
...🌹🌹🌹...
Denok
Ia bahkan berkali-kali menatap objek di depannya, guna memastikan jika yang kini berdiri di depannya itu, bukanlah pria menyebalkan itu. Pria yang pernah membuatnya merasa berharga, sekaligus pria yang berhasil membuatnya seperti sampah dalam waktu dekat.
Jonathan.
Namun sayangnya, yang kini berdiri di depannya, memang pria menyebalkan itu. Sial!
"Apa yang kau lakukan disini? "
Terpaan napas hangat dan harum itu malah membuat otaknya berkabut. Tak bisa berpikir taktis, tentang bagaimana cara melarikan diri.
" Apa-apaan kau ini!"
Denok mendorong dada bidang Jonathan dengan keras saat pria itu membuatnya mentok ke dinding. Walau sebenarnya, upayanya itu sangat sia-sia. Jonathan bahkan tak mundur satu inchi pun.
Haish!
" Kenapa kau disini?" Tanya Jonathan dari jarak yang semakin dekat.
" Memangnya urusanmu apa?" Ketus Denok yang sedikit ketakutan dengan wajah yang terus menoleh, sebab tak berani menatap Jonathan.
" Aku bertanya serius Nov!" Ucap Jonathan lagi, kini lebih serius. Membuat wanita itu seketika mendongak karena tersentak.
" Dan aku tidak punya kewajiban untuk menjawab keseriusanmu itu!"
Kini, pandangan mereka terkunci selama beberapa saat. Membuat Jonathan gemas dengan jawaban wanita sulit itu.
" Jangan bilang kau dan Kelvin..."
" Oh tentu saja. Aku tidak sepertimu yang terikat dengan seorang istri dari keluarga terhormat! Aku bebas untuk berbuat apa saja!" Potong Denok cepat. Menatap Jonathan dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
" Dan satu lagi!" Ia menatap tajam wajah tampan itu, " Istrimu memintaku untuk mengganti vas sialan itu bukan? Tentu saja pria kaya seperti Kelvin pasti bisa menolongku nanti!"
" Apa maksudmu. Apa kau tidak ingat permintaan Yusuf?" Entah mengapa, baru mendengar hal itu saja Jonathan seketika naik pitam.
Membuatnya resah dan tak sengaja mencengkeram lengan terbuka Denok.
" Lepas sialan!" Denok berusaha melepaskan cengkraman yang cukup kuat itu dengan wajah kesal. Benar-benar tak mengerti dengan sikap Jonathan yang aneh.
" Urusanku dengan Yusuf tidak ada sangkut pautnya denganmu. Lagipula, pria sepertimu yang terbiasa dan harus terus berada di sekeliling orang-orang terhormat tidak akan pernah tahu apa sebabnya aku seperti ini!".
" Tolong jangan campuri hidupku lagi!"
DEG
Kini, keduanya nampak saling melempar tatapan. Denok dengan sorot mata penuh kekecewaan, dan Jonathan yang tampak tak rela melihat Denok seperti itu.
Apalagi, Kelvin sepertinya menyukai wanita itu. Sungguh sangat membuatnya tidak tenang.
Namun, saat Denok masih tekun menatapnya dengan sorot penuh kebencian, tangan kekar Jonathan dengan cepat menarik tengkuk Denok lalu mencium bibir wanita itu meluapkan ketidakrelaannya.
Jonathan pasti sudah gila, pria itu kini bahkan memejamkan matanya manakala mencecap bibir manis itu.
" Mmmm!"
" Mmmmm, lepas brengsek!"
PLAK!
Wajah yang kini terlempar ke kanan dengan rasa kebas itu hanya bergeming saat mendengar deraaan napas yang nampak ngos-ngosan karena menahan emosi.
Kini, keduanya saling melempar tatapan yang penuh kekecewaan.
" Hidupku sudah banyak masalah. Kumohon jangan kau menambah persoalan dalam hidupku. Aku sudah lelah dengan semua ini Jo. Aku juga ingin bahagia sepertimu!"
DUAR!
Jonathan yang serasa di tampar oleh ucapan menohok Denok, kini tertegun usai mendengar suara bergetar milik wanita itu. Yes, this my bad!
Denok yang nampak gusar memutar cepat kunci, lalu seketika keluar ruangan itu.
BRAK!
Kini, pria itu nampak tertunduk lemas usai Denok melontarkan pernyataan yang begitu mengiris hatinya itu. Meski jauh dalam relung hatinya, ia masih memiliki perasaan ingin melindungi wanita itu dengan caranya.
" Maafkan aku. Aku hanya tidak sanggup jika melihatmu seperti itu. Aku tahu aku egois. Tapi aku bisa apa?" Gumam Jonathan yang sejurus kemudian membasuh wajahnya kasar. Merasa frustasi akan apa yang ia alami saat ini.
Ia benar-benar tak bisa menguasai diri. Ia yakin, jika perasaan di dadanya itu masih membara. Tapi ia juga tak ingin membuat masalah dengan kedua orangtuanya. Ia tahu konsekuensi akan hal itu.
.
.
Jonathan
" Hidupku sudah banyak masalah. Kumohon jangan kau menambah persoalan dalam hidupku. Aku sudah lelah dengan semua ini Jo. Aku juga ingin bahagia sepertimu!"
Menyeretnya pada jurang kebimbangan.
Ia meminum minuman itu dengan tatapan kosong. Ucapan Denok barusaja semakin membuatnya merasa bersalah.
" Paman, apa yang tadi itu Mamak? Apa Mamak juga di undang? Bolehkan aku bertemu?"
Lamunannya seketika buyar manakala Yusuf yang datang dengan sisa cream di sudut bibirnya membuatnya tersenyum.
Ya, Jonathan menyadari, Yusuf pasti melihat Denok saat wanita itu di bawa oleh Nyonya Belinda tadi.
" Kau ingin bertemu?" Tanya Jonathan seraya meletakkan gelas kosongnya ke atas meja kaca.
Yusuf mengangguk dengan mata jernih yang penuh antusias.
" Let's go!"
Acara yang kini di isi dengan nyanyian dari penyanyi ternama dari ibu kota itu, mampu menghipnotis beberapa tamu yang hadir. Termasuk keluarganya yang tiada henti memamerkan Feli kepada rekan bisnisnya.
Ya tentu aja, selain cantik, Feli memang desainer yang berkompeten.
Ia kini berdiri di belakang Denok yang sibuk memilih makanan, dengan posisi kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong. Terlihat keren.
" Apa kau sudah selesai?" Ucapnya datar seolah tak terjadi sesuatu.
Denok seketika berjingkat dan nampak terkejut dengan kemunculan Jonathan yang tiba-tiba ada di belakangnya. Dan saat melihat, wanita itu tampak ingin menghindar.
" Yusuf ingin bertemu denganmu!"
Membuat langkah Denok seketika terhenti.
.
.
" Mamak!"
Jonathan yang menyenderkan tubuhnya di bibir pintu besar itu bersidekap dengan wajah tersenyum, demi melihat Denok dan Yusuf yang saling berpelukan.
Ya, mereka kini bertemu di tempat yang aman setelah Jonathan berdiplomasi dengan kepala asisten rumah tangga disana.
" Kamu baik-baik saja?"
" Kamu nggak di cubit kan sama istri orang itu?"
" Jika dia berbuat jahat, tolong katakan sekarang sama Mamak!"
Jonathan ingin tertawa saat melihat Denok menginterogasi Yusuf yang nampak B aja itu. Wanita itu sepertinya benar-benar menyayangi Yusuf.
" Enggak, aku sehat-sehat aja Mak. Mamak jangan khawatir. Oh iya, apa Mamak sudah akan bekerja di tempatnya Paman Delon?" Tanya Yusuf dengan wajah polosnya.
Denok mengangguk. Mati-matian menahan rasa sedih di dadanya.
" Kamu tahu Cup. Gara-gara kamu, Mamak jadi harus punya hutang banyak kepada laki-laki sialan itu. Terlebih, Mamak harus ketemu orang itu. Hah, kok aku sedih ya Cup. Dari tahun ke tahun, rasanya kok begini-begini aja hidup kita!"
" Apa aku boleh bersekolah lagi?"
Tanya Yusuf spontan. Membuat Denok terkejut.
" Bisakah kita hidup disini saja Mak? Disini kita mudah mencari kerja. Lihat saja, paman Delon bahkan menerima Mamak bekerja kan? Aku janji akan bersekolah dengan sungguh-sungguh setalah ini!"
Entah mengapa, hati Denok mendadak sesak. Membuat Jonathan yang mendengar percakapan mereka turut berpikir serius.
" Mamak tidak janji. Tapi yang jelas, setelah ini tolong jangan kabur lagi. Bersabarlah. Mamak akan segera membuatmu keluar dari tempat itu!"
Entah mengapa, yang mendengar hal itu turut merasa sedih.
.
.
.
To be continued...