The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 7. Secuil titik terang



...🌹🌹🌹...


Jonathan


Usai menyelesaikan rapat penting di jam pagi itu, Jonathan langsung kembali ke ruangannya guna menemui Yusuf dan Delon.


Namun, alih-alih tujuannya terpenuhi, ia malah dibuat terkejut demi melihat ruangan yang kosong melompong.


" Kemana anak itu?" Gumamnya seraya memindai ruangannya. Seharusnya mereka masih ada disana. Begitu pikir Jonathan.


Sejurus kemudian, laki-laki tampan itu nampak merogoh sakunya lalu meraih benda pipih untuk sejurus kemudian men-dial nomor Delon.


" Dimana?"


" Apa?"


.


.


Di lantai dasar


" Kamu ngapain bawa anak gembel ini ke kantor, siapa dia?" Felisha yang pagi itu sengaja datang membawa sarapan terkejut manakala melihat bocah dekil yang duduk diatas sofa ruangan suaminya.


Seketika membuatnya menarik tangan Yusuf dan berniat mengusirnya.


Delon yang baru ingin kembali ke ruangan itu setalah sebelumnya turun untuk mengambil pakaian ganti yang lebih layak, terkejut kala Felisha kedapatan memarahi anak itu.


Membuatnya mau tak mau ikut turun demi meredam amarah istri bosnya.


Jonathan yang nampak geram demi melihat Yusuf yang tertunduk ketakutan, langsung menarik lengan bocah itu ke arah belakangnya. Membuat banyak pasang mata berhenti sejenak untuk menonton.


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Jonathan dengan wajah datar yang begitu mengintimidasi kepada Felisha.


" Apa kau sudah gila, membawa gembel ke perusahaan? Apa kau sudah tidak waras?" Ucap Feli dengan kemarahan.


Menatap Yusuf yang kini semakin ketakutan.


Yusuf yang tau dirinya menjadi sumber keonaran, hanya bingung menatap Delon. Mencoba mencari jawaban soal siapa wanita cantik yang kini memarahinya itu.


" Pak?"


" Sstt!" Delon meletakkan jari telunjuknya kedepan bibir seraya menggeleng pelan, demi instruksi kepada Yusuf untuk diam.


Yusuf nyengir dan hanya bisa memanyunkan bibirnya. Sungguh, ini sama sekali bukan kesenangan nya.


Berada diantara orang yang bertengkar.


" De, antar dia pulang. Jangan lupa yang tadi!" Titah Jonathan kepada Delon.


" Baik Pak!" Jawab Delon mengangguk hormat sesaat setelah Jonathan berlalu.


Feli yang merasa di acuhkan, kini seketika mengejar Jonathan yang seketika berbalik tanpa menatapnya.


" Jo! Jonathan!"


Yusuf hanya menggaruk kepalanya sebab bingung dengan apa yang tejadi dengan orang dewasa.


" Ayo ku antar!"


"Kemana Pak?"


" Lah, kerumahmu lah!"


" Bapak ini sama bapak itu kayak bagaimana sih. Udah dikasih tahu kalau saya ini kabur dari rumah. Pulang kemana saya juga tidak tahu!"


" CK, menyusahkan sekali. Kau dari mana sih?"


" Dari kota S!"


.


.


Jonathan


Ia tertegun demi membaca pesan dari Delon.


" Sepertinya anak ini tidak bohong kalau dia kabur. Logat bahasa bicaranya memang sesuai. Dia dari kota S!"


Membuat suatu kenangan mendadak menyelinap kedalam otaknya begitu mendengar nama kota itu.


Kota yang menjadi asal muasal pertemuannya dengan wanita unik yang apa adanya. Wanita yang saat ini pasti salah paham, juga sangat membenci dirinya.


" Kenapa kau kemari?" Tanya Jonathan yang mulai menyadari jika Feli menunggunya untuk berbicara.


" Aku bawakan sarapan untukmu. Maaf karena dirumah tadi aku..."


Jonathan hanya diam tak merespons. Baginya, mau Feli perhatian seperti apapun, perasaannya telah mati.


"Terimakasih makanannya!" Jawab Jonathan tak memuaskan hati Feli.


Feli menatap wajah tampan Jonathan yang sedari dulu ia sukai. Namun, ambisi serta keinginan yang berlebihan membuat wanita itu salah langkah.


" Mama meminta kita untuk honeymoon. Sebaiknya kita segera atur jadwal!"


" Aku masih sibuk. Beberapa pekan lagi pabrik di timur juga akan di buka. Bukankah kau yang menginginkan perusahan melambung?" Jawab Jonathan tanpa menatap istrinya dan lebih memilih untuk mengecek satu persatu email yang masuk kedalam laptopnya.


Membuat Feli menghela napas panjang.


.


.


Karin


" Elu yakin?" Tanya wanita yang gemar mengenakan baju sexy itu manakala ia mendengar sejumput niatan Denok untuk mencari Yusuf.


" Dari dulu yang aku punya cuma keyakinan kali. Tanpa keyakinan, mungkin udah jadi bangkai dari dulu aku. Hidup harus yakin Rin. Meski duit cuma cukup dan habis buat bakal tai doang!"


Bukan Denok jika mulutnya tak pedas. Ya, itulah Deni Novita. Wanita ceplas-ceplos, yang sejatinya memiliki hati seputih salju.


" Loh, pada habis dari mana ini?" Tanya Pak Sam yang baru saja datang dari berbelanja untuk memenuhi toko kelontongannya. Bujangan tua yang nyaris bau tanah.


" Habis jual kimpet lah pak, apa lagi. Pinjam koreknya sini! Mulut kecut banget dari tadi cuma dibuat makan angin." Tutur Denok yang sudah akrab dengan Pak Sam.


Membuat pemuda yang tengah antri untuk mengisi BBM di toko Pak Sam seketika mengelus dada.


" Astaga!"


" Jangan astaga terus mas. Nih rokok!" Ucap Denok yang membuat Karin dan Pak Sam tergelak.


" Macan kehilangan anak Mas. Maklum!" Timpal Pak Sam sembari membantu karyawannya mengisi BBM di tangki pemuda yang syok itu.


" Belum ketemu si Ucup?" Tanya Pak Sam mengalihkan topik pembicaraan.


" Belum lah, kalau ketemu nggak kira aku nongol disini siang-siang begini!"


" Kebetulan aku ada info. Tadi aku ketemu Lan. Dia kayak lihat Ucup di kota J, tapi masa iya anak itu ada disana!"


" Hah, kapan Pak?" Seru Denok yang langsung tertarik dengan informasi yang di sampaikan oleh Pak Sam.


" Tadi pagi dia baru aja datang. Mudik anaknya kan mau sunat itu!"


" Setelah aku kasih tahu kalau Ucup ilang, dia nyesel kenapa gak memastikan anak yang dia temui di jalanan tadi!"


Denok seketika tertegun demi mendengar nama kota yang barusaja disebutkan oleh Pak Sam. Kota yang jelas dihuni oleh salah satu manusia yang paling ia benci.


Hingga, beberapa waktu kemudian ia nekat menuju kediaman Lan, dan mendengarkan penuturan yang sebenarnya.


Menurut ciri yang disebutkan oleh langganan duda itu , ia yakin jika anak yang dibicarakan oleh Lan adalah Yusuf.


" Pakai baju kerah garis-garis biru kuning, terus celana jeans sedengkul!"


Tepat sekali. Itu merupakan sandangan yang terakhir dikenakan oleh anaknya. Tapi, bagiamana bisa anaknya bisa berada di kota tanpa ongkos?


Anak jaman sekarang benar-benar lebih canggih pikirnya.


.


.


Delon


Ia benar-benar mumet saat ini. Jika biasanya ia tega dan jarang ribet dalam memutuskan apapun, kali ini ia kuwalahan kala menangani Yusuf.


" Gini deh, kamu saya kasih uang buat balik ya. Om naikkan bis, om kasih sangu. Emak kamu pasti nyari!" Ucap Delon mendiplomasi Yusuf agar mau.


" Jangan Pak, Ucup harus kerja. Mamak Ucup kasihan!" Balas Yusuf bertambah muram.


Membuat Delon geleng-geleng. Kenapa hidupnya kini terseret pada kerumitan yang tidak seharusnya. Mau meninggalkan begitu saja, entah kenapa ia menjadi tidak tega.


" Anak seusia kamu itu harusnya sekolah, bukan kerja!"


" Tolong Pak! Ucup cuman pingin Mamak enggak dihina-hina lagi karena kerja malam pulang pagi. Tolong kasih kerjaan yang wajar, biar Ucup bisa ajak Mamak kerja disini juga!"


" Tolong Pak!"


Membuat Delon serasa ingin menumpahkan air matanya kala menatap wajah basah bocah berwajah kuyu itu.


Kehidupan itu benar-benar penuh teka-teki.


.


.


.