The Destiny Of Love Naughty Woman

The Destiny Of Love Naughty Woman
Bab 38. Setitik kecurigaan



...🌹🌹🌹...


Denok


Ia mencengkeram kuat bahu lebar nan kekar itu saat ia merasa sesuatu yang hangat menjalar masuk kedalam bagian bawahnya yang juga mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


Ia yang selama ini tiada pernah menikmati apa yang dia lakukan, entah mengapa malam ini seolah di puaskan oleh pria tampan yang kini ambruk di sampingnya dengan napas terengah-engah.


Ya, mereka berdua sama-sama menikmati keindahan itu.


Belum juga keterkejutannya sirna, laki laki itu menarik dirinya kedalam pelukan hangat. Menimbulkan jalaran yang sangat sulit untuk di jelaskan.


" Istirahatlah!"


Denok hanya diam saat Jonathan mengecup pipinya begitu mesra. Membuatnya menjadi wanita bahagia untuk sejenak. Sungguh, dosa terindah itu berhasil membuat keduanya yang lelah, hanyut dalam lelap.


Beberapa jam kemudian, Denok mendadak terjaga dari tidurnya dan ingatannya langsung kembali kepada Yusuf.


Namun, ia menjadi terkejut kala melihat Jonathan telah lenyap dari sisinya. Ia meyakini hal itu sebab sepatu dan beberapa barang milik Jonathan juga telah raib.


Membuatnya tersenyum getir.


Laki-laki itu pasti sama dengan pria lain. Memangnya apa yang kau harapkan Nok? Bukankah sedari awal kau sudah berjanji untuk tidak melibatkan perasaan mu?


Ia sempat mensugesti diri manakala ia termenung beberapa saat. Hah, entahlah. Ia sendiri kadang dibuat bingung oleh putaran takdir.


Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Astaga!


Membuatnya mendelik.


Ia buru-buru membersihkan dirinya lalu dengan langkah buru-buru meninggalkan kamar hotel. Beruntung, kota J merupakan kota yang tak pernah tidur. Membuatnya dengan mudah mendapatkan transportasi untuk pulang menuju rumah sakit.


Di dalam mobil taksi itu, ingatannya lagi-lagi kembali saat wajah tampan Jonathan mengayun diatas tubuhnya. Pria itu benar-benar mahir dalam bercinta. Damned!


" Memangnya aku melakukan apa?"


" Aku stres karena istriku berselingkuh. Jadi... bisakah kau memuaskan aku malam ini, hm?" Ucapnya seraya menarik pinggang Denok merapat kedalam tubuhnya."


Namun, sekelebat kalimat itu mendadak muncul dalam ingatannya.


Tunggu dulu,


" Berselingkuh, astaga. Apa yang aku lihat beberapa waktu yang lalu adalah perselingkuhan?"


Gumam Denok demi teringat akan Feli yang bertemu dengan dokter Andra. Kenapa Jonathan itu susah sekali di tebak. Pria itu dingin namun kadang perlakuan nya sungguh manis.


Tapi, kenapa hingga sekarang ia sama sekali tak menyebutkan alasannya meninggalkan dirinya dulu. Pria itu bahkan kerap membuatnya kesal akhir-akhir ini karena sikap semaunya sendiri.


Walau ia tahu jika ia hanya wanita malam, tapi sejujurnya, kehadiran Jonathan waktu itu benar-benar membuat hidupnya lebih jelas.


Setibanya dirumah sakit, ia yang telah mengganti pakaiannya dengan wajar nampak kaget saat Windi dini hari itu menyongsongnya dengan wajah sumringah.


" Kenapa kau ada disini? Kenapa tidak tidur? Mana Yusuf?" Cecar Denok dengan wajah khawatir.


" Akhirnya kau datang juga mbak Deni. Duh, aku seneng banget, akhirnya Yusuf akan operasi besok. Hari ini ia dipindahkan ke ruangan gak tau tadi namanya apa, katanya harus puasa 8-12 jam dulu. Ya Allah semoga setelah ini Yusuf gak sakit-sakitan lagi mbak!"


DEG


Operasi? Berarti uang yang diminta rumah sakit tempo hari sudah terbayarkan? Bukannya...


"Jika kau pergi maka uang yang sudah aku transfer kepada Karin barusan akan aku tarik lagi!"


Membuat mata Denok seketika berkaca-kaca demi menyadari bila semua ini pasti merupakan perbuatan Jonathan.


" Apa-apaan pria itu. Apa dia telah bohong? Kenapa dia berbohong?" Ia bergumam dengan wajah menahan tangis dan membuat Windi seketika bingung.


TRING


...Semoga operasinya lancar. Aku akan membesuk Yusuf lusa. Jaga kesehatan!...


Matanya semakin berair saat membaca pesan yang baru saja masuk itu. Pesan yang ia yakini dari pria yang baru saja bercinta bersamanya beberapa jam yang lalu.


Benar-benar pria yang susah untuk di tebak. Jadi dia yang mentransfer langsung kerumah sakit?


" Lah, mbak Deni kenapa sih? Kok malah nangis?" Tanya Windi semakin panik.


Denok tersenyum seraya menyusut air matanya menggunakan punggung tangan. " Nggak apa-apa Win. Aku cuma seneng aja, akhirnya Yusuf bisa operasi!"


.


.


Sementara itu, di tempat lain, nampak seorang laki-laki yang menghisap rokoknya dengan perasaan gundah sesaat setelah mengirimkan pesan kepada wanita yang baru saja merengkuh nikmat bersama dirinya.


Menatap nyalang hamparan perkotaan dari apartemen pribadinya dengan pikiran yang terbagi.


Bukan tanpa alasan ia melakukan semua itu. Jonathan adalah pria cermat. Segala yang dilakukannya, pasti lebih dengan perhitungan yang matang.


...Flashback...


Malam hari sesaat setelah mereka bertengkar di butik, Feli dan Jonathan terkejut dengan kehadiran Mama Weni.


" Apa yang kalian bicarakan?"


Mama Weni yang datang terlihat marah saat mendengar anak-anaknya bertengkar hebat.


" Wanita itu Ma, wanita itu kembali. Lihat, wanita itu bahkan menyerangku!" Lapor Feli seraya menunjukkan bekas luka kepada Mama mertuanya.


"Cukup Fel!" Bentak Jonathan benar-benar muak.


" Jo!" Hardik Mama Weni memperingatkan Jonathan.


" Aku bisa terima apapun yang kalian lakukan. Aku juga sudah tunduk pada semua aturan yang kalian berikan. Tapi aku juga sudah mengatakan berulang kali jangan sentuh wanita itu, apa perjanjian kita dulu tidak cukup jelas?" Ucap Jonathan dengan kemarahan yang meluap.


Ya, Jonathan mau menikahi Weni sebab mamanya akan membuat hidup Denok menderita jika Jonathan berani menolak Weni.


Melihat Mamanya yang selalunya tak main-main dengan ucapannya, pria yang sebenarnya bukan anak kandung dari Mama Weni dan Pak Iqbal itu seketika kalah.


Singkat kata, Jonathan tak ingin membuat jiwa Denok terancam.


" Dimana rasa terimakasihmu saat kami sudah susah payah membesarkanmu?"


" Kalau kau memilih wanita itu, jangan pernah kau anggap kami ini orangtuamu lagi!"


Ancaman-ancaman seperti itulah yang lagi-lagi membuatnya tak memiliki banyak pilihan. Dan keadaan seperti itulah yang akhirnya membuat Jonathan meninggalkan Denok.


Tak apa, yang paling penting wanita itu masih bisa hidup dengan baik sekalipun dia akan membenci Jonathan setelah itu.


Namun, saat ia berada di kamar, tanpa sengaja ia melihat ponsel Feli yang di telpon oleh seseorang berkali-kali. Membuatnya penasaran. Nomor seorang pria sebab intensitas perbicangan yang cukup sering. Jelas membuatnya menaruh curiga.


" Apa yang kau lakukan Jo?" Feli yang baru keluar dari kamar mandi seketika menyahut ponsel itu dari tangan suaminya dengan kepanikan yang nampak jelas.


" Apa aku selama ini kau telah membodohiku?" Tanya Jonathan dengan tatapan penuh kekecewaan.


" Apa yang kau bicarakan. Pekerjaanku selalu menuntutku untuk bertemu banyak orang dengan komunikasi intens setiap hari!" Elak Feli dengan wajah tak tenang.


Kini, Jonathan dengan wajah geram nampak mendekatkan wajahnya ke arah Feli.


" Kau yang memulai semua ini. Tapi aku yang akan mengakhiri semua ini!" Ucap Jonathan penuh penekanan di tiap kalimatnya.


" Kau tidak akan pernah bisa meninggalkan ku Jo. Jangan lupa, kau tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Mama Weni!"


Jonathan tampak tak mempedulikan ocehan Feli. Dengan kemarahan yang berkobar di jiwanya, laki-laki itu pergi dengan secuil rencana yang mendadak muncul.


" De, minta wanita itu untuk mengatur Novi menemuiku di Grand Luxury!"


Ucap Jonathan kepada Delon melalui sambungan teleponnya dengan kemarahan yang terasa.


...Flashback end...


TOK TOK TOK


Jonathan menggerus batang rokok yang masih panjang itu, lalu sejurus kemudian bergerak maju untuk bergegas membuka pintu.


Benar dugaannya, Delon telah datang di jam yang telah ia perintahkan. Sejurus kemudian, mereka berdua masuk kedalam dengan wajah yang sama-sama serius.


" Bagiamana hasilnya?" Tanya Jonathan yang kini menunjukkan wajah lelah. Lelah usai bercumbu dan belum mengistirahatkan diri.


" Untuk membuktikannya, kita harus mencari orang ini!" Ucap Delon menunjukkan foto seorang wanita yang tengah berada di panti asuhan.


" Saya sudah mencari informasi ke seluruh panti asuhan yang ada di kota ini, tapi nama anda tidak ada satupun diantaranya!" Imbuh Delon dengan wajah yakin.


Ya, Jonathan menaruh curiga kepada Mama Weni yang semakin hari sikapnya makin sewenang-wenang saja. Ia tahu wanita itulah yang telah merawatnya sejak bayi. Namun, bukan berarti seluruh hidupnya bisa di kendalikan seperti itu.


" Bagaimana menurutmu De?"


Jonathan benar-benar merasa bimbang. Apa alasan mama Weni tak mau melepaskan dirinya dan selalu mendiktator hidupnya.


" Sepertinya ada hal yang di tutupi oleh kedua orang tua anda Pak!" Ucap Delon dengan hati-hati. Bukan tanpa alasan, Delon juga menaruh curiga sebab sikap kedua orangtua bos-nya itu cenderung aneh.


" Kau benar De. Mereka seperti menutupi sesuatu dariku!" Batin Jonathan yang merasa semua ini semakin tidak wajar.


Tentang hubungan timbal balik yang mengapa harus dibayar dengan sikap takluk dan tunduk dari diri Jonathan. Bukankah seharusnya ia bebas memilih dengan siapa ia hidup.


Namun, atas nama balas budi dan kehidupan kayak yang diberikan, lagi-lagi Jonathan selalu kalah. Kini, baik Jonathan maupun Delon saling menatap penuh keyakinan.


Hening untuk beberapa saat.


Hingga,


" Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan De?"


Delon mengangguk dengan sorot mata serius, " Tidak ada kejahatan yang sempurna Pak!"


" Ok, here we go!"


.


.


.