berapi-api kala mengutarakan hal itu.


" Aku mengatakan hal ini bukan karena apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu jika Jonathan melakukan hal itu demi keselamatan mu!"


" Apa yang kau katakan?" Tatap Denok dengan wajah terkejut.


Kelvin nampak menghela nafasnya sesaat sebelum ia hendak mengutarakan sesuatu.


" Setelah ini Jonathan pasti akan membunuhku!" Kelakar Kelvin demi teringat jika hal ini harus ia jaga kerahasiaannya.


Membuat Denok semakin mengernyit heran.


" Jonathan melakukan hal itu karena rasa tak enak hati kepada Mama angkatnya. Singkat kata, Tante Weni itu meminta Jonathan menikahi Feli sebagai bentuk balas budi!"


Dan, penuturan Kelvin barusaja sukses membuat Denok tercenung.


" Kau pasti kaget kan?"


" Tapi kenapa dia tidak menemuiku lalu..."


" Bukankah tadi aku sudah mengatakan di awal. Semua itu demi keselamatanmu!"


Hati Denok seketika terasa sesak. Apa yang telah di beberkan oleh Kelvin barusan, spontan memerintahkan otaknya untuk memutar kembali, beberapa kejadian yang memang sulit untuk ia pahami.


Tentang Jonathan yang mendadak menjadi clientnya, lalu keesokan paginya biaya rumah sakit Yusuf tertanggung. Dan masih banyak lagi termasuk ia yang mendapatkan pekerjaan secara mendadak.


" Selama ini dia sebenarnya mencarimu. Tapi sepertinya, kau sangat pandai bersembunyi!"


" Apa kau juga tahu, bahkan kau saat ini mengenakan seragam restoran milik Jonathan!" Seru Kelvin dengan terkekeh.


Membuat Denok seketika mendelik.


" Apa kau bilang? Seragam ini..."


" Kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Tapi... kenapa wajahmu sangat terkejut begitu?" Kelvin yang memang ingin membuat dia orang itu bersatu sengaja melanggar janjinya kepada Jonathan untuk keep silent.


Dengan keterkejutan yang masih sulit ia cerna, Denok seketika lesu manakala ia menyadari jika ia telah salah sangka terhadap Jonathan. Menyeretnya ke dalam jurang penyesalan.


Namun, saat mereka tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing, ponsel Kelvin berdering. Membuat perhatian Denok teralihkan.


" Halo De, ada apa tumben kau meneleponku?" Jawab Kelvin yang mengetahui bila itu adalah Delon.


" Pak, Mobil Pak Jonathan mengalami kecelakaan. Saya sudah ada di lokasi, tapi saat ini saya belum bisa menemukan beliau! " Seru Delon dengan suara yang terdengar panik.


" Apa kau bilang?"


.


.


.


.


.