The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 39. Sepenggal kisah kelam



...🌹🌹🌹...


Nyonya Weni


Saat ini, ia tersenyum licik menatap sebingkai foto besar di dalam sebuah ruangan tersembunyi di balik kamarnya. Foto wajah bayi yang tampaknya baru saja di lahirkan.


Wanita berbibir merah itu nampak meraba wajah bayi kecil yang tersenyum polos tanpa dosa. Membuat ingatannya melesat jauh dimana hari kelam itu terjadi.


" Seumur hidupnya, dia akan terus tunduk kepadaku untuk membayar kematianmu Nak!" Ucap wanita itu dengan wajah penuh kegetiran. Merasa hatinya kembali tercabik oleh kenyataan yang kejam.


" Sebaiknya kau jangan terlalu mengekang anak itu. Aku takut jika dia nanti akan menaruh kecurigaan!" Tutur suaminya yang mengetahui jika istrinya saat ini sedang mengenang masa itu.


" Aku tidak peduli!" Jawab Nyonya Weni dengan wajah benci. Sejurus kemudian, wanita itu nampaknya membalikkan badannya lalu menatap wajah suaminya yang sudah tak lagi muda. " Anak itu harus terus menjadi mesin pencari uang di perusahaannya sendiri untuk kita!" Nyonya Weni berucap dengan emosi yang tidak teratur. Membuat suaminya resah tak setuju.


" Jika bukan karena orangtuanya. Kita pasti masih bersama putra kita saat ini!"


" Apa kau ingat, betapa aku perlu menunggu bertahun-tahun untuk memiliki Felix?"


...Flashback...


Beberapa banyak tahun yang lalu


Di sebuah rumah sakit besar di kota yang sedang berkembang, ada dua pasang ibu yang sama-sama sedang melahirkan. Seorang lagi dari kalangan kaya raya, dan seorang lagi dari kalangan kurang berada.


Iqbal dan Weni mengalami kesulitan untuk membayar biaya rumah sakit, sehingga membuat Iqbal harus pergi untuk mencari pinjaman dan meninggalkan istri serta anak yang baru saja dilahirkan.


Namun tanpa mereka duga, bayi mungil yang diberi nama Felix itu mengalami masalah pada saluran pernapasan. Dokter yang saat itu lebih dulu menangani keluarga kaya itu, meminta perawat untuk menangani lebih dulu sebab tenaga dokter masih sangat terbatas.


Naas, Felix kecil yang sebenarnya memang mengalami masalah sejak dalam kandungan akhirnya meninggal bahkan sebelum Iqbal kembali. Membuat Weni saat itu mengalami depresi dan hampir gila serta terus menerus menyalahkan keluarga kaya yang lebih dulu di tangani ole dokter itu.


Padahal, sejatinya hidup dan mati seseorang sudah digariskan dan di atur sebelum orang itu sendiri di lahiran ke muka bumi ini. Tidak satupun makhluk hidup di muka bumi ini, yang bakal luput dari maut.


Singkat cerita, Weni yang tak terima dengan kematian anaknya, mengikuti keluarga Jonathan kecil dan mencari tau seluk beluk kehidupan mereka. Bahkan, ia melamar pekerjaan di tempat itu demi bisa membalas dendam.


Orang tua Jonathan yang sejatinya merupakan orang baik, tentu menerima mereka dengan tangan terbuka sebab mereka terlihat sangat memerlukan pekerjaan.


Tanpa di nyana , malam itu mereka merencanakan aksi pelenyapan dengan metode sabotase. Ya, merekalah yang menyebabkan dan merekayasa kematian orang tua Jonathan, lalu mereka menguasai harta itu dengan dalih untuk kehidupan Jonathan.


Keadaan Jonathan yang masih bayi, membuat rencana mereka lebih mulus. Apalagi, orangtuanya Jonathan tak memiliki keluarga lain. Membuat mereka gelap mata dan melupakan rencana mereka yang hanya sekadar untuk balas dendam.


Lebih licik lagi, mereka sengaja menggunakan nama Jonathan agar kehidupan mereka tak kembali miskin. Dari situlah, timbul dorongan dan hasrat untuk menguasai kekayaan manusia itu.


Mereka bahkan meminta Jonathan untuk belajar di perusahaan besar milik Delta group sebelum menjadi CEO di perusahaannya sendiri. Dan kesemuanya itu, tak lain agar mesin pencari uangnya itu bisa semakin maju.


Lebih licik lagi, mereka yang tidak paham tentang mekanisme perusahaan, terus Membuat Jonathan merasa berhutang budi, dari cerita palsu yang telah mereka buat selama ini.


Dan tidak kehabisan akal, mereka yang semakin hari semakin serakah, tak ingin sampai harta itu jatuh ke tangan orang lain termasuk istri Jonathan.


Membuat mereka menggunakan Feli yang namanya kini besar karena elektabilitas Jonathan di jajaran pengusaha muda.


Tapi sayangnya, mereka semua lupa. Mereka tak ingat bila jumlah orang yang mereka sakit itu ada batasnya. Setelah itu, mereka harus membayar.


...Flashback end...


" Kita sudah mendapatkan apa yang kita mau. Kematian telah dibayar dengan kematian. Sekarang, sebaiknya jangan kau sakiti anak itu. Anak itu bahkan belum tahu apa-apa saat kita sudah memiliki niatan ini!"Ucap Tuan Iqbal yang kini leaks goyah. Mencoba menyadarkan istrinya.


" Apa kau bilang? Kenapa sekarang kau takut?" Sela Nyonya Weni yang semakin berapi-api.


" Sayang. Tidakkah kau lihat bila Jonathan selama ini begitu menyayangi kita? Kenapa kita tidak menganggap semua itu impas?"


" Kita bahkan tidak memiliki anak lagi hingga detik ini!"


" Aku tidak peduli. Jika bukan karena anak itu, aku pasti saat ini masih bersama Felix!" Cetus Nyonya Weni dengan luapan emosi yang semakin menjadi.


" Dan saat melihat wajah Jonathan setiap harinya, rasanya aku seperti di ingatkan wajah Felix yang saat itu menderita!" Nyonya Weni kini terisak demi mengingat hidupnya yang dulu suram.


Membuat Tuan Iqbal menatap istrinya dengan wajah murung.


.


.